
"Mengapa kau menggendongnya, Lance?" Lucius mengernyit memandangi gadis yang berada dalam dekapan Lance.
"Dia pingsan, Tuan. Sepertinya seseorang membiusnya." Lance memandangi tuannya. Hal remeh seperti ini seharusnya tidak menjadi urusan tuannya.
Lucius terlihat menarik napas panjang. Matanya melihat ke arah pintu besi penjara bawah tanah melewati Reggie yang berdiri di belakang Lance.
Reggie menunduk dalam dengan tangan saling mengait di depan tubuhnya. Jantungnya bertalu. Sekuat tenaga ia menahan keinginan untuk melihat secara langsung dari dekat sosok Lucius Sanchez yang telah berdiri di hadapannya. Ia hanya perlu mengangkat kepala.
"Aku tadi menyusulmu karena kau lama tidak kembali ke sayap barat. Rupanya ada sesuatu yang kau urus."
Lance mengangguk.
"Aku akan kembali saja. Temui aku di sayap barat setelah itu selesai." Lucius mengendikkan dagunya ke arah Elina ketika mengatakan 'itu'.
"Baik,Tuan. Saya akan segera ke sana."
Setelah satu lirikan terakhir ke arah pintu besi, Lucius berbalik dan melangkah pergi. Lance juga mulai melangkah meninggalkan tempat itu, tapi setelah beberapa langkah ia tidak mendengar langkah kaki Rose di belakangnya, ia berbalik.
"Rose? Kenapa berdiri saja di sana? Ayo ... kembali ke kamarmu."
Perintah itu membuat Reggie tersadar. Ia tergagap dan mengerjap beberapa kali.
"Ma ... maafkan saya, Tuan." Lalu ia bergerak mengikuti langkah Lance menuju tangga yang mengarah pada kamar-kamar pelayan.
Reggie terpana melihat kamar mereka acak-acakan, namun memilih menutup mulutnya. Ia menunggu Elina yang dibaringkan ke tempat tidur oleh Lance.
Lance memandang berkeliling, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Besok temui Madam. Bereskan masalah ini secepatnya." Lance memandang ke arah Reggie yang menunduk. Gadis itu mengangguk.
Setelah Lance keluar dan meninggalkan mereka, Reggie kembali memeriksa Elina.
"Elina ...." Reggie mengguncang tubuh Elina perlahan, namun gadis itu masih tertidur lelap.
"Hufhhh ... hanya bisa menunggu efek biusnya hilang." Reggie bangkit kemudian mengunci pintu kamar mereka.
Ia lalu bergerak ke arah lemarinya yang terbuka. Hal pertama yang ia cari adalah kotak kenangannya. Ia meraba dan tidak menemukannya dibalik seragam-seragam pelayan yang sudah terbongkar tidak beraturan. Jantung Reggie kembali bertalu. Kali ini rasa marah lah yang membuncah di hatinya.
"Kau keterlaluan kali ini, Liz." Dengan bisikan itu Reggie menutup pelan pintu lemari. Gerahamnya mengetat.
Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku ... Liz.
Dengan menahan kemarahan Reggie keluar lagi dari kamarnya. Langkahnya pelan menuju pintu sebuah kamar di salah satu lorong kamar pelayan. Ia pernah melihat Liz masuk ke kamar ini, Ia mengetuk.
Pintu terbuka lebar dengan wajah Liz yang tercengang setelah membukanya.
Reggie segera mengangkat kaki dan menendang perut gadis itu.
Seorang gadis lain yang ada di sana terbelalak tak percaya.
Reggie segera menjambak rambut Liz yang memegang perutnya, merasa kesakitan di atas lantai kamar.
"Jangan main-main denganku! Kembalikan kotak milikku!" Reggie menjambak makin keras.
"Kotak apa! Kau gila!" Liz melotot memandangi teman sekamarnya yang hanya diam melihat dirinya dijambak. Gadis itu segera sadar, lalu mengambil sebuah gunting yang ada di meja, ia menyerang ke arah Reggie.
Tanpa melepas pegangan tangannya di rambut Liz, Reggie menendang gadis yang mendekat itu. Gadis itu terlontar dan menabrak meja.
"Kembalikan kotak milikku!"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"
BUKK!
Suara keras terdengar saat Reggie menghantamkan kening Liz ke dinding kamar.
"Akan lebih keras kali kedua, Liz! Kembalikan Kotakku!"
"Kau gadis gila! Aku akan melaporkanmu pada Madam!"
BUKK!
"Ahh!" Liz berteriak kesakitan ketika Reggie kembali menyentakkan kepalanya ke dinding.
"Baiklah ... baiklah. Akan kuberitahu. Aku melihatnya di tempat sampah yang ada di dapur! Jangan tanya aku kenapa kotakmu ada di sana!" ucap Liz sambil meringis kesakitan.
Reggie mendengus keras.
"Sebaiknya kau menjaga perilakumu! Mulai saat ini jangan pernah berani menganggu kami!"
Liz tidak menjawab, ia hanya mengetatkan gerahamnya. Reggie kembali mendorongnya ke arah dinding hingga pipinya menempel.
"Jawab aku gadis brengse*! Atau kuhantamkan kepalamu sekali lagi!"
"Baik ... baiklah ... baik." Liz menjawab berulang-ulang.
Reggie melepaskannya kemudian berbalik cepat dan keluar dari kamar. Ia segera turun kembali menuju dapur untuk mencari kotaknya yang ternyata memang ada di tempat sampah.
Isi kotak itu berserakan di dalam kotak sampah. Reggie memungutnya satu persatu. Jepit rambut kecil, anting plastik berjuntai, Stiker dan benda-benda kecil mainan khas anak-anak. Ia mengaduk tempat sampah dan hanya menemukan Dinosaurus kecil versi T-Rex yang sudah terkelupas miliknya. Tidak ada gelang. Gelang mutiara hadiah ibunya tidak ada. Reggie memasukkan semua benda itu kembali ke dalam kotak, lalu dengan gontai kembali berjalan menuju tangga naik ke arah kamar pelayan.
Ia berdiri lama di depan pintu kamarnya memandangi ujung lorong. Hening dan sepi. Semua orang sudah tidur. Liz tidak akan membuka pintunya lagi kali ini dan ia akan membuat keributan jika memaksa masuk dengan mendobrak pintu kamar gadis itu. Dengan tarikan napas berat Reggie akhirnya membuka pintu kamarnya sendiri dan melangkah masuk ke dalam.
Ini belum berakhir, Liz. Aku akan mendapatkan kembali gelang itu apapun caranya!
Dengan tekad kuat akan mendapatkan kembali gelang hadiah ibunya itu Reggie berbaring dan memejamkan mata.
**********
"Mimpiku makin parah, Lance. Hingga aku takut untuk memejamkan mata." Lucius memijit keningnya sendiri. Ia berbaring di atas sofa panjang.
"Tapi Anda harus istirahat, Tuan. Perlukah aku mengambilkan obat Anda?" Lance memandang khawatir.
"Tidak, Lance. Aku tidak ingin meminumnya."
"Tidurlah, Tuan. Jika akan membuat Anda merasa lebih baik, saya akan duduk di sini menemani Anda."
Lucius mengangguk dan memejamkan matanya. Tubuhnya lelah, namun pikirannya tidak mau diajak beristirahat. Ia memaksa memejamkan matanya, berkata dalam hati bahwa ia tidur di rumahnya sendiri dengan Lance yang ada di sekitarnya. mematri di pikiran alam bawah sadarnya akan kenyataan itu sebelum ia jatuh tertidur.
Lance menarik napas panjang. Ia sangat berharap mereka akan cepat menemukan Nona Regina dan ibunya. Apapun yang akan dilakukan tuannya nanti, Lance percaya setidaknya tuannya tidak lagi berhadapan pada hantu masa lalu.
**********