I Am Fine

I Am Fine
Kejadian di Mall



"Em...Thalia," Panggil Keisha dan duduk di pinggir kasur milik Thalia pelan.


"Aku menyerah, aku meneyerah soal Kak Jaiden. Aku tak bisa memaksakan perasaan Kak Jaiden yang menyukai mu, aku juga mau minta maaf tentang kejadian yang kita lalui di masa lalu. Aku tidak tahu, kalau Papa ternyata akan berbuat kasar padamu."


"Aku juga tidak membutuhkan perhatian Papa, aku tahu Papa akhir-akhir ini sangat kelewat protektif padaku daripada dirimu. Aku minta maaf soal itu, aku akan membujuk Papa untuk" Ucap Keisha terpotong.


"Apa kau pikir Papa akan menuruti soal Papa yang akan menyayangi aku seperti dulu? Sebelum kau dan Mama mu masuk ke dalam kehidupan keluarga ku, yang dulunya bahagia hah?"


"Ku rasa cara yang paling ampuh adalah, kau dan Mama mu itu pergi dari hidup Papa ku. Itulah yang akan kembali membuat Papa kembali menyayangi aku dan Mama, dan juga Adik ku seperti dulu Keisha" Jelas Thalia panjang lebar.


Keisha yang sedari tadi menundukkan kepalanya pun, mendongakkan kepalanya dan menatap Thalia. Namun, beberapa detik kemudian kembali menundukkan kepalanya.


Keisha mengigit bibirnya binggung, "Maafkan aku Thalia. Aku ingin berbaikan dengan mu," Cicit Keisha pelan tertunduk.


"Aku tidak ingin berteman dengan mu Kei, bukan. Maksud ku, ku rasa kita tidak bisa kembali berteman. Setelah segala hal yang sudah merusak kepercayaan kita masing-masing sebagai teman, iya kan?" Tanya Thalia.


"Maaf... aku tidak akan merebut kasih sayang Papa lagi darimu, dan juga Kak Jaiden... aku sudah memutuskan untuk melupakan Kak Jaiden" Jelas Keisha lagi.


"Kau yakin hah? Ku pegang ucapan mu itu, tapi aku tetap tidak bisa kembali berteman dengan mu" Jelas Thalia.


"Mau buat kesepakatan?" Ajak Keisha tiba-tiba.


"Maksud mu?" Tanya Thalia.


"Mari kuta berteman, setelah aku sudah melupakan soal perasaan ku pada Kak Jaiden" Ucap keisha dan memberanikan diri untuk menatap Thalia.


Thalia menatap Keisha penuh arti, dan terlihat ragu. Namun dapat Thalia rasakan, kalau Keisha bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


...⚡⚡⚡...


...Room Chat...


Heri:


Sedang apa?


Mau makan malam bersama?


^^^Fia:^^^


^^^Bukannya kau sedang dirumah sakit?^^^


^^^Aku sih ayo ayo saja^^^


Heri :


Aku di depan rumah mu


Tidak usah ganti baju


Kau terlihat cantik saat mengenakan apapun


read


"What? Depan rumah? Astaga!" Ucap Dia langsung buru-buru untuk pamit pada orang tuanya, dan menghampiri Heri yang katanya sudah berada di depan.


Dan benar saja, Heri sudah berada disana dengan motor kesayangan miliknya.


"Pakai," Ucap Heri memberikan jaketnya pada Fia.


"Aku ambil saja di dalam, bagaimana dengan mu?" Tanya Fia.


"Lama, udah kau pake saja ini. Cepat! Aku sudah lapar," Rengek Heri pada Fia.


Ck iya iya!" Kesal Fia.


Keduanya pun memutuskan untuk pergi makan di salah satu Mall, yang berada tidak jauh dari rumah Fia. Karena Fia juga ingin membeli sesuatu disana, sekalian pikir Fia.


"Kau tidak bosan ya? Jujur aku bosan sekali, setiap aku keluar makan bersama mu. Pasti makan ini," Gerutu Fia.


"Tapi aku suka, ya sudah lagi pula kan disini bukan ada ayam geprek saja. Kau pesan yang lain saja, aku traktir hehe" Ucap Heri.


"Yayaya, pelayan!" Panggil Fia, pelayan itu pun menghampiri keduanya. "Mau pesan apa Mbak? Mas?" Tanyanya.


"Steak ayam 1, air putih hangat, nasi kosong 1 ya Mbak. Kau apa?" Tanya Fia pada Heri yang sedang melihat daftar menu.


"Ayam geprek ya 2, Jus jeruk dingin, avocado dessert nya 2, itu saja Mbak" Ucap Heri.


"Kau akan memakan dua?" Tanya Fia tak percaya, Heri pun mengangguk kepalanya sembari tersenyum.


Tak perlu menunggu lama, makanan itu pun tiba dan siap untuk disantap. "Terima kasih," Ucap Fia pada pelayan itu.


Heri pun ikut menarik senyumnya saat melihat perilaku ramah yang Fia miliki, sungguh sisi itu lah yang membuat Heri menjadi jatuh hati pada gadis yang berada di depannya ini.


Astaga?!


Apakaah Heru menyukai Fia dengan sungguh-sungguh? Atau hanya ingin bermain-main saja, dengan gadis sederhana dan ramah ini?


Srekk


Tanpa ada izin dari keduanya, seorang wanita baru saja menariik kursi yang berada di kursi yang di sebelah Heri. Lalu dengan seenaknya, perempuan itu langsung mendaratkan bokong di kursi itu.


Fia pun menatap pada perempuan itu dan juga Heri saling bergantian. Sedangkan Heri tidak memperdulikan perempuan yang duduk disebelahnya, dan hanya menikmati makanan yang sedang di santapnya saat ini.


Dan Heri sebenarnya, terlihat kesal? Mungkin.


"Pelayan!" Panggil perempuan itu, "Ayam geprek 1, jus jeruk 1" Ucap perempuan itu dan memesan menu yang sama dengan Heri. Hingga membuat Fia, binggung seribu bahasa.


"Ada apa dengan dia?" Pikir Fia saat melihat teman sekolahnya berada disini, dan tanpa izin bergabung dengan mereka.


Heri pun melirik Fia yang sedang memandang Karin dengan raut wajah binggung, dan bertanya-tanya kenapa dan bagaimana bisa Karin duduk disebelahnya.


"Kau membuntuti ku?" Tanya Heri berusaha untuk tenang.


"Menurut mu?" Tanya perempuan itu berbalik.


"Umm... Karina mengapa kau disini?" Tanya Fia.


"Bukankah itu seharusnya pertanyaan ku? Kenapa kau bisa disini bersama dengan pacarku?" Tanya Karin berbalik.


"H..huh? Kalian kembali lagi?" Tanya Fia binggung.


"Hentikan Karin, bukankah kita sudah membicarakan ini 3 hari yang lalu? Kau" Ucap Heri menunjuk wajah Karin, "Dan aku sudah tak ada hubungan apapun lagi!" Jelas Heri.


"Tapi bagaimana soal kemarin malam? Kita tidur bersama, bukankah setiap kita tidur bersama kau sepakat untuk kembali pada ku Heri?" Tanya Karin percaya diri, sembari menyilangkan tangannya di depan dadanya.


Fia yang mendegar itu pun terkejut bukan main, bagaimana bisa perempuan dihadapannya ini dengan mudahnya berkata sepeti itu di depan umum.


Hingga membuat beberapa pasang mata yang sedang menikmati makanan dan minuman mereka pun, melirik pada ketiga remaja itu.


Fia mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha untuk mencerna keadaan yang terjadi.


Heri tertawa remeh, "Apa kau cemburu pada Fia?" Tanya Heri sambil menujuk Dia dengan dagunya. "Hei kau harus sadar diri Karin, aku tidak akan kembali bersama degan mu, kau adalah anak haram Papaku. Kita saudara," Ucap Heri.


"Kau pikir aku mau?" Sahut Karin dengan nada bicara yang meninggi.


"Bukankah kau dan Mama mu sama-sama menyukai uang? Lupakan soal kemarin malam, aku mabuk saat itu" Ucap Heri lalu bangkit dari duduknya.


Heri mengambil dompetnya dan


PLAK


Heri menghamburkan uangnya pada wajah Karin, hingga membuat Karin malu setengah mati.