Love Seduction

Love Seduction
Chapter 65. Dark jail



"Dimana ibumu?"


Sekali lagi Lucius bertanya dan kembali hanya keheningan yang menjawab. Lucius akhirnya membalikkan tubuh menghadap ke arah adiknya. Reggie bertemu pandang dan menemukan mata hitam yang sama seperti matanya yang memandang dingin dengan wajah tanpa ekspresi.


"Tidak mau menjawab? Aku tanya sekali lagi, Gina ... dimana ibumu!?"


Reggie tersentak dan sedikit mengernyit mendengar bentakan itu. Tapi ia tetap diam mengunci mulutnya.


"Ayolah Gina. Sampai kapan kau mau bungkam? Kau kira aku percaya kalau ibumu meninggalkanmu? Huhhh!" Lucius mendengus.


Regina masih diam tidak menjawab, ia menatap wajah kakaknya dengan hati iba. Dendam membara di mata itu, rasa sakit amat sangat dan trauma yang membelit terlihat pekat membalut tubuh kakaknya itu. Reggie tidak akan memberitahu kalau ibunya sudah tiada, Lucius pasti mengira ibunya hanya pergi bukannya meninggal. Ia ingin menebus kesalahan mereka dulu. Apapun rencana Lucius untuk ibunya, Reggie bisa menggantikannya, Reggie akan menerima dan menyambut semua pembalasan Lucius.


"Masih tidak mau bicara?" Beberapa saat Lucius menunggu, namun melihat Reggie yang tetap diam, dengan teriakan kencang ia memanggil Lance.


"Lance!"


Segera panggilan itu ditanggapi oleh Lance yang masuk dengan kening berkerut.


"Bawa dia ke sel pintu kedua! Kunci dan jangan berikan cahaya apapun! Biarkan dia terkurung di sana dalam gelap!" Perintah Lucius pada Lance dengan mata tidak meninggalkan wajah Reggie. Tidak ada keterkejutan di wajah Reggie, seolah adiknya itu sudah siap menerima apapun yang akan Lucius perintahkan.


"Tuan ...." Lance ingin berpendapat, namun langsung berhenti ketika Lucius beralih menatap tajam ke arahnya.


"Kerjakan saja, Lance! Aku tidak ingin mendengar apapun sanggahanmu!"


Lance memandang Reggie yang juga tengah memandangnya. Gadis itu mengangguk kecil dan sedikit tersenyum, memberitahu Lance agar jangan ragu melaksanakan perintah itu.


Lance mendekat dan membimbing lengan Reggie yang dengan sukarela mengikutinya. Tanpa menoleh lagi ke arah Lucius, keduanya berlalu dari ruangan itu.


Lucius mengernyit. Rasa tidak puas yang muncul di hatinya melihat ekspresi Regina terasa sangat mengganggu. Gina seolah dengan sukarela dan siap menerima apapun yang akan ia lakukan. Lucius menggeretakkan gerahamnya menahan geram.


"Akan aku lihat sampai kapan kau mau bungkam, Gina ... bersikap seolah kau mampu menahan apapun penderitaan di hadapanku? Hukh! Kita lihat apa kau sekuat itu!" Lucius mendesis sinis.


"Nona ... harusnya ...."


"Reggie, Lance. Panggil aku Reggie."


Kembali Reggie mengingatkan Lance yang sekarang pura-pura tidak mendengar sanggahannya.


"Seharusnya Anda mendengarkan Tuan. Dia hanya ingin bertemu ibu anda."


Reggie hanya diam. Lucius perlu pelampiasan dendamnya dan Reggie siap menjadi orang itu. Ibunya akan mengerti dan melakukan hal yang sama jika ia tahu apa yang telah Lucius alami di masa lalu akibat perbuatan mereka.


Lance membuka pintu besi, lalu mereka turun setelah lampu temaram di ruangan bawah tanah itu dihidupkan.


Mereka menuju pintu besi kedua yang dibuka oleh Lance. Penjara di ruangan itu terlihat lebih mengerikan. Dengan dinding hitam dan beberapa rantai-rantai pengikat.


"Jangan ragu, Lance. Aku akan baik-baik saja." Reggie tersenyum pada Lance yang dilihatnya terdiam di depan kunci sel dengan tubuh kaku.


"Maafkan aku, Nona."


Reggie malah tertawa kecil mendengar Lance masih memanggilnya nona.


"Kau keras kepala, Lance," ujar Reggie sambil melangkah masuk ke dalam sel yang sudah dibuka.


"Saya akan datang untuk melihat Anda. Tentu saja tanpa sepengetahuan Tuan "


Reggie segera menggeleng.


"Jangan lakukan itu. Aku akan baik-baik saja. Itu akan membuatnya menghukummu. Dia perlu melakukan ini, jadi biarkan saja. Jangan datang kemari kecuali kakakku yang memerintahkanmu!" Reggie berkata tegas pada Lance. Ia tidak akan menyeret siapa pun ikut merasakan hukumannya.


Lance hanya diam dan mulai berbalik ke arah pintu besi dengan langkah sangat pelan.


"Lance!" panggil Reggie tiba-tiba, Lance segera berbalik, mengira Reggie mulai ketakutan atau tidak nyaman di dalam sel.


"Jangan lupa, matikan penerangan redup ini. Biarkan sel ini gelap, lalu kuncilah pintunya, lakukan sesuai perintahnya, Lance."


Lance termangu memandang Reggie yang memegang jeruji penjara dengan jari-jarinya. Gadis itu masih saja tersenyum, membuat Lance memejamkan matanya sebentar sambil menarik napas.


"Sesuai kehendak anda ... Nona."


Lance berbalik dan mematikan penerangan redup di sel lalu keluar dan mengunci kembali pintu besi dengan cepat. Tidak sanggup mengangkat kepala memandang ke arah ruangan itu yang sangat gelap, dinding-dindingnya yang hitam membuat keadaan makin pekat. Lama ia berdiri di luar pintu, menunggu apakah Reggie akan kembali memanggilnya, mengira Reggie akan ketakutan dan mulai berteriak meminta keluar.


Tidak ada suara, hening. Lance menarik napas panjang.


"Anda lebih keras kepala, Nona Gina," ujar Lance sebelum berbalik dan mulai menaiki tangga, kembali ke ruang kerja tuannya yang pasti sekarang tengah menunggu.


Pintu yang terbuka membuat Lucius segera mendongak. Lance memasuki ruangan dan mendekati meja Lucius, tangan kanannya itu membungkuk hormat.


"Apa dia terlihat takut?"


Lance menggeleng. "Tidak, Tuan."


"Kau mengurungnya di pintu kedua kan!?" Lucius mengerutkan dahi.


"Ya, Tuan."


"Lampunya kau matikan!?"


"Ya,Tuan."


Lucius mengerutkan kening. Jarinya mengelus dagu dengan bibir menyeringai.


"Dia tidak takut gelap ...."


"Sepertinya tidak, Tuan."


Seringai Lucius makin lebar. "Kau cukup berani, Gina. Tidak lembek sama sekali. Sepertinya Arthur Sky sengaja mendidikmu dengan cara berbeda dengan putrinya Amy. Kita akan lihat sejauh mana keberanian Gina kita, Lance."


Lance melihat seringai tuannya dengan wajah datar.


Entahlah Tuan ... kuharap anda menyadarinya sebelum terlambat. Nona Gina sengaja menanggung semuanya. Kurasa matipun sekarang ia sudah siap ....


***********