
"Kenapa kita harus satu mobil dengannya?" Derek mengeluh pada Amy yang bersandar di dadanya.
"Stttt ... diamlah, Derek."
Lucius mendengus keras dari kursi depan. Lewat kaca ia melihat pasangan yang duduk di kursi belakang mobilnya itu. Derek memeluk istrinya yang hanya memakai gaun tidur longgar dengan lengan super pendek. Sepertinya Amy sudah akan pergi tidur ketika tanpa sengaja mendengar pembicaraan suaminya.
"Kau merasa dingin?" Derek mengelus lengan Amy yang bersandar di dadanya dan memejamkan mata.
"Tidak."
"Kenapa tadi kau tidak tidur?"
"Aku gelisah, tidak ada posisi tidur yang nyaman."
Derek menarik napas panjang, salahnya. Amy mengalami kesulitan tidur ketika perutnya sudah membesar. Ia biasanya tidur dengan bersandar di dada Derek. Ia mengobrol dengan Mike sampai lupa waktu.
"Maafkan aku," desah Derek.
"Untuk apa?"
"Karena terlalu lama kembali ke kamar. Aku lupa waktu bila sudah mengobrol dengan Mike."
"Hmm ...." Amy hanya menggumam.
"Tapi sisi baiknya, kau jadi tahu kemana Reggie pergi," ujar Derek.
"Ummm ...." Amy masih bergumam.
"Diamlah, Langton! Pembicaraan suami istri lakukan saja di mansion kalian!" ujar Lucius jengkel.
"Kalau kau iri, kau cari saja istri," ucap Derek sambil mencium puncak kepala Amy.
"Huh! Lihat dirimu! Kau jadi pendukung komunitas pria cepat beristri, padahal kau dulunya pemuja status bujangan!" sindir Lucius.
"Oh, diamlah. Lagipula, siapa yang mau jadi istri pria dengan rambut panjang seperti wanita," timpal Derek.
Lucius baru saja akan membuka mulutnya untuk membalas, namun Amy sudah membentak mereka berdua.
"Berhenti kalian! Sungguh kekanakan!"
Derek dan Lucius akhirnya menutup mulut mereka sampai mobil berhenti di tempat tujuan. Rumah sakit tempat Eloy, ayah Lucius dirawat.
Mereka semua turun, lalu menunggu rombongan Eve yang juga terlihat tiba. Amy berjalan dalam gandengan Derek. Hatinya berdebar menunggu bertemu dengan Reggie. Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat Reggie, hatinya membuncah dengan rasa bahagia.
Mereka sampai dan Lucius membuka pintu kamar perawatan ayahnya. Hanya seorang pelayan yang tengah duduk dengan terkantuk di sudut ruangan yang ada di tempat itu. Amy melihat Lucius menuju pintu kaca, ia melihat lewat kaca seorang pria yang terbaring di ranjang dan seseorang dengan rambut hitam pendek yang juga sedang menatap terbelalak ke arahnya lewat kaca.
Amy berdiri di tempatnya. Reggie yang berada di samping ranjang ayahnya segera tegak dan tergesa keluar. Lucius membukakan pintu kaca untuknya.
"Nona!" Reggie berjalan cepat, namun ia tiba-tiba berhenti ketika melihat wajah Amy yang datar. Ia memandang perut Amy yang hamil besar, tersenyum bahagia dengan air mata yang tanpa sadar meleleh di pipi.
Amy hanya berdiri tanpa ekspresi dan memandangi rambut Reggie yang dipotong pendek, lalu seluruh tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Memastikan Reggie baik-baik saja. Beberapa saat kemudian ia berbalik. Bertemu Derek yang sudah berdiri di belakangnya bersama Mike, Alex dan Eve.
"Kau benar, Derek. Reggie baik- baik saja. Ayo kita pulang!" ujar Amy lantang.
Derek menaikkan alisnya, Alex menggaruk kepalanya, Eve mengerucutkan bibirnya dan Mike hanya menunggu dengan tangan terlipat di depan dada.
"Derek! Ayo pulang!" ujar Amy lagi.
"Tapi Sweety ...."
Lucius terdengar terbatuk kecil dan berdeham.
Si mungil ini merajuk ....
"Amy ...." Reggie tersenyum karena tahu Amy tengah merajuk. Teringat Amy yang sangat manja padanya dan sering merajuk bila Reggie tidak mengikuti keinginannya saat bermain.
Reggie menghapus lelehan air matanya dengan lengan sambil membersit hidung.
"Amy ... apa yang Mammamu katakan jika seorang gadis kecil sering merajuk?"
"Aku bukan gadis kecil!" bantah Amy ketus.
"Ah, tentu saja. Kau bukan gadis kecil lagi. Kau sekarang besar." Reggie tertawa mendengar kata-katanya sendiri.
Sedang Lucius mengernyit, kenapa kau bahas masalah "besar" di sini, Gina!
"Kau berani menertawakan aku! Kau pergi berbulan-bulan dan membuatku sangat khawatir! Dan sekarang kau menertawakan aku!" teriak Amy sambil menangis.
"Shhh ... maafkan aku," ucap Reggie pelan dengan nada menyesal.
"Kau menemukan saudaramu dan melupakan aku! Kau jahat sekali!" Jerit Amy. Reggie menggeleng cepat.
"Amy ... bukan begitu." Reggie mendekat. Tapi Amy mundur dengan tangis yang semakin kencang.
"Kau bahkan menghinaku!" jeritnya lagi.
"Shhh ... kapan aku menghinamu?" Reggie mendekat dan mendekap Amy dalam pelukannya.
"Kau tadi bilang aku besar!"
Semua orang menutup mulutnya. Menahan tawa agar jangan lolos dari bibir mereka, takut Amy akan semakin mengamuk.
"Tapi kau memang besar, Amy Sayang. Kau besar karena kau hamil. Tapi tetap saja kau cantik seperti peri, malah menurutku, sekarang kau semakin cantik." Reggie membujuk sambil tersenyum dengan air mata masih mengalir.
Amy akhirnya mengangkat kedua lengannya dan balas memeluk Reggie. Keduanya menangis dan terisak. Semua orang memandang dengan perasaan lega.
"Sekarang duduklah. Jangan berdiri terus." Reggie menarik Amy dan duduk di sofa. Setiap orang mengikuti mencari tempat duduk selain Mike yang masih berdiri di tempatnya dengan tangan terlipat di depan dada. Memandang ke arah kumpulan orang yang duduk di sofa. Amy telah mencairkan suasana. Mike berharap Lucius benar-benar telah melunak terhadap Regina.
"Apakah dia Ayahmu?"
Reggie mengikuti arah pandangan Amy dibalik kaca.
"Ya."
"Apakah Lucius benar-benar kakakmu?" tanya Amy lirih.
"Emmm ...." Reggie hanya menjawab dengan gumaman.
"Benarkah dia mengurungmu?" Reggie memandang Amy dan tidak mau menjawab, sehingga Amy beralih pada Lucius.
"Kenapa kau mengurungnya!?" Suara Amy yang tajam membuat Derek tersenyum lebar. Lucius mengangkat bahunya dan berujar santai.
"Hei, Derek! Bukankah sudah larut malam? Bukankah ibu hamil butuh istirahat yang cukup? Kenapa kalian tidak pulang saja?" Lucius pura-pura tidak mendengar pertanyaan Amy.
"Kau mengusirku!?" Amy memicingkan matanya ke arah Lucius.
"Tentu saja tidak, Mungil. Kau bisa mengobrol sampai kapanpun kau mau. Aku hanya mengingatkan kalau sekarang sudah malam." Lucius berkata dengan memasang wajah polos. Membuat Derek mendengus.
Mereka semua tenggelam dalam obrolan, Reggie menggenggam kedua tangan Amy dan sesekali mengelus perut besarnya. Sindiran dan ledekan antara Lucius dan Derek masih berlangsung . Alex dan Eve tertawa geli mendengar keduanya berbalas sindiran.
Mike menatap tak berkedip pada gadis berambut hitam pendek yang tengah tertawa sambil mengelus perut besar istri Derek.
Keluarga, seorang istri, bayi dan anak-anak.
Mike merasa sangat tidak nyaman dan memilih keluar dari ruangan. Ia menyusuri lorong rumah sakit. Beberapa perawat dan dokter berlalu lalang di tiap ruangan dan lorong yang dilaluinya. Sampai ia melihat sebuah balkon terbuka.
Mike melangkah dan memegang pagar pembatas balkon. Mendongak menatap langit malam yang kelam.
Istri ... Bayi ... anak-anak ... keluarga. Siapa yang tidak ingin? Tapi harus ada nama yang diberikan.
Mike menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan keras. Tangannya memegang erat pagar pembatas. Menyadari tidak ada yang bisa ia berikan. Tidak ada ....
**********
From Author,
Mike galauuu nih pemirsahh๐๐๐
Jangan lupa like, komentar, favorite, rating bintang 5 dan vote untuk love seduction ya guys. Terimakasih.๐๐
Mohon maaf jadwal update amburadul karena minggu-minggu ini pekerjaan thor aduhaii sangat luar biasa๐ช๐ช๐๐
Smg tetap sabar. Mangatoon/Noveltoon emang top markotop. platform baca online yg kasih kita pembaca bacaan gratis tis tis๐๐Modalnya sabar aja nunggu update. Ah salah, pakai modal kuota juga ding wkwkwk...
Sekian nyinyiran hari ini. Terimakasih banyak semuaa.
Salam, DIANAZ.