Love Seduction

Love Seduction
Chapter 22. Mr. Costra



Carloz menyatukan kedua tangannya. Duduk dengan gelisah di atas kursi tamu mansion Tuan Rico. Ia terpaksa mendatangi pria ini, berharap mendapatkan keringanan hukuman jika ia melaporkan hal ini lebih dulu, sudah terlalu lama Ally menghilang, uangnya sudah hampir habis untuk mencari gadis itu, dan usahanya gagal padahal ia sudah hampir menangkap gadis bodoh yang membawa lari putranya, Alan.


Carloz tahu ia akan mendapatkan masalah jika Tuan Rico tahu gadis yang sebentar lagi akan di serahkan padanya itu menghilang. Entah apa yang akan pria itu lakukan padanya. Tapi lebih baik ia sendiri yang memberitahukannya dan mengarang alasan yang bisa membuatnya lolos, dari pada nanti Tuan Rico mendengar tentang Ally yang menghilang dari mulut orang lain.


Seorang pria dengan kemeja putih dan rompi biru navy yang senada dengan warna celananya tampak turun dari undakan tangga mansion. Sebuah gelas terlihat di pegang oleh pria itu. Warna kekuningan di gelas itu membuat air liur Carloz terbit. Ia selalu suka minuman keras.


Pria itu berbadan tegap, gagah dengan mata setajam elang, mempunyai ketampanan yang sedikit membuat bergidik karena diwarnai kesan kejam. Namun Carloz tahu, ketampanan itu membuat para wanita tergila-gila pada pria yang juga terkenal murah hati memberi hadiah pada para wanita yang ia senangi. Ia bisa sangat menyenangkan saat ia mau, ramah saat ia senang dan kejam saat ia kehendaki.


Enrico Costra menatap tajam ke arah tamunya yang tidak di undang. Ia melonggarkan dasinya dan kemudian meletakkan gelas minuman yang ia bawa ke atas meja di hadapan Carloz. Gerakan menelan ludah dan kilau di mata pria dengan perut buncit itu tidak luput dari pandangan matanya.


"Tak kusangka kau berkunjung, Salvadore ...." sapanya dingin.


"Ya ... apa kabar Tu ... Tuan ... sudah lama kita tidak bertemu," ucap Carloz terbata. Aura laki-laki ini membuatnya merasa terintimidasi padahal pria ini tidak melakukan apapun, hanya cukup menatap dan menyapa dengan suaranya yang dingin.


Rico memalingkan matanya, sejauh ini tidak ada perubahan terhadap laki-laki yang menjadi wali Alison Adair ini. Masih menjadi seorang pemabuk dengan kilat mata rakus dan menjijikkan bagi Rico.


Rico duduk di salah satu sofa di hadapan Carloz, kemudian dengan memiringkan badannya, dan menyangga kepalanya dengan satu tangan, ia menatap tajam.



CAST : Enrico Costra or Rico


"Ada perlu apa kau kemari?" tanyanya.


Berulang kali Carlos terus menelan ludah, melancarkan tenggorokannya yang terasa terganjal oleh sesuatu. Pria itu terlihat sangat gugup. Membuat Rico memikirkan dugaan-dugaan buruk di otaknya.


"Sesuatu tentang Alison?" tanyanya langsung.


Pertanyaan itu membuat Carloz sedikit terhenyak, Rico yakin dugaannya benar. Wajahnya makin dingin, tatapannya kian tajam.


"Ada apa dengan Allyku?" desisnya.


Carloz menjalin kedua tangannya, tangan itu saling meremas gelisah.


"Ak ... Aku bingung harus mulai dari mana ,Tuan." ujarnya dengan tampang sedih, mulai bersandiwara.


"Mulailah dengan alasan kenapa kau datang kemari!" seru Rico dengan tidak sabar.


"Ally ... Alison menghilang, Tuan," ucap Carloz, ia mengernyit, lalu mencoba mengangkat pandangan matanya mengintip wajah Tuan Rico.


Wajah yang dingin itu terkejut, lalu menggelap dengan amarah. Pria itu tidak lagi bersandar dengan santai. Tapi menegakkan punggungnya dan menatap Carloz seolah menemukan mangsa untuk ia habisi.


"Jelaskan padaku apa maksudmu dia menghilang!" teriak Rico.


Carloz tergagap dengan mata berkedip beberapa kali mendengar amarah Tuan Rico yang meledak. Kembali ia menelan ludah. Pria itu terlihat mengerikan sekarang, wajah tampannya mengeras dengan rahang menggeretak. Dua pria mendatangi mereka ketika mendengar Tuan Rico berteriak.


"Cepat katakan apa maksudmu! Atau dua orangku ini akan mulai mengulitimu!" perintahnya kejam.


Carloz membuka mulutnya ,cepat-cepat menceritakan tentang Ally yang mencuri uangnya dan membawa kabur putranya, Carloz beralasan Ally melakukan hal itu setelah ia bercerita bahwa Ally sebenarnya sudah di janjikan akan diberikan pada Tuan Rico, gadis itu menjadi marah padanya dan mengatakan ia tidak sudi di berikan kepada Tuan Rico. Ally sangat marah dan menolak dengan tegas berulang kali, mengatakan Carloz tidak berhak atas hidupnya dan tidak berhak menyerahkannya untuk siapapun.


"Dia bilang dia tidak sudi?" tanya Rico dengan suara pelan yang terdengar sangat tertarik. Pria itu tidak tampak marah mendengar cerita Carloz.


"Ya, Tuan. Ally mengatakan ia tidak sudi datang ke mansion ini, walaupun akan dijadikan ratu sekalipun di sini, ia tidak berminat, ia akan menolaknya sekuat tenaga. Aku mengatakan itu bukanlah keputusannya. Bahwa keputusan itu sudah dibuat dan ditetapkan oleh ayahnya. Saat itu ia hanya diam, harusnya aku tahu ia tidak akan semudah itu menurut, harusnya aku lebih mengawasinya. Maafkan aku, Tuan Rico." Carloz kembali mengintip wajah Tuan Rico, sekarang laki-laki itu menyerigai, membuat Carloz sedikit lega. Sepertinya Tuan Rico mempercayai ceritanya.


"Jadi ia melarikan diri?" desis Rico.


"Ya ... Ya Tuan! Aku sudah mencarinya, terakhir aku menemukannya bekerja di sebuah restoran milik seorang perempuan bernama Madam Gavany. Tiga jam perjalanan dari kota ini." Carloz lalu memceritakan tentang pertemuannya dengan Ally tidak jauh dari restoran Madam Gavany saat itu. Ia mengatakan seorang pria dengan rambut hitam panjang dan sebuah anting berkilat di telinga kirinya tengah bersama Ally saat itu.


"Siapa pria ini?" tanya Rico makin tertarik.


"Itulah kendalaku sekarang, Tuan. Kurasa Ally menjalin hubungan dengan pria itu. Terlihat saat itu ia menghadang kami, melindungi pria itu dan Alan di belakangnya. Dua orang pria membantu mereka, kurasa temanku sekarang dibawa oleh dua orang itu. Aku kehabisan uang, sehingga penyelidikanku terhadap pria itu tidak dapat di lanjutkan. Dan aku kehilangan Alison lagi." ucap Carloz dengan nada menyesal.


"Ally punya pacar?" tanya Rico tertarik.


"Entahlah Tuan. Aku tidak tahu hubungan keduanya. Tapi kurasa pria itu lah yang membantunya selama ini."


Berbagai dugaan muncul di fikiran Rico. Ia terdiam lama sambil menekuri gelas minumannya yang tadi ia taruh di atas meja.


"Tu ... Tuan, apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Carloz.


Rico mengangkat kepalanya menatap Carloz, lalu senyuman terbit di bibir pria itu.


"Tak perlu melakukan apapun. Aku yang akan mencari Alison mulai saat ini! Dan ... jika aku menemukan sedikit saja bukti bahwa kau berbohong, kau tinggal menunggu hukumanmu Carloz Salvadore ..."


Dengan jarinya Rico memberi tanda pada pengawalnya yang segera mendekat.


"Berikan satu botol anggur terbaik di gudang kita pada Tuan Carloz Salvadore. Ia sudah membawakan kabar tentang Allyku hari ini, ia berhak mendapatkan hadiah," ucap Rico dengan suara ramah yang menipu.


"Baik, Tuan," ucap pengawal yang segera melangkah pergi untuk melaksanakan titahnya.


"Duduklah dengan santai sembari menunggu, Salvadore. Aku pergi dulu ... Ada sesuatu yang harus aku urus!"


Tuan Rico bangkit tanpa menatap lagi ke arah Carloz. Pria itu kembali naik ke lantai atas mansion diiringi oleh pandangan lega dari Carloz yang merasa dirinya telah bebas dari kandang singa lapar yang buas. Pria itu dengan gembira menunggu sebotol anggur yang pasti sangat mahal harganya jika ia membeli sendiri. Anggur-anggur yang telah tersimpan bertahun-tahun sejak keluarga Costra memulai perkebunan itu. Carlos tidak sabar untuk pulang dan mencicipi rasanya, pasti akan terasa sangat enak dan mewah di lidahnya, fikirnya tidak sabar.


**********


From Author,


Intip Part ini 3-4 hari lagi ya, visual Cast Rico mungkin udah muncul. Rivalnya Lucius ...


Jangan lupa like, love, vote, bintang lima, dan komentarnya untuk penyemangat Author๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Terimakasih semuaa


Salam, DIANAZ.