Love Seduction

Love Seduction
Chapter 29. Misery



Enrico menyerigai setelah membaca email yang di kirimkan padanya mengenai penyelidikan seorang pria bernama Lucius Sanchez yang pergi membawa Alison.


"Kau sudah melihat?" tanya Rico pada asistennya.


Asistennya hanya mengangguk.


"Tidak menyangka bukan? Dia Lucius Sanchez, pemilik tanah yang ingin kita beli. Yang datang kemari ingin melihat tanahnya, Aku penasaran bagaimana ia bisa bertemu dengan Ally." ucap Rico terkekeh.


"Kita akan mengunjunginya, Tuan? perlukah saya membuat janji?" tanya asistennya.


"Tidak. Jangan membuat janji. Kita akan mengunjunginya tanpa pemberitahuan. Tapi nanti ... Setelah kita berurusan dengan Carloz Salvadore lebih dahulu!"


Pandangan mata Rico berubah kejam, rahangnya mengetat dengan senyuman sinis ketika menyebut nama Carloz.


"Kita akan berkunjung ke rumah lama Gefry Adair ... mengunjungi Carloz lebih dulu. Kita lihat kebohongan apalagi yang mau ia ucapkan dari bibirnya itu."


Asisten Rico mengangguk," Sesuai perintah Anda, Tuan." ucapnya patuh.


**********


Alison di dorong masuk ke dalam rumahnya hingga ia tersungkur ke lantai, lalu si kecil Alan menyusul. Ally segera mendatangi adiknya yang terduduk dan masih menangis.


"Stttt ... Alan, jangan menangis, kumohon, tidak apa-apa, Aku ada di sini," bujuk Ally lembut. Ia memeluk adiknya erat-erat. Lewat ekor matanya Ally melihat Carloz yang bolak balik melangkah dengan kedua tangan di pinggang.


"Kau melarikan diri! Juga mencuri! Membuatku harus mencari alasan untuk Tuan Rico! Dia akan menyiksaku jika tahu kau kabur! Kau tahu itu dan masih saja melakukannya! Gadis bodoh!" teriakan Carloz hanya disambut keheningan. Sesekali isakan kecil Alan yang lolos dan mengisi di sela-sela langkah kaki Rico.


"Sekarang katakan dimana cincin emas itu! Dan dimana uang yang kau ambil saat itu!" teriak Carloz lagi.


Ally menarik nafas panjang, menguatkan hatinya. Carloz tidak akan suka dengan jawaban yang akan ia katakan, dan Ally akan menerima hukuman karena jawabannya itu.


"Aku sudah menjualnya. Tidak ada lagi uang. Semuanya habis untuk biaya hidup saat kami melarikan diri." ucap Ally.


Sesuai perkiraannya, Carloz menggeram marah, pria itu mengambil sebuah cambuk yang akan segera ia lecutkan ke tubuh Ally.


"Aku menahannya selama ini karena tidak mau membuat kulitmu yang halus dan mulus itu cacat ketika nanti Tuan Rico mengambilmu! Tapi sekarang ... Pria itu sudah tahu kau gadis tidak tahu diri yang sok jual mahal! Aku mengatakan padanya kau lari karena tidak sudi diserahkan padanya. Ia akan mengerti jika nanti melihat kulitmu dan tahu aku telah memberimu hukuman, gadis pembangkang!"


Carloz melecut tubuh Ally dengan cambuk, Alan berteriak. Ally hanya duduk dan meringkuk memeluk tubuh Alan, menutupi seluruh tubuh adiknya, jangan sampai kulit halus Alan yang masih kecil terkena.


Lecutan itu merobek blus yang Ally pakai menjadi robekan memanjang di punggung. Bahan halus blus itu terkoyak oleh kuatnya pecutan Carloz.


"Sekarang katakan dimana kau taruh sisa uangmu, Alison! Aku harus menyewa orang dan menghabiskan uangku untuk mencarimu dan Alan! Sekarang kau harus menggantinya!"


Satu pecutan lagi. Alan meraung. Ally hanya terpejam menahan rasa sakit di tubuhnya. Ia memeluk Alan yang berontak ingin melepaskan diri. Bocah itu sangat marah, namun Ally tidak mau Alan jadi ikut dicambuk.


"Alan ... Dengarkan aku ... Diamlah, Kumohon diamlah . Aku tidak apa-apa ... Ukh!!!"


Pecutan kembali datang dan sudah menembus ke kulit Ally. Blus yang ia pakai tidak lagi dapat melindungi kulit punggungnya. Rasa sakit dan pedih membuat Ally mengernyit, ia menarik nafas cepat.


"Alan ... Jika nanti pintu itu terbuka, kumohon larilah ... Carilah Pertolongan, Larilah ... Kau dengar aku?" Ally berbisik.


"Jawab Aku, Alison!" teriak Carloz.


"Ti ... Tidak ada uang, Carloz. Gajiku hanya cukup membayar kamar saat masih bekerja di restoran Madam Gavany."


"Lalu kemana kau di bawa oleh pria itu, Hakh!" Carloz mendatangi Ally, menjambak rambut halusnya dan menariknya sekuat tenaga. Membuat Ally mendongak kesakitan.


"Siapa dia? Pacarmu? Apa dia sudah menidurimu!" Carloz menarik kencang, membuat Ally berteriak menahan sakit.


"Ahhhh!! Tolong .... Lepaskan aku ...." ucap Ally memelas.


"Bukan itu jawaban pertanyaanku! Aku tanya siapa dia, Alison! Pacarmu!?"


Carloz menghempaskan kepala Ally ketika ia tidak kunjung mendengar jawaban.


Carloz menarik paksa Ally, dan memisahkannya dari Alan yang kembali menjerit dan menangis. Ally menahan rasa sakit ketika kakinya terseret di lantai yang kasar dan dipaksa masuk ke arah kamar.


Mata Ally membelalak, Carloz terlihat menyerigai mengerikan.


"Tidak ...Lepaskan aku, Lepas." Ally berontak, menjangkau apapun yang bisa ia jangkau dan menjadikannya senjata untuk melepaskan diri dari Carloz. Namun tubuh Carloz yang lebih besar mengalahkan tenaganya. Laki laki itu menginjak pahanya, lalu dengan bengis berucap,


"Lawan saja semaumu, Alison! Kali ini aku akan memperkosamu seperti yang selama ini ingin kulakukan! Kau bisa menurut dan sama sama menikmatinya bersamaku, atau melawan dan membuat sekujur tubuhmu sakit dan memar." tawa Carloz membahana, penuh nafsu dan keinginan segera menikmati tubuh gadis itu seperti yang selalu ia inginkan.


"Tidak akan! Kau harus membunuhku dulu untuk melakukannya!" Ally mencoba menarik kedua kakinya, Sisa tenaganya tidak banyak, luka di punggungnya sudah meneteskan darah dan terasa amat sakit. Harapan Ally Lucius datang dan menghentikan Carloz. Namun, kini hati kecilnya mengatakan pria itu tidak akan datang ... entah apa penyebabnya ,namun insting Ally mengatakan ia tidak akan tertolong kali ini.


"Lepaskan Ally!!" tubuh kecil Alan menabrak kaki Carloz yang menginjak paha Ally. Carloz menggeram dan mengangkat kakinya untuk menghempaskan Alan. Ally berteriak ketika melihat adiknya terlempar ke dinding, lalu melorot, jatuh dan terbaring di lantai dengan mata terpejam.


Kemarahan Ally memuncak, ketika kaki Carloz terangkat, ia beringsut, lalu dengan terhuyung ia berdiri dengan mata melotot.


"Kau tidak akan mendapatkan keinginanmu ... Aku lebih baik mati ... " Lalu Ally menyambar sebuah botol kosong bekas minuman Carloz dan memecahkannya ke dinding hingga ujung pecahan menjadi kaca runcing tajam yang bisa ia jadikan senjata.


Carloz tertawa meremehkan. " Mau membunuhku dengan itu? Sebelum senjatamu tiba ke tubuhku, tanganmu lebih dulu kupatahkan, Alison! Menyerahlah! Kau gadis lemah bodoh!"


Kali ini Alison yang tertawa, gadis itu mengarahkan ujung tajam pecahan kaca ke lehernya. Rambut nya bertebaran kusut di sekitar wajah, menempel di pipi dan leher, blus yang ia pakai robek dimana-mana, darah mengalir di kulit putihnya nan mulus. Alison putus asa ... Harapannya hilang, ia tertawa histeris.


"Jika begitu, kurasa kaca ini cukup tajam untuk memotong urat leherku ... Sudah kukatakan ... Aku lebih baik mati, Carloz! Dan jangan mengira kau dapat lolos dari ini semua ketika dua mayat di temukan di rumah ini!"


**********


Ester tidak menemukan dua kakak beradik itu ketika ia sampai ke mobil. Ia mencari di sekitar tempat itu dan tidak menemukan Ally.


Akhirnya ia berinisiatif bertanya pada seorang pria yang sepertinya telah duduk di seberang jalan sejak tadi. Mungkin pria itu melihat kemana Ally dan Alan.


Ester menyeberang dan bertanya pada pria itu. Laki-laki itu melihat dan menyipit ke arah mobil yang ditunjuk oleh Ester.


"Oh, gadis cantik itu ... Ia naik mobil bersama seorang pria yang menggendong anak kecil itu." ucap pria itu. Ester mengerutkan dahinya.


"Bisakah kau sebutkan ciri-cirinya?" tanya Ester buru-buru.


"Bertubuh gemuk dan perutnya terlihat buncit." ucap Pria itu.


Ester menelan ludah, Ally pernah menceritakan ciri-ciri Carloz. Mungkinkah? tanyanya dalam hati.


"Apakah kau melihat ada pemaksaan atau apapun yang mencurigakan?" tanya Ester lagi.


Laki-laki itu terdiam, berfikir sejenak, lalu segera menggeleng.


"Kurasa tidak. Gadis itu sepertinya mengenal pria itu. Mereka bicara lalu sama-sama naik ke mobil pick up yang diparkir di sana dan melaju pergi. Itu yang aku lihat ...." ucap pria itu sambil menunjuk ke arah tempat parkir pick up itu sebelumnya.


"Baiklah, terima kasih," ucap Ester tersenyum. Laki-laki itu hanya mengangguk.


Ester kembali menyeberang, lalu masuk ke dalam mobil dan melaju pulang ke rumah perkebunan. Ia harus segera memberitahu Lucius. Ia yakin laki-laki yang membawa Ally adalah Carloz, ciri-ciri yang disebutkan pria tadi sama dengan yang pernah Ally ceritakan padanya.


**********


From Author,


Ally😭😭😭😭 .... Tungguin apa yang bakal terjadi pada Ally selanjutnya...Sementara itu jangan lupa likenya di klik yaπŸ˜πŸ™, Vote, love dan bintang limanya juga😘😘 ..komentar jangan lupa juga πŸ˜‚πŸ˜


Yuk follow author dengan klik 'ikuti' di kolom profil author ya....Yang mau gabung grup chat author, yuks gabung sekarang..biar rame😁😁


Terima kasih semuanya...


Salam, DIANAZ.