
Mike terbangun dengan posisi telungkup di atas kasur, ia mengerang merasakan kepalanya yang berat dan berputar.
"Minuman sialan!" Mike mengumpat dan berbalik, telentang di atas ranjangnya. Ia menutupkan telapak tangan ke kelopak matanya.
Pertemuan bisnis dengan tuan Osaka yang dibawa Eve untuk menemui Derek kemarin malam berakhir kacau. Tuan Osaka mengajak mereka minum sampai Derek tumbang dan akhirnya harus dibawa ke kamar hotel. Sedang Mike sendiri sudah sangat mabuk, yang ia ingat adalah lengan Eve yang menuntunnya dan setengah menyeretnya ke area parkir. Mike juga mengingat Derek yang dipapah oleh Alex dan seorang anak buah mereka.
Alex mengantarnya pulang dan membawa Eve serta Derek kembali ke Mansion Langton.
Mike menyeret tubuhnya untuk bangun. Ia tidak mau Reggie terbangun, lalu menemukan Mike tertidur dengan bau alkohol masih melekat di tubuhnya. Kepalanya yang berdentum membuat Mike pergi ke kamar mandi, lalu menyiram dirinya dengan guyuran air dingin. Ia bertumpu pada dinding dan memejamkan mata beberapa menit. Kemudian mulai melepaskan pakaiannya yang sudah basah satu persatu. Mike berdiri lama di bawah shower sambil memijit kening dan kulit kepalanya.
"Laki-laki itu bahkan tidak merasakan apa-apa. Dia membuat kami terus minum ...." Mike mengingat tuan Osaka yang memaksa menemani minum dan berakhir dengan menertawakan Mike dan Derek yang limbung.
Setelah merasa menggigil di bawah guyuran air, Mike baru mematikan kran dan membalut tubuhnya dengan handuk. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dan mengeringkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Mike sudah berada si dapur, menyeduh kopi dengan hanya memakai celana panjang dan bertelanjang dada. Ia memandang berkeliling area dapurnya yang kini selalu tampak rapi. Mike tersenyum miring mendapati celemek Reggie yang berenda warna merah tergantung di gantungan dekat pintu dapurnya.
Tidak hanya dapurnya. Gadis itu juga membuat seluruh ruangan dalam apartemennya menjadi bersih dan rapi, lalu moment yang paling Mike sukai adalah saat pulang bekerja, ada seseorang yang menunggunya di apartemen ini. Menyambutnya dengan gelas dan air minum, lalu mereka akan mengobrol tentang semua yang telah mereka kerjakan hari itu.
Mike duduk kursi dapur dan menyesap kopi pahit yang ia buat. Keheningan di dapur itu membuatnya sedikit merasa asing. Ia telah terbiasa dengan adanya Reggie yang bolak-balik di area dapur, memandang dari kursinya saat ini ketika gadis itu menyiapkan makanan atau mencuci piring. Mike kembali tersenyum, gadis itu bukan hanya menginvasi ruangan apartemennya, tapi juga ruangan dalam hatinya tanpa bisa Mike cegah.
Mike melirik jam dinding dan menyadari Reggie biasanya sudah bangun di jam ini. Kenapa gadis itu masih belum keluar dari kamar. Setelah menyesap kopinya dan meletakkan kembali gelas pada tatakan di atas meja, Mike bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar Reggie.
"Regina ...."
Mike mengernyit ketika melihat kamar itu dalam keadaan kosong. Ranjang masih tampak rapi seperti tidak ditiduri. Mike segera berbalik ke arah sofa di ruang TV. Mungkin Reggie tidur di sana karena mimpi buruk dan tidak ada Mike di sampingnya. Namun tidak ada sosok Reggie di sofa itu. Mike memijit keningnya, jantungnya mulai berdebar kencang.
Secepat kilat ia kembali ke kamar Reggie. Ia menarik pintu lemari dan menemukan tidak ada satu pun pakaian gadis itu. Mike memandang berkeliling dan melihat sebuah kertas di atas ranjang yang tadi tidak terlihat olehnya.
Mike mengambilnya dan membacanya dengan cepat.
Dear Mike,
Maaf tidak memberitahumu. Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Jadi aku pergi dan tidak akan kembali, entah untuk berapa lama.
Karenanya aku mohon sampaikan pada Derek, Tolong jaga Amy untukku, tolong jaga dan lindungi dia......
Aku berterimakasih padamu Mike. Terimakasih sudah menjagaku selama ini....
Selamat Tinggal,
Mike terduduk di atas ranjang, Perlahan ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam kantong.
Mike kembali ke kamarnya, mencari kemeja dan segera mengenakannya. Otaknya tiba-tiba buntu. Regina pergi ... tanpa pamit.
Suara dering ponselnya terdengar kencang di keheningan ruangan itu. Namun Mike mengabaikannya. Ia membaringkan tubuhnya telentang di atas tempat tidur dengan kedua tangan menutupi mata.
Dering ponsel itu tidak juga berhenti, seolah seseorang yang meneleponnya tidak akan menyerah sebelum ia mengangkat panggilan itu.
Mike bergerak dan berdiri mengambil ponsel yang terus berdering.
"Hallo ...." Suara nya terdengar serak dan tenggorokannya terasa pedih ketika mengucapkan kata itu. Mike menelan ludah.
"Ya Tuhan, akhirnya kau bangun. Kukira aku harus ke sana menjemputmu. Kenapa lama sekali kau mengangkat teleponnya? Ah, aku tahu, kau masih sakit kepala kan." Ocehan Eve terdengar di telinga Mike.
"Ya ...." Mike menjawab pendek sambil memijit keningnya.
"Maaf mengganggu istirahatmu, Mike. Tapi kau harus kesini sekarang. Amy ...." Ucapan Eve terputus.
Suara Eve terdengar serius dan agak gelisah.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Mike menghentikan gerakannya memijit kening.
"Amy pergi, Mike. Derek belum tahu. Ia masih tidur akibat mabuk tadi malam. Kalian tidak bisa mendengarkanku karena sedang mabuk. Jadi aku hanya bisa minta bantuan Alex. Tapi sampai saat ini kami kehilangan jejaknya ...."
Mike menggenggam erat ponsel di telinganya. Amy pergi ... Reggie pergi ... kebetulan sekali.
"Kami menunggumu di kantor, Mike. Derek akan menyusul ketika ia sudah sadar dan kita akan membicarakannya di sini. Aku membutuhkanmu Big brother." Suara Eve terdengar lemah dan ada nada ketakutan di sana.
"Baiklah ... tunggu aku."
**********
Jangan lupa vote, like, koment, favorite dan rating bintang 5nya untuk vitamin penyemangat author ya.....
Terimakasih semua.
Salam, DIANAZ.