Love Seduction

Love Seduction
Chapter 11. Lucius dissapear



Alison bangkit dan mendekati Alan. Ia mengambil cangkir berisi air minum dari tangan kecil Alan, lalu berbalik ke arah ranjang. Ally berjongkok di lantai di pinggir ranjang.


"Apakah kau bisa bangun?" tanya Ally.


Lucius meraba kepalanya, ia menggeleng lemah.


"Sepertinya tidak. Kepalaku sakit sekali. Bisakah kau sedikit membantuku bersandar? Aku sangat haus ...."


Ally mengangguk. Ia meletakkan cangkir di lantai dan duduk di pinggir ranjang, dengan satu lengan ia menarik bahu Lucius dan satu lengan lagi merangkul bahunya untuk menarik tubuhnya bangkit.


Lucius mengernyit dan memejamkan mata, menahan denyutan yang berdentum di kepalanya.


"Alan, ambilkan air minumnya, Sayang," pinta Ally pada adiknya yang hanya berdiri memandangi mereka.


Alan mengangguk, ia mengambil cangkir air minum dan mengulurkannya ke tangan Ally.


"Minumlah ini, Tuan ...." Ally mendekatkan cangkir ke bibir Lucius. Pria itu menghirup dengan rakus, setelah menghabiskan isi cangkir, Lucius dibantu berbaring kembali oleh Ally.


"Maaf, aku seharusnya membawa Anda ke rumah sakit. Tapi ...." Ally mau menjelaskan ia tidak membawa pria itu karena ketakutannya pada rumah sakit. Ally anti melihat rumah sakit setelah ibunya meninggal setelah melahirkan Alan. Setiap melihat bangunan rumah sakit, Ally teringat ibunya dan rasa kehilangan yang ia hadapi setelah kematian ibunya itu. Lagipula ia tidak mempunyai uang untuk membawa orang asing itu ke sana.


"Tidak apa ... aku tetap berterimakasih kau sudah mau menolongku. Kalau tidak, entah apa yang terjadi padaku di luar sana." ucap Lucius.


"Ally ... sudah hampil pagi ..." suara Alan mengejutkan Ally. Ia menatap ke arah jam kecil di dinding kamarnya yang suram.


"Tuan, aku ...." ucapan Ally tiba tiba dipotong oleh pria asing itu.


"Panggil aku Lucius ... dan bolehkah aku memanggilmu Ally saja?"


Alison mengernyit, "Kenapa Ally? Namaku Alison," ucapnya.


"Alan memanggilmu Ally," jawab Lucius.


"Baiklah, tak apa ... Aku harus bekerja dari pukul 6 pagi, Lucius. Dan akan kembali saat tengah malam. Kau bisa beristirahat di sini sehari atau dua hari sampai kau merasa pulih kembali. Setelahnya kau harus pergi ... maaf, kau lihat sendiri bukan ... tempat ini sangat sempit. Tapi, jika kau merasa lebih baik hari ini dan mau keluar, kau bisa kunci pintunya dan cari aku di Restoran Delicious hanya beberapa blok di ujung jalur jalan ini, tolong antarkan kuncinya padaku ..." ucap Alison panjang lebar.


Secara tidak langsung gadis itu mengatakan ia keberatan Lucius tinggal lebih lama. Tapi kesopanan membuatnya menahan diri untuk mengatakannya. Lagipula tega sekali ia mengusir orang yang sedang sakit.


"Terimakasih atas kebaikanmu. Kalau boleh, aku akan tetap di sini dulu. Kepalaku sangat sakit jika terbangun."


"Tentu saja ... jika kau mau minum obat sakit kepala, ada di dalam kotak obat dan di atas lemari itu ada roti, susu dan mi instan. Maaf ... hanya itu yang ada di sini, makanlah jika kau mau," ujar Ally. Lalu gadis itu mengambil pakaian di dalam lemarinya dan masuk ke sebuah pintu kecil yang rupanya adalah kamar mandi.


Semuanya dalam satu ruangan. Tidur, makan, dapur, kamar mandi, dilakukan dalam satu tempat. Bagaimana gadis itu bisa tahan dengan udara pengap dan kamar yang kecil, sempit dan suram ini. Untung saja semuanya dijaga dalam keadaan bersih dan selalu rapi.


Lucius mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Lalu matanya tertumbuk pada Alan yang tengah menyusun baju dan celana yang tampak usang. Lalu bocah itu menyiapkan sepatunya sendiri.


"Kau akan ikut Ally bekerja ya, Alan?" tanya Lucius.


"Iya, Paman Lucius. Boleh aku panggil Paman?" tanyanya polos.


"Tentu ... Apakah bos Ally tidak marah ia membawamu?"


Alan menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Lucius.


"Madam Gavany mengatakan Ally boleh membawaku asalkan aku tidak nakal ...." ucap Alan.


Beberapa saat setelah itu pintu kamar mandi terbuka. Ally keluar dengan seragam hitam, sudah terlihat segar dan semakin cantik di mata Lucius. Ia mengajak Alan ke kamar mandi dan memandikan adiknya itu.



Setelah mengeringkan tubuh Alan dengan handuk, Ally membelit Alan dengan handuk itu lalu menggendongnya.


"Kau sudah menyiapkan bajumu ...." ucap Ally setelah melihat celana dan kaos yang sudah Alan siapkan.


"Iya ... Aku mau pakai yang itu," ujar Alan. Ally tersenyum dan mengangguk. Ia segera membantu Alan berpakaian dan memakaikan sepatu adiknya itu.


Setelahnya ia menatap ke arah Lucius dengan tidak enak hati.


"Aku harus meninggalkanmu, Lucius ... Aku akan pergi bekerja," ujarnya.


Lucius mengangguk, " Aku akan baik-baik saja, terimakasih mengizinkanku menumpang," ucapnya.


Ally mengangguk dan tersenyum, lalu berbalik sambil bergandengan tangan dengan Alan. Ketika akan membuka pintu, Lucius memanggil gadis itu kembali.


"Ally ...." panggilnya.


Alison berbalik," Ya?"


"Apa kau tidak takut aku menjarah barang-barangmu? Aku orang asing di sini ... apa kau selalu mudah percaya seperti ini?" tanya Lucius sepenuh hati. Ia penasaran dengan jawaban gadis itu.


Ally malah tertawa mendengar kata-kata Lucius.


"Ayo Alan ... kami pergi dulu, Lucius." ucapnya sambil berlalu dan menutup pintu rapat-rapat.


Ditinggal sendiri di kamar itu membuat Lucius memikirkan jawaban Alison. Gadis itu terlihat mandiri. Mengurus adiknya seorang diri sambil mencari nafkah. Apakah orang tua mereka sudah tidak ada?


Lucius menggerakkan tubuhnya, mencoba bangun dari tempat tidur. Namun rasa sakit itu datang kembali. Membuatnya mengurungkan niatnya.


"Sebaiknya aku tidur lagi saja," ucap Lucius pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata, dan benar saja ... alam mimpi mengambil alih, Lucius tertidur kembali dengan nyenyak tanpa tahu bahwa di hotel tempatnya menginap malam sebelumnya, dua pengawalnya sibuk mencarinya dengan bingung. Mereka memeriksa rekaman cctv hotel dan mendapati Tuan yang harus mereka jaga keluar dari hotel malam itu dengan mengenakan jaket parka berwarna hitam. Namun, Tuan Lucius tidak kembali lagi ke hotel hingga saat ini.


Brad mencoba menghubungi ponsel Tuan Lucius berulang kali, tapi nomor ponsel itu tidak pernah aktif sejak tadi malam. Mereka sudah mengetahui Tuan Lucius pergi tadi malam dan mencoba menghubunginya. Tapi tidak pernah terhubung. Brad dan Santoz berharap pria itu hanya kehabisan baterai. Namun, saat ini kegelisahan mereka meningkat karena Tuan Lucius belum juga kembali padahal matahari sudah mulai naik. Bukankah Tuannya itu mengatakan akan berangkat ke perkebunan pagi-pagi sekali ....


"Kita harus menghubungi Tuan Mike," ucap Brad pada Santoz.


"Benar, juga menghubungi Lance," sahut Santoz.


Lalu keduanya menghubungi dua pria yang memberikan tugas mengawal Tuan Lucius pada mereka.


Lance terdengar panik di percakapan ponsel dengan Santoz setelah mendapat kabar bahwa Lucius hilang dari pengawasan. Ia lalu mencoba menghubungi Mike. Tapi ponsel laki-laki itu selalu berada pada nada sibuk. Lance berdecak, ia segera menghubungi Tuan Derek. Mereka berada di satu lantai di gedung Langton Corp. Tentu pria itu bisa membantunya menghubungi Tuan Mike.


"Ya ... Ada apa Lance?" terdengar Derek menerima panggilannya di seberang sana.


"Maaf Tuan, Saya tidak bisa menghubungi Tuan Mike. Apakah anda bisa membantu saya?" tanya Lance.


"Ya ...Tapi ada apa, Lance?" Derek keluar dari balik meja kerjanya. Ia melangkah dengan ponsel masih di telinga, keluar dari ruangan kantornya menuju ruangan Mike.


"Tuan Lucius menghilang, Tuan. Dua orang yang bertugas membayanginya mengatakan Beliau keluar dari hotelnya tadi malam dan belum juga kembali hingga saat ini. Ponselnya mati, tidak bisa dihubungi."


Derek terdiam, ia berjalan lebih cepat dan mendorong pintu ruang kantor Mike. Pria itu sedang bicara dengan serius lewat ponselnya.


"Tunggu, Lance. Mike sedang menerima telpon," ucap Derek.


Kening Mike berkerut, ia menatap Derek yang juga tengah bicara di ponselnya.


Mike mematikan ponsel beberapa saat kemudian.


"Mike, ... Lance ...." Derek mengulurkan ponselnya pada Mike.


"Ya ... Lance" sahut Mike cepat setelah menempelkan ponsel Derek ke telinganya.


"Tuan ...."


"Aku sudah tahu, Lance. Brad baru saja menghubungiku," ucap Mike.


"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Lance dengan nada khawatir yang kental.


"Tenanglah ... serahkan padaku. Berdoa saja ia hanya kehabisan baterai ponselnya, Aku akan menanganinya," sahut Mike.


"Katakan pada Saya bila ada yang bisa saya lakukan, Tuan,"


"Pasti. Sekarang tenanglah. Aku akan menghubungi Alex dulu," ucap Mike.


"Ya Tuan,"


Lalu Mike memutuskan sambungan. Ia menatap ke arah Derek yang juga menatapnya.


"Aku perlu Alex menyelidiki ini, mungkin cctv di jalan seputaran hotel Lucius malam itu," ucap Mike.


Derek menggosok tengkuknya.


"Kurasa Alex bisa menanganinya ... meskipun di negara itu tentu saja tidak sama dengan di sini. Aku akan menghubunginya," Lucius lalu menghubungi Alex. Mereka segera terlibat percakapan serius.


Mike menghela nafas dengan kening berkerut dalam.


Sebaiknya kau baik-baik saja Kakak Ipar! Atau Reginaku akan merasa sangat sedih ...


*********


From Author,


Ih, Mike ... bukan karena takut Regina sedih aja, pada dasarnya juga sayang sama kakak ipar kan ... kamu sebenarnya khawatir sangad kan ... ayo, ngaku aja ...😂😂😂


Dear My Readers, please like, love, vote, coment and five star for this novel ....Thank You😘😘😘


Follow Author dengan klik 'ikuti' di kolom profil Author ya🙏🙏


Sekali lagi terimakasih ya semuanya.


Salam, DIANAZ.