Love Seduction

Love Seduction
Chapter 3. Dance



Lucius mengernyit ketika mendatangi Cecilia. Gadis itu juga terlihat tidak terlalu senang.


"Kau tahu, ini mulai membuatku gerah," ucap Lucius dengan kening berkerut.


"Perasaanku juga sama, rasanya aku akan menendang semua orang," sungut Cecilia.


"Maaf ... entah kenapa semuanya jadi seperti ini," ucap Lucius.


"Jangan minta maaf Lucius, kita hanya digiring oleh mereka, dan kita terlalu mencintai mereka untuk langsung bersikap melawan,"


"Kau benar sekali ... tapi ini mulai keterlaluan," ucap Lucius.


"Ya ... terus terang aku menyukaimu sebagai teman Lucius. Tapi keluarga kita sepertinya berharap lebih. Aku jadi ingin pulang saja ..." Cecilia menatap berkeliling, mencari sosok ayahnya di acara makan malam yang diselenggarakan oleh Derek di hotel berbintang yang mampu menampung seluruh anggota keluarga dari klan Langton itu.


"Dengan siapa kau akan pulang?" tanya Lucius.


Cecilia menggeleng, " Aku akan menghubungi supirku," Cecilia baru saja akan membuka ponselnya ketika suara Paman Noel menghampiri telinganya.


"Kau di sini rupanya, Cecil. Kau juga anak muda. Kami mencari kalian kemana-mana," ujarnya tersenyum. Cecilia memasang senyum sopan dan bergerak mencium pipi pria tua yang sudah seperti ayah baginya itu.


"Ada apa Paman Noel? Kenapa mencariku?"


"Aku belum melihatmu turun ke lantai dansa ... Lucius, ajaklah Cecil berdansa, gadis kecilku suka berdansa," ujar Paman Noel pada Lucius yang memasang wajah ramah dan tersenyum. Lucius segera mengangguk sopan.


"Tentu, Paman Noel ... Ayo Cecilia, kemarilah." Lucius mengulurkan tangan. Cecilia menatap ke arahnya dengan tatapan bertanya. Lalu kedipan mata Lucius membuat Cecil akhirnya menurut, ia mengulurkan tangan menyambut tangan Lucius.


"Ajak gadis kecilku berdansa sampai ia puas, Lucius. Ia suka sekali menari ...." ucap Paman Noel sambil menepuk bahu Lucius.


"Ayolah, Paman, itukan dulu ...." ujar Cecilia membantah.


"Jangan bohong, Sayang. Kau masih suka hingga sekarang." Dengan satu kedipan mata, Paman Noel mendorong bahu Lucius, hingga pria itu terpaksa melangkah dengan Cecilia dalam gandengan tangannya.


Dalam perjalanan menuju aula, mereka menunggu musik berhenti tanda dansa akan berakhir, lalu memutuskan akan berdansa di musik yang akan di mainkan selanjutnya.


"Tersenyum saja Cecil. Anggap saja kita bersenang-senang."


"Aku sebenarnya memang senang berdansa, Lucius. Tapi dalam kapasitas bukan untuk dijodoh-jodohkan," sungut gadis itu.


Lucius tertawa renyah, " Kau menyadari mata mereka menatap kita bukan?"


"Ya ... menurutmu apakah kita harus berpura-pura saling tidak menyukai?"


"Lalu akan ada orang lain yang menjadi pengganti untuk di jodohkan dengan diri kita masing-masing. Apa itu lebih baik?"


"Sama saja. Kalau tidak kau, maka akan ada pria lainnya lagi yang dikenalkan padaku, seolah aku sungguh tidak bisa mencari sendiri."


Lucius menaikkan alisnya," kau benar, sama halnya denganku. Aku bukannya tidak berminat, hanya saja aku belum menemukan orang yang tepat."


"Tepat sekali! Aku juga merasa begitu!"


"Kalau begitu, mari jalani saja hal ini, Cecil. Tersenyum dan menyenangkan hati semua orang. Sambil kita mencari apa yang sebenarnya kita inginkan, atau menunggu seseorang yang sebenarnya kita cari selama ini," Lucius membisikkan kata-katanya ketelinga Cecilia.


Cecilia menoleh setelah bisikan itu berakhir, gadis itu mengernyit.


"Apa menurutmu aman saja membohongi semua orang?"


"Kita tidak berbohong Cecilia, kita menjalankan rencana mereka dan berteman dengan baik. Aku menyukaimu sebagai teman, kau juga sebaliknya bukan?"


Cecil mengangguk-angguk, Lalu tangannya tiba -tiba ditarik oleh Lucius.


"Kita bicarakan sambil berdansa," bisik Lucius lagi.


Cecilia menurut dan meletakkan tangannya di bahu Lucius, Lucius memeluk pinggang Cecil dengan satu tangan dan satu tangan lagi menggenggam tangan gadis itu. Mereka mulai mengikuti alunan musik dan berdansa.


"Jadi, menurutmu, kita ikuti saja dan bersandiwara?" tanya Cecil dengan suara pelan.


Lucius mengangguk, "Benar, jadi semua orang akan berhenti merongrong kita."


"Tapi itu berarti memberikan mereka harapan ... walaupun aku juga senang bila mereka jadi berhenti menjodoh-jodohkan, bukan berarti aku senang membuat mereka kecewa dengan sengaja."


Cecilia mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.


"Rencanamu sepertinya bisa berhasil."


"Tentu ... jadi kau setuju berpura-pura?"


"Ya, mari lakukan."


Lucius dan Cecilia berbagi senyum ketika mereka mencapai kesepakatan.


Di kejauhan, beberapa pasang mata menatap pasangan yang berdansa itu.


"Wow ... Cecilia dan Lucius ...." Eve menyerigai ke arah lantai dansa, Paman Damario dan Paman Eloy tidak membuang-buang waktu, apakah provokasinya saat itu yang menyebabkan kemajuan ini?


"Mereka serasi," ucap Alex menanggapi.


Amy mengernyit, ia berusaha mengintip wajah Lucius yang berputar di lantai dansa. Ingin tahu bagaimana ekspresi laki-laki itu saat bersama Cecilia.


"Kenapa keningmu berkerut, Sweety?" tanya Derek sambil memeluk pinggang istrinya.


"Entahlah, hanya saja ...." ucapan Amy terputus.


"Apa, Sweetheart?" Derek mengecup puncak kepala Amy.


"Ya ampun, bisakah kau bicara saja tanpa harus sambil menyentuh Amy, Derek?" Eve memandang Derek sambil mencibir.


Derek terkekeh, " Evangeline Sayang, kalau kau ingin diperlakukan seperti Amy, kau tinggal katakan pada Alexmu yang tidak romantis itu," ejek Derek pada Eve.


Eve menoleh ke arah Alex yang wajahnya sama seperti tadi, tidak berekspresi. Lalu tiba-tiba Eve memegang bahu Alex dan berjinjit mencium bibir pria itu sekilas. Setelahnya Eve mengedip ke arah Amy dan Derek yang tertawa geli.


"Cukup aku yang tahu pria ini bisa jadi seromantis apa jika dia sedang berdua denganku, bukan begitu, Alex?"


Kali ini tawa Amy dan Derek makin kencang, karena Alex tidak mampu mempertahankan wajah tanpa ekspresinya. Sedikit rona kemerahan melintas di wajah lelaki itu, Alex tampak malu.


"Ivy ...." desisan Alex disambut tawa renyah oleh Evangeline yang malah kembali berjinjit untuk mencium pipi laki-laki itu.


Di sudut lain, Reggie menyandarkan kepalanya di bahu Mike. Menyaksikan kakaknya yang tengah menari berputar di lantai dansa.


"Aku suka melihat mereka ...." desah Reggie sambil mengeratkan pegangan tangannya di lengan Mike.


"Hmmm," Mike hanya berguman pelan. Dari awal acara di mulai, dengan matanya yang jeli, Mike sudah memperhatikan perilaku Lucius dan Cecilia, lalu tanpa di sadarinya, ia juga memperhatikan perilaku Lance.


Di mata Mike, Cecilia dan Lucius bersikap baik dan akrab layaknya teman, walaupun bagi sebagian yang memandang mereka saat ini, pasangan itu bersikap mesra dengan berdansa dan saling berbisik, penilaian mereka dipengaruhi oleh keinginan untuk melihat pasangan itu menjadi pasangan kekasih.


Namun bagi mata Mike, interaksi itu hanya keakraban layaknya teman. Yang membuatnya penasaran malah kilat aneh di mata Cecilia ketika bertemu pandang dengan Lance. Apakah itu rasa tidak suka? benci? ataukah sesuatu yang lain seperti rasa penasaran? Sedangkan di wajah Lance, ia tidak menangkap ataupun bisa mendapatkan dugaan apapun. Laki-laki itu seperti biasa, menutup rapat seluruh fikirannya lewat wajah yang diatur datar tanpa ekspresi.


"Apa yang kau fikirkan?" tanya Reggie sambil mendongak menatap wajah suaminya yang hanya diam memandang aula.


"Hm..? Oh, tidak ... hanya sedikit pemikiran tentang kakakmu," ucap Mike.


"Ada apa dengan Lucius?"


"Entahlah ...aku hanya heran, ia menuruti saja keinginan ayah untuk mulai mendekati Cecilia,"


"Mungkin karena ia memang menyukai Cecil?"


"Kita semua menyukai Cecil, Sayang. Tapi apa Lucius serius mau melakukan pendekatan?"


Reggie hanya diam, ia memandang kembali pasangan yang sedang berdansa itu.


"Entahlah Mike, aku hanya berharap yang terbaik untuk kakakku, memiliki seorang gadis yang mencintainya, membalut seluruh laranya, memberinya kebahagiaan ... penderitaannya sudah cukup ...."


"Karena hal itulah aku ingin kakakmu benar-benar menemukan orang yang tepat, Gina. Bukan menjalani sesuatu yang dipaksakan, ia butuh seorang gadis yang mampu membalut seluruh hati dan tubuhnya yang terluka. Oh ... lukanya sudah sembuh, berkat dirimu, Honey. Tapi tetap saja ia belum membuka lembaran baru bukan?"


Reggie mengangguk setelah ucapan Mike berakhir, "Aku berdoa gadis itu akan datang Mike ... secepatnya ...."


**********