
Makan malam di kediaman keluarga Langton berjalan hangat dengan gurauan Eve dan Derek yang saling meledek. Amy tersenyum lebar melihat interaksi keduanya. Celetukan Alex sesekali menambah geli suasana ketika Eve merasa jengkel dan kesal karena Alex selalu berada di kubu Derek ketika ia menjahilinya.
Amy menatap Mike yang tersenyum ke arah tiga orang yang terus bergurau bahkan sejak makan malam dimulai. Namun Mike memilih menatap dari pinggir tanpa berkomentar. Sesekali Amy melihat Mike menatap keluar pintu balkon, ke arah langit malam yang telah gelap.
Amy mendekat dan akan segera duduk di samping Mike. Perutnya yang sudah membesar di usia kehamilan 30 minggu membuatnya tampak lemah di mata Mike sehingga laki-laki itu mengulurkan tangan menyambut lengannya dan membimbingnya ke sofa di sebelahnya.
Amy terkikik geli. "Aku ini hamil, Mike. Bukan lansia yang butuh dipapah. Aku sehat dan tentu saja kuat," ujar Amy.
Mike tersenyum dan kembali menatap keluar pintu.
"Masih tidak ada kabar?"
Pertanyaan Amy membuat Mike menoleh. Istri Derek itu memandangnya dengan tatapan sedih.
"Sudah berbulan-bulan aku tidak melihatnya." Amy berbisik serak. Hilangnya Reggie membuat satu lubang kosong dalam hidup Amy. Ia tidak memperlihatkannya dan menyimpannya rapat-rapat. Derek selalu menghiburnya dan mengatakan akan mengusahakan yang terbaik mencari Reggie, Walaupun sampai sekarang mereka tidak juga menemukannya. Amy yakin Derek dan Mike sudah berusaha keras. Reggie sepertinya sengaja agar dirinya tidak ditemukan.
Mike dan Derek sengaja menyimpan informasi keberadaan Reggie yang telah ditemukan pada Amy. Derek mengatakan akan memberi waktu pada Reggie untuk mengenal keluarga Sanchez, menyelesaikan ganjalan-ganjalan masa lalu mereka. Jika Amy tahu Reggie berada di Mansion Sanchez, maka Derek yakin istrinya itu akan segera menghambur ke tempat Lucius dan menuntut agar Reggie kembali dan tinggal bersamanya lagi.
"Jangan khawatir. Aku yakin Reggie memang sengaja menghilang dan membuat dirinya tidak bisa ditemukan."
"Aku tahu. Tapi aku merindukannya ... Mamma pernah berpesan agar nanti aku selalu menjaga Reggie. Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu ia ada dimana ...."
Kesedihan dalam nada suara Amy membuat Mike mengembuskan napas panjang.
Maaf Amy ... kami belum bisa memberitahukannya padamu.
Derek melihat Mike agak pendiam dan gelisah sejak makan malam dimulai. Ia menunggu dan menahan pertanyaannya sampai ia akhirnya bisa berdua saja dengan Mike setelah Alex dan Eve pulang dan Amy istrinya undur diri untuk beristirahat lebih dulu.
"Apa yang mengganggumu?"
Mike mengangkat kepalanya dari atas kertas yang tengah ia baca. Ia mengangkat alis tanda bertanya pada Derek yang duduk di sofa di seberangnya.
"Aku menunggu semuanya pergi baru menanyakan ini. Dari tadi aku penasaran dan hampir tak dapat menahan lidahku. Bukankah tadi kau pergi ke Mansion Sanchez? Apakah kau bertemu dengan Reggie?"
Mike menggeleng sambil meletakkan berkas yang ia baca.
"Lucius sepertinya menerapkan larangan untuk kita agar tidak bisa bertemu Regina."
Derek mengerutkan keningnya. "Apa alasannya? Bukankah ia seharusnya berterimakasih karena kita telah membuatnya bertemu dengan Reggie."
"Entahlah. Kurasa itu mungkin satu bentuk hukuman pada Regina. Agar ia tidak dapat bertemu Amy lagi."
"Apakah dia akan aman di sana Mike?" tanya Derek.
"Aku tidak tahu. Lance mengatakan sejauh ini ia menjamin Regina baik-baik saja." Namun Mike ragu karena ia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Apa kita perlu melakukan sesuatu? Mulai merencanakan sebuah penculikan mungkin?"
Derek menyeringai lebar. Ia akan merasa senang sekali dapat melihat wajah Lucius yang penuh amarah ketika tahu mereka telah menculik adiknya.
Mike terkekeh senang. "Aku dengan senang hati mendukung, bahkan akan mendaftar sebagai penculiknya. Tapi kurasa kita perlu menunggu ... mungkin beberapa hari lagi."
Derek mengangkat bahu. Ia yakin Mike punya rencana dan tahu pria itu akan melakukan yang terbaik. Ia akan menurut. Hanya saja, Derek tidak tahu bagaimana lagi cara menghadapi pertanyaan-pertanyaan istrinya. Amy sering terlihat sedih walaupun ia menyembunyikannya di hadapan Derek. Amy kadang menangis tanpa suara ketika sedang sendirian. Derek tahu, istrinya sangat merindukan Reggie.
**********
"Nona, pakailah ini. Saya akan meminta perawat membantu Anda." Lance mengulurkan goody bag berisi gaun selutut berwarna krem. Reggie mengernyit.
Gaun?
"Tuan Lucius bilang Anda harus tampak seperti seorang gadis. Jangan berpakaian seperti laki-laki, Apalagi dengan bentuk rambut pendek Anda sekarang. Jadi Tuan membelikan Anda gaun."
Reggie diam saja mendengar penjelasan Lance. Ia membuka kantong yang lain dan menemukan sepasang sandal santai dengan ukuran yang pas di kakinya. Reggie menaikkan alis setelah mengenakan sandal itu dan terasa pas di kakinya. Lance tersenyum senang.
"Tebakan Tuan ternyata benar. Sandalnya terlihat pas di kaki anda."
"Kakakku yang memilihkannya?"
Anggukan Lance membuat Reggie tersenyum. Lucius memilihkan baju dan sandal untuknya? Reggie tidak tahu harus merasa senang atau tidak. Lucius masih tampak dingin dan sinis terhadapnya.
"Kalau begitu saya pamit keluar, Nona. Seorang perawat akan datang membantu Anda."
Setelah merapikan penampilannya, Reggie berjalan menuju pintu dan keluar untuk menemui Lance yang telah menunggu.
"Aku sudah siap, Lance."
Senyuman Lance mengembang. "Tuan Eloy akan sangat bahagia bisa bertemu Anda hari ini."
"Kuharap begitu ...."
Lance mengajak Reggie berjalan menelusuri lorong rumah sakit sampai ke sebuah pintu sebuah ruangan perawatan. Ia membukanya dan mempersilakan Reggie masuk.
Sebuah ruang tunggu yang besar dengan sofa yang nyaman di tengah-tengahnya. Madam ternyata sudah ada di sana bersama pelayan bernama Mary. Keduanya tersenyum menyambut Reggie.
"Tuan Lucius sudah menunggu anda, Nona," ujar Madam tersenyum, berulang kali memandang Reggie dari atas sampai bawah .
"Apakah aku terlihat aneh, Madam?" tanya Reggie.
"Oh ... tidak. Malah sebaliknya, Nona. Anda terlihat sangat cantik," ujar Madam dengan senyum lebar.
Lance tertawa melihat Reggie yang terlihat malu dengan pujian itu. "Ayo kita masuk," ujarnya lagi.
Ruangan itu dibatasi kaca, pintu nya pun terbuat dari kaca yang terlihat dari tempat Reggie sekarang berdiri. Terlihat seorang pria di atas ranjang dengan beberapa mesin yang terhubung ke tubuhnya. Kakaknya Lucius terlihat berdiri di samping ranjang. Lance sudah lebih dulu masuk lalu menyadari Reggie tidak mengikutinya. Ia menahan pintu dan menunggu.
Lucius melipat tangannya di depan dada . Menatap ke arah Reggie yang terdiam di luar kamar ayahnya. Mata mereka lalu bertatapan, Lucius mengendikkan dagu ke arah pintu, memberi tanda pada Reggie agar masuk. Dengan sangat pelan gadis itu melangkah, melewati Lance yang masih menahan pintu agar terbuka. Reggie menatap ke wajah pria yang sudah terlihat sangat berbeda di matanya sejak saat terakhir kali.
"Kemarilah." Lucius menyuruh Reggie pindah ke sisi yang sama dengannya. Reggie menurut, ia berputar mengelilingi ranjang dan berhenti di samping Lucius.
"Ayah ... kau bisa mendengarku kan ... aku membawanya bersamaku. Regina sudah kembali." Lucius sedikit membungkuk agar lebih dekat dengan telinga ayahnya.
"Dan kau benar ... dia mirip denganmu. Kau mau melihatnya? Bangunlah," bisik Lucius.
Tidak ada reaksi apapun dari Eloy Sanchez. Lucius mendekatkan sebuah kursi, lalu menarik lengan Reggie agar duduk.
"Duduk, Gina."
Reggie menurut dan duduk. Lucius menekan kedua bahunya dari atas. Lance tersenyum, Tuan Lucius memberi tempat duduk karena menyadari Reggie mungkin masih lemah karena baru saja sembuh. Lance semakin yakin tuannya sangat menyayangi adiknya.
"Mulai sekarang tugasmu adalah merawatnya. Bicara dengannya, menemaninya dan memenuhi semua kebutuhannya."
Reggie mengangguk. Ia ingin sekali menggenggam tangan ayahnya. Tapi takut Lucius tidak mengizinkan.
"Bicara padanya sekarang, Gina," perintah Lucius.
Reggie mengangguk. Ia beringsut mendekat ke tubuh ayahnya. Mendekatkan mulutnya ke telinga Eloy dan berbisik.
"Ayah ... ini aku ... aku ...." Reggie tidak menyadari kalau air mata sudah membanjir menuruni lereng pipinya.
"Aku Regina, Ayah. Aku sudah kembali ...." Reggie mengangkat tangan dan mengelus pipi ayahnya yang sudah dimakan usia.
"Bangunlah ... aku ingin bicara banyak denganmu ...." Reggie terisak-isak.
"Kau mau lihat aku mirip siapa kan? Jadi bangunlah. Bicara padaku ...." Reggie memejamkan mata dan meletakkan tangannya ke dada Eloy. Pipinya ia sandarkan di lengan Eloy.
Lucius mundur dari sisi ranjang dan duduk di sofa panjang di sudut ruangan. Wajahnya keras dengan geraham mengetat menahan semua perasaan di hatinya. Seharusnya mereka punya keluarga yang lengkap. Andai saja Marinna membawanya kembali pada ayahnya, ayahnya tidak akan melepaskan mereka bertiga. Mereka akan hidup sebagai satu keluarga yang utuh. Semuanya adalah kesalahan Marinna.
Lance menyeka cairan bening yang mengancam akan turun ke pipinya. Akhirnya ayah dan anak itu bertemu. Setelah tahun-tahun yang panjang yang dilalui Tuan Eloy dengan penuh kerinduan pada putri kecilnya. Lance berharap tuannya akan bangun dan dapat benar-benar melihat sosok putrinya saat ini.
Di luar kamar pun, Madam dan Mary sudah terisak-isak sambil berpelukan. Melihat dari kaca, keluarga itu berkumpul kembali dan sungguh berharap Tuan mereka akhirnya bangun dan benar-benar bertemu dan bicara dengan putrinya.
**********
From Author,
Pemirsah sekalian......πππBantu Author dong ya....kasih Like di setiap Chapter ...Sekarang udah chapter 69 loh, 1 like sangat berarti buat thorππ Kalo bisa jangan ada yang bolong like nya....tiap chapter ya pemirsah....edisi maksa nih, hehehhe
Di sela kesibukan author tetep akan usahain update ya....karenanya tetap ikutin terus kisah mike dan reggie.
Terimakasih...
Salam, DIANAZ.