
Lucius menatap ayahnya dengan senyum lebar. Dokter yang merawatnya telah memperbolehkan ia pulang. Ia hanya perlu melakukan kontrol jahitan beberapa hari lagi.
"Ayah ... kenapa kau malah menangis?" Lucius menggapai tangan ayahnya yang terletak di atas ranjang.
"Aku sangat bersyukur Lucius, akhirnya kau pulang. Kau tahu betapa takutnya aku," ucap Eloy dengan suara serak.
Lucius tertawa sambil menggenggam tangan ayahnya. "Kita akan pulang ayah, berkumpul kembali nantinya dengan satu anggota keluarga yang baru, dia cantik karena rambutnya mirip ibunya ...." ucap Lucius dengan nada bangga.
"Hanya rambutnya?" Eloy menghapus airmatanya sambil terkekeh. Cucunya lebih mirip dengan Mike, mata berwarna abu-abu dengan wajah yang didominasi oleh wajah sang ayah. Hanya rambutnya yang hitam yang menandakan ia berasal dari keluarga Sanchez.
"Kurasa itulah bagian terbaik dari putri kecil kita itu." ucap Lucius lagi, Eloy Sanchez terkekeh, karena beberapa saat sebelumnya ia mendengar langkah kaki yang memasuki kamar. Langkah kaki itu kini sudah berhenti di samping kursi rodanya.
"Terserah padamu, rambutnya memang cantik, dan syukurlah hitam seperti rambut ibunya. Tidak hitam seperti rambut pamannya ...." Mike menatap iparnya itu dengan wajah datar. Lance yang berdiri di belakangnya membuang muka, menyembunyikan senyum gelinya. Begitu juga dengan Eloy yang menunduk menyembunyikan senyum mendengar ucapan Mike.
Lucius menyerigai ketika Mike telah berdiri di depannya," Apakah Gina sudah melihatnya?"
Mike mengangguk, " Tadi ia didorong sebentar ke tempat perawatan bayi. Kemudian perawat membawanya kembali segera ...."
"Kenapa?" Lucius bertanya khawatir.
"Dia tidak berhenti menangis hingga nafasnya sesak."
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sudah kembali ke kamar. Cecilia yang menungguinya. Kau sudah diperbolehkan pulang ... apakah kau mau menjenguk Regina dulu? ia pasti mau bertemu denganmu sebelum kau pulang."
"Tentu saja ... aku akan menemuinya dulu." ucap Lucius sambil bergerak dibantu oleh Lance ke kursi roda yang telah di dorong masuk oleh seorang perawat. Ia duduk dengan nyaman, ketika perawat mulai mendorongnya, Mike meminta pada perawat agar membiarkannya mendorong kursi roda Lucius.
"Kau yakin akan mendorongku dengan pelan? apa sebaiknya Lance saja yang mendorongku?" Lucius menyerigai di kursi rodanya.
"Diamlah ... beruntung kau adalah kakak dari Reginaku, jika tidak ...." ucapan Mike sengaja berhenti.
Lance yang mendorong kursi roda Eloy akhirnya tidak bisa menyembunyikan tawanya. Begitu juga dengan Eloy Sanchez. Dua pria itu terbahak dengan tertahan.
"Kau sudah mulai memancingku lagi, kurasa kau sudah sembuh sepenuhnya," ucap Mike dengan nada masam.
Lucius tertawa," Sepenuhnya adik ipar ... aku sudah merasa sehat sepenuhnya."
Mereka sampai di ruang perawatan Reggie. Cecilia Damario dan Amy Langton sudah duduk di masing-masing sisi ranjang.
"Amy? apa Derek tidak bersamamu?" Mike bertanya dengan kening berkerut ketika melihat kehadiran istri Derek.
"Tidak," jawab Amy pendek. Wajah yang cemberut itu membuat Mike mengerti kalau suami istri itu masih belum berbaikan. Amy marah besar pada Derek yang tidak memberitahunya kabar tentang Reggie yang diculik dan disekap sampai dirawat di rumah sakit.
"Dia sangat sedih Amy ," ucap Mike dengan nada membujuk. Reggie yang bersandar setengah duduk di ranjangnya meremas tangan Amy yang tengah menggenggam tangannya.
"Aku juga sangat sedih, Derek melakukannya lagi, merahasiakan semuanya dariku ...." rutuk Amy sebal.
"Karna ia tidak mau kau khawatir. Kau akan melahirkan saat itu ..." Reggie ikut membujuk.
"Oh, berhentilah mengurusiku! Aku bisa mengurus diriku sendiri! Sekarang ini yang harus difikirkan adalah dirimu Reggie," ucap Amy bertambah kesal.
Semua orang terdiam, percuma membantah jika Amy sedang merasa sangat jengkel.
"Kau sudah diperbolehkan pulang?" tanya Cecilia pada Lucius.
"Benar ... aku kemari mau melihatmu Gina, cepatlah sembuh, agar kau juga bisa pulang."
Reggie mengangguk," kau juga jaga dirimu,"
"Kuharap si mungil juga bisa pulang secepatnya," ucap Lucius lagi.
"Ah, apa kalian sudah menyiapkan namanya?" Amy bertanya dengan senyum ingin tahu.
"Well ... kami memutuskan agar kaulah yang akan memberi nama pada putri kami, Kak." Reggie mengucapkan permintaannya.
Lucius terpana, terkejut dengan permintaan itu. Ayahnya yang berada di sebelahnya menepuk pelan bahunya.
"Ayo, Uncle Lucius ... berikan nama yang cantik untuk keponakanmu," ucap Eloy Sanchez.
Semua orang terdiam, menunggu dan menatap ke arah Lucius yang mengerutkan dahinya.
"Aku ...." Lucius lalu berdehem beberapa kali.
"Baiklah, aku terkejut kalian memberikan kesempatan ini padaku ..." Lucius melirik ke arah Mike yang hanya menatap datar ke arahnya.
"Aku tidak tahu kalian akan suka atau tidak. Tapi jika kalian memberikan kehormatan ini padaku, maka aku akan memanggil si mungil ini dengan nama Marie ...."
"Marie ...." gumanan pelan terucap dari beberapa bibir, mengulangi nama yang di sebut oleh Lucius.
"Ya, Marie ... kuambil dari nama seorang wanita yang selalu kuingat sejak pertemuan pertama dengannya hingga saat ini ...." ucap Lucius.
"Marie Eliazar ...." ujar Mike perlahan.
"No, Marie hanya nama panggilannya, Mike. Diambil dari nama Marinna Eliazar."
Reggie, Eloy dan Amy menangis bersamaan mendengar perkataan Lucius.
"Itu nama yang cantik Lucius," puji Amy sambil menangis.
"Tentu saja, Mungil." Lucius menyambut tangan Amy yang terulur ke arahnya dan meremasnya pelan. Mereka berbagi senyum sebelum menoleh ke arah Reggie.
"Oh, kemarilah! peluk aku!" Reggie merentangkan tangannya dengan air mata berlinang. Lucius segera bangkit dan memeluk adiknya.
"Tapi kuharap ia tidak cengeng seperti ibunya." ucap Lucius sambil mengecup puncak kepala Reggie.
Reggie menepuk punggung kakaknya dan bertambah kencang menangis, membuat orang-orang yang mengelilinginya tertawa.
"Oh, Tuhan. Kita memberi nama anak-anak dengan nama-nama mereka. Mengingat sosok mereka setiap kali nama putra dan putri kita disebut. Erland, Arthur ... dan Marinna." Amy membersit hidung dan mengelap air mata di pipinya.
"Mereka orang -orang yang sangat hebat dan memberi kita cinta yang amat besar ...." lanjut Amy lagi.
"Apakah Arthur nama putra keduamu Amy?" Cecilia Damario tiba-tiba bertanya, memecah keharuan yang menyelimuti ruangan itu.
"Apa kau tidak tahu itu, Nona Cecilia?" ucapan dengan nada datar itu membuat Cecilia menoleh cepat ke arah sumber suara. Ia mendapati tangan kanan Lucius yang bernama Lance yang tadi bertanya.
Cecilia menaikkan alisnya," Ya, aku memang tidak tahu, Tuan."
"Wajar saja, Cecil sayang ... kau ketinggalan berita, karena Eve harus menunggui dan menjagaku, maka kau didaulat ayahmu untuk menunggui dan menjaga Reggie. Bayi ku diberi nama Arthur Sky Langton, Cecil," jelas Amy
"Selamat Amy," ucap Cecil dengan senyum tulus. Amy mengangguk dan menepuk pelan lengan atas gadis itu.
Lalu Cecilia kembali menatap ke arah Lance. Lance balas menatap, keduanya berpandangan, makin lama kilau di mata Cecilia makin tajam. Mata bulat besar itu menatap tajam ke arah Lance, tak urung membuat Laki-laki itu akhirnya sedikit bergidik.
Gadis ini tersinggung ....
**********
From Author,
please Like,love ,bintang lima, komentar dan vote nya ya my readers....
terimakasih.....
Salam, DIANAZ