
Mike meletakkan berkas yang dibacanya dan memandang Derek. Mereka duduk berhadapan di sofa kulit ruangan kantor Derek.
"Eve selalu bisa diandalkan," ucapnya.
Derek tersenyum puas sambil mengangguk.
"Pencapaiannya luar biasa," ucap Derek bangga. Mike menganggukkan kepalanya mengiyakan, ikut tersenyum puas.
Suara ponselnya yang berbunyi membuat Mike menoleh ke atas meja. Ia melihat nama yang tertera dan segera mengangkat panggilan itu. Reginanya yang menelpon.
"Halo, Honey ...."
Mike mendengar Regina mulai berbicara dengan cepat, tanpa jeda, mengoceh dan seperti tidak ada niat mengambil nafas. Mike bahkan harus menjauhkan ponselnya karena tambah lama suara istrinya tambah kencang seperti mau berteriak.
"Wo ... Wo ... Honey, tunggu ... Hei, tarik nafasmu dulu, Sayang ... Tenanglah, pelan-pelan." Mike kembali mendekatkan ponselnya dan menyuruh Regina untuk tenang dan perlahan.
Reggie diam sebentar, sepertinya istrinya itu tengah mengambil nafas. Mike mendengar suara menarik nafas dengan keras dan menghembuskannya dengan lebih keras lagi.
"Nah, begitu. Tarik nafas ... hembuskan perlahan ... Bagaimana? Sudah tenang?" Mike bertanya dengan nada geli.
"Jangan tertawa, Mike. Aku sedang serius. Aku akan berkemas sebentar lagi," ucap Reggie.
"Berkemas? Kau akan kemana? " tanya Mike heran.
"Oh! Kau sama sekali tidak mendengarkan aku tadi ya!" sungut Regina.
"Regina ... Sayang, kau bicara seperti laju mobil balap. Sama sekali tanpa jeda dan kau berteriak, membuat telingaku sakit dan harus menjauhkan ponselku. Ada apa? Memangnya kau mau kemana?" tanya Mike lagi.
Regina kembali bercerita. Kali ini nada suaranya lebih tenang dan dapat dimengerti oleh Mike.
"Begitu ... Jadi Lucius tidak bisa menemuinya?" tanya Mike.
"Mereka sudah bertemu, tapi pria bernama Rico itu tidak mengizinkan kakakku menemui Ally lagi jika ia belum bertemu keluarganya. Lance mengatakan pria itu takut jika Ally tidak diterima dengan baik dan tidak diperlakukan dengan baik. Kau bisa bayangkan itu! Kakakku yang penuh kasih sayang dan cinta yang amat besar itu tidak dipercaya untuk mencintai dan menyayangi anak walinya itu! Aku ingin sekali bertemu orang yang bernama Rico itu dan melabraknya! Alison sangat penurut pada walinya itu, dan Lucius dan Lance tidak bisa melakukan apa-apa! Aku geram sekali, Mike! Kakakku merindukan gadis itu! Aku tahu dia memikirkannya setiap hari ketika ia kembali ke sini untuk melihat ayah. Dan sekarang ia sudah datang ke sana, namun pria bernama Rico itu malah mencekalnya!" Mike mendengar istrinya mengomel panjang lebar.
Senyum lebar tersungging di bibir Mike. Membayangkan Lucius yang ditolak oleh wali gadis itu. Mike langsung teringat dirinya sendiri yang dulu sengaja di buat gelisah oleh Lucius karena niatnya yang ingin menjodohkan Regina dengan salah satu relasinya.
Derek menaikkan alis melihat senyum lebar Mike.
"Michael Eliazar ... jangan bilang kau tengah menyerigai senang saat ini!" geram Regina.
"Tidak, Honey. Aku tidak sedang menyerigai. Aku tengah berfikir," ucap Mike.
"Apalagi yang perlu di fikirkan. Aku akan pergi ke sana, ayah juga. Kami akan baik-baik saja, ayah bahkan sudah mulai berkemas. Ia semangat sekali, ia mengatakan sangat ingin bertemu dengan Rico. Putra tuan Costra temannya saat di sana dulu."
"Tunggu dulu! Regina ... tidak bisa begitu, Honey. Kau akan pergi? Marie bagaimana? Aku juga bagaimana?" tanya Mike. Senyum gelinya tiba-tiba hilang.
"Tentu saja aku akan membawa Marie. Karenanya aku menelponmu," ucap Regina.
"Sayang, tidak bisa begitu. Kau akan kesulitan jika membawa Marie kesana. Siapa yag akan membantumu? Jangan samakan saat kita liburan dulu. Kita membawa dua Nanny ikut terbang bersama kita untuk membantumu, dan jangan lupa aku juga ikut. Jadi ada yang menjaga kalian. Apalagi kau akan membawa Ayah," ucap Mike panjang lebar. Membayangkan istri, anak dan ayahnya pergi membuat Mike panik.
"Pokoknya kami akan pergi," ucap Reggie keras kepala. Lalu istrinya itu mematikan sambungan.
"Honey! Astaga," keluh Mike.
"Ada apa?" tanya Derek.
Mike kembali menceritakan apa yang diceritakan Reggie padanya kepada Derek. Pria itu mendengarkan, lalu tanpa bisa ditahan ia tertawa geli.
"Jadi, dia mengalaminya juga," ucap Derek.
"Aku harus ikut pergi, Derek. Reggie berkeras membawa Marie dan Ayah. Ayah baru sembuh, Marie ku sedang lincah-lincahnya sekarang. Aku khawatir Regina akan kesulitan walaupun ia membawa Nanny."
"Ya ... Pergilah. Jangan khawatir mengenai pekerjaan. Kabari aku jika kau memerlukan sesuatu," ucap Derek.
Mike mengangguk. Derek lalu mengernyit, ada sesuatu yang menggelitiknya ketika mendengar cerita Mike tadi.
"Mike ... siapa nama pria yang tadi kau sebutkan sebagai wali Ally? Tetangga yang ingin membeli tanah tuan Eloy itu?" tanya Lucius dengan kening berkerut.
"Rico ... Enrico Costra," jawab Mike .
Mike terkekeh mendengar ucapan Derek, ia kemudian bangkit untuk berdiri. Bersiap untuk pamit.
"Terus terang saja, Derek. Aku juga sangat ingin pergi ke sana. Aku penasaran melihatnya," ucap Mike. Keduanya tertawa geli, lalu Mike meninggalkan ruangan untuk pulang ke mansion Eliazar.
Derek menghubungi Alex, ia ingin memastikan sesuatu yang sedari tadi menggelitik perasaannya. Beberapa saat kemudian panggilannya dijawab oleh pria itu.
"Hei, Alex. Apa aku mengganggumu?" tanya Derek.
"Tidak. Ada apa, Derek?"
"Bisakah kau siapkan penerbangan untuk Mike dan keluarganya?"
"Memangnya mereka mau kemana?" tanya Alex heran.
Derek tertawa mendengar nada heran di suara Alex. Sebuah jawaban terlintas di fikirannya.
"Mereka mau menjemput pengantinnya Lucius."
"Hah?Bukannya Lucius sudah berangkat ke sana? Memangnya Lucius tidak bisa menjemputnya sendiri? " tanya Alex. Derek terbahak mendengar ucapan Alex.
"Sepertinya tidak, Alex. Ia perlu ayah dan adiknya. Itu syarat yang diminta oleh wali gadis itu," kata-katanya disambut tawa geli dari Alex di seberang sana.
"Kenapa tidak ia culik saja gadis itu." ucapan Alex membuat kedua pria sama-sama terkekeh.
"Satu lagi, Alex. Mike memintamu mengirim orang untuk membantu Lucius saat menghadapi orang bernama Rico itu. Kau punya data pria itu?" tanya Derek.
"Tentu saja. Enrico Costra, aku punya data lengkap tentang pria perayu wanita itu."
"Apakah ayahnya bernama Gustav Costra?"
"Benar."
"Perkebunan anggur, pabrik olahan anggur, puluhan restoran dan hotel, bukankah itu usaha pria itu?"
"Ya ...."
"kau punya gambar orang ini bukan?" tanya Derek lagi.
"Ya."
"Kirimkan padaku," ucap Derek. Ia tidak dapat menahan serigai lebar di wajahnya.
"Baiklah, tunggu, aku akan mengirimnya padamu. Aku matikan dulu sambungan ini ya,"
Lalu Alex memutus pembicaraan itu, Derek menunggu beberapa saat. Sampai ponselnya berbunyi. Ia dengan cepat membuka pesan Alex yang berisi gambar pria yang bernama Enrico itu.
Seketika tawa Derek menggema di ruangan kantornya. Ia tertawa geli sampai airmatanya keluar dan perutnya sakit.
"Ya Tuhan ... Ternyata kau Enrico! Kecil sekali dunia ini. Aku jadi ingin pergi ke sana dan melihat, bagaimana kau menyajikan drama bagi dunia Lucius Sanchez." kembali Derek tertawa geli.
**********
From Author,
Wkwkwkkwkw .....Thor ketawa dulu yaπππππ udah banyak yang nanya dari chapter chapter sebelumnya. Bukankah Enrico ini pria yang waktu itu mengajak Amy berdansa? Apakah Rico ini Enrico yang waktu itu mengajak Amy menari?
Jawabannya, Yes, it's right. Betul sekali, Enricolah yang membuat Derek saat itu cemburu setengah mati pada temannya itu karena menari salsa dengan sangat Hot sama Amy. Membuat Amy akhirnya jadi di'makan' ππππ ( Baca chapter 'DESIRE' di novel Passion of My Enemy)
Tunggu kelanjutannya yaππ
Jangan lupa tetap like, vote, komentar, favorite dan bintang limanya ya, sebagai vitamin penyemangat author buat nulis. Baca komentar pembaca sungguh bikin author bergairah buat ngetik lagi dan up chapter selanjutnya. Walaupun kadang thor tidak sempat membalas komentarnya satu-satu, tapi thor sangat berterimakasih loh, bikin semangat berkobarπ₯π₯π₯
Sekali lagi, terima kasih semuanya...Luv you my Readersππ
Maaf kalo thor nyinyir yaπππ
Salam, DIANAZ.