Love Seduction

Love Seduction
Chapter 55. Lose Rose



Reggie memandangi Elina meminta maaf. Ia harus mengikuti gadis pelayan yang memanggilnya turun untuk membantu di taman. Padahal ia sudah mengatakan akan membantu Elina menyelesaikan pekerjaannya.


"Oh, tidak apa, Rose. Pergilah bersamanya. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."


Elina mengangkat lengannya ke atas sambil mengepalkan tangan, memberi kode jika ia kuat dan akan menyelesaikan tugasnya.


Reggie tersenyum dan beralih memandang gadis pelayan yang telah menunggunya.


"Cepatlah ... yang lain sudah turun lebih dulu. Kepala pelayan menunggu kita," ucap pelayan itu tidak sabar.


Reggie segera mengangguk dan melangkah mengikuti gadis pelayan yang berjalan di depannya.


Mereka turun dari lantai dua dan berjalan lagi menuju lorong ke arah pintu samping mansion. Beberapa ruangan yang mereka lewati terlihat sepi, termasuk lorong yang mereka lalui, tidak ada satupun pelayan yang lewat.


Setibanya di depan sebuah ruangan, keluar dua pelayan yang Reggie kenali sebagai pengikut Liz yang dulu pernah mengurungnya di sel penjara bawah tanah. Reggie mulai mengerutkan kening Ketika tiba-tiba ketiga gadis itu menyergapnya. Mereka memegangi Reggie dan salah satunya mulai menempelkan lakban ke mulut reggie yang hanya bisa melotot memandang para gadis itu. Kemudian dengan kode dari satu orang gadis pelayan lain di ujung lorong, mereka mulai menyeret dan menarik Reggie ke bagian belakang.


Reggie sangat mengenal area itu. Para gadis ini kembali membawanya ke penjara bawah tanah. Gadis paling depan segera membuka kunci dan Reggie di dorong paksa untuk masuk melalui pintu besi. Ketika sampai di tangga Reggie mencoba menggeliat dari pegangan dua gadis di sisi kanan kirinya. Menyebabkan gadis yang ada di belakangnya memukul punggung dan menendangnya dari belakang.


Reggie terhuyung oleh tendangan kuat itu menyebabkan dua gadis yang memegangnya melepaskan tangan, sehingga ia terdorong ke depan dan jatuh berguling dari tangga. Tubuhnya membentur lantai bawah dengan posisi telungkup.


Empat orang pelayan yang menangkap Reggie segera berlari turun. Salah satu dari mereka menarik kedua tangan Reggie ke belakang tubuhnya, lalu mengikat kedua tangannya kuat-kuat. Setelahnya barulah tubuh Reggie dibalikkan telentang. Mata gadis itu masih terbuka, keningnya berkerut menahan sakit karena luka gores di pelipisnya.


"Hmmm ... Hmm ...." Reggie menggeleng-gelengkan kepala dan bergumam dari balik lakban penutup mulutnya.


"Inilah yang kau dapat karena berani mengadukan Liz."


Salah satu dari mereka menarik Reggie untuk bangkit, lalu mereka bersama-sama mendudukkan Reggie ke sebuah kursi kayu yang sepertinya sudah mereka persiapkan. Salah satu dari mereka menahan bahu Reggie, ia menekan agar Reggie tidak bangkit berdiri.


"Jangan mencoba melawan, Rose. Biarkan kami melakukan pekerjaan kami, lalu semuanya selesai. "


Salah satu gadis mengambil sebuah tas kain. Ia merogoh dan mengeluarkan sebuah gunting. Dengan tersenyum, ia membawanya mendekat ke arah Reggie.


Reggie melotot dan mencoba berdiri, namun tiga gadis yang lain mendorongnya kembali ke kursi.


"Ikat dia!" Gadis yang memegang gunting memberi perintah yang segera dilakukan oleh temannya. Sebuah tali kemudian mengikat Reggie ke sandaran kursi, Ia terikat dengan tangan terkunci dibelakang tubuhnya di atas kursi itu.


Gadis yang memegang gunting kembali mendekat dan menyeringai.


"Ucapkan selamat tinggal pada rambut indahmu, Rose," ujarnya. Ia memberi tanda pada rekannya agar melepas bando pelayan di kepala Rose, lalu ikatan rambut Rose yang rapi juga dibongkar, sehingga rambut panjangnya tergerai di bahunya. Di bawah temaram lampu, rambut Rose masih terlihat mengkilat dan indah.


"Kurasa inilah penyebab Liz tidak suka padamu, kau punya rambut yang sangat indah ... Liz tidak suka ada pelayan yang lebih cantik darinya." Pelayan itu mulai mengangkat segenggam rambut Reggie.


Dengan panik Reggie mulai menggoyangkan kepalanya, sebisa mungkin menyelamatkan rambutnya.


Plakk!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Reggie. Gadis yang memegang gunting yang melakukannya. Ia memandang sinis pada Rose yang mengernyit menahan rasa perih di pipinya.


"Diam dan jangan bergerak! Aku akan kembali memukulmu jika kau masih menggoyangkan kepalamu!"


Namun Reggie tidak mau diam saja menunggu rambut panjangnya dipotong dengan acak-acakan. Ia masih menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


Plakk!


Tamparan lagi di sisi pipinya yang lain. Reggie menegakkan kepala dan memelototi gadis yang memegang gunting.


"Liz benar ... kau pembangkang!"


"Aku memegangnya. Lakukanlah. Potong saja yang mana yang dapat," ujarnya sambil menyeringai.


Si pemegang gunting ikut menyeringai. Ia menarik segenggam rambut Reggie dan memotongnya tepat di depan mata Reggie yang terbeliak melihat segenggam rambutnya telah putus.


Sambil tertawa gadis pelayan yang menggunting rambut Reggie mengacungkan rambut tersebut kepada tiga rekannya yang ikut tertawa .


"Ini menyenangkan ... aku akan membuat rambut indahmu habis dan berakhir di tempat sampah, Rose."


Reggie kembali akan menggoyangkan kepalanya, namun sekarang ada dua gadis yang menahan kepala dan lehernya, sehingga ia tidak dapat bergerak. Ia hanya bisa memejamkan mata agar tidak melihat ketika rambutnya dipotong habis.


Habis sudah ... rambut panjang kesukaan ibuku ....


**********


Mike memasuki mansion keluarga Sanchez. Ia memandang berkeliling dan melihat foto Lucius yang masih remaja di salah satu dinding. Ia melihat kemiripan yang amat sangat dengan wajah Reggie saat ini.


"Sebaiknya kita menunggu di ruang kerjaku. Lance akan memanggil pelayan yang bernama Rose itu." Lucius menunjuk arah ke lorong menuju sayap barat. Tempat ruang kerjanya berada.


Lance segera mengangguk dan pamit undur diri untuk menjemput Rose.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan memanggil Rose," ujar Lance kemudian.


Seorang pelayan terlihat melangkah dari arah ujung lorong pintu samping mansion. Lance mengenalinya sebagai Elina, Ia tersenyum lega dan berpikir menyuruh Elina saja untuk memanggil Rose.


"Elina ...." Lance memanggil gadis pelayan yang tengah berjalan sambil mengernyit dan menunduk itu.


"Eh ... ya, Tuan." Elina terkejut ketika mengangkat kepala dan melihat Lance sudah berdiri bersama tuannya Lucius dan dua pria tamunya.


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan," ucap Elina.


"Apakah kau melihat Rose?" tanya Lance.


Seketika wajah Elina berubah khawatir. Ia kembali mengernyit seperti tadi.


"Itu ... Tuan, saya juga sudah mencarinya dari tadi. Saya menyelesaikan pekerjaan saya secepatnya agar bisa menyusulnya ke taman. Tapi di sana tidak ada Rose. Mereka bilang Rose tidak pernah datang ke sana," ujar Elina bingung.


"Kenapa kau mencarinya ke taman? Mungkin dia di lantai dua membersihkan ruangan yang lain?"


Ucapan Lance segera dijawab dengan gelengan kepala oleh Elina.


"Seorang pelayan menjemputnya,Tuan. Dia bilang kepala pelayan membutuhkannya di taman mawar. Ada perawatan oleh tukang kebun yang membutuhkan bantuan beberapa pelayan. Tapi ...."


Lance mengernyit mendengar penjelasan Elina. Ia memikirkan satu kemungkinan di otaknya.


"Maaf Tuan, saya pamit undur diri. Saya akan mencarinya di tempat ke-kemarin." Elina terbata dan menghindar menyebutkan sel penjara di depan Tuan Lucius dan tamunya.


Lance juga berpikiran sama.


Mungkinkah gadis itu kembali dikerjai oleh rekannya sesama pelayan?


"Aku ikut denganmu, Elina," ujar Lance kemudian.


**********