
Ally merasa gelisah. Ia mencoba berfikir jika perasaan diawasi hanyalah hayalan yang terbentuk dari ketakutannya akan pengejaran yang mungkin dilakukan Carloz Salvadore, Ayah tirinya. Bagaimanapun, Ally melarikan diri dengan membawa putra laki-laki itu satu satunya. Adiknya Alan Salvadore.
Namun, hari ini perasaan itu semakin kuat mengganggunya. Saat jam makan siang, Ally yang makan di sudut restoran yang sangat ramai itu melihat kelebat pria dengan perut buncit yang berperawakan mirip dengan Carloz. Ally merinding, apakah pria itu benar-benar sudah sampai kemari untuk mengejarnya? ia sudah lolos selama beberapa bulan. Membuatnya berfikir, Carloz mungkin sudah menyerah dan melepaskan mereka. Apakah dugaannya salah? Apakah sekarang pria itu akhirnya menemukan mereka?
Ally makan dengan cepat dan mencuci tangannya kemudian kembali ke area pekerjaannya. Alan yang sudah makan lebih dulu tampak bermain dengan Cleome. Kucing kecil peliharaan Madam Gavany, yang diberi kandang dan di letakkan di luar teras belakang gedung restoran, dimana Alan bisa menunggu Ally di sebuah kursi santai, tempat Alan kadang berbaring sampai tertidur selama menunggu Ally bekerja.
Bagian belakang merupakan area tertutup, jadi mustahil seseorang menerobos masuk tanpa melewati para pekerja yang sibuk di area belakang. Ally bisa tenang saat bekerja, karena tidak akan ada yang bisa mengambil Alan tanpa terlihat lebih dulu olehnya.
Permasalahan muncul saat mereka akan pergi menuju restoran dan pulang ke kamar mereka. Seseorang bisa saja mencegat dan menangkap mereka.
Carloz hanya baik dan manis di awal awal berkenalan dengan ibunya. Ibunya yang kesepian akhirnya menerima ajakan Carloz untuk menikah. Lalu terlihatlah semua sifat asli pria itu setelahnya, ia hobi mabuk dan menghabiskan uang. Seluruh simpanan ibunya habis dan Ally harus ikut bekerja untuk memenuhi keserakahan laki-laki itu akan uang. Ibunya tampak sangat menyesal, tapi tidak dapat lagi melakukan apapun untuk membebaskan dirinya dan Ally dari Carloz.
Kemudian ibunya yang hamil mulai sakit-sakitan, ibunya makin lemah ketika kehamilannya makin membesar, usia ibunya yang tidak muda lagi membuat ia beresiko tinggi jika melahirkan. Dan benar saja, Ally yang mendampinginya saat itu melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Alan di lahirkan, lalu wajah ibunya mulai memutih seperti kapas, dan kemudian semua seperti bergerak dalam gerakan lambat di mata Ally, para dokter dan perawat yang sibuk dan berlalu lalang. Pertolongan mereka tidak di respon oleh tubuh ibunya. Ibunya pergi untuk selamanya dan meninggalkan Alan dalam penjagaan Ally. Ayah tirinya bahkan tidak ada saat itu, mungkin masih tenggelam bersama botol minuman kerasnya dan mabuk mabukan.
Ally bertahan di rumah itu karena memikirkan itu adalah rumahnya, peninggalan ayahnya, Ally bekerja di perkebunan anggur milik Tuan Rico, itupun upahnya kerap di ambil oleh sang ayah tiri. Ia akan dipukul, ditampar dan juga di tendang bila tidak menyerahkan upahnya. Alan yang mulai mengerti akan situasi kekerasan yang terjadi akan mulai menangis keras, membuat Ally akhirnya mengalah dan memberikan uangnya agar bisa terbebas dari Carloz dan bisa segera membujuk adiknya.
Sampai suatu malam, ayah tirinya yang mabuk itu menceritakan kalau Tuan Rico sebentar lagi pasti akan menagih janji, mengambil Ally seperti yang sudah ia katakan sejak lama.
Ally membelalak, ayahnya yang mabuk mengoceh, mengatakan ia tidak menyentuh Ally karena mengingat ancaman Tuan Rico. Ally sudah dijanjikan pada Tuan Rico sejak lama. Hanya menunggu ia beranjak dewasa. Jika bukan karena janji itu, Carloz mengatakan ia pasti sudah menikmati Ally, menidurinya dan merasakan tubuh Ally yang cantik di bawahnya.
Ally bergidik ngeri, ayah tirinya itu memang telah beberapa kali berusaha menciumnya. Tapi Ally berhasil menghindar, jika ia memikirkannya dengan baik, Carloz memang berniat melepaskannya sehingga ia bisa lolos. Pertimbangan janji pada Tuan Rico lah yang membuat Carloz menahan dirinya untuk tidak memperkosa Ally.
Di malam lain saat Carloz kembali memaksa menciumnya lagi, Ally berteriak akan mengadukannya pada Tuan Rico. Membuat Carloz memukulnya dengan keras, bibirnya pecah malam itu, lalu dengan panik, Carloz melemparkan kotak obat dan menyuruh Ally mengobati sendiri bibirnya. Malam itu Ally tahu alasan Carloz menahan diri untuk tidak memperkosanya. Tuan besar Rico mengancam Carloz jika nanti waktu untuk mengambil Ally datang, dan ia mendapatkan Alison Adair tidak lagi murni, maka ia akan membuat perhitungan dengan Carloz. Carloz tidak akan bisa lagi bekerja di perkebunannya, dan akan terusir dari sana. Tuan Rico berjanji akan membuat Carloz sengsara bila ia menemukan miliknya dalam keadaan rusak. Milik yang di maksud Tuan Rico adalah dirinya.
Alison tidak terlalu mengenal Tuan besar pemilik perkebunan anggur terluas di daerah itu. Ia pernah melihatnya beberapa kali di desa ketika ada perayaan. Pria itu tampan dengan senyum yang menggoda dan mata nakal ketika memandang para gadis.
Pria itu mencium mesra seorang gadis di perayaan sampai kehabisan nafas, bersenang-senang sambil tertawa dan memberi hadiah yang banyak di tiap perayaan. Tipe pria kaya play boy namun juga berbahaya. Perusak dan penghancur hati banyak gadis.
Alison adalah salah satu gadis di perkebunan itu, dan ia di siapkan untuk menjadi simpanan pria itu.
Malam itu, Alison memutuskan ia akan pergi, ia meramu rencananya dan menunggu waktu yang tepat. Mencari obat tidur yang akan ia masukkan ke dalam minuman Carloz dan membawa adiknya Alan bersamanya.
Carloz pasti geram dan tidak akan berani mengaku pada Tuan Rico jika Ally sudah pergi. Rico akan membuatnya menerima hukuman karena di anggap tidak menjaga miliknya dengan baik. Memikirkan akan di sentuh oleh salah satu pria itu membuat Ally langsung merasa mual.
Cepat atau lambat, Carloz akan mencari cara bagaimana agar bisa menyentuh Ally. Mata pria itu terlihat mengerikan dengan desakan nafsu ketika memandang ke arah tubuh Ally. Sedang kan Tuan Rico hanya tinggal masalah waktu, sampai ia harus menerima nasib dan di antarkan ke Tuan tanah itu sebagai budak pemuas nafsu.
Tidak, Alison Adair tidak akan berdiam diri. Ally menjalankan rencananya pada suatu malam. Memberanikan diri berjalan kaki di malam hari yang kelam dan sepi sambil menggendong tas ransel di punggungnya dan menggendong Alan di depan, satu tas jinjing berisi pakaian juga ia bawa. Malam itu, ia melangkah berjalan kaki hingga stasiun. Ia menunggu di sana hingga pagi dan mendapatkan sebuah bis untuk menuju kota yang sekarang ia tinggali bersama Alan.
Tuhan menolongnya dengan menemukannya dengan Madam Gavany. Setelah dua hari mendapatkan tempat tinggal di gedung kumuh gang sempit itu, Ally mulai mencari pekerjaan, dan ia bertemu Madam Gavany yang saat itu kesulitan karena dapurnya penuh dengan piring yang bertumpuk kotor. Ally mengajukan dirinya di restoran yang ramai itu dan langsung di suruh bekerja.
Awal-awal pelariannya , Ally kerap merasa gelisah, jarak kota ini dengan rumahnya di desa kecil di pinggir perkebunan Tuan Rico hanya sekitar tiga jam perjalanan dengan bis yang dulu ia naiki. Sebelum sampai ke kota ini, ada dua kota kecil lagi yang Ally lewati. Ia takut Ayah tirinya mengejar dan akan menangkapnya kembali.
Namun, setelah beberapa bulan berlalu, Ally sedikit merasa lega. Sepertinya Carloz tidak peduli dengan kepergian mereka, itu sangat baik. Ally sedikit merasa aman dan sedikit melonggarkan kewaspadaannya.
Tapi beberapa hari ini, Ally terus merasa diawasi, walaupun ia tidak bisa benar benar memastikannya. Orang itu tidak terlihat, perasaannya makin gelisah setelah ia menolong Lucius dan membiarkan pria itu memulihkan diri di kamarnya yang sempit. Perasaan di awasi itu makin menjadi.
Puncaknya adalah siang ini, dimana ia melihat seorang pria mirip Carloz di restoran Madam Gavany Ally gemetar, ia tidak mau kembali ke desa lalu di serahkan pada Tuan Rico ... tidak ... ia harus lari ....
Ketika waktu tengah malam akan menjelang, menandakan waktu pulang sebentar lagi, Ally mengambil ponsel bututnya, ia menekan nomor Lucius.
"Halo ... Ally?" nada terkejut dan bertanya dari nada bicara Lucius membuat Ally mengernyit.
"Maaf ... Apakah aku mengganggumu?" tanyanya.
"Tidak ... tentu saja tidak, aku memang belum tidur. Ada apa?" tanya Lucius heran.
"Ummm ... Aku hanya ingin meminta bantuanmu ...."
"Ya ... Ya, katakanlah."
"Bisakah kau datang menjemput kami di restoran sekitar tiga puluh menit lagi? Aku ... Ak ... Aku sangat lelah, jadi aku takut tidak mampu menggendong Alan yang tertidur selama perjalanan pulang nanti." Alison memberikan alasan yang terfikir oleh kepalanya. Tanpa harus jujur mengatakan bahwa ia takut pulang hanya dengan Alan saja. Ia takut penglihatannya tadi siang memang benar. Carloz sudah mengintai mereka.
"Oh, Tentu! Tunggulah di sana! Aku akan segera tiba. Jangan kemana-mana bila aku belum sampai." Lucius segera berdiri dan menarik jaket. Ia keluar dan mengunci pintu kamar, lalu memasukkan kuncinya ke dalam kantong celana jeans yang ia pakai.
Tepat empat malam ia telah menginap di kamar Ally. Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Tapi Lucius menyadari ia sudah kehabisan alasan untuk tetap tinggal di sana. Ia belum menemukan alasan yang tepat untuk mengajak gadis itu ikut bersamanya dan keluar dari gedung kumuh di gang sempit itu. Brad dan Santoz terlihat kehabisan cara untuk membujuknya pergi ke perkebunan secepatnya. Lucius tahu dua orang pengawalnya itu terus di rongrong oleh Mike dan Lance. Meminta mereka segera membuat Lucius menyelesaikan tugasnya di sana.
**********
From Author,
What's happen next? ... Tunggu dan ikuti kisahnya di chapter selanjutnya My Readers ... 😘😘😘
Jangan lupa untuk klik Like, Love, Vote, komentar dan bintang lima ya semua....
Terimakasih....
Salam, DIANAZ.