
Ally tersenyum melihat Alan memakan makan malamnya dengan sangat lahap. Setelah beradu argumen dengan Rico, akhirnya pria itu mengizinkannya meninggalkan mansion keluarga Costra. Ally ingin kembali ke rumah ayahnya, walau bagaimanapun, di rumah sederhana itulah dirinya dilahirkan dan dibesarkan oleh ayah dan ibunya.
Awalnya Rico keberatan dengan keputusan Ally. Ia ingin Ally dan Alan tetap tinggal di mansion. Namun Ally bersikeras, ia tidak mau menumpang lagi. Ia punya rumah yang aman sekarang. Tidak akan ada lagi Carloz yang akan mengganggu dan menyiksanya. Ally ingin menata kehidupannya kembali, terutama hatinya. Memulai rencana melupakan Lucius dan menata masa depannya sendiri.
Rico mengatakan Lucius akan datang ke mansion Costra untuk menjemput Ally. Biarkan saja ia datang, karena Ally tidak akan mau menemuinya. Lucius berbohong padanya, lalu pergi tanpa kabar, jadi biarkan saja ia berusaha menemui Ally, ia berniat menutup pintu rumahnya terhadap kedatangan pria itu.
Rico akhirnya mengizinkan Ally dan Alan pulang kembali ke rumahnya di pinggir desa dengan syarat Ally mengizinkan Rico menjadi wali bagi mereka berdua. Percuma saja menolak, rasa balas budi membuat pria itu pasti akan tetap mengurus mereka meskipun Ally mengizinkan ataupun tidak.
Setelah mengiyakan permintaan Rico, mereka diantar pulang ke rumah lama milik ayahnya dengan dua orang pelayan yang membantu Ally membersihkan rumah kecil itu.
Ally tersenyum, ia menyuruh dua pelayan itu kembali lagi ke rumah Rico setelah membantunya membersihkan dan menata rumahnya. Rumah kecil itu tidak butuh pelayan, Ally bisa mengerjakan semuanya sendiri. Mansion keluarga Costra lebih membutuhkan mereka.
"Ally ... bolehkah aku menonton televisi? "
Alan menatap dengan memohon pada kakaknya. Sebuah televisi baru yang besar dipasang oleh Rico di ruang tamu merangkap ruang keluarga dan juga untuk bersantai di rumah itu.
Ally mengangguk, ia membiarkan Alan menonton kartun sedangkan ia sendiri pergi ke belakang dan mencuci piring bekas makan malam mereka. Setelah membereskan semuanya, Ally masuk ke kamar Alan dan menyiapkan tempat tidur adiknya. Merapikan kasur dan menghidupkan lampu tidur.
Ketika ia keluar dari kamar, Alan terlihat sudah berbaring dengan mata redup di atas sofa. Ally duduk di ujung sofa dan mengangkat kepala Alan kemudian meletakkan ke atas pahanya.
Mereka menonton sampai Ally menyadari adiknya sudah tertidur nyenyak. Dengan sedikit kesulitan, Ally mengangkat adiknya dan memindahkannya ke atas tempat tidur di kamar Alan.
"Kau sudah besar, Alan ...." bisiknya pelan.
Ally kembali lagi ke sofa depan dan menatap ke arah televisi tanpa tahu cerita yang disuguhkan oleh film kartun yang ia tonton. Ia berbaring sambil memeluk bantal sofa. Fikiran Ally melayang, pada wajah tampan dengan mata hitam berkilat yang saat ini sangat ia rindukan. Ia berusaha mengeraskan hatinya. Harus bisa! Ia harus bisa melupakan pria itu! Namun ketika ia menguatkan hatinya, matanya tidaklah mau bekerja sama, otaknya tumpul dan airmatanya meleleh. Ally terisak-isak sendirian, ia menangis sampai puas dan akhirnya tertidur.
**********
"Stop ... Kau lihat rumah berwarna krem itu ... Itu rumah ayah Ally." Pabio menunjuk pada sebuah rumah sederhana yang sedikit berjauhan dengan rumah lain dan berada di pinggir desa itu.
Lucius turun dari mobil, begitu juga Lance dan Pabio. Kemudian satu mobil lain yang berisi Brad dan Santoz juga sudah berada di dekat mereka. Orang-orang Alex sudah Lucius perintahkan untuk pergi. Setelah pulang dari mansion Castro, Lucius mengambil kesimpulan Rico Costra bukanlah orang yang akan mengadu kekuatan dengan persenjataan. Pria itu menantangnya untuk menemukan dan membawa sendiri Ally dan juga Alan.
Lucius pulang dan bercerita pada Pabio. Menanyakan dimana letak rumah lama ayah Ally. Jika memang Ally sudah pergi meninggalkan mansion Costra, maka bukan tidak mungkin ia pulang ke rumahnya sendiri.
Lucius masuk ke dalam diikuti Lance dan Pabio. Mata mereka tertumpu pada seorang gadis yang tertidur nyenyak di atas sofa berbantalkan sebuah bantalan sofa. Hanya cahaya redup dari dalam dua buah kamar yang menerangi tempat itu. Lucius mendekat dengan jantung berdebar. Itu Ally ... Allynya yang tertidur nyenyak, Lucius menatap lama pada wajah yang tertidur dengan posisi miring dan rambut bertebaran di atas bantal. Gadis itu mengenakan kaos longgar berwarna pink dengan celana pendek yang hanya menutupi separuh pahanya.
"Itukah Alison?" bisik Lance di telinga Pabio.
Pabio mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Lance. Lalu mereka diam, takut membangunkan Ally dan membuat heboh karena mereka telah memaksa masuk.
Lucius berbalik, ia mengajak Lance dan Pabio kembali keluar kemudian merapatkan pintu tanpa menutupnya.
"Kalian pulanglah, sudah sangat larut. Istirahatlah di rumah perkebunan, Lance. Lalu besok datanglah kembali dengan membawa mobil. Jemput aku, aku akan membawa Ally dan juga Alan."
"Bagaimana dengan Anda, Tuan?" tanya Lance.
"Aku akan menginap di sini. Aku akan membiarkan Ally menghilangkan kerinduannya pada rumahnya. Tapi dia tidak akan lepas dari pengawasanku."
Pabio dan Lance berpandangan. Lalu Lance segera mengangguk ke arah Lucius.
"Baiklah, Tuan. Jaga diri Anda. Saya dan Pabio akan pulang. Besok saya akan datang kembali," ucap Lance.
Lucius mengangguk membalas ucapan Lance. Ia menunggu di teras rumah sampai dua mobil itu menghilang dari jalanan desa, lalu dengan mendesah ia kembali masuk ke dalam, menatap Ally yang masih tertidur, kemudian menutup pintu rapat-rapat lalu mengganjalnya dengan sebuah kursi kayu yang terasa berat ketika ia mengangkatnya. Besok ia akan memasang kunci baru untuk pintu itu. Malam ini Lucius berharap rumah ini aman walaupun hanya tertutup dengan penghalang hanya sebuah kursi.
**********
From Author,
Apa yang akan babang Lucius lakukan yah ... Ally menolak menemuinya, eh malah si Abang maen masuk aja ke rumah orang.😂😂😂😂
Jangan lupa like, komentar, favorite, bintang lima dan vote ya my readers. 😘😘😘
Terima kasih banyakkkk...
Salam, DIANAZ