
Madam Gavany menarik nafas panjang setelah melihat kedatangan Ally dan Alan pagi itu di Restorannya. Ia tahu Ally sudah mengambil keputusan untuk pergi dan berhenti bekerja.
"Kau akan pergi?" tanyanya pada gadis itu.
Ally mengangguk sedih, "Carloz akan menangkap kami jika kami tetap di sini, Madam."
"Aku tahu ... kuharap kalian akan baik-baik saja," Madam melirik Lucius. Ia memberi tanda dengan jarinya agar Lucius mengikutinya.
"Aku mau bicara denganmu, Anak muda," ucapnya tegas.
"Panggil aku Lucius, Madam."
"Baiklah Lucius. Aku tahu kau sebenarnya tidak seperti yang terlihat. Berlian di telingamu memberiku sebuah dugaan. Namun, apapun dirimu, aku berharap kau memang berniat baik dan benar-benar menjaga dan melindungi kedua kakak beradik itu."
Lucius langsung memegang telinganya setelah mendengar ucapan Madam. Wanita itu terkekeh.
"Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, Lucius. Tapi aku tahu kau dapat menolong Ally. Aku tidak dapat melakukan apapun karena Carloz adalah memang wali sah gadis itu dan Alan adalah putranya. Tapi kau bisa melakukan sesuatu tentang itu bukan ...."
Ucapan Madam membuat Lucius menaikkan alisnya. Lalu keduanya sama-sama tersenyum.
"Tentu Madam ... kau bisa yakin aku akan menjaga keduanya mulai saat ini. Tidak perlu khawatir. Ally beruntung ia bertemu denganmu setelah pelariannya," ucap Lucius.
"Dan takdir berbaik hati padanya dengan mempertemukannya denganmu ,Lucius."
Wanita itu lalu menepuk pundak Lucius, "Aku bisa merasa tenang kalau begini," ucapnya dengan nada lega.
Madam mengantarkan tiga orang itu ke sebuah mobil yang dibawa Lucius ketika mereka datang untuk berpamitan.
"Jangan sedih Ally ... Kau akan baik-baik saja. Percayalah pada Lucius. Dia akan menjaga kalian,"
Ally mengangguk, lalu memeluk dan mencium pipi Madam, kemudian ia menggendong adiknya agar bisa ikut mencium pipi Madam.
Madam Gavany tidak dapat menahan lelehan air matanya. Wanita itu menangis terisak-isak sambil memeluk Alan dan Ally.
"Oh, Alan ... Cleome akan merindukanmu nanti ... Aku juga," bisiknya lirih.
"Aku juga Madam Gavany. Aku akan sangat melindukanmu dan Cleome," Alan menimpali sambil kembali mencium pipi Madam. Wanita itu jadi semakin keras menangis.
Ally menghapus lelehan air matanya dengan lengan, "Sekali lagi terimakasih," ucapnya serak.
"Aku menyayangimu ,Madam." Alan melambaikan tangannya setelah mereka melepaskan pelukan.
"Oh, Alan ... Aku juga," isak wanita itu pilu. Lalu ia menatap ketika Lucius membukakan pintu mobil untuk Ally dan Alan, keduanya masuk dan pintu ditutup kembali oleh Lucius. Setelahnya, Lucius mendatangi Madam dan mencium pipinya, kiri dan kanan.
"Terimakasih, Aku pasti mengajaknya kemari. Entah kapan waktunya ...Tapi aku berjanji akan mengunjungimu lagi," ucap Lucius.
Madam Gavany mengangguk antusias.
"Ya ... Ya ,Lucius." ucap wanita itu sambil menghapus air mata di pipinya.
Lucius kemudian berbalik, melangkah ke arah mobil, ia melambai sebelum akhirnya masuk ke belakang kemudi.
Ally sudah mengenakan sabuk pengaman, ia memeluk Alan di pangkuannya.
"Kalian siap? " tanya Lucius bersemangat.
Kedua kakak beradik itu tersenyum dan mengangguk bersamaan.
**********
Lance hanya bisa menurut. Semua orang seolah ingin memberinya saran. Seorang gadis yang masih berumur belasan yang merupakan putri salah satu keluarga klan Langton malah berani mengedipkan mata menggoda ke arahnya. Lance menepuk dahinya, gadis itu mungkin baru empat belas tahun.
Di kejauhan, Reggie dan Amy terkikik. Merasa lucu dan terhibur melihat ekspresi Lance.
"Dia terlihat ingin sekali melarikan diri," ucap Amy.
"Aku jadi kasihan melihatnya," Reggie memandang geli sambil menyesap teh.
Kehebohan di arah kolam renang membuat semua orang menoleh. Setiap mata menonton dan menatap takjub pada empat orang gadis yang tengah berlomba di sana.
Lance menatap dan terpaku pada gadis dengan pakaian renang berwarna hijau, Ia mengernyit ketika melihat Cecilia Damario dengan pakaian renang yang hanya menutup sebagian dari tubuhnya.
Lalu ia mengenali Evangeline yang memakai pakaian renang berwarna merah. Dua gadis lainnya, Lance lupa-lupa ingat nama mereka. Yang pasti, mereka anggota keluarga klan Langton.
Empat orang itu melintasi kolam dengan sangat lincah. Nampak sekali perbedaan mereka. Evangelin memimpin, Nona Damario dan dua gadis lainnya tertinggal jauh kebelakang.
Nona Damario yang lembut dan manja bukanlah tandingan Evangeline.
Ketika para gadis itu naik ke permukaan dengan tawa membahana, Lance menatap dan menelan ludah. Cecilia tampak sangat sexi .. Lance berusaha menata detak jantungnya yang mulai tidak tahu diri.
Ya Tuhan ... Aku mengalami masalah besar. Ini sudah tidak benar. Kenapa jantungku berdetak tidak menentu memandang gadis itu. Evangeline lebih sexi lagi darinya, tapi kenapa aku menatapnya biasa saja.
Lance membuang muka ke arah lain. Ia mengulurkan tangan, mengambil gelas jus di hadapannya dan meminumnya hingga habis.
Aku harus pergi dari sini ... Gadis itu calon tunangan Tuan Lucius. Ada apa sebenarnya denganmu ,Lance!!
Lance memarahi dirinya sendiri, ia bangkit dan pergi dari tempat itu. Berjalan menyusuri sisi bangunan rumah sampai ia tiba di bagian taman.
Taman itu sepi, karena semuanya berkumpul di belakang di dekat kolam renang. Lance menuju gazebo dan duduk bersandar di kursi panjang berwarna putih. Ia memejamkan mata, mengatur nafas dan merileks kan tubuhnya.
Cecilia melihat di kejauhan kelebat Lance yang pergi meninggalkan tempat itu. Ia menyadari pria itu ada di sana sejak awal, namun berpura-pura bersikap biasa dan tidak tahu atas kedatangan Lance. Sekuat tenaga Cecilia menahan agar matanya tidak memandang laki-laki itu, tapi itu terlalu sulit. Sesekali, Cecil tetap melirik, seolah matanya punya keinginan sendiri. Sekedar memastikan bahwa Lance masih berada di sana.
Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk, Cecilia segera memakai jubah mandi untuk menutupi tubuhnya. Ia melirik ke arah pinggir kolam dan menyadari Evangeline dan Alex sudah berdiri di pinggir kolam dalam posisi bersiap. Keduanya meluncur ketika teriakan Derek menggema menandakan pertarungan kedua orang itu dimulai. Semua orang berteriak heboh dan banyak yang berlari mendekat ke arah kolam, ingin melihat pertarungan sengit itu dari dekat.
Cecilia memandang berkeliling, semua orang fokus pada Eve dan Alex di kolam renang. Ia mundur perlahan dan ketika yakin tidak ada orang yang akan menyadari jika ia pergi, Cecilia berbalik cepat dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ia menyusuri taman, dan ketika melihat Lance yang terpejam di kursi gazebo, langkahnya terhenti.
Cecilia melahap pemandangan pria tampan yang tengah terpejam itu. Ia mendekat dengan langkah pelan tanpa suara. Lance sungguh terlihat mendebarkan dengan dua kancing kemejanya yang terbuka di bagian atas. Laki-laki itu tampak santai, jauh dari kesan formal, seperti ketika ia mengenakan pakaian kantornya dengan jas yang hanya berwarna hitam itu. Cecilia mengernyit menyadari kemeja yang Lance kenakan sekarangpun juga berwarna hitam.
Cecilia berhenti ketika beberapa langkah lagi ia akan tiba di dekat kursi Lance. Namun sebuah batu kerikil terinjak olehnya dan melenting hingga menimbulkan suara yang menyebabkan mata Lance terbuka.
Lance tampak sangat terkejut. Pria itu segera menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar.
"Nona Damario ...." ucap Lance sopan.
Cecilia menaikkan kedua alisnya yang cantik. Rambutnya yang masih basah ditarik kedepan dan tergerai ke bagian dada, tampak meneteskan air ke jubah mandinya, hingga tampak noda noda basah berbentuk bulatan di jubah itu.
Lance berusaha tidak memandang ke arah jubah mandi yang basah dan mencetak bagian dada gadis itu.
"Nona dan Nona ... Bisakah kau hanya memanggilku Cecil, seperti yang lainnya!" ucap Cecilia kesal.
"Maaf Nona ... Tapi anda memang Nona Damario ...." Lance menanggapi dengan sabar nada suara jengkel dari gadis itu.
"Aku tahu aku seorang Damario, Lance! Tapi kini aku memerintahkanmu untuk memanggilku Cecil!" perintah gadis itu tegas.
Lance ingin sekali tersenyum geli, gadis itu mulai memerintahnya. Namun ia hanya mengatur wajahnya datar seperti biasa.
"Sepertinya Anda ingin bersantai di sini, Saya tidak akan mengganggu, Saya permisi dulu ...."
Lance bangkit berdiri dan baru satu langkah melewati Cecilia ketika tangan gadis itu menahan lengannya.
Dengan suara mendesis dan mata membulat kesal, Cecilia memegang erat bagian siku Lance dan mendongak, menatap tajam ke arah mata Lance yang tampak terkejut atas keberanian gadis itu.
"Well ... ternyata bisa juga ekspreai datarmu itu hilang. Kau terkejut? Aku bisa memberimu kejutan yang lebih lagi, Lance ...."
Lalu dengan sangat berani, Cecilia mendekatkan tubuhnya dan berjinjit, kedua tangannya sudah menahan kepala Lance di kiri dan kanan.
Cecilia Damario tahu ia berbuat sangat nekat. Hal tergila yang pernah ia lakukan di sepanjang umurnya yang 23 tahun ini. Jantungnya bertalu ketika ia mendekatkan tubuhnya, berjinjit lalu mendekatkan bibirnya ke arah bibir pria yang selalu mengganggu tidurnya itu. Tangan Cecilia menahan kepala Lance dan mengarahkannya ke bawah agar ia leluasa mencium pria itu.
Lance yang sangat terkejut kehilangan kekuatan beberapa saat, jantungnya berdebar tidak teratur, tubuhnya kaku dan matanya melotot memandang gadis yang memaksa mencium lalu mengecup bibirnya itu.
Tanpa keduanya menyadari, Mike yang melihat gelagat Cecilia merasa penasaran ketika gadis itu mundur lalu berbalik cepat meninggalkan area kolam renang. Mike lalu mengikuti gadis itu. Pemandangan gadis berambut pirang kecoklatan yang tengah memaksa mencium Lance itu membuat mata Mike melotot terkejut, tapi ia menyerigai lebar beberapa saat kemudian. Cecilia Damario punya keberanian seperti yang dimiliki semua keluarga klan Langton. Ia rupanya tak beda jauh dengan Evangeline, mengejar apa yang mereka inginkan dengan sepenuh hati.
Masih dengan serigai lebar di bibirnya, Mike berbalik dan pergi meninggalkan pasangan itu.
Paman Frank, Putrimu sudah menetapkan siapa yang dia inginkan ...menantumu sudah ditetapkan, Paman. Mike berucap di dalam hatinya.
**********
From Author,
Perjalanan Ally dan Lucius baru aja dimulai ya Readers, ikuti kisahnya terus di LS 2.
Ayo Nona Cecilia ,pepet terus, jangan kendor ππππππππ
Please my Readers ... Like dong di tiap Chapter agar performa LS 2 naik terusππ juga bintang lima dan favorite nya bagi yang belum klik. Komentar dan saran di kolom komentar juga Author tunggu.
Terimakasih semua,πππ
Salam, DIANAZ.