Love Seduction

Love Seduction
Chapter 53. Make friends



Enrico dan keluarga Langton tiba di hotel mewah milik Enrico. Seorang gadis dan seorang anak kecil mendatangi mereka ketika rombongan itu tiba.


"Ah ... Alison! Alan! Kemarilah!" Enrico tersenyum menyambut kakak beradik itu.


"Perkenalkan, Ini Alison Adair dan ini Alan Salvadore. Keduanya kakak beradik." Enrico memperkenalkan keduanya pada tamunya.


Derek dan Amy terlihat menatap Ally dengan mata berbinar. Menyadari siapa Alison sebenarnya


"Alison ... Kaukah yang dipanggil Ally?" Amy mengulurkan tangan mengelus pipi mulus gadis itu.


"Ya, Nyonya. Aku Ally." Ally membalas senyum Amy.


Derek dan Amy tersenyum lebar. Gadis yang sangat cantik. Wajar saja Lucius Sanchez sampai jatuh cinta.


"Aku wali mereka," ucap Rico memberitahu. Derek dan Amy mengangguk, sebenarnya mereka sudah tahu.


"Well ... Sebaiknya kalian ke kamar masing-masing. Ally dan Alan akan membantu kalian, Ayo ...." Enrico mendatangai Cecilia.


"Dan kau Nona Damario ... Aku akan mengantarmu secara khusus," ucap Enrico sambil memberikan sikunya agar digandeng Cecilia. Cecilia tersenyum sopan lalu mengendikkan bahu.


"Baiklah ...." ucapnya sambil mengedipkan mata pada Ally yang tersenyum padanya.


"Erland berjalan sambil sesekali melirik ke arah Alan. Ia ingin menyapa karena melihat Alan sepertinya seumuran dengannya. Tapi ibunya memegang tangannya dan menyeret Erland agar tidak pergi kemana-mana. Ia terpaksa menurut.


Aku akan mendatangi kamar bocah itu.... Erland memutuskan di dalam hati, akan berkenalan langsung dengan mendatangi kamar Alan nanti.


Ally membawa Derek dan Amy memasuki lorong setelah keluar dari lift. Ia menuju sebuah pintu dan menunjukkannya pada Amy dan Derek.


"Ini kamar Anda Tuan dan Nyonya Langton. Semoga liburan Anda berdua menyenangkan. Aku undur diri dulu. Kita akan bertemu lagi saat makan malam," ucap Ally ramah.


Derek mengangguk dan tanpa sengaja berucap,


"Dimana Dia menemukanmu ..."


"Eh? Apa? Siapa maksud Anda, Tuan Langton?" tanya Ally tidak mengerti.


Amy mengibaskan tangannya, " Oh, panggil dia Derek, Ally. Dan panggil saja aku Amy. Maksud Derek adalah di mana Enrico menemukanmu?" tanya Amy. Ia sebenarnya tahu yang dimaksud Derek adalah di mana Lucius menemukan Ally.


Ally tersenyum. "Almarhum ayahku adalah pegawai perkebunan Costra, Amy. Jadi sebenarnya Enrico sudah mengenalku sejak Aku kecil." Ally melihat sepasang suami istri itu menganggukkan kepala.


"Baiklah. Aku permisi dulu," pamit Ally. Kembali keduanya mengangguk kompak.


Seiring Ally yang menjauh Amy berbisik pada suaminya.


"Kau hampir saja, Sayang. Jaga kejutannya sampai saat terakhir," ucap Amy.


"Baiklah .... tentu ...." Lalu keduanya masuk ke kamar yang begitu besar itu. Derek mendorong sebuah pintu penghubung, dan melihat Nanny sibuk mengatur koper mereka. Enrico bahkan sudah menyiapkan kamar yang berdampingan dengan sebuah pintu penghubung untuk Erland dan Arthur.


"Sempurna ... Aku akan mandi, Sweety. Kau mau kemana?" tanya Derek ketika melihat Amy membuka pintu kembali.


"Putramu hilang, Tuan Derek. Entah kemana bocah itu. Mandilah ... Aku akan mencarinya." ucap Amy.


Amy menutup pintu. Ia berjalan di lorong lalu berbelok. Baru saja ia akan kembali melangkah, sebuah pintu terbuka dan Ally terlihat keluar.


"Ya ... Apa dia bersama adikmu?"


"Ya ... Masuklah, " undang Ally.


Amy masuk dan memandang seputar kamar. Kamar yang juga besar. Putranya sudah duduk di lantai dengan Alan. Mainan sudah berserakan di lantai itu.


"Apa kamar ini menyediakan semua itu?" tanya Amy.


"Ummm ... Enrico yang menyediakannya di kamar ini untuk Alan," ucap Ally.


"Kau pasti terganggu ... Erland!" Amy baru saja memanggil putranya ketika Enrico menegur mereka.


"Ada apa ini? " tanya Rico yang keluar dari kamar di depan mereka.


"Sediakan kamar lain untuk Ally. Gadis ini tidak akan bisa beristirahat. Putraku tidak akan keluar dari kamar ini jika Alan tidak keluar. Jadi Ally perlu kamar lain. Kau lihat itu ... Berantakan sekali," ucap Amy.


Cecilia yang kamarnya berada di depan kamar Ally keluar dari kamar dan mendengar perbincangan itu. Ia melirik dan menyerigai lebar.


"Mau sekamar denganku? Kita bisa mengobrol berdua. Akan sangat menyenangkan untukku," ajak Cecilia penuh harap.


Ally tersenyum, ia mengangguk antusias, sangat menyukai sikap ramah dan menyenangkan dari Cecilia.


"Selamat bersenang-senang kalau begitu. Aku akan ke kamar. Ingat Ladies ... jangan telat untuk turun makan malam," Enrico mengedipkan matanya dan memberi senyumnya yang paling manis.


Amy terkikik, " Derek mengatakan kau perayu dan playboy sejak dulu. Aku heran sampai sekarang kau belum menemukan istri," ucap Amy.


Enrico tersenyum miring lalu mengendikkan bahunya. "Aku sedang berusaha, Cara ...." kedipnya lagi pada Cecilia.


Amy kembali terkikik, "kau boleh berusaha, Enrico. Tapi hati gadis ini sudah tercuri oleh orang lain,"


"Ah, Sayang sekali...." ucap Enrico sedih.


Cecilia dan Ally tertawa mendengar nada sedih dibuat-buat oleh Enrico.


"Aku pamit dulu ... membalut hatiku yang sedang patah ini," desah Enrico lagi sambil berlalu. Langkah gontai Enrico membuat tiga wanita di lorong itu serentak tertawa bersama-sama.


"Kau seperti orang mabuk, Enrico! Bukan orang patah hati!" teriak Amy di sela tawanya.


**********


From Author,


Haiii.... dikit banget yaa, uh ... maaf ya. Author up lagi ko entar. Tapi kasih love dulu dong, kan gak pake payah, kasih like juga, kan gak pake susah. Kasih rating bintang lima juga bagi yang belom, kan gak pake bayar. hu hu hu .....Silent Readersnya LS kayaknya banyak deh. Bisa tembusin gak likenya di atas 200? dikit loh itu ....


BTW tetep terima kasih banyak sudah mampir, baca dan suka cerita ini. Jika tidak ada halangan bulan bulan ini LS mungkin akan tamat. Dan jika peminat dan pendukungnya banyak, Thor ada rencana bikin cerita untuk Enrico. Gimana?


Terima kasih sekali lagi.....


Salam, DIANAZ.