
"Maaf," Ucap Jaiden menundukkan kepalanya. "Tapi aku harus melakukannya, aku sudah berada di tengah jalan Kei. Aku tidak mungkin berhenti, jadi ku mohon mengerti lah" Ucap Jaiden membujuk Keisha.
"Kei kecewa sama Kakak, Kakak juga tahu kan? Thalia mengalami gangguan mental dan itu karena aku. Aku semakin merasa bersalah padanya, karena aku sudah merebut semua kebahagiaannya."
"Kei merebut Papanya, dan sekarang Kakak? Kak ayolah sadar, jangan seperti ini. Kei takut, Kei takut pada Kakak. Kei tidak mengenal siapa Jaiden yang sedang berdiri di hadapan Kei sekarang, jangan lakukan ini. Kei mohon..." Ucap Keisha panjang lebar yang sudah meneteskan air matanya.
"Kei aku tidak bisa, apa kau tidak tahu juga? Aku sudah bilang, aku sudah di tengah jalan. Aku tidak bisa berhenti begitu saja, bisa kau dukung saja aku?" Tanya Jaiden.
Keisha pun menggelengkan kepalanya, "Kei tidak bisa" Jawabnya.
"Kenapa kau jadi memihak padanya? Bukankah Thalia jahat dengan mu? Kau," Ucap Jaiden terpotong.
"Tidak, Thalia tidak jahat. Thalia tidak akan melakukan itu pada ku, kalau aku tidak berkata buruk padanya Kak. Aku yakin Thalia melakukan itu pada ku, karena dirinya sudah tak dapat menahan emosinya lagi" Jelas Keisha.
"Ku mohon hentikan Kak, Thalia sedang tidak baik-baik saja. Kita tidak tahu dia bagaimana, disaat dirinya sendiri. Semua orang pintar menyembunyikan raut sedihnya, dengan sering tertawa."
"Papa... Papa juga sering menghukum Thalia, karena kau. selalu berhubungan dengannya Kak, tapi Thalia tetap meneruskan hubungannya dengan mu. Karena Thalia benar-benar sayang, dan mencintai mu. "
"Apa kau bahkan tidak memperhatikannya? Dia sering melukai dirinya sendiri, karena merasa stres dan depresi. Cukup, Thalia sudah merasa berat akan segalanya."
"Jangan tambah beban lagi padanya Kak, mental Thalia sudah benar-benar hancur semenjak Mama hadir di hidupnya. Apa Kakak berniat untuk membuat Thalia menjadi gila?" Tanya Keisha setelah menjelaskan sisi gelap Thalia.
"Ya, aku berniat melakukan itu kalau bisa. Aku ingin Thalia dan juga Mama nya menjadi gila," Jawab Jaiden.
"Kak Jaiden..." Lirih Keisha tak percaya.
"Kita sudah beranjak dewasa, ya aku akui. Aku memang berubah," Jelas Jaiden.
"Aku akan melakukan apapun untuk Kakak, asalkan Kakak tidak melanjutkan rencana busuk Kakak itu" Ucap Keisha.
"Sepenting itu Thalia di hidup mu Keisha?" Tanya Jaiden.
"Ya, karena dia teman ku dan juga saudara tiri ku. Dia teman pertama yang aku miliki di Amerika, aku sayang pada semua sahabat ku. Aku tidak ingin ada seorang pun yang ingin membuatnya hancur, terutama kau Kak" Jelas Keisha.
"Apa kau juga akan melakukan hal seperti ini juga ini terjadi pada Keira? Apa kau yakin kau akan melakukan ini karena kau menganggapnya sebagai teman, atau karena kau merasa bersalah padanya?" Tanya Jaiden.
Keisha tak bergeming sama sekali, "Lihat? Ku rasa itu karena kau merasa bersalah padanya. Iya kan?" Tanya Jaiden yakin.
"Baiklah, aku akan menghentikannya Kei. Kau yakin akan melakukan apapun untukku kan?" Tanya Jaiden lagi.
"Ya, Kei akan melakukan apa pun. Katakan," Ucap Keisha.
"Tunangan dengan ku, maka aku akan menghentikannya. Bagaimana?" Tanya Jaiden membuat mata Keisha membola.
Tak bisa Thalia tepikan, ada perasaan yang senang dalam hatinya. Dan ada perasaan bersalah juga pada Thalia, karena beberapa waktu lalu Keisha sudah berjanji pada Thalia untuk melupakan Jaiden.
Apalagi kemarin mereka bertiga, baru saja makan bersama. Namun sekarang? Jaiden malah ingin bertunangan dengan Keisha, apa yang harus di lakukan Keisha sekarang? Pikir gadis itu.
"Kak Jaiden," Ucap Keisha lirih karena terkejut.
Oh ayolah, Riki sedang menguping disana. Karena dirinya merasa berhak tahu, Riki tidak akan membiarkan Kakaknya di lukai oleh Jaiden.
"Wah ide Kak Jaiden gila!" Batin Riki saat mendengar dan meguping percakapan keduanya sedari tadi.
"Kau bersedia? Dengan begitu, otomatis semua selesai kan?" Tanya Jaiden.
"3 hari, 3 hari ku tunggu jawaban mu" Ucap Jaiden.
Keisha pun tampak berpikir, takut salah mengambil langkah. Namun dengan secepat mungkin, Keisha menarik tangannya kasar yang di genggam oleh Jaiden.
"Ku rasa Kakak tidak perlu menunggu sampai 3 hari," Ujar Keisha membuat Jaiden menaikkan alisnya.
"Ayo kita tunangan, dan hentikan apa yang Kakak rencanakan pada Thalia" Ujar Keisha membuat Jaiden tersenyum senang.
"Kakak sudah puas kan? Kei mau pulang," Ucap Keisha lalu pergi meninggalkan Jaiden di balkon.
Srett!
"Akhh..." Ucap Riki.
"Astaga Riki? Ck, kau menguping ya?! Ayo cepat, antar aku pulang sekarang!" Pinta Keisha menarik Riki paksa.
"Eh? Bagaimana Kei?" Tanya Heri saat melihat Keisha yang sedang berjalan menuju mereka.
"Aku pamit pulang!" Ucap Keisha lalu mengambil tasnya dan menarik Riki paksa untuk keluar dari apartemen Heri.
"Eh?" Kaget semuanya lagi.
Setelah kepergian Keisha, keluar lah Jaiden dari balkon apartemen Heri. Semua yang berada disana menatap Jaiden, dengan tatapan yang meminta penjelasan dari Jaiden sendiri.
Jaiden menghela nafasnya kasar, "Maaf. Aku pamit, nanti kita bahas" Ucap Jaiden lalu pergi begitu saja meninggalkan teman-temannya dengan beribu pertanyaan di kepala mereka.
Surya hendak menyusul, namun Heri menahannya.
"Biarkan, jangan ikut campur. Itu masalah mereka," Ujar Heri bersikap seperti orang dewasa.
Surya pun terpaksa untuk kembali terduduk, "Wah apa yang mereka bicarakan, hingga membuat Keisha tiba-tiba pulang seperti itu" Ucap Surya tak habis pikir.
"Mereka sedang bermasalah, biarkan saja dulu. Jaiden pasti akan menyelesaikannya, kita tunggu kabar baiknya saja" Ujar Kali diangguki yang lainnya.
"Aku khawatir pada Keisha, tidak seharusnya aku membantu Jaiden. Maafkan aku," Ucap Keira menundukkan kepalanya menyesal.
"Tidak apa Keira, yang kau lakukan sudah bagus. Kau tidak perlu menyesal, mereka harus berbaikan. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk membuat mereka bertemu, dan menyelesaikan masalah mereka segera" Puji Pada Keira agar Keira tidak tidak merasa bersalah.
Karena menurutnya memang benar, Jaiden dan Keisha harus segera berbaikan.
...⚡⚡⚡...
"Kak Kei kau tak apa?" Tanya Riki khawatir.
Tadi Riki membawa Keisha ke rumahnya, tidak ke rumah Keisha. Karena Riki tidak ingin bertemu dengan Mama nya, Riki masih enggan untuk bertemu dengan Shakila.
"Aku takut, aku takut Riki" Ujar Keisha lalu menutup wajahnya dan menangis.
Riki pun mengulum bibirnya binggung, dan berakhir untuk menepuk-nepuk pundak Kakaknya itu.
Keisha pun mendongakkan kepalanya, "Riki apa aku salah mengambil keputusan? Aku menyakiti Thalia, iya kan?" Tanya Keisha.
"Aku tidak tahu Kak, tapi ku rasa ini lebih baik untuk mu dan Kak Jaiden bukan? Dan juga Kak Thalia," Jelas Riki.