
Lance memandangi tuan dan nonanya bergantian. Lucius terlihat marah dan melipat tangannya di depan dada.
"Jangan seenak perutmu! Aku memberimu kebebasan bukan untuk kau pakai seenaknya dengan pergi ke Mansion Langton!"
"Aku hanya ingin menemui Amy!" Reggie merengut dengan kening yang juga berkerut. Ia memang menyempatkan diri menjenguk Amy yang tengah menunggu hari untuk melahirkan tiba. Perut yang membesar itu membuat Reggie yang melihatnya sedikit sesak napas, ia tak berhenti ingin tahu dan bertanya-tanya bagaimana keadaan Amy bila sehari saja ia tidak datang untuk melihatnya.
"Jangan beralasan! Kau ke sana tidak hanya ingin bertemu Amy! Jangan merendahkan dirimu pada orang yang sama sekali tidak menginginkanmu!" Lucius berkata sinis.
Lance memegang dahinya, menyesalkan perkataan tuannya itu.
Reggie mendongak terkejut. Terlihat sangat tersinggung dan marah.
"Apa yang kau pikirkan!? Aku datang ke sana benar-benar hanya untuk menemui Amy!"
Lucius mendengus kesal. Ia harus bekerja di kantor setiap harinya dan hanya mendengar laporan Lance tentang kegiatan Gina sehari-hari. Ia membebaskan Gina pergi kemanapun, Lucius bahkan memberikan kartu untuk adiknya itu jika ia ingin pergi berjalan-jalan dan berbelanja. Tapi sejauh ini yang dibeli adiknya itu adalah syal, kaus kaki, handuk kecil, baju hangat, semuanya untuk laki-laki. Lucius tidak tahu untuk siapa Gina membeli semua itu.
Lalu tempat berikutnya yang selalu dikunjungi Gina adalah Mansion Langton. Amy memang menunggu hari ketika bayinya akan lahir dan ia ingin Reggie dapat menemaninya. Tapi Lucius juga merasa kesal jika memikirkan kemungkinan Gina bertemu dengan Mike di mansion itu.
"Memangnya kau pikir aku ingin bertemu siapa di mansion itu!?"
"Kau sendiri yang tahu niat di hatimu! Jangan karena hanya ingin memuaskan matamu, maka kau rela terlihat menyedihkan!"
Reggie tegak dengan tiba-tiba, kedua tangannya mengepal, rasa marah menguasainya mendengar hinaan Lucius.
"Aku tidak menyedihkan!" desisnya.
"Kau menyedihkan! Dia tidak menginginkanmu! Jadi berhentilah menginginkannya!"
Lance menggaruk kepalanya, tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan kakak beradik yang bertengkar itu. Ia melirik ke arah ranjang, dimana Tuan Eloy terbaring miring menghadap ke arah dua kakak beradik itu. Perawat memang mengganti posisinya setiap dua jam sekali.
"Tuan ... Nona ... saya mohon. Berhentilah bertengkar, Tuan Eloy pasti mendengar walaupun ia sedang coma."
"Dia menghinaku! Seolah dia tahu apa yang ada di pikiranku!"
"Karena aku memang tahu! Kau sangat terbaca Gina yang bodoh!" desis Lucius dengan suara dikecilkan dan mata melirik ke arah ayahnya.
"Aku tidak bodoh! Kau saja yang selalu berpikiran buruk dan sering menduga yang tidak-tidak!" Reggie tanpa sadar mengentakkan kakinya.
"Kau memang bodoh, Sudah terlihat Mike tidak mencintaimu! Tidak menginginkanmu! Masih saja kau bersikap ...."
"Oh diamlah!" Reggie mendekat dan mulai memukul dada Lucius. Terlihat sangat tersinggung dan marah.
"Kau tidak tahu aku brengse*! Kau pikir dirimu siapa!? Aku seharusnya tidak tinggal di sini bersamamu!" Reggie menjerit marah.
Lance mengangkat kedua tangannya.
"Sttttt ... Nona, Tolonglah," ucap Lance sambil melirik ke arah Tuan Eloy.
Lalu Reggie mulai menangis, sedang Lucius tampak semakin marah.
"Tidak tinggal disini bersamaku!? begitukah? Lalu dimana kau akan tinggal, Gina? Bersama Amy lagi!?" Lucius berucap dengan nada yang amat dingin.
"Kau sungguh persis sama seperti ibumu!" tambahnya lagi dengan nada menghina.
Reggie membersit hidung dan menggeleng ke arah Lucius dengan air mata mengalir. Hatinya pedih ketika mendengar nada sakit hati dari suara kakaknya itu.
"Pergi saja! Karena memang itulah keahlianmu! melarikan diri! Persis Marinna!" Hina Lucius dingin.
Reggie menggeleng dengan air mata makin membanjir, tatapan menyesal terlihat membalut kedua matanya. Ia menyentuh dada Lucius dan mulai membuka mulut ingin bicara.
"Jangan sentuh aku! Seharusnya aku menghukummu seperti hukuman yang dulu aku terima!"
Lance memejamkan mata mendengar ucapan tuannya.
Reggie kembali mengulurkan tangan ingin menyentuh kakaknya. Tapi Lucius kembali mendorong kedua lengannya sehingga ia terdorong ke belakang.
"Aku bilang jangan sentuh aku, Gina! Pergilah sebelum aku menghukummu! Pisau-pisau yang di siapkan untuk menghukummu masih tersimpan. Jangan sampai aku berubah pikiran lalu menyiksamu!"
Reggie sesenggukan dan masih mendekat, Kali ini ia memaksa memeluk kakaknya. Namun Lucius sudah mati rasa, rasa sakit di hatinya membuat ia tidak mampu merasakan apapun. Ia kembali mendorong dengan keras sehingga Reggie terjatuh dan tangannya membentur meja kecil di dekat dinding. Lengannya sangat nyeri ketika sudut meja kayu itu membentur lengan atasnya.
Lucius kemudian membuka kemejanya, Lance menggeleng pelan dan memejamkan matanya dengan napas yang berembus keras.
Jangan lakukan itu, Tuan ....
"Kau lihat ini, Gina! Semua parut dan bekas luka menjijikkan yang tergurat di tubuhku ini! Sangat mengerikan dan juga menjijikkan bukan!? Akan kulakukan pada tubuhmu juga dan tubuh ibumu!"
Reggie bangun dengan mata terbelalak, air matanya bertambah deras. Rasa sakit di mata Lucius membuat hatinya seolah hancur menjadi serpihan, dadanya nyeri dan seluruh tubuhnya seolah berteriak, kembali Reggie mendekat dan memaksa memeluk Lucius.
"Kubilang jangan sentuh aku!" Lucius tanpa sadar kembali mendorong kencang. Reggie terempas ke lantai . Namun ia sama sekali tidak merasa sakit di tubuhnya, ia membayangkan rasa sakit yang ditanggung Lucius melalui seluruh parut di tubuh kakaknya itu. Ia kembali berdiri dengan tangan terulur ingin memeluk kakaknya.
"Pergilah ... lari sejauh mungkin! Atau berlindung lagi dalam naungan Langton dan Sky! Merekalah keluargamu bukan!"
Reggie hanya diam dan memeluk Lucius lebih erat. Kali ini Lucius sedikit kesulitan mendorongnya. Tangis Reggie makin kencang mengisi ruangan itu.
"Jangan usir aku, Kakak ... aku mohon maafkan aku ... aku tidak akan pergi kemanapun, aku berjanji ...."
Lucius melepaskan pelukan Reggie dan kembali mendorongnya, kali ini Reggie hanya terhuyung, lalu ia kembali maju mendekat.
"Kau mau meninggalkan aku dan Ayah lagi bukan!? pergi saja! Kau memang sama seperti ibumu yang egois!" Lucius menumpahkan kemarahannya, sekali lagi ia mendorong Regina yang kembali berusaha memeluknya, Reggie akhirnya kembali terempas ke lantai.
Reggie tegak kembali dengan air mata berurai, tidak ada yang lain yang ia inginkan kecuali memeluk tubuh yang penuh dengan parut memanjang dan teraba kasar dijemarinya itu. Ia mendekat, kembali memaksa memeluk kakaknya sambil memejamkan mata, mengingat ketika luka-luka itu dulu masih berdarah dan basah, membayangkan rasa nyeri yang harus ditanggung Lucius.
"Aku mohon ampuni aku, Kakak. Ampuni ibuku ... aku mohon maafkan kami ...." Reggie memeluk pinggang Lucius dengan erat. Air matanya membasahi dada Lucius. Ia menolak melepaskan lengannya ketika Lucius mendorong kedua bahunya.
"Apapun hukuman yang ingin kau berikan, aku akan menerimanya. Aku akan menuruti semua keinginanmu, mengikuti apapun kata-katamu. Aku akan tinggal bersamamu dan ayah ... tapi kumohon maafkan aku dan ibu ...." Reggie sesenggukan dan memejamkan matanya.
Lucius berhenti mendorong, ia mengatur napasnya yang memburu. Tidak menyadari air mata juga telah membasahi kedua pipinya. Lucius menangis ... Ia tidak menangis ketika dulu ia disiksa. Air matanya kering, namun kini ia menangis ... ia menangis dalam pelukan Gina adiknya. Yang hidup dengan baik setelah diselamatkan olehnya. Lucius menangis makin keras. Satu beban terasa terangkat dari pundaknya. Ia mengangkat kedua tangan, melingkupi Regina yang menangis dalam pelukan lengannya. Kembali terisak menangisi masa lalu yang membelenggunya, merasakan sebuah perasaan yang tidak dapat ia jelaskan dengan kata-kata.
Keduanya berpelukan dalam tangis yang hebat. Lucius menyandarkan pipinya di puncak kepala Reggie dan Reggie memeluk pinggang dan menyandarkan pipinya di dada Lucius.
Lance mengangkat tangan, menyeka cairan bening yang mengalir di sudut matanya melihat pemandangan yang sudah lama ia doakan akan segera ia lihat. Ia melirik ke arah ranjang untuk memandang tuan Eloy, tapi tiba-tiba ia terhenyak, terkejut mendapati pemandangan dari atas tempat tidur. Lance lalu mengangkat jari telunjuknya ke arah ranjang. Matanya terbelalak lebar.
"Tu-Tuan ... Nona ...." Lance terbata. Membuat Lucius dan Reggie menoleh ke arahnya. Keduanya lalu mengikuti arah telunjuk Lance yang menunjuk ke arah ranjang.
"Ayah!" Kedua kakak beradik itu berseru kencang. Melihat ke arah ayah mereka, mata Eloy Sanchez telah terbuka dan cairan bening lolos di sudut mata itu, mengalir membasahi bantal yang mengalasi pipinya yang keriput.
**********
From Author,
Lucius......ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Jangan lupa Like, Komentar,fav, bintang5 dan vote untuk love seduction ya
Follow author dengan klik ikuti di profil author . Terimakasih semuanya.
Salam, DIANAZ.