
Jadi Thalia pun beralih untuk meminum air yang ada saja, Thalia pun akhirnya meminum air tersebut. Namun Thalia tersentak, karena ada sebuah tangan yang baru saja menepuk pundaknya.
Hampir saja Thalia berteriak, dengan secepat kilat tangan itu langsung menutup mulut Thalia.
"Ssstttt... jangan teriak, nanti yang lain bangun" Ucap Jaiden menutup mulut Thalia dengan tangannya.
Thalia melototkan matanya, dan dengan buru-buru Thalia melepaskan tangan Jaiden yang sedang menutupi mulutnya agar tidak berteriak.
"Astaga Jaiden! Jantung ku hampir saja lompat!" Pekik Thalia kesal pada Jaiden.
Jaiden pun terkekeh pelan, dan itu sangat manis sekali di mata Thalia, apalagi di malam hari seperti ini.
Ah it's healing, pikir Thalia.
Jaiden pun menoyor kepala Thalia, "Jangan mengada-ada jantung mu itu tidak akan copot," Ucap Jaiden terkekeh.
"Ck, menyebalkan!" Ucap Thalia kesal, lalu pergi meninggalkan Jaiden.
Namun Jaiden mengikuti gadis itu, Thalia yang merasa dirinya sedang diikuti itu pun membalikkan badannya.
"Kenapa kau mengikuti ku?" Tanya Thalia.
"Aku takut saja, nanti tiba-tiba jantung mu akan melompat keluar dari tempatnya. Maka dari itu aku mengikuti mu," Jelas Jaiden santai.
Lantas Thalia pun semakin kesal dan mempoutkan bibirnya, "Menyebalkan!" Ucapnya.
"Menggemaskan," Batin Jaiden.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Jaiden.
"Aku tidak bisa tidur dengan lampu yang mati," Jawab Thalia seadanya.
"Ah begitu ya, apa kau mau memakai kamar diatas? Disebelah kamar ku dan Jaki" Tawar Jaiden.
"Apa boleh?" Tanya Thalia dengan penuh harap pada Jaiden.
Jaiden pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Kenapa tidak?" Sahutnya.
"Aku mau, aku akan terjaga jika lampu kamarnya mati. aku tidak bisa tidur," Jelas Thalia.
"Ayo!" Ajak Jaiden pada Thalia.
Thalia pun menurut dan mengikuti Jaiden yang sudah naik ke tangga, dengan langkah pelan dan naik dengan satu-persatu.
Ceklek
"Pakai saja kamar ini, kau berani kan? Apa perlu aku temani?" Tawar Jaiden menggoda Thalia.
"Tidak usah, aku berani. Terima kasih Jaiden," Ucap Thalia sambil mengulas senyum di wajah cantiknya itu.
...⚡⚡⚡...
"Hei dimana Thalia?" Tanya Fia saat baru saja bangun dari tidurnya.
"Wah siapa pagi-pagi seperti ini sudah memasak?" Monolongnya sendiri, lalu keluar dari kamar dan mengintip di dekat dinding yang sebagai pembatas dapur dan ruang tv itu.
Berapa terkejutnya Fia saat mendapati Jaiden, yang sedang bergelut dengan bahan-bahan masakannya. Padahal seingatnya, sebelum tidur dan masuk ke dalam kamar. Fia sempat memeriksa isi kulkas di apartemen milik Jaiden bersama Keira, tetapi isi kulkas itu kosong.
Lalu darimana Jaiden mendapatkan semua bahan yang digunakannya untuk memasak pagi ini? Pikir Fia.
"Apa Jaiden belanja pagi-pagi ke pasar? Ah tidak mungkin, pasti Jaiden menyuruh orang lain untuk belanja" monolognya sendiri pelan.
Fia hendak membantu Jaiden untuk menyiapkan sarapan mereka, sekaligus Fia ingin mencoba untuk mendekati Jaiden. Siapa tahu Jaiden tiba-tiba dapat tertarik padanya.
Namun baru satu langkah Fia ingin melangkahkan kakinya ke dapur, Fia kembali di kejutkan atas kehadiran Thalia yang sudah lebih dulu berada di dapur bersama Jaiden.
"Apa mereka cukup dekat? Kurasa Jaiden bukan sembarang orang yang mudah didekati?" Batin Fia.
"Hm itu, letakkan saja disana!" Pinta Jaiden dambil menunjukkan arah kompor elektrik itu dengan dagunya.
"Sejak kapan Jaiden menjadi ramah seperti itu dengan seorang gadis?" batin Fia bertanya pada dirinya sendiri.
Merasa kesal dan cemburu, Fia pun membatalkan niatnya ingin membantu Jaiden untuk menyiapkan sarapan mereka.
Saat Fia ingin masuk ke dalam kamar, Fia mendapati Keira yang baru saja keluar dari kamar. Keira sempat binggung sendiri atas sikap tidak biasa dari temannya itu, karena ini masih pagi dan dia malah mendapati raut wajah masam Fia.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Keira.
"Tidak mood, jangan ganggu aku dulu Kei!" Jawab Fia langsung masuk ke dalan kamar begitu saja.
Keira pun hanya mengindikkan bahunya tak peduli. kalau Fia sedang seperti itu, cukup biarkan sendiri saja. Karena 2 jam kemudian dapat dipastikan mood gadis itu akan membaik.
Keira mendengar adanya sebuah keributan yang masuk melalui kedua kupingnya, dan juga Keira mencium aroma wangi dari arah dapur. Karena Keira penasaran, akhirnya Keira pun memutuskan untuk pergi ke dapur.
Dan betapa terkejutnya Keira, saat mendapati Jaiden sedang memasak sarapan pagi bersama dengan Thalia. Bahkan dapat Keira lihat kalau Jaiden benar-benar nyaman berada di samping Thalia, buktinya Jaiden tertawa lepas saat bersama Thalia saat ini.
" ApaThalia bisa membuat Jaiden tertawa lepas seperti itu selain Keisha?" Batin Keira.
"Ah aku baru mengerti, pasti Fia melihat ini. Makanya mood nya buruk di pagi hari hahaha," Kekeh Keira sendiri.
Keira pun memutuskan untuk masuk ke dalam dapur, "Sedang memasak apa? Siapa yang belanja? Bukankah tadi malam kulkas kosong ya?" Tanya Keira beruntun seperti biasa.
"Morning!" Ucap Jaki pada semuanya yang ada di dapur.
Jaki pun merangkul Keira dan mencium pucuk rambut Keira, dapat Jaiden lihat kalau Keira sangat terkejut dan langsung terdiam kaku. Entah karena malu, entah karena memang dirinya terkejut.
Jangan lupakan juga, wajah Keira yang sudah seperti kepiting rebus itu. Wajahnya memerah padam, hingga membuat Jaiden terkekeh pelan.
"Eh Thalia? Kau memasak dengannya?" Tanya Jaki sambil melepaskan rangkulannya dari Keira.
Thalia pun mengangguk-anggukan kepalanya pasti, "Iya memangnya ada apa?" Tanya Thalia sedikit binggung.
Memangnya ada yang salah, kalau dirinya membantu Jaiden memasak untuk sarapan mereka? Pikirnya.
"Jaiden tidak pernah mau memasak dengan perempuan, bahkan dia tidak mengizinkan ku untuk membantunya" Ucap Keira sambil menuangkan segelas air untuk diminumnya.
Jaki berdehem, "Hei ayolah Kei apa kau lupa ya? Kalau kau ikut membantu Jaiden memasak, yang ada semuanya berantakan" Ucap Jaki sambil tertawa garing.
"Ck, tidak ya! Aku juga bisa memasak!" Ucap Keira tak terima atas ucapan Jaki.
"Kau yakin Kei?" Tanya Jaiden tekekeh pelan.
"Iya iya! Aku memang tidak bisa memasak!" Ucap Kira jujur, walaupun terlihat sangat kesal.
"Anak baik yang jujur!" Ucap Jaki terkekeh sambil menepuk-nepuk pelan kepala Keira.
Keira pun menyingkirkan tangan besar milik Jaki itu dari atas kepalanya, lalu pergi meninggalkan ketiga remaja itu di dapur.
Jaiden yang melihat itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya, dapat Jaiden tebak untuk kesekian kalinya. Kalau Keira saat ini, benar-benar salah tingkah atas tindakan yang Jaki berikan padanya.
"Apa Keira marah?" Tanya Thalia khawatir.
"Tidak, dia tidak akan marah. Sebentar lagi juga akan ceria lagi dan banyak bertanya," Jawab Jaki terkekeh pelan, "Kalian memasak apa sih?" Tanya Jaki.
"Sop ayam," Ucap keduanya bersamaan.
"Wah!" Ucap Jaki heboh sendiri sambil bertepuk-tepuk tangan, "This is COTY, couple of the year hahahaha" Ledek Jaki pada keduanya.
Plak!
Jaiden baru saja melayangkan pukulannya di atas kepala Jaki dengan spatula, "Jangan mengada-ada dan cepat panggil Fia dan bujuk Keira untuk sarapan" Pinta Jaki.
"Ck, iya iya Tuan Muda!" Ucap Jaki sedikit kesal lalu pergi meninggalkan dapur untuk memanggil Fia dan Keira.