
Homer melirik Mike yang memandangi langit. Terlihat jelas Mike belum melupakan masa lalu di Mansion Eliazar, walaupun ia terlihat biasa, seolah-olah tidak lagi merasa terganggu oleh nama Rudolf Eliazar.
"Pernahkah kau membicarakannya dengan Derek?" Homer mencoba menyelami perasaan Mike sekarang terhadap masa lalu pahit itu.
Mike menggeleng.
"Tidak. Dia pernah bertanya tentang masa laluku sebelum ia datang ke keluarga Langton, tapi .." Mike mengendikkan bahunya.
"Kau tidak pernah mau membicarakannya."
"Ya. Kurasa begini lebih baik."
Jawaban Mike membuat Homer berhenti bertanya. Mereka memancing dalam diam sampai akhirnya Homer merasa lelah dan ingin tidur.
Lelaki tua itu membereskan peralatan memancingnya dan menggelar kantong tidur di sisi api unggun.
Mike melakukan hal yang sama. Ia membereskan peralatan pancingnya yang tidak mendapatkan ikan satupun malam ini. Kemudian menambahkan kayu bakar pada api unggun yang dibuatnya. Mike melirik ke arah Homer yang sudah berbaring nyaman di dalam kantong tidur dan Mike menggelar alas kantong tidurnya sendiri di sisi lain api unggun sebelum membaringkan tubuhnya dengan nyaman.
"Aku tidak ingin ikut campur terhadap keputusanmu, Mike. Kau berhak melakukan apa yang menurutmu benar. Hanya saja ... Keluarga Eliazar bukan hanya Rudolf. Ada kakek dan kakek buyutmu yang merupakan orang-orang dengan jasa besar dan kesetiaan teruji. Keluarga Eliazar adalah penyokong Klan Langton sejak awal. Kakek buyutmu malah memberikan nyawanya untuk keselamatan keluarga Langton."
Mike menoleh dan melihat Homer memandangi langit malam di atas sana. Lelaki tua itu menerawang ke masa lalu.
"Rudolf melakukan kesalahan besar dengan mengkhianati Erland. Tapi hanya dirinya yang berkhianat. Keluarga Eliazar yang lain tidak ada hubungannya."
"Tetap saja, Paman ... ia seorang Eliazar."
Homer diam mendengar nada suara Mike yang terdengar pahit.
"Berdamailah dengan masa lalumu, Anakku. Angkat kembali kejayaan dan derajat keluarga Eliazar. Salah satu keluarga utama di klan Langton."
Mike memejamkan matanya, lalu perlahan ia berbaring miring membelakangi Homer dan api unggun.
Cerita pengkhianatan ayahnya kembali berputar di kepala Mike. Saat Erland yang sudah mengetahui pengkhianatan Rudolf datang ke Mansion Eliazar.
Erland datang dengan beberapa pengawal dan memojokkan Rudolf dengan bukti-bukti yang ia sodorkan. Sudah berlangsung sangat lama dan merugikan Klan Langton bertahun-tahun. Rudolf bahkan menghabisi beberapa orang yang diketahui mulai menyelidiki tentang pekerjaannya.
Suara ribut di ruang kerja ayahnya itu membuat Mike ingin melihat, lalu mendatangi ruangan itu.
Matanya terbelalak ketika melihat pengawal Erland dengan dingin telah menodongkan senjata ke arah ayahnya yang terpojok.
Merasa tidak mengerti atas perselisihan itu Mike mencoba memohon pada Erland untuk bicara dan melepaskan ayahnya.
"Keluarlah ... Mike." Erland memerintahnya dengan suaranya yang bijak dan teduh. Mike menggeleng dan kembali meminta Erland menyuruh para bodyguard itu keluar.
"My son ... please ...." Mike ingat dengan jelas suara Erland yang memohon. Erland menyayangi Mike seperti putranya sendiri, mereka dekat dan ayahnya pun adalah orang kepercayaan Erland, tapi suasana panas dan hawa membunuh di ruangan itu membuat Mike sungguh tidak mengerti.
"Suruh mereka pergi. Erland!" teriak Rudolf, ia menyipit dengan sikap tubuh membangkang.
"Tidak. Aku memberi kesempatan padamu untuk menebusnya, mengingat jasa keluarga Eliazar. Jadi menyerahlah, Rudolf." Suara Erland tenang dan tegas.
"Menebusnya dengan apa? Terkurung di penjara bawah tanah dengan para ******** yang kau sekap di sana? Menanti makanan hambar dan sedikit air putih sebagai tanda kemurahan hatimu setiap hari di penjara gelap dan pengap itu ... Hakh! ... aku seorang Eliazar! Aku lebih baik mati daripada terhina kau jadikan budak atau terhukum dengan tanda pengkhianat kau sematkan di keningku!"
"Paman ... Ayah ...." Mike menoleh ke arah Erland, lalu ke arah ayahnya dengan terbeliak. Lalu tanpa menyadari apa yang terjadi, Mike sudah berada di dalam pelukan ayahnya. Satu lengan ayahnya memeluknya dari belakang, namun yang membuat Mike syok adalah sebuah pistol yang diarahkan ayahnya ke pelipis Mike.
Dengan teriakan marah para pengawal Erland bersiap menarik pelatuk dari senjata yang sejak tadi sudah teracung ke arah Rudolf. Namun tangan kanan Erland yang terangkat membuat mereka menahan diri.
Rudolf terkekeh melihat Erland yang memandangnya dengan geram.
"Kau menyayangi anak ini seperti anakmu sendiri bukan. Sekarang suruh mereka keluar!" Rudolf tersenyum menantang, ia seolah akan segera menarik pelatuk.
"Ay ... Ayahhh ...." Mike tergagap ngeri. Tidak percaya ayahnya menjadikannya tameng dan mengancam akan menembak anaknya sendiri. Mike melotot memandang ke arah Erland yang menatap mata ayahnya.
"Kau anggap aku bercanda?" Seiring kata itu berakhir, Rudolf memindahkan pistolnya menempel ke paha Mike dan langsung menembak.
Mike terbeliak lebar, rasa terkejut dan tak percaya melumuri matanya. Erland mundur perlahan dengan dua tangan terangkat menyerah. Ia menoleh dan memerintahkan pengawalnya agar keluar.
"Keluarlah ... pergi dari sini."
"Tapi Tuan ...." Salah satu pengawal itu keberatan. Tapi Erland menggeleng.
"He is my son ... Go!" Dengan satu perintah itu semua pengawal itu keluar.
Darah mengalir menuruni paha dan membasahi celana panjang Mike. Ia tidak merasakan apapun di kakinya. Tapi di hatinya, ia merasakan sakit yang luar biasa. Ayahnya menembaknya dan Erland melakukan apapun perintah laki-laki itu untuk melindungi nyawa Mike yang bukan anak kandungnya. Saat itu air mata Mike tanpa disadari meleleh. Kedua tangannya memegang lengan ayahnya yang membekapnya erat.
Ia memandang ke mata Erland yang menyimpan ketakutan, takut akan nyawa Mike yang saat itu menjadi taruhan. Ketakutan itu juga dilihat oleh Rudolf. Ia tahu Erland akan melakukan apapun agar Mike tidak dilukai.
"Kau tidak bisa keluar dari sini," ucap Erland dingin.
"Tentu saja bisa. Michael akan menjadi tamengku, dan kau harus perintahkan anak buahmu menyingkir!kalau tidak pelatuk ini akan kutarik sekali lagi untuk kepalanya!"
Mata Mike makin membelalak lebar, "Ayah," bisiknya serak.
Erland memandang Mike dengan wajah iba. Ia tahu Mike sangat terpukul mengetahui ayahnya melakukan hal memalukan dan sangat rendah.
"Kau tahu ... mereka tetap akan menembak karena aku aman di luar jangkauanmu. Beberapa anak buahku ada di luar pintu mansion. Mereka tidak akan ragu menembakmu dan juga putramu."
Ucapan Erland membuat Rudolf sadar tamengnya kurang kuat. Ia menyeringai dan memerintah Erland mendekat.
"Kalau begitu kau saja yang jadi alas tembakku, Langton!"
Dengan kasar Rudolf mendorong Mike dan memerintahkan putranya itu mengikat tangan Erland di belakang tubuhnya dengan kuat.
Dengan anggukan dan senyum menguatkan, Erland membiarkan Mike mengikat tangannya, lalu Rudolf menendang betis Erland agar melangkah keluar. Sepanjang jalan yang mereka lalui terlihat anak buah Rudolf dan pengawal Erland saling mengacungkan senjata. Namun melihat Erland yang telah ditawan dengan sebuah pistol di punggungnya membuat para pengawal Erland mundur.
Sesampai di dekat mobil yang sudah menunggu, Erland menoleh ke belakang, melirik Mike yang mengikuti dengan terpincang tak jauh dari sana.
Sedetik sesudahnya Erland berusaha melepaskan diri dari tangan Rudolf. Gerakan itu membuat Rudolf menarik pelatuk dan menembak.
Dalam gerak lambat Mike terkenang saat ia berteriak melihat Ayahnya menembak Erland, namun sedetik kemudian pria itu juga tumbang dengan kepala tertembus peluru. Seorang penembak jitu sudah menembak kepalanya. Mansion itu rupanya sudah terkepung. Erland hanya perlu memancing Rudolf keluar sebagai langkah terakhir jika pria itu tetap membangkang.
**********