
"Apa yang kau bicarakan dengan Fidel?" Reggie memandangi Mike dari tempat duduknya di kursi meja makan.
"Tidak ada." Mike mengangkat gelas air putih dan meminumnya sampai habis.
Setelah mengunci pintu depan apartemen, Mike pergi ke dapur karena mendengar suara Reggie yang bolak-balik membuka pintu kulkas.
Mike melihat Reggie tengah membuat satu mug cokelat hangat. Ia mengernyit dan mengira Reggie membuatkannya untuk Fidel. Pria paruh baya yang disebut Reggie sebagai pria tua itu sebenarnya belum terlalu tua.
Tapi rupanya perkiraannya tidak benar. Reggie menarik tempat duduk dan menghirup cokelat hangat itu. Ia membuatnya untuk dirinya sendiri. Mike merasa sangat terganggu mengetahui ia tidak suka membayangkan Reggie membuatkan cokelat hangat untuk para pria pengawalnya di luar sana.
Ada apa dengan diriku. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Gadis ini tidak mungkin mulai membuatku merasakan cemburu, bukan?
Kata-kata yang terlintas di otaknya itu membuat Mike akhirnya tersenyum geli.
Cemburu!? ... lucu sekali. Mike menertawakan dirinya sendiri.
"Apa yang lucu?" Reggie memandang dari pinggir mug yang bertengger di bibirnya.
Mike melihat bibir itu menyeruput dan menelan cairan kental cokelat yang melewati tenggorokan gadis itu. Membuat Mike memandangi bibir pink kemudian leher putih Reggie ketika menelan.
Mike membuang muka dan membalikkan badan. Menyembunyikan dirinya yang menelan ludah ketika memandangi Reggie. Ia Membawa gelasnya ke bawah wastafel dan mencucinya untuk mengalihkan perhatian. Sepertinya ia sudah terlalu lama tidak bersama wanita. Apakah ia perlu ke klab dan menemui monica atau Ruth? Sepertinya itu ide yang bagus.
Reggie memandang punggung Mike yang mencuci gelas.
"Seharusnya kau letakkan saja di sana. Aku akan mencucinya," ujar Reggie.
Mike membalikkan badan dan tersenyum biasa pada gadis itu. Ia sudah gila jika memandangi Reggie yang menelan cokelat hangat saja sudah membuatnya bergairah. Ia perlu keluar.
"Beristirahatlah Reggie. Aku akan ke kamarku. Habiskan dulu cokelatmu." Mike berlalu setelah melihat Reggie mengangguk.
Mike mengunci pintu kamarnya. Seharusnya ia menolak mengizinkan gadis itu tinggal di sini. Akan membuatnya menyiksa diri sendiri. Kenangan akan rasa bibir itu di bibirnya membuat Mike ingin mengulang mencium Regina kembali. Keinginan yang ia tahan, Karena itu tidak akan membuat mereka kemana-mana. Regina membutuhkan seorang pria baik yang bisa mencintai dan menjaganya seumur hidup dan ia tidak akan bisa memberikan itu.
Mike membuka seluruh pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Ia berdiri lama di bawah shower, membersihkan bayangan tidak pantas di otaknya tentang Regina.
"Tapi kenapa aku merasa tidak rela memikirkan dia bersama pria lain." Mike berbisik di bawah kucuran air.
"Bodoh," ucapnya sambil segera menyelesaikan mandinya. Ia benar- benar perlu pergi ke klab malam ini.
**********
"Sesuatu menganggumu," ucap wanita itu sambil kembali menuang. Mike memandang aula di bawah sana, tempat orang-orang tengah menggoyangkan tubuh dan berpesta.
"Mau mengatakannya?" Ruth mendekat dan memeluk dada Mike, wanita itu mencium dadanya dan mulai membuka kancing kemejanya bagian atas. Ruth lalu menyelipkan jemarinya, membelai dada bidang dan keras itu, wanita itu mendongakkan wajahnya ke arah Mike, menampilkan mata sayu dan bibir yang sudah siap untuk dicium.
Mike memandangi bibir merah itu dan mulai menunduk, ia ******* bibir Ruth yang menyambut ciumannya dengan penuh semangat.Tiba-tiba saja Mike membayangkan bibir pink yang mampu membuatnya bergairah hanya dengan membayangkan menciumnya. Seketika Mike mengangkat kepalanya, membuat Ruth heran dan menaikkan alis.
"Maafkan aku, Ruth. Aku melupakan sesuatu yang harus aku urus." Mike berdiri dan meninggalkan Ruth yang sedikit kecewa karena tidak jadi menghabiskan malam bersama pria paling dipercaya oleh pimpinan keluarga Langton.
Mike mengendarai mobilnya kembali ke apartemen. Ia mengangguk pada Shawn dan Nick yang berjaga, sebelum akhirnya masuk ke dalam apartemen. Wajahnya kusut dan ia pergi ke wastafel untuk mencuci wajah. Saat memandangi air yang menetes dari rahangnya di depan cermin wastafel, Mike mendengar rintihan itu. Ia menajamkan telinga dan mendengar suara Reggie yang memang tengah merintih. Mike mengambil handuk dan mengeringkan wajahnya sambil melangkah ke depan pintu kamar Reggie.
Ia mengetuk pelan pintu itu.
"Regina ... kau baik-baik saja?" Tidak ada jawaban, hening. Sedetik kemudian, "Mommmm!"
Teriakan ketakutan itu membuat Mike menggedor pintu dengan kencang.
"Regina! Buka pintunya!" Mike kembali menggedor.
Reggie terduduk dengan jantung berdebar, suara Mike perlahan menembus kesadarannya. Ia bermimpi buruk lagi, ibunya yang terbunuh dengan sebuah pisau tajam yang dibawa oleh seorang wanita gila. Darah ibunya berceceran, wanita itu menghujam ibunya degan pisau berulang kali, tidak memedulikan apapun sampai ibunya roboh dengan darah membasahi seluruh tubuhnya. Reggie yang menonton terus berteriak, tapi wanita itu seperti tidak mendengar. Sampai tanpa sadar ia meneriakkannya di dalam tidur.
Penuh syukur karen telah terbangun dan menyadari bahwa itu hanya mimpi, Reggie mengusap wajahnya berulang kali.
Mike pasti terbangun karena suara teriakan barusan. Reggie merasa tidak enak karena telah mengganggu pria itu.
"Regina! Buka pintunya!" Mike kembali berteriak dan menggedor pintu. Membuat Reggie terlonjak dan segera turun dari tempat tidur. Ia memegang pintu dan berdeheam mencoba melonggarkan tenggorokannya yang perih.
"Mike ... kau terbangun? Maaf aku mengganggu. Aku tadi hanya bermimpi, aku baik-baik saja." Reggie berkata di balik pintu. Ia tidak ingin membuka pintu dan membuat Mike melihat dirinya yang pucat dan habis menangis di dalam tidur.
"Buka Regina ...." Mike menggedor.
"Tidurlah kembali, Mike. Aku benar-benar baik -baik saja." Reggie mencoba meyakinkan Mike. Ia mendengar dengan seksama saat Mike yang menarik napas berat meninggalkan pintu kamarnya dan melangkah menjauh.
Mike masuk ke kamarnya sendiri. Percuma memaksa gadis keras kepala itu agar membuka pintu. Setelah melepaskan seluruh pakaiannya Mike naik ke atas ranjang. Mencoba memejamkan mata dan melupakan keberadaan Regina di kamar sebelah yang hanya dibatasi dinding dan pintu yang sebenarnya dengan mudah bisa ia buka.
**********