
"Umm ... Amy memberitahuku kalau ...." Reggie menghentikan ucapannya melihat Lucius sama sekali tidak mendongak dari lembaran kertas yang ia baca. Lance yang berdiri di belakang tuannya tampak menarik napas panjang. Tuannya masih bersikap dingin pada Nona Reggie.
"Kalau apa?" tanya Lucius ketika suara Reggie berhenti.
"Kalau ia dan Derek mengundang kita makan malam." Reggie berucap pelan. Hening ... Reggie menunggu dengan gelisah.
"Baiklah. Kita akan pergi. Jika kau beritahu aku dimana ibumu." Lucius memberikan berkas di tangannya pada Lance. Ia mengangkat kepala dan menatap ke arah Reggie. Hening.
Lucius tersenyum miring.
Keras kepala ....
"Hebat! Kau diam, Amy diam, semua mengunci mulutnya. Tidak ada yang mau bicara!" Lucius berdiri dan merapikan jas yang membalut tubuhnya.
"Lakukan tugasmu! Buat ayah bangun dari tidurnya!" Lucius meninggalkan Reggie di ruangan itu sendiri. Ia menginap di rumah sakit malam ini, entah kenapa Reggie sering menangkap kakaknya diam-diam melihatnya. Reggie sungguh tidak tahu apa pikiran Lucius, ia kerap tidur di rumah sakit menemani Reggie yang kadang tertidur dengan memegang tangan ayahnya di ranjang. Reggie tahu Luciuslah yang memindahkannya ke sofa dan menyelimutinya.
Reggie membuka pintu kaca. Mengambil posisi duduk di samping ranjang dan kembali memegang tangan ayahnya, menunggu respon yang ia tunggu lewat sentuhan tangan itu.
"Kurasa Kakak menyayangiku kan, Ayah? Tapi ia tidak pernah tersenyum padaku. Ia tersenyum pada Amy, oada Lance ... pada semua orang kecuali padaku."
Reggie menggenggam erat jari-jari ayahnya. Ia merasakan jemari itu mulai membalas, senyum bahagia menghiasi bibirnya.
"Ya, Ayah. Bangunlah, kau harus memarahi kakak karena bersikap ketus padaku! Aku tidak bisa membalasnya. Padahal aku ingin sekali menjawab dan mengatainya!"
Reggie berdiri dan mencium pipi tirus ayahnya ketika tangan yang ia genggam terasa menggenggam balik jemarinya. Ia kemudian berbisik, "ayo buka matamu ayah. Aku mencintaimu ...."
**********
Derap langkah kaki Madam dan Mary yang memasuki ruang perawatan membuat Reggie menaikkan alis. Keduanya tersenyum dan mendekati Reggie. Lance terlihat berjalan di belakang mereka.
"Nona, mari ikut saya. Tuan Lucius menunggu anda," ucap Lance sambil membungkuk sopan.
"Kakak menunggu? Dimana?"
"Beliau ingin mengajak anda ke suatu tempat." Lance menyadari Reggie selalu memanggil Lucius kakak bila berbicara dengan orang lain. Tapi memanggil nama Lucius langsung bila sedang bicara dengan tuannya itu.
Reggie memandangi ayahnya yang terbaring di ranjang.
"Jangan khawatir, Nona. Kami datang untuk menggantikan Anda. Kami akan menjaga Tuan Eloy. Pergilah bersama Tuan Lucius." Madam tersenyum memberi semangat. Lance telah memberitahunya kemana tuan Lucius akan membawa nonanya.
"Baiklah." Reggie mencium pipi ayahnya dan meninggalkan kamar mengikuti Lance yang kemudian membawanya menaiki mobil untuk menemui Lucius.
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan dengan kaca-kaca lebar yang memperlihatkan gaun-gaun dengan desain cantik dan begitu indah. Reggie mengintip dari kaca mobil dan terpesona.
"Turunlah Nona. Tuan telah menunggu anda di dalam. Saya akan memarkirkan mobil." Suara Lance membuat Reggie terkejut.
Kenapa Lucius memintanya datang kemari? Reggie bertanya-tanya.
Seseorang menyambutnya dari pintu kaca yang telah terbuka lebar.
"Aduhh ... kau mirip sekali dengannya. Kemarilah Sayang, aku akan membuatmu sangat cantik malam ini." Seorang lelaki dengan tangan gemulai dan suara lembut mengulurkan tangan dan menarik lengan Reggie. Mereka memasuki gedung dan Reggie terpana dengan pajangan-pajangan baju pengantin dalam kotak kaca yang berkilau.
"Sangat cantik bukan? Tapi sayang yang itu bukan untukmu. Aku akan membuat satu yang spesial ketika nanti kau menikah! Sebagai hadiahku untuk kakakmu!"
"Aku mendengarnya Angelo! Akan kutagih bila nanti saatnya tiba." Suara Lucius membuat Reggie mengintip dari balik tubuh Angelo. Kakaknya itu duduk nyaman di sofa empuk dengan segelas anggur di tangannya.
"Cihh! Panggil aku Angel! Angel! Bukan Angelo! Mari Sayangku ...."
Reggie tiba-tiba didorong ke sebuah bilik. Seorang gadis telah menunggu di sana dengan deretan gaun, lalu dimulailah pengepasan yang membuat Reggie bertanya-tanya, untuk apa ia mencoba gaun sebanyak ini.
Setelah angel memakaikannya sebuah gaun, Reggie akan didorong keluar dan dihadapkan pada kakaknya yang akan menilai apakah bagus atau tidak menurut kakaknya itu. Berulang kali sampai Lucius setuju pada sebuah gaun berwarna hijau gelap tanpa lengan dengan potongan pas badan dan panjangnya sedikit di bawah lutut dengan belahan di bagian paha.
"Yang ini, Angelo. Dandani dia!" perintahnya sambil kembali menyesap anggur.
Dengan bersungut-sungut karena mendengar nama yang Lucius gunakan untuknya, Angelo mendorong Reggie kembali ke sebuah bilik. Lucius menunggu sambil memainkan ponselnya.
Setelah beberapa lama, Reggie si dorong keluar dan kembali dihadapkan pada Lucius.
"Perfect, Angel! Sangat cantik!" Lucius berseru senang. Membuat Angelo juga tersenyum.
"Kemas dan kirim semua gaun yang tadi Gina coba ke Mansion Sanchez, Angelo! Semuanya."
Dengan perintah itu Lucius menarik bahu Reggie yang segera berjalan mengikutinya dengan tertatih, karena sepatu dengan hak tinggi yang dipakaikan Angelo ke kakinya membuatnya sungguh kesulitan untuk berjalan.
Mereka memasuki mobil yang telah siap dengan Lance yang kemudian melaju mengantar mereka.
"Kita akan kemana?"
"Kau ingin makan malam bersama Amy kan?" Cetus Lucius.
"Kita akan ke sana? "
Lucius mengangguk.
"Seharusnya kau tidak perlu membelikanku gaun."
"Katakan saja pada mereka kau akan ikut aku menghadiri sebuah pesta setelah makan malam."
"Karena itu kau mendandaniku?" tanya Reggie. Lucius tidak menjawab, hanya memandang keluar jendela mobil.
Setelah sampai, mereka disambut oleh Amy yang menunggu dengan perut yang membesar dibalik gaunnya yang cantik.
"Astaga ... lihat dirimu! Kau selalu bisa membuat para pria terkejut!" ujar Amy.
"Jangan meledekku! Kaulah yang seperti itu! Kau ingat kejadian Rafael dulu kan ...," ucap Reggie sambil memeluk dan mencium pipi Amy.
"Itu tidak seberapa di bandingkan dengan apa yang terjadi pada Adrian." Amy menimpali.
Keduanya lalu tertawa kencang. Hanya mereka yang mengerti lelucon di balik nama-nama yang mereka sebutkan. Derek tampak mengernyit sambil menyalami tangan Lucius yang terulur ke arahnya. Matanya tak lepas memandang istrinya yang tersenyum lebar sehingga lesung pipinya kelihatan.
Siapa Rafael dan Adrian? tanya Derek dalam hati.
Mike yang sudah datang dan berdiri tak jauh dari sana juga mendengar dan masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari gaun hijau Reggie yang terbelah di bagian paha.
Dua wanita itu meninggalkan mereka dan segera mencari Eve.
"Dia melihat Reggie dan segera lupa padaku." Derek mendesah sambil memandang punggung istrinya yang menjauh.
"Dia juga lupa dia kemari bersamaku!" rutuk Lucius.
"Kenapa kau membiarkan dia mengenakan itu!" Mike menatap tajam ke arah Lucius.
"Maksudmu?" Lucius hanya menatap dengan wajah datar.
"Belahan gaun itu terlalu tinggi!" kritik Mike.
Derek menahan senyumnya, baginya Reggie terlihat cantik dengan gaun itu.
"Untung saja kau hanya membawanya kemari. Jadi tidak ada pria yang akan menatap kurang ajar padanya!" ujar Mike lagi.
"Oh ... kau salah. Aku akan mengajaknya ke sebuah pesta setelah makan malam ini usai. Untuk itulah Reggie berdandan. Dia akan kuperkenalkan dengan beberapa teman bisnisku." Dengan senyum manis Lucius melangkah masuk meninggalkan Derek dan Mike.
"Ya, masuk saja! Anggap saja rumahmu." Derek mendesis.
Mike hanya menatap dan merasa sangat gelisah setelah mendengar kata-kata Lucius tentang teman bisnis yang akan ia perkenalkan dengan Regina .
**********
From Author,
Wadouhhhh ....Makin runyam hati Mike dah 😏😏
jangan lupa like ,komentar, fav, bintang lima dan vote untuk vitamin author ya guys.
Terimakasih.
Salam, DIANAZ.