
...Room Chat...
Uknown number:
Bisa bertemu sebentar?
Ini aku Lia, kekasih Juna
read
"Untuk apa kekasih kak Juna ingin bertemu dengan ku? apa sebaiknya aku beritahu kak Juna?"Gumam Celine.
Tanpa pikir panjang, Celine pun langsung mengiyakan permintaan Lia melalui chat. Mereka berdua berencana akan bertemu di sebuah cafe yang berada dipinggir kota.
Saat ini Celine sudah berada di cafe yang sudah dijanjikannya dengan Lia untuk bertemu.
"Maaf lama," Ucap Lia yang baru saja datang, Lia pun langsung duduk di hadapan Celine.
"Ada perlu apa kau ingin bertemu denganku? to the point saja, aku tidak suka basa-basi," Ucap Celine pada Lia.
"Apa kau memang seperti ini? bahkan kita baru saja bertemu secara langsung seperti ini, apa kau tidak mau kenalan dulu denganku?" Ucap Lia sambil tersenyum meremehkan.
"Tidak perlu, katakan," Sahut Celine ketus.
"Kau pasti sudah melihatnya kan? apa kau yang mengadu pada Nyonya Renandra?" Tanya Lia.
"Maksud mu?" Tanya Celine binggung.
"Ck, kau pasti sudah melihat kemeja kak Juna yang selalu berbekas lipstik ku kan? bahkan kau juga sudah melihat ku dan Juna sedang kencan di cafe semalam," Ucap Lia kesal.
"Aku memang melihatnya, tapi aku tidak pernah mengadukan apa pun pada Mama Rena," Sahut Celine jujur.
"Lalu dari mana Rena tua bangka itu mengetahuinya kalau bukan dari mu hah?!" Ucap Lia sedikit berteriak.
Celine membulatkan matanya karena terkejut mendengar umpatan Lia.
"Hei dimana sopan santun mu pada yang lebih tua?" Sahut Celine.
Lia tertawa sinis, "Apa sopan satun sekarang sangat penting? Hei aku sangat membenci Nyonya Rena, dia selalu meminta ku untuk menjauhi anaknya. aku tidak akan melakukannya!" Ucap Lia, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Untuk apa sebenarnya kau bertemu dengan ku? apa kau hanya ingin bertanya soal itu? kau kira aku yang mengadu pada Mama? kau sudah membuang waktu santai ku!" Gerutu Celine kesal pada Lia.
Lia pun langsung menatap sinis pada Celine, "Kau harus cerai dengan Juna, biarkan aku bahagia dengannya," Ucap Lia tiba-tiba.
Celine tertawa sinis, "Kau sama sekali tidak berhak untuk memintaku cerai dengan Kak Juna, aku tidak akan pernah melakukannya," Sahut Celine.
"Seharusnya kau yang pergi dari kehidupan kak Juna, bukan aku. Apa kau tak sadar? kau lah yang hadir diantara kami!" Bentak Lia pada Celine yang membuat semua orang yang berada di cafe menatap mereka semua.
"Apa kau harus berteriak disini hah?" Ucap Celine, lalu bangkit dari duduknya hendak meninggalkan cafe.
Namun, tangan Celine tertahan karena ditahan oleh Lia.
PLAK
Lia menampar Celine, "Sadar diri atas tempatmu! kau hanya sebuah parasit di hubungan ku dan Kak Juna! Kak Juna hanya mencintai ku, kau cam kan itu!" Ucap Lia.
Byurrr
"Akhh..." Ringis Celine.
Lia menyiram Celine dengan jus jeruk, "Jangan pernah kau berharap Kak Juna akan mencintai mu! dia hanya milikku!" Ucap Lia kesal.
Celine pun mengangkat kepalanya dan tertawa sinis, hingga membuat Lia terkejut. Lalu Celine pun menatap Lia dari bawah sampai atas.
"Hei Lia, sadarlah. Apa kau tidak salah hm? disini kau adalah perusak rumah tangga orang, bahkan pakaian kurang bahan mu ini sudah pasti di beli oleh suami ku bukan? seharusnya ****** seperti mu ini yang menjauh dari suami ku iya kan?" Ucap Celine sarkas Celine pada Lia.
"Apa kau bilang?!" Ucap Lia berteriak kesal, Lia pun mendorong Celine kasar.
BRAKH!
"Astaga!" Pekik Lia terkejut.
Lia menolak Celine terlalu kuat, hingga membuat Celine terjatuh dan kepala Celine yang tak sengaja terbentur dengan meja. Bahkan kepala Celine mengeluarkan darah, Celine sudah tak sadarkan diri.
Rasanya Lia ingin sekali merutuki dirinya sendiri dan ingin pergi dari cafe itu secepatnya. Namun disini sangat lah ramai, hingga membuatnya harus menetap disini dan bertanggung jawab.
Dirumah sakit.
"Untuk apa kau bertemu dengan Celine?" Tanya Juna datar pada Lia.
"Juna tatap aku..." Lirih Lia.
"Katakan yang sebenarnya pada ku Lia," Sahut Juna memejamkan matanya karena pusing.
"Maka dari itu, kau harus menatap ku!" Rengek Lia.
"Baiklah katakan," Ucap Juna lalu menatap kekasihnya tersebut.
"Istri mu meminta ku untuk bertemu dengan ku, dia menghina ku. Bahkan dia meminta ku untuk segera putus dengan mu Juna hiks...aku sungguh marah, aku tak sengaja menolaknya tadi hingga terjatuh hiks.. Juna maafkan aku..." Tangis Lia.
Juna tidak tega, saat melihat perempuan yang di cintainya itu menangis dan membawa Lia ke dalam dekapannya.
"Maaf aku sudah salah paham dengan mu," Ucap Juna pada Lia yang sedang berada di dalam dekapannya.
"Juna apa kita bisa berbicara di ruangan ku saja?" Ucap dokter yang membuat Juna dan Lia terpaksa melepaskan pelukan mereka.
"Kalian ini pacaran tidak tau tempat," Ucap Tara kesal pada keduanya.
"Disini saja," Sahut Juna.
"Tidak bisa," Ucap Tara lalu menatap Lia sejenak, "Kita harus bicara face too face" Lanjutnya.
"Baiklah," Sahut Juna.
"Ck, menyebalkan sekali! apa Tara tidak melihatku sedang bermesraan dengan Kak Juna?!" Batin Lia kesal pada Tara.
...Room Chat...
Juna:
Lia pulang lah dulu
Nanti setelah ini aku akan ke apartemen mu
Mengerti?
^^^Lia:^^^
^^^Ya^^^
^^^read^^^
"Kau beruntung," Ucap Tara tiba-tiba membuat Juna binggung.
"Maksud mu apa?" Tanya Juna pada Tara.
"Apa kau memang melakukannya dengan Celine Jun? hahahaha aku sangat terkejut tadi," Ucap Tara terkekeh.
Juna memutar bola matanya malas, "To the point bro" Sahut Juna yang sudah mulai kesal.
"Hahaha iya iya, istri mu baik-baik saja. Dia juga sudah sadar dan sedang tidur, luka di kepalanya tidak terlalu parah dan kau akan segera menjadi seorang Ayah," Ucap Tara dengan santai pada Juna.
"A..apa kata mu? menjadi seorang Ayah?" Tanya Juna binggung dan terkejut.
"Celine hamil Juna apa Celine tidak melakukannya dengan mu?" Tanya Tara binggung saat melihat ekspresi terkejut Juna.
"Ha..hamil?" Tanya Juna sekali lagi.
Tara pun mengangguk pasti, "Usia kehamilannya baru 1 minggu, sebaiknya kau harus protektif pada istri mu. Karena ini kehamilan pertamanya dan kandungannya masih rentan dan muda, selamat ya teman" Jelas Tara pada Juna.
Setelah keluar dari ruangan Tara tersebut, Juna tidak dapat berpikir dengan Jernih. Apa yang akan dikatakannya nanti dengan Lia? bagaimana dengan janjinya dengan Lia? tidak mungkin di urungkan bukan?
Tidak mungkin juga Juna meminta Celine untuk mengugurkan kandungannya, apalagi mengingat kalau itu adalah kesalahannya sendiri. Sedangkan anak yang berada di kandungan Celine itu adalah darah dagingnya sendiri.
Tanpa pikir panjang, Juna langsung memasuki ruang VIP pasien. Saat Juna membuka pintu tersebut, Juna melihat Celine yang sedang menangis di atas brangkarnya.
"hikss...hikss...hikss..." Tangis Celine.
Celine yang sadar ada membuka pintu pun mengalihkan pandangannya pada Juna, yang sedang berjalan ke arah brangkarnya.
"Celine" Panggil Juna.
"K..kak Juna..." Lirih Celine.
"Untuk apaa kau bertemu dengan Lia?" Tanya Juna to the point pada istrinya.
Celine terdiam dan enggan untuk menjawabnya, Celine mengingat bibir bawahnya. Hatinya terasa membeku seketika saat suaminya langsung menanyakan gadis itu.
"Jawab aku Celinena Aldebarano," Ucap Juna dingin.
Celine pun menatap Juna sendu, "Apa hanya Lia saja yang kau khawatir kan Kak? aku ini sedang hamil anakmu yang sama sekali tidak kau harapkan ini!" Teriak Celine pada Juna.
"Jawab pertanyaan ku Celine! jangan mengalihkan pembicaraan seperti ini, Lia mengatakan pada ku kalau kau memintanya untuk bertemu dengannya dan kau memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan ku," Ucap Juna menahan amarahnya.
"Dasar wanita Licik!" Gumam Celine yang masih dapat terdengar oleh Juna.
"Apa kau bilang?!" Bentak Juna.
"Kak, apa kau selalu menghawatirkan Lia?! Apa kau sama sekali tidak khawatir pada ku huh?!" Teriak Celine pada Juna.
"Kak aku ini sedang hamil anak mu! ini kesalahan mu! apa kau tidak bisa menanyakan terlebih dahulu tentang keadaan ku baru bertanya soal Lia?! bahkan kau tidak bertanya kenapa aku bisa berada di rumah sakit, namun kau langsung membahas Lia? hikss..." Tangis Celine pecah.
Celine pun menangis dengan menutup wajah mungilnya dengan kedua tangannya, hatinya sangat perih saat ini.
"Maaf, maaf kan aku Cena" Ucap Juna membawa Celine ke dalam dekapannya.
Celine pun melepaskan dekapan Juna dan menatap Juna nanar, Celine mengambil tangan kanan Juna untuk memegang perutnya.
"Kak apa kau tidak bisa mencoba mencintai anak ini dan aku?" Ucap Celine menatap Juna berharap.
Juna menatap tangannya sejenak yang berada di perut ramping Celine.
"Kau tahu perasaan ku Celine," ucap Juna dingin pada Celine, lalu Juna menarik tangannya dan pergi meninggalkan Celine di ruang pasien tersebut sendirian.