Love Seduction

Love Seduction
Chapter 101. Find Reggie 2



"Sungguh!! Aku sudah mengatakan yang sebenarnya!" nada suara penuh ketakutan itu bergema di ruang tamu mansion Montague.


Beltrand Montague sudah mulai di interogasi ketika Mike dan Alex tiba. Sedikit paksaan dengan satu pukulan yang membuat hidung laki-laki gemuk itu berdarah membuat cerita akhirnya mengalir dari mulutnya.


"Aku membayar dalam jumlah besar setiap bulannya agar Eleanor tetap di rawat di rumah sakit itu. Aku tidak tahu ia kabur. Aku baru saja tahu kabar ini dari kalian!"


"Sekarang katakan dimana kami bisa menemukan Eleanor, Tuan Beltrand..." Alex berkata dengan suara dingin.


"Aku sungguh tidak tahu..."


BUGHHH!!!


Satu pukulan lagi ke arah wajah pria gemuk itu yang membuat istrinya yang meringkuk di sudut ruangan menjerit kencang. Wanita itu ketakutan dan tidak dapat berbuat apapun setelah para pria bertubuh besar dan bersenjata memasuki rumahnya dan menyandera suaminya.


"Aku akan mengulitimu dengan pisau ini Tuan Montague! Sebaiknya kau katakan dimana kami bisa menemukannya! Aku sudah kehabisan waktu!!"


Alex menatap ke arah Mike yang telah memegang sebilah pisau tajam di tangannya. Wajah laki-laki itu gelap dan mengerikan. Aura membunuh sangat terasa di tubuh pria itu.


"Bertahun-tahun lalu kaulah yang mengerjakan semua perintah dari Eleanor bukan? Kau mencari Marinna dan putrinya lalu merencanakan membunuh mereka dalam perjalanan ke mansion Sky!"


"Itu dulu Tuan! Memang aku yang mencari dan menyelidiki dimana mereka. Tapi rencana pembunuhan itu diatur dan dilakukan oleh suruhan Eleanor...Aku sudah tidak lagi membantunya. Percayalah padaku, sejak Eloy menemukan Lucius hampir mati dan akan membunuh Eleanor, itulah saat terakhir aku membantunya, lalu aku memasukkan dan mengurungnya di rumah sakit jiwa."


"Berfikirlah cepat Montague, atau aku akan mulai mengiris lehermu!" Mike meletakkan bilah pisau ke leher pria gemuk itu, darah tampak mulai menetes karena tekanan pisau tipis itu telah melukai kulit Beltrand.


Beltrand Montague memandang ketakutan. Ia berfikir keras, dimana kira-kira Eleanor akan melarikan diri dan bersembunyi sambil menyandera orang. Lalu otaknya mengingat sebuah tempat di lereng hutan tanah Montague sebelah selatan. Tempat sebuah gudang tak terpakai berada, dulu Eleanor pernah membawa Lucius beberapa kali kesana.


"Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak...Tapi...Eleanor punya sebuah properti usang, sebuah gudang tua yang berada di dalam hutan di tanah Montague. Dulu tempat ini adalah tempat orang-orang kami menyimpan kayu-kayu bulat sebelum dilakukan penggergajian dan pembelahan. Kurasa mungkin ia membawanya kesana...."


Mike dan Alex otomatis bergerak, sejumlah pria dengan seragam loreng yang telah disiapkan dan menunggu perintah mulai menjalankan misi mereka setelah dengan cepat koordinat gudang tua itu di temukan.


**********


Lucius berdiri di dekat gudang tua itu dengan jantung berdentum keras. Ia memejamkan mata. Sepuluh pria yang berada di sekitarnya menatapnya dengan wajah sinis dan senyum miring.


"Berapa dia membayar kalian?" bisiknya pelan.


Seorang pria yang sepertinya adalah pemimpin mereka tertawa terkekeh." Kenapa bertanya? Mau membayar kami lebih?"


Lucius mengunci mata hitamnya di kedua mata pria itu. Memperlihatkan keseriusannya.


"Aku akan membayar berkali lipat dari uang yang dia berikan..."


Ucapannya disambut tawa berderai oleh para pria itu.


"Eleanor Montague membayar kami cash di muka Tuan Lucius! Ibumu merelakan jumlah yang sangat besar untuk membayar kami agar memata matai wanita berambut hitam itu dan lalu membawanya kemari. Setelah mengetahui kabar kalau kalian telah menemukan putri wanita yang dibencinya itu, sejak itulah ia menyusun rencana. Menyuruh kami mulai menguntitnya. Tapi kalian sempat waspada...hingga kami menghentikannya sementara dan menunggu kesempatan..."


"Dia gila...Apa kalian tidak tahu?"


Pria itu menaikkan bahunya. Ia mendorongkan senjatanya ke tubuh Lucius. Menyuruhnya bergerak agar masuk ke gudang.


"Dia menunggumu di dalam...Masuklah!!" kembali moncong senjata itu mendorong Lucius agar melangkah.


Lucius menata fikirannya agar tetap tenang. Ia berharap Mike sudah bergerak saat ini. Ia menerima ancaman agar datang sendiri ke gudang ini menemui Regina. Ia bergegas karena memikirkan adiknya yang tengah hamil, wanita gila itu akan berbuat hal yang mengerikan tanpa ampun, Lucius diburu waktu untuk segera sampai dan melihat sendiri keadaan Regina.


Keheningan dan udara lembab menyambut Lucius. Gudang besar kosong itu masih sama seperti dulu, yang berubah mungkin hanyalah bentuk fisiknya yang sudah makin tua dan rapuh. Kenangan buruk berputar kembali di kepala Lucius. Ia mencoba menahannya dengan menarik nafas panjang dan mengepalkan tangan.


"Kau sudah datang...." Eleanor Montague, masih tampak cantik di usianya yang sudah menua, rambut hitamnya sudah banyak dihiasi helaian yang berwarna putih, tersenyum teduh menyambut langkah kaki putranya. Namun kilat kegilaan di mata itu tidak dapat membohongi siapapun.


Lucius melangkah pelan mendekat. Seketika Eleanor berdiri dengan serigai jahat. Sebuah pisau yang tampak sangat tajam telah berada di tangannya. Lucius melirik ke arah meja di dekat ibunya itu, sederet bilah pisau dengan berbagai macam bentuk telah tersusun rapi di atasnya.


"Jangan lakukan ini ..Mother " Lucius mencoba menenangkan ibunya. Menatap langsung mata ibunya yang tampak tidak fokus.


"Jangan mendekat Lucius. Aku hanya ingin kau menonton. Anak si jalang itu yang telah meninggalkan dan mengurungmu di penjara bawah tanah itu kan. Aku akan membalaskan perbuatan mereka untukmu!"


Lucius mengernyit, selangkah demi selangkah ia berusaha mendekat tanpa ketara.


"Aku akan mengeluarkan bayinya dengan pisau ini. Bagaimana menurutmu? Apakah rasa sakitnya nanti akan cukup untuknya?"


Reggie terbelalak sambil menggeleng, airmatanya mengalir deras. Kedua bintik hitam matanya menatap Lucius menghiba....


Kumohon tolong bayiku kakak ....


"Akan sulit melakukannya bila ia duduk dengan posisi terikat seperti itu Mom..."


Lucius berusaha mengalihkan fokus ibunya dari Regina. Ia ingin ibunya sedikit menjauh, meletakkan pisau yang ia pegang dan mengalihkan mata pada dirinya.


"Tidak...Tidak. Aku akan melakukannya dengan posisi ini."


Dengan putus asa Lucius menatap ibunya yang malah mendekat dan memindai perut Regina yang membuncit.


"Mom...Kau harus mengganti pisaumu dengan yang lebih panjang. Yang itu tidak akan membelah sampai ke dalam..."


Eleanor Montague menatap ke arah pisau yang ia angkat ke depan matanya.


"Kau benar...Aku perlu yang lebih panjang." Eleanor berbalik dan melangkah menuju meja, menjauh dari Regina sesaat. Lucius melihat kesempatan untuk menyergap tubuh ibunya. Ia melompat dan menyergap wanita itu dari belakang.


Eleanor menggeliat dan menggigit lengan Lucius yang menahan tubuhnya, hingga rengkuhan lengan itu melonggar dan Eleanor dapat berbalik dan mengarahkan pisau yang masih ia pegang ke dada Lucius yang telah bergerak mundur, namun gerakan Lucius agak terlambat sehingga sabetan pisau tajam masih menggores kemejanya dan melukai kulit dadanya. Darah mulai mengalir membasahi kemeja putih Lucius.


Regina memejamkan mata, berdoa Mike bergerak cepat. Regina yakin kakaknya akan melakukan apa saja untuk melindunginya, termasuk memberikan nyawanya, Regine tidak mau itu....Ia mulai bergerak-gerak dan berguman, membuat suara-suara di balik penutup yang menyumpal mulutnya. Dan tindakan itu berhasil mengalihkan perhatian Eleanor. Wanita itu menoleh kembali ke arah Regina.


"Diamlah wanita jalang!!" Eleanor tiba-tiba melompat dan menghantamkan kakinya ke perut Regina. Kursi rapuh yang diduduki Regina tidak mampu menahan bobot tubuhnya dan hancur berantakan ketika Regina terhempas jatuh ke tanah gudang yang keras.


Lucius berteriak marah, bergerak secepat kilat menabrakkan tubuhnya ke tubuh Eleanor. Keduanya terhempas jatuh ke tanah dengan tubuh Lucius menimpa tubuh sang ibu.


Regina melihat warna merah darah yang mengalir diantara tubuh ibu dan anak itu sebelum pandangannya mulai kabur dan kegelapan menyambutnya.


Lucius menahan tubuh ibunya agar tetap terjepit. Sekuat tenaga menahan agar fikirannya tetap sadar. Ia menyadari darah siapa yang mengalir dan mulai membasahi tanah di bawah tubuh mereka. Ia melirik dan melihat kedua kaki Regina sudah penuh dengan darah, adiknya itu sudah terpejam...otak Lucius mulai berkabut.


Mike....Lucius menyebut nama itu bagai mantra di fikirannya sebelum tubuhnya mulai melemah dan ia di dorong dengan kencang oleh kedua tangan Eleanor. Lucius terhempas dengan tubuh telentang dengan sebuah pisau menancap di perutnya.


**********


From Author,


Dear my readers...Bisa tolong kasih tahu author dong, kira-kira penggambaran kejadiannya tergambar gak di fikiran pembaca sekalian? Tolong di komentarin ya....untuk para silent readers juga, yang baca ataupun like kisah ini...kasih tau author ya🙏🙏


Jgn lupa like,love, bintang lima, komentar dan vote untuk Lucius ya my readers..


Terimakasih semua...


Salam, DIANAZ.