Love Seduction

Love Seduction
Chapter 66. Chain



Reggie merasakan hawa dingin yang lembab dalam kegelapan pekat yang mengelilinginya. Perlahan ia berjalan menelusuri jeruji ke sisi kanan penjara. Sampai ke sudut ia berjalan lagi perlahan menelusuri dinding gelap sampai ke sudut bagian dalam.


Reggie berjongkok, lalu mulai meraba-raba lantai yang terasa kasar dan dingin di jari-jarinya, kemudian ia duduk dan bersandar di dinding. Hawa dingin mulai masuk menembus seragam pelayan yang ia kenakan. Reggie menekuk kaki dan merebahkan kepala di atas lutut. Ia memejamkan mata dan membayangkan wajah ibunya. Semua kenangan bersama ibunya yang hanya digariskan hidup bersamanya hanya sampai ia berumur 13 tahun.


Mother Greta adalah orang terakhir yang bersama ibunya sebelum meninggal. Ibunya tertabrak mobil setelah keluar dari pelataran rumah sakit karena menyelamatkan Greta Sky, yang saat itu sedang syok setelah mendapatkan berita hasil pemeriksaan medis yang mengatakan ia mengidap kanker otak.


Greta saat itu sangat sedih, merasa kosong dan kehilangan arah karena merasakan kematiannya sudah menjelang. Menangis mengingat Amy yang saat itu masih berusia 8 tahun dan Arthur yang sangat ia cintai. Tanpa sadar Greta berjalan tanpa arah dan sebuah mobil yang saat itu melaju kencang tidak dapat lagi mengelak . Marinna yang menemani Greta ke rumah sakit saat itu melihat dan bergerak reflek mendorong Greta. Tubuh Greta terempas ke pinggir, namun Marinna tertabrak dan terseret.


Marinna dibawa ke rumah sakit dengan tubuh penuh darah. Saat masih sadar ia tersenyum pada Greta yang meraung sambil memegang tangannya.


"Sttt ... jangan menangis Isabel. Aku tidak takut akan kematian, karena Reggieku sudah aman bersamamu. Hanya satu yang kusesali dalam hidupku ini Isabel ... mengkhianati putraku untuk memberi hidup pada putriku. Kutitipkan Reggieku padamu ...."


Mother Greta menceritakan semuanya pada Reggie. Tidak satu pun ditutupi. Greta Sky berjuang melawan kanker itu selama tujuh tahun sebelum akhirnya penyakitnya menang dan ia meninggalkan dunia ini.


Reggie menangis dalam gelap. Ia punya dua ibu dalam hidupnya. Dua ibu yang sangat mencintainya dan memberikan segalanya. Tapi Lucius tidak punya satu pun. Ibunya bukanlah ibu. Ia punya keluarga lengkap dalam naungan Arthur Sky, bahkan kasih persaudaraan yang erat dengan Amy. Tapi Lucius yang sedarah dengannya hanya menerima pengkhianatan. Sekarang satu-satunya orang yang dekat dengan kakaknya itu, ayah mereka, Eloy Sanchez ... terbaring tanpa daya di rumah sakit.


"Apapun yang akan kau lakukan padaku, aku akan menerimanya. Aku akan menanggung rasa sakitnya. Kuharap setidaknya bisa meringankan bebanmu ...." Reggie berbisik di dalam gelap.


Setelah beberapa saat Reggie berhenti menangis. Ia memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Rasa dingin makin terasa, Ia mulai merinding dan menggigil.


Pikirannya ia alihkan pada Mike, Pria itu mencium dan mengecupnya sebelum pergi, perlahan Reggie menyentuh bibirnya sendiri dengan tersenyum, lalu ia beralih pada Amy. Betapa ia ingin melihat perut Amy yang sekarang pasti sudah membesar. Ia penasaran bayi Amy laki-laki atau perempuan. Memikirkan itu hati Reggie menjadi hangat, ia memejamkan mata dan akhirnya tertidur dengan bibir menyunggingkan senyuman.


**********


Pagi menjelang dan Elina menyadari Reggie tidak kembali dan tidur di kamar. Setelah dipanggil tuan Lucius, temannya itu seperti menghilang. Dengan tergesa Elina mengedarkan pandangan di tiap sudut mansion mencari Lance.


"Tuan ... Tuan Lance." Elina datang dengan wajah khawatir. Menghentikan Lance yang membawa satu tas kanvas lebar yang terlihat berat. Wajah lelaki itu terlihat sangat muram.


"Ada apa Elina?"


"Tuan, dimana Reggie? Tolonglah beritahu saya. Katakan ia baik-baik saja."


Lance menarik napas panjang. "Sekarang ia masih baik-baik saja, Elina."


"Sekarang? Apakah akan berbeda untuk besok, Tuan?" Elina meremas celemeknya dengan gelisah.


"Aku sungguh tidak tahu, Elina. Sudahlah. Kerjakan saja tugasmu." Lance akan berlalu meninggalkan Elina.


"Tuan, tunggu, saya mohon. Katakan dimana Reggie sekarang, Tuan."


"Dia terkunci di penjara bawah tanah dan maaf Elina, Aku tidak bisa membukanya untukmu." Lance berlalu sebelum gadis itu kembali bertanya. Ia menuju sayap barat. Tempat tuannya Lucius telah menunggunya untuk membawakan benda-benda yang sangat membuat Lance gelisah.


Lance mengetuk pintu dan menunggu tuannya menyuruhnya masuk.


Lucius memandang Lance yang membawa tas kanvas lebar. Ia mengangguk dan menunjuk ke atas meja, tanda agar Lance meletakkan benda itu di atas mejanya. Lance meletakkan tas kanvas lalu membuka retsleting yang mengelilinginya. Lance membentangkan bahan kanvas tebal itu di atas meja.


Pemandangan aneka macam benda tajam yang di susun dalam kantong kantong dalam berbagai ukuran terpajang di hadapan Lucius. Ia mengangguk puas dan menyeringai.


"Sekarang ayo kita turun. Kita lihat apakah Gina kita tidur nyenyak malam ini."


Lucius berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Lance yang masih berdiri memandang pisau- pisau tajam di hadapannya. Memangnya apa yang akan dilakukan tuannya dengan benda-benda ini, pikirnya gundah.


"Lance!"


Teriakan itu membuat Lance tersentak, Ia segera berbalik dan menyusul tuannya yang sudah lebih dulu melangkah menuju sel bawah tanah.


Suara langkah kaki yang menuruni tangga di luar pintu sayup-sayup terdengar oleh Reggie. Ia terbangun karena kedinginan dan tidak lagi bisa tidur hingga kini. Ia tidak tahu apakah sekarang hari sudah pagi.


Reggie kembali duduk di sudut dan bersandar ke dinding. Ia merilekskan tubuh dan memejamkan mata seolah-olah tengah tertidur.


Pintu besi terbuka dan Lucius masuk disusul oleh Lance di belakangnya.


"Gina?" Lucius mengernyit melihat Reggie diam tidak bergerak.


"Hei Gina!" Lucius memanggil lebih kencang. Dengan menggeliat seolah baru terbangun dan mengernyit karena terganggu, Reggie menguap dan membuka matanya perlahan.


Ia pura-pura terkejut melihat Lucius dan Lance yang telah berdiri di depan jeruji.


"Well ... sepertinya tidak berpengaruh untuk tidurmu terkurung di sini dan berada dalam gelap, Kau masih bisa tertidur nyenyak rupanya, Gina."


Reggie hanya diam. Lance mulai gelisah apa yang akan tuannya lakukan selanjutnya.


"Sudah punya jawaban untukku, Gina?"


Regina hanya menatap dengan mulut terkunci.


"Dimana ibumu?"


Hening.


"Lance ... ikat dia dengan rantai-rantai itu! Aku ingin tahu apakah ia juga bisa tidur dengan posisi berdiri!"


**********