
Elina menggulung selimut, lalu meninggalkan kamar. Dengan menguatkan tekad ia pergi melangkah ke sayap barat. Tuan Lance harus mendengarkannya.
Perlahan Elina mengendap-endap. Ia ingin menemui tuan Lance diam-diam tanpa sepengetahuan tuan Lucius. Elina berjalan perlahan, mengintip di tiap ruangan yang terbuka dengan mengatur langkah jangan sampai mengeluarkan bunyi.
"Apa yang kau cari?" Suara heran yang menegurnya itu membuat Elina berpaling dan bernapas lega. Ia takut sekali ia akan bertemu tuan Lucius.
"Tuan, saya mohon izinkan saya turun ke sel bawah tanah menemui Reggie. Hari sudah malam dan ia pasti sangat kedinginan di bawah sana. Sa--saya ingin memberinya sehelai selimut."
Elina memandang takut-takut pada Lance yang terlihat berpikir. Tak lama kemudian ia mengangguk sambil melangkah memasuki sebuah ruangan. Lance keluar tak lama kemudian dengan memegang sekumpulan kunci.
"Ayo Elina. Sekalian aku minta bantuanmu untuk membujuk Reggie makan. Ia tidak menyentuh makanan apapun yang kubawa untuknya."
Elina terbelalak. "Reggie tidak makan apapun?"
Anggukan Lance membuat Elina mengernyit.
Apa gadis itu mau mati?
Mereka masuk ke ruang bawah tanah, Lance langsung melangkah menuju pintu besi kedua. Elina memandang sel-sel yang kosong dan tidak melihat Reggie di sana. Ia mengernyit heran tetapi memilih untuk diam, Lance lalu membuka satu pintu besi lagi dan kegelapan yang pekat menyambut mata mereka.
Lance menghidupkan lampu yang sangat redup dalam ruangan itu, arah matanya langsung menuju ke arah sel Reggie.
Elina mengikuti arah pandangan Lance dan terbelalak lebar. Reggie diikat dengan rantai besi di kedua tangannya yang terbentang. Ujung rantai itu terkait dan tertanam di dalam dinding, Kakinya terlihat bebas. Tapi Elina membayangkan berdiri berjam-jam seperti itu pasti melelahkan.
"Tuan ...."
"Jangan tanya." Lance memotong ucapan Elina. Ia berjongkok dan mengambil sebuah wadah botol air dan satu kantung plastik berisi roti yang tadi ia bawa diam-diam ke ruang sel Reggie. Namun Lance tidak dapat membuat Reggie membuka mulutnya untuk makan atau pun minum.
"Bujuklah ia. Setidaknya ia harus minum."
Elina mengangguk dan segera memasuki sel ketika Lance membuka kuncinya.
"Reggie?" Elina memanggil dan mengintip wajah dengan kepala yang tertunduk di hadapannya itu.
"Apakah kau tidur?" tanyanya lagi.
Perlahan manik mata hitam itu terbuka. Reggie mengerjap beberapa kali.
"Elina ...," bisiknya lemah.
Elina menarik napas lega. Ia menyodorkan botol air ke bibir temannya itu.
"Minumlah ini Reggie, tubuhmu membutuhkannya."
Elina menggeleng. "Tidak ... pergilah, jangan libatkan dirimu."
Elina berbalik untuk melihat ke arah Lance yang menarik napas panjang. Dia tidak akan membuka mulutnya jika bukan kakaknya sendiri yang menyuruhnya makan. Lance menyadari hal itu, sepertinya ia harus memohon pada tuannya. Jika tidak nonanya ini akan dehidrasi dan pingsan.
"Ayolah ... aku mohon."
Hanya keheningan yang menjawab Elina. Dengan putus asa ia kembali memandang Lance yang juga tidak dapat berbuat apa-apa. Elina teringat selimutnya. Ia segera mengangkat dan membentang selimut flanel tebal itu untuk ia sampirkan ke bahu dan dilingkupkan ke sekeliling tubuh Reggie.
Reggie menggerakkan tubuh hingga selimut itu melorot dan jatuh di kakinya.
"Jangan lakukan apapun yang bukan perintah kakakku. Pergilah ...." Dengan suara lirih ia mengusir Lance dan Elina, ia merasa mengantuk dan ingin memejamkan mata. Tubuhnya terasa lemas dan melayang.
"Ayo Elina," ajak Lance.
"Tapi Tuan ...." Elina melihat Lance menggeleng. Ia sudah sangat paham, hanya tuannya Lucius yang bisa menghentikan Reggie yang menghukum dirinya sendiri lewat hukuman Lucius.
Elina melangkahkan kakinya dengan sangat berat. Berulang kali menoleh pada Reggie yang tertunduk dan memejamkan mata. Mereka meninggalkan sel penjara itu dalam keadaan gelap seperti semula. Setelah mengunci pintunya, Lance mengetatkan geraham. Besok ia akan bicara dan akan memaksa tuannya bila perlu.
Reggie mendengar ketika pintu besi itu kembali di kunci, kegelapan kembali melingkupinya. Kakinya terasa amat lelah, tubuhnya pun seperti itu, Reggie memejamkan mata, berharap ia tertidur dan kelelahan yang ia rasakan berkurang.
Ketika kedua kaki yang menopang tubuhnya sudah tidak berasa dan alam ketidaksadaran membawa Reggie, tubuh gadis itu terhuyung ke depan. Lengannya terentang kencang dan kepalanya terkulai, udara dingin yang menusuk tulangnya membuat seluruh tubuh Reggie menjadi dingin. Reggie terpejam dengan bibir yang mulai memucat.
Lance kembali ke ruangan tempat ia mengambil kunci sel bawah tanah. Ia ingin mengembalikan kunci-kunci itu ke laci. Tapi dengan terkejut ia menyadari kalau dirinya tertangkap basah. Tuannya Lucius tengah berada di ruangan itu dengan satu tangan tengah menarik laci yang kosong. Tuannya pasti mencari kunci.
Lucius melihat kumpulan kunci yang berada di tangan Lance dan menaikkan alis.
"Kau baru saja melihat Gina?"
Lance memutuskan mengatakan yang sebenarnya pada tuannya itu.
"Ya ,Tuan," jawabnya mantap, membuat Lucius menaikkan alis makin tinggi.
"Tanpa perintah dariku?" tanya Lucius lagi.
"Ya, Tuan. Saya ke sana melihat Nona bukan kali ini saja. Sudah berulang kali."
Lucius mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Nona butuh makan dan minum, Tuan. Saya turun ingin memberinya makanan dan juga minuman walaupun anda tidak memerintahkan. Tapi tidak ada yang ia sentuh."
Kerutan di kening Lucius makin dalam mendengar kata-kata Lance.
"Dia tidak makan, tidak minum, juga kedinginan. Namun menolak apapun yang diberikan. Termasuk selimut untuk sekedar menghalau hawa dingin di sekeliling tubuhnya."
Lucius diam membisu sambil memandang kunci di telapak tangan Lance. Lance menunggu ledakan kemarahan tuannya. Tapi pria itu hanya fokus memandang kunci.
Setelah beberapa menit sibuk dengan pikirannya sendiri, Lucius bergerak dan mengulurkan telapak tangannya pada Lance.
Lance segera memberikan kunci yang ia pegang ke telapak tangan tuannya yang terulur.
"Ikut aku! Aku ingin melihatnya!"
Lucius mendahului Lance berjalan menuju sel bawah tanah. Dengan sedikit senyuman di sudut bibirnya Lance mengikuti tuannya itu. Setidaknya Tuannya masih peduli.
Lucius membuka pintu besi ke arah ruang penjara, lalu masuk dan menekan saklar. Cahaya temaram menerangi ruangan itu. Diikuti oleh Lance di belakangnya, Lucius langsung menuju pintu besi kedua dan membuka kuncinya. Ruangan yang gelap membuat mata mereka tidak dapat melihat apapun. Lance segera menghidupkan lampu.
Cahaya sangat redup itu memperlihatkan sosok Regina yang tergantung dengan lengan terentang dan kepala terkulai. Lance segera merebut kunci dari tangan tuannya. Posisi Reggie terlihat aneh, Dia tidak lagi berdiri di atas kakinya seperti saat tadi Lance meninggalkannya. Tubuh Reggie tidak jatuh karena tangannya yang tergantung di rantai yang menahan tubuh itu agar tidak ambruk. Lance mengangkat kepala Reggie dengan hati-hati. Wajah pucat dengan bibir putih tanpa warna itu membuat kepanikan melintasi mata Lance. Ia menoleh ke arah tuannya yang rupanya telah berdiri di sampingnya dan membuka rantai di lengan Reggie.
"Apa yang kau tunggu Lance! Lepaskan lengannya yang satu lagi!" Kegelisahan mewarnai suara tuannya itu. Setelah lengannya terlepas, tubuh Reggie yang ambruk ditangkap oleh Lance.
"Berikan dia padaku! Segera siapkan mobil! Kita bawa ia ke rumah sakit!" Dengan perintah itu Lucius menggendong tubuh Reggie. Kemudian melangkah cepat disusul Lance yang setengah berlari menyiapkan mobil seperti perintah tuannya.
Lucius merasakan kulit Regina teraba sedingin es. Ia melihat ada selimut di lantai penjara tadi. Namun sepertinya adiknya itu juga menolak untuk menggunakannya, seperti ia menolak untuk makan dan juga minum.
**********