Love Seduction

Love Seduction
Chapter 19. Singing heart



Lucius menghentikan mobilnya di halaman depan sebuah rumah bertingkat dua. Baranda dengan tanaman merambat yang diatur menutupi bagian atas, sulur tanaman berwarna hijau itu memberi kesan teduh dan memperindah bagian depan rumah.


Sepasang suami istri telah tampak berdiri dari kursi yang mereka duduki di beranda, melangkah turun dari undakan tangga dan menyambut Lucius. Lucius turun dan sengaja belum membuka pintu mobil Ally. Ia tersenyum lebar dan memeluk dua orang tua, suami istri yang telah mengabdikan dirinya dengan setia bekerja untuk keluarga Sanchez.


"Paman Pabio ... Bibi Ester," Lucius mencium mesra pipi keduanya.


"Ehem ... kalian ingat apa yang kita bicarakan di telpon kemarin kan ... jangan panggil aku Tuan. Panggil Lucius. Dan pemilik perkebunan ini Sanchez, Lance Sanchez ...Aku bekerja di sini ... oke ?"


Suami istri itu saling berpandangan.


"Oh ,ayolah ... bantu aku ... atau aku akan ketahuan sudah berbohong pada gadis itu," Lucius berbisik tidak sabar.


"Lucius?" suara Ally yang ragu ragu membuat Lucius berbalik. Gadis itu rupanya sudah turun dari mobil.Tiga pasang mata memandang ke arah Alison yang menggandeng adiknya. Tangan Alan mengencang memegang jari jari kakaknya ketika mata suami istri Marselini memandang terpesona pada wajahnya yang tampan dan manis.


"Ya Tuhan, Nak ... Kau tampan sekali," ucap Nyonya Marselini. Alan tersenyum malu, pegangannya segera mengendor. Tadi Alan pasti merasa khawatir seperti yang Ally rasakan. Khawatir mereka tidak akan di terima.


"Kemarilah, Nak. Apa kau tidak mau berkenalan denganku?" Nyonya Marselini mengulurkan kedua tangannya.


Alan mendongak menatap Ally. Gadis itu mengangguk dan mereka melangkah berbarengan ke arah pasangan itu.


"Halo Nyonya Marselini ... Aku Alison, panggil saja aku Ally," ucap Ally pada Nyonya Marselini. Wanita tua itu menyambut uluran tangannya dan segera memeluknya.


"Selamat datang ke perkebunan ini, Ally Sayang, Panggil saja aku Ester," ucapnya ramah. Lalu ia berlutut di tanah agar sejajar dengan Alan.


"Dan kau bocah tampan, siapa namamu?" tanya Ester.


"Aku Alan Salvadore, Ally memanggilku Alan," ucap Alan dengan senyum malu malu.


Ester memeluk dan mencium pipi Alan sambil tertawa senang. "Kau lucu dan menggemaskan Alan," ujarnya.


Ally tersenyum dan beralih mengulurkan tangan pada pria tua dengan rambut yang sudah hampir semuanya memutih.


"Halo Tuan Marselini," ucapnya.


"Panggil aku Pabio, Ally. Cukup Pabio saja," ucapnya dengan tersenyum ramah.


Setelahnya, Ester menggandeng tangan Alan dan mengajak Ally masuk ke dalam rumah. Tuan Pabio menepuk bahu Lucius dan tersenyum sambil menggeleng. Ia menunggu Ester menghilang ke dalam rumah bersama kedua kakak beradik itu.


"Dia cantik ... rencana apa yang tengah kau jalankan," bisiknya terkekeh. Rona merah melintas di pipi Lucius. Lalu ia tertawa dan mengedipkan mata pada Pabio.


"Itu rahasia ,Paman," ucap Lucius.


Pabio kembali terkekeh dan mengajak Lucius ikut masuk ke dalam. "Ayo Nak, aku tidak sabar mendengar kondisi ayahmu sekarang


Apa dia sudah sembuh total?" ucapnya bersemangat.


Ally menatap takjub kamarnya yang berada di lantai dua, satu ranjang ukuran king size dengan seprai berwarna krem. Lalu lemari besar yang menempel di dinding. Pakaiannya dan Alan tidak banyak, akan banyak yang tersisa dari lemari itu, fikirnya.


Ally mengernyit setelah menyadari Alan tidak ikut dengannya. Kemana Ester membawa adiknya itu. Setelah menunjukkan kamarnya, Ally fikir Ester akan ikut masuk bersama Alan. Ia terlalu terpesona pada kamar itu hingga tidak menyadari adiknya tidak ikut masuk ke kamarnya.


Alison melangkah keluar kamar. Ia melihat Ester memasuki sebuah kamar di bagian ujung lorong. Ally mengikutinya.


Ally masuk dan melihat Alan tengah melompat di atas kasur.


"Kau lihat Ally! Kata Bibi, ini adalah kamarku! aku punya kamal sendili! aku senang!!" Alan berteriak senang.


Ally memandang Ester dengan perasaan tidak enak, sedang wanita tua itu hanya tertawa dan malah bertepuk tangan.


"Alan! Hentikan melompat lompat. Kau bersikap tidak sopan," tegur Ally pada adiknya.


Alan langsung berhenti tiba tiba. Ia melorot menuruni tempat tidur dan menghadap ke arah Ester.


"Ally benar. Aku tidak sopan. Maukan anda memaafkan aku," ucapnya menyesal.


Ester makin terpesona. Bocah ini sopan dan baik hati.


"Tentu saja Alan. Kau senang bukan dengan kamar ini?"


Alan mengangguk berulang kali.


"Kalau begitu, ini akan jadi kamarmu selama kau berada disini," Ester segera mendapat pelukan di kedua kakinya.


"Terimakasih, Bibi!" teriak bocah itu gembira. Membuat Ester terbahak dan mengelus rambut pirang Alan.


"Kau tidak tahu, Tuan kami Lance Sanchez sangat murah hati, Sayang. Aku dan Pabio mendapat kamar seperti kamarmu. Kami juga bekerja padanya. Perlakuannya sama pada sesama pekerjanya. Jangan khawatir Ally. Tuan Sanchez akan sangat marah jika aku menempatkanmu di belakang," Ester berkedip, lalu wanita tua itu segera berpamitan karena akan menyiapkan makan siang.


"Perlu aku bantu? aku bisa membantumu menyiapkan bahan bahannya. Kau hanya harus memerintahkannya padaku, Ester."


"Tidak ... Tidak, Ally. Bereskan saja barang -barangmu, susun rapi di dalam lemari, ya ...."


Ester berlalu meninggalkan Ally dan Alan. Ally menatap adiknya yang masih terkagum kagum melihat kamar yang diperuntukkan baginya itu.


"Kau yakin mau tidur sendiri di sini? tidak mau sekamar denganku?" Ally masih berusaha membujuk Alan. Mendapati dua kamar berukuran besar sedangkan dia adalah pekerja di sana membuat Ally merasa semuanya terlalu berlebihan.


Alan menggeleng cepat. "Tidak mau ... Alan mau di sini saja," ucapnya tegas.


"Kau tidak takut tidur sendiri? Jika malam tiba di sini ...."


"Jangan takuti adikmu ... Biarkan dia mendapatkan kamarnya sendiri, dia sudah besar!" ucapan Lucius itu memotong ucapan Ally yang memang bermaksud menakuti Alan.


Alan mengangguk setuju," Kau benal, Paman Lucius. Aku sudah besal. Aku mau tidul sendili," ucapannya yang cepat membuat lidah Alan kembali berucap cadel.


Ally mencibir ke arah adiknya yang melipat tangan di dada.


"Kau bilang sudah besar. Tapi tidak malu berbicara cadel." ledek Ally.


Alan tampak kesal dan marah. Ia mengejar kakaknya yang sudah berlari bersembunyi di belakang Lucius. Keduanya memutari Lucius sambil tertawa-tawa.


"Awas saja! aku pasti akan menangkapmu!" teriak Alan.


"Coba saja! Kau tidak akan berhasil! Dasar Cadel!" ejek Ally. Alan makin marah dan meminta Lucius membantunya.


"Bantu aku, Paman. Tangkap Ally untukku!" teriaknya.


Lucius yang ikut tertawa melihat kedua kakak beradik itu menyambut perintah Alan. Tangannya terulur untuk menangkap Ally, Ally berkelit. Namun hanya dapat lari beberapa langkah saja. Ia terjebak di di dinding dan segera saja dapat di tangkap.


Keduanya tertawa," Kau lihat, aku menangkapmu dengan mudah," ucap Lucius yang sudah memeluk Ally dengan kedua lengannya.


Alan bertepuk tangan, "gelitiki dia untukku ,Paman!" perintahnya.


Lucius terbahak mendengar permintaan itu, sedang Ally membelalakkan mata birunya dan menggeleng ke arah Lucius.


"Alan!! Aku punya es krim strawberry di sini!! Kau mau!?" Teriakan Ester memasuki kamar. Alan segera berhenti bertepuk tangan, bocah itu berbalik dan langsung lari menuju suara Ester yang menunggunya di pokok tangga dengan satu mangkuk besar es krim strawberry.


Lucius menatap mata biru pucat yang masih membelalak menatapnya. Ia juga melirik ke bawah, ke bibir Ally yang merah dan tampak sedikit gemetar.


Tatapan intens itu membuat sekujur tubuh Ally seperti di aliri sengatan listrik. Jika kemarin sentuhan Lucius di dagunya memberi sensasi sengatan mendebarkan, maka sekarang pelukan pria itu membuatnya gemetar. Tapi ia balik menatap mata hitam itu dan tidak mau beralih, mata itu seolah memakunya.


Lucius ingin sekali menunduk dan menyentuhkan bibirnya ke bibir ranum gadis itu. Mencecap dan memagutnya hingga mereka kehabisan nafas. Tapi ia tahu, tindakan itu akan membuat Ally ketakutan. Sekarang saja sekujur tubuh gadis itu sudah bergetar.


Lucius menunduk, mengecup pelan dan penuh perasaan kening Ally. Ia memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya.


Ally memejamkan matanya ketika bibir tegas dan kuat pria itu mendarat di keningnya. Awalnya ia mengira Lucius akan mencium bibirnya. Tapi rupanya pria itu hanya mengecup keningnya dengan sangat lembut sambil memeluknya erat. Semua curahan kasih sayang Ally rasakan lewat kecupan itu, menyentuh sampai ke dasar hatinya. Membuat kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.


Lucius memisahkan diri, lalu mengangkat dagu gadis itu. Ia menatap mata biru Ally yang mulai berair. Kembali Lucius mengecup," Jangan menangis ... Aku bersamamu sekarang," ucapnya serak.


Hati Ally bernyanyi, ia memejamkan mata dan ingin sekali mengangkat kedua tangannya ,balik memeluk tubuh Lucius yang kembali memeluk erat dirinya. Namun Ally tidak punya keberanian untuk balas memeluk pria yang dikirimkan Tuhan dalam kehidupannya dengan Alan itu.


**********


From Author,


Ah, hatiku meleleh bang ... 'ser ser ' jantungku 😘😘😘


Dah main kecup kecup aja bang ciusπŸ˜‚


Jangan lupa like, love ,vote, bintang lima, dan komentarnya ya pembaca sekalianπŸ™πŸ™πŸ™


Author juga mau minta tolong nih, bagi para Readers yang belum singgah ke novel Thor ' Embrace Love' boleh dong mampir dan klik like, love, bintang lima dan komentar di sana, soalnya thor mo naikin performa, sapa tahu bisa lolos kontrak juga, jadi semangat up 2-3 chapter kayak LS πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Terimakasih semuanyaaa....


Salam Sayang, DIANAZ.