Love Seduction

Love Seduction
Chapter 15. Believe me



Alison merasa sangat lega ketika menginjakkan kaki di kamarnya. Kamar sempit di gedung yang kumuh itu terasa memberikan perlindungan untuknya di balik dinding dindingnya yang kusam. Perlindungan yang sama yang ia rasakan ketika rengkuhan lengan Lucius mendekap bahunya dan membimbingnya kembali ke kamar.


Setelah membaringkan Alan di tempat tidur, Ally duduk bersimpuh di lantai dan meletakkan kepalanya di kasur di samping Alan. Selesai sudah ketenangannya di kota ini, ia sudah pasti tidak dapat lagi bekerja pada Madam Gavany. Carloz akan kembali mencarinya dan Alan, kemudian menangkapnya.


"Ceritakan padaku siapa mereka, Ally."


Lucius duduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Menatap Ally yang terpejam dengan kepala terkulai di atas kasur.


Gadis itu membuka mata, Lucius kembali di hadapkan pada mata yang membuatnya terpesona. Namun kesedihan terlihat membalut pekat kedua mata itu.


"Apa yang harus kulakukan sekarang, Lucius?" bisiknya sedih.


"Ceritakan padaku, Ally. Kau harus percaya padaku. Aku akan membantumu sebisaku, Ally." Lucius berkata dengan nada membujuk. Berharap Allynya tidak terlalu keras kepala.


Lalu mengalirlah kisah hidup penuh kesedihan yang di lalui oleh gadis itu. Kebahagiaannya terputus dimulai sejak ayahnya meninggal dunia, beberapa tahun kemudian, ibunya menikah lagi dengan harapan besar atas suami barunya itu. Namun bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan, pria itu hanya menambah kesulitan dan kesedihan dalam hidup mereka. Hanya Alan yang merupakan hal baik yang pernah pria itu berikan untuk mereka.


Ally menceritakan semuanya, termasuk masalah dirinya yang akan di serahkan pada Tuan Rico, juga tentang Carloz yang mulai menggerayanginya hingga membuatnya bertekad melarikan diri.


Lucius mendengarkan dengan amarah tertahan. Ia menggeratkan gerahamnya. Ia sudah melihat Carloz, pria buncit pengecut yang tadi melarikan diri saat pertarungan. Lalu nama Rico pemilik perkebunan anggur dan wilayah perkebunan yang di sebutkan oleh Ally, Lucius mengenal daerah itu. Karena berbatasan dengan tanah milik keluarga Sanchez. Dan bila perkiraannya benar, Rico yang dimaksud oleh Ally adalah Enrico Costra. Pemilik perkebunan luas yang ingin membeli tanah miliknya.


Ally menghapus airmata yang tanpa disadarinya sudah meleleh. Ia menatap lelah pada Lucius.


"Kau tahu Ally ... Kau dan aku tidak kebetulan bertemu ... tapi sudah digariskan oleh Tuhan. Kuharap kau mau memercayaiku mengurus semuanya. Ikutlah denganku Ally, Kau sudah tidak bisa bekerja lagi di tempat Madam. Carloz akan menangkapmu bila kau tetap berada disini."


Lucius merasakan semuanya adalah takdir yang sudah di gariskan, ia di rampok dan ditemukan oleh gadis itu, gadis itu menolongnya bertepatan dengan kedatangan ayah tiri yang akan menangkap kakak beradik itu. Lalu Lucius memikirkan penawaran atas tanahnya dari billioner pengusaha kebun anggur yang membuatnya datang ke negara itu, laki-laki yang ternyata adalah Tuan tanah yang tengah menunggu untuk menjadikan Ally simpanannya.


Ally menatap Lucius lama, tidak menjawab kata-kata dan ajakan Lucius, lalu mata itu perlahan terpejam.


"Aku lelah, Lucius," bisiknya pelan. Hati Lucius terenyuh dan terasa teriris. Ia bangkit dari tempat duduknya dan duduk di sebelah gadis itu dengan menyandarkan punggungnya ke badan ranjang berkebalikan dengan Ally yang menghadap ranjang.


"Sebenarnya aku datang kemari karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan, Ally. Tuanku menyuruhku memeriksa keadaan salah satu tanahnya, sekitar 2 sampai tiga jam perjalanan lagi dari kota ini," Lucius menatap ke wajah Ally. Gadis itu membuka matanya ketika Lucius mulai berbicara.


"Aku menunggu kepalaku pulih, baru akan berangkat ke sana. Rencananya aku akan berangkat besok. Jika kau mau, aku bisa membawamu dan Alan. Tuan dan Nyonya pengurus rumah di tanah itu sudah cukup tua, bantuan seorang gadis lagi di sana pasti akan sangat membantu mereka, mereka juga tidak akan keberatan dengan kehadiran Alan, malah akan senang karena akan ada anak-anak di rumah itu ... Kau akan menerima gaji yang lumayan. Jadi kau tidak akan merasa menumpang, kau akan bekerja dan menerima upah,"


Penjelasan panjang lebar Lucius membuat Ally bangkit dari kasur. Ia menatap dalam dalam ke arah mata hitam Lucius.


"Aku tahu kita baru bertemu. Tapi aku bersumpah aku bukan orang jahat, Alison ... Jika aku mau berlaku jahat, sudah kulakukan sejak malam pertama aku menginap di kamarmu ini ...."


Alison berkedip, penawaran Lucius terasa bagai jalan keluar baginya.


"Aku tahu kau bukan orang jahat. Tapi ... apa kau benar-benar yakin kalau pemilik tanah itu akan mengizinkan aku bekerja di sana dengan membawa Alan?"


"Soal itu kau tidak perlu khawatir. Salah satu tugasku di sana selain mengecek tanah milik Tuan Lance, adalah mencarikan orang untuk menemani suami istri Marselini yang sudah tua. putri mereka sudah menikah dan pergi untuk tinggal bersama suaminya. Jadi kau pasti sangat dibutuhkan di sana."


Lucius mendesah di dalam hati karena ia mengucapkan satu kebohongan tentang pemilik tanah.


"Lance ... itukah nama atasanmu?" tanya Ally.


Lucius mengangguk.


"Dimana dia?"


"Dia tidak memarahimu?"


"Tidak ... dia orang yang baik. Aku menghubunginya dan mengatakan jika aku di rampok dan terluka di kepala hingga butuh waktu memulihkan diri. Dia mengerti dan malah mengirimkan sejumlah uang agar aku tidak perlu naik bis umum ke tanahnya. Aku bisa menyewa mobil untuk besok,"


"Lalu kenapa kau tidak mencari tempat menginap yang lebih baik Lucius? daripada memulihkan diri di kamar sempit ini, jika atasanmu sudah mengirimkan uang, kenapa kau tidak mencari motel saja?"


Lucius tersenyum lebar, "Kau mau aku menjawab jujur?" tanya Lucius.


Ally menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak pergi karena aku tidak mau meninggalkan kalian. Lagipula kamar ini kosong hingga tengah malam. Kau dan Alan berada di restoran dari pagi hingga tengah malam. Aku hanya bisa melihat kalian saat kalian pulang ...."


"Kenapa kau peduli pada kami, Lucius? Kami orang asing bagimu ...."


"Sekarang tidak lagi, Alison. Aku sudah mengenalmu. Aku tahu kau gadis yang kuat dan mandiri. Tapi terimalah uluran tanganku ini. Biarkan aku membantumu kali ini. Sebagai balasan kau telah menolongku waktu itu, tanpa memikirkan apakah aku orang asing, atau mungkin penjahat dengan seluruh bekas luka di tubuhku, kau tidak takut, kau tetap membawaku masuk bukan ...."


"Aku ingin sekali percaya, Lucius. Apakah aku benar-benar bisa mempercayaimu ? untuk hidupku dan Alan ...."


"Pasti Ally ... Carloz tidak akan dapat menyentuh mu dan Alan. Juga pria bernama Rico itu, dia bisa bermimpi menjadikanmu pemuas nafsunya, tapi pegang janjiku Ally ... Tuan Tanah Rico tidak akan dapat menyentuh sehelaipun rambutmu sebelum dia melewatiku. Kau harus percaya, aku akan menjagamu dan Alan mulai saat ini."


Kata-kata itu membuat air mata Ally kembali menetes. Entah sejak kapan terakhir kali ada orang yang mau menjaganya. Mungkin sejak kematian ayahnya, dia tidak pernah lagi punya orang yang melindunginya, bahkan sebaliknya, dialah yang jadi pelindung bagi ibu dan adiknya.


"Terimakasih Lucius ... kuharap besok kau tidak akan berubah fikiran,"


Lucius mengulurkan tangannya, menghapus lelehan air mata Ally.


"Tidak akan! Aku berjanji,"


Ally mengangguk, ia sangat lelah dan emosinya terkuras. Ia memejamkan mata setelah kembali meletakkan kepalanya ke atas kasur.


"No ... Jangan tidur seperti itu, Ally. Naiklah ke sisi Alan. Badanmu akan sakit. Tidurlah dengan benar ...."


Lucius bangkit dan mngangkat kedua bahu Ally. Gadis itu tidak melawan, Lucius tahu Ally sudah sangat lelah, ia membantu Ally berbaring dan menyelimutinya.


"Tidurlah ...dan jangan fikirkan apa-apa lagi. Aku akan menyelesaikan semuanya untukmu ... kau hanya perlu percaya ...."


Lucius mengecup kening gadis yang sudah setengah tertidur itu, lalu ia bergerak ke atas karpet yang menjadi alas tempat tidurnya selama beberapa malam ini di kamar itu.


**********


From Author,


Ah ... Aku padamu banggggg😘😘😘


Lucius so sweet banget ya my Readers, pengen tahu kelanjutannya?? yuks klik like dulu, kasih Vote, klik favorite dan bintang lima, kemudian komentarnya ya ... Jadi vitamin penyemangat Author. Kalo kurang vitamin, Authornya lesu. Apalagi kalo belom ngopiπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Terima kasih semua ....


Salam, DIANAZ.