I Am Fine

I Am Fine
125



Srak!


"Akhh..." Ringis Thalia.


Thalia menusuk tangannya, tepat di nadi Asteria radialis yang berada di pergelangan tangan kirinya. Hingga membuat Rafa dan Shakila tercengang, melihat apa yang terjadi di hadapannya.


Shakila langsung menutup matanya takut, saat melihat darah segar Thalia keluar begitu banyak. Sedangkan Rafa, langsung menghampiri Thalia yang hendak ambruk dan jatuh ke lantai.


"Astaga Thalia hei?! Sadarlah! Maafkan Papa..." Ucap Rafa membawa Thalia ke dalam pelukannya.


"Pelayan! Cepat panggilkan ambulan! Cepat!" Teriak Rafa menggelegar hingga membuat semua pelayan panik dan segera menelepon ambulan.


Setelah ambulan datang, Thalia pun langsung di larikan ke rumah sakit. Hingga berakhir lah mereka sekarang di rumah sakit, tepat pada pukul 10 malam.


"Kenapa dia menjadi seperti itu sih? Astaga aku sangat terkejut," Batin Shakila.


Rafa mengusap rambutnya kasar, lalu duduk di kursi tunggu. Bahu Rafa bergetar, Shakila melihat itu. Sepertinya Rafa sedang menangis pikir Shakila.


Lantas Shakila pun berinisiatif untuk memeluk Rafa, menenangkan pria itu dari segala penyesalannya. Shakila pun sedikit merasa menyesal, karena telah mempermainkan hal kotor seperti itu


Shakila merasa sedikit iba pada Thalia.


Karena Shakila tidak tahu menahu, apa yang yang sudah di lalui anak itu selama hidupnya. Ternyata bahkan Thalia sering dan kerap sekali, di siksa oleh Rafa secara mental dan juga fisik.


Shakila takut, kalau hal itu nanti terjadi pada salah satu anaknya Keisha ataupun Riki.


Kalau boleh jujur, Shakila sering memperhatikan Riki diam-diam. Karena dirinya tahu, dirinya sudah salah mengambil langkah pada saat itu. Dan malah pergi begitu saja, tanpa pamit pada Riki.


Hingga membuat putra kecilnya itu membencinya, bahkan tidak mau bertemu sedetik pun dengannya.


...⚡⚡⚡...


"Thalia ada Pak?" Tanya Jaiden menjemput Thalia untuk pergi bersama ke sekolah.


"Non Thalia menginap di rumah Tuan Rafa dan Nyonya Shakila Den," Jawab satpam yang menjaga pintu gerbang.


"Ah begitu ya? Dari tadi malam kenapa ya kira-kira ponselnya tidak bisa di hubungi?" Tanya Jaiden heran.


Karena tidak biasanya, Thalia pasti memberitahu hal sekecil apapun itu pada Jaiden. Dan sekarang? Bahkan Thalia tidak mengatakan apapun, kalau dirinya akan menginap di rumah Papanya.


"Saya juga tidak tahu Den, maaf" Ucap satpam itu.


Satpam itu memang tidak tahu, apa yang terjadi tadi malam pada Thalia. Karena Rafa sendiri yang tidak memberi akses kepada siapapun, untuk tahu soal kejadian tadi malam.


Dan menyuruh semua pelayan di rumahnya untuk menutup mulut mereka rapat-rapat, kalau masih ingin bekerja padanya.


"Ah begitu ya Pak, ya sudah kalau gitu saya pamit dulu ya Pak" Pamit Jaiden sopan.


"Baik Den, hati-hati di jalan" Ucap satpam itu ramah yang mengenal Jaiden sebagai kekasih Thalia.


"Thalia kemana sih? Kenapa aku jadi khawatir seperti ini sih? Argh!" Ucap Jaiden memukul kasar setir mobilnya.


Setelahnya, karena jam pun sudah menunjukkan pukul 7 kurang. Jaiden pun hendak bergegas ke sekolah, karena takut terlambat.


"Thalia tidak sekolah ya?" Tanya Fia.


"Sepertinya begitu, Jaiden saja sudah duduk disana" Tunjuk Keira pada Fia, dan Jaiden pun sedang sibuk dengan buku-bukunya.


"Apa Thalia sudah tahu? Lalu dia menangis semalaman dan demam? Dan sakit?" Tanya Fia menduga-duga.


"Kau sudah punya banyak persiapan?" Tanya Jaki.


"Ya begitulah, aku akan sibuk beberapa bulan ke depan" Jawab Jaiden.


"Ck kita sama, bedanya aku tidak akan sesibuk kau hehehe" Cengir Jaki. "Aku masih punya banyak waktu untuk leha-leha bersama Keira," Pamer Jaki pada Jaiden.


"Ck iya iya! Kau sudah dengar belum?" Tanya Jaiden menoleh pada Jaki.


"Soal aku dan Keisha, ku rasa Riki pasti sudah memberi tahu kalian. Iya kan?" Tebak Jaiden, lalu kembali melihat pada buku-bukunya.


"Sudah, dia bahkan membuat grup. Mau lihat?" Tawar Jaki hingga membuat Jaiden kembali menoleh pada Jaki.


"Tidak usah," Sahut Jaiden.


"Lalu bagaimana dengan Thalia? sudah beres?" Tanya Jaki.


"Dia tidak ada kabar dari kemarin, apa kau tahu dia dimana?" Tanya Jaiden pada Jaki, hingga membuat Jaki menatapnya heran.


"Hei apa aku pacar Thalia atau Keira? Astaga mana aku tahu bodoh! Lagi pula aku tidak dekat dengannya," Jelas Jaki.


"Omong-omong, aku belum putus dengannya. Sengaja," Ucap Jaiden tanpa menatap Jaki.


"Astaga, ayolah Jaiden! Ada apa dengan mu? Kau sudah mendapatkan apa yang mau dude! Kau sudah mendapatkan Keisha, dan juga sudah membuat Thalia seperti yang kau rencanakan, jangan bilang kau mau dua-duanya menjadi milik mu?!" Tebak Jaki setelah dirinya mengomel pada Jaiden.


"Heh enak saja! Di hati ku hanya ada Keisha! Iuw! Aku geli mengatakan ini!" Ucap Jaiden merasa jijik pada dirinya sendiri.


"Aku sengaja tidak mengatakan soal pertunangan ku dengan Keisha pada Thalia, atau bahkan mengakhiri hubungan ku dengannya. Aku ingin Thalia mendengar itu dari mulut kalian, atau pun dari berita" Jelas Jaiden.


Lantas Jaki pun menggeleng-gelengkan kepalanya takjub, "Wah kau memang gila teman! Aku salut!" Ucap Jaki sambil menepuk-nepuk tangannya.


"Ck! Itu tidak seberapa atas apa yang sudah di lakukan Mamanya pada keluarga ku," Sahut Jaiden malas.


"Kau memang tidak suka hidup dengan damai!" Balas Jaki.


"Keluarga cemara tidak akan mengerti, kau diam saja!" Suruh Jaiden hingga membuat Jaki menutup mulutnya rapat-rapat.


Jaiden pun merasa tidak enak, terhadap apa yang baru saja di katakan ya pada Jaki. Tidak seharunya dia berkata seperti itu, pikir Jaiden.


"Kau mengambil kelas bisnis juga?" Tanya Jaiden.


"Hm ku rasa begitu, sepertinya aku, kau, Heri, Surya akan berada di kelas yang sama. Nenek mu menghubungi keluarga ku Heri, dan Surya" Jawab Jaki.


Jaiden pun hanya mengangguk-angguk kepalanya mengerti, "Aku sebenarnya bosan sekali selalu bertemu dengan kalian" Ucap Jaiden bercanda.


"Aku juga sama, dari kecil hanya berteman dengan kalian saja" Jawab Jaki menyadarkan badannya di kursi.


...⚡⚡⚡...


"Selamat ya," Ucap Surya pada Keisha.


"Selamat?" Tanya Keisha binggung.


Saat ini, kudanya sedang berada di rooftop sekolah. Tadinya Keisha mengajak Heri dan Surya untuk mencari angin di dekat rooftop lab kimia, namun Heri menolaknya. Karena sudah ada janji dengan Fia, untuk menemani gadis itu ke perpustakaan.


Hingga berakhirlah Surya dan juga Keisha, di rooftop dekat lab kimia.


"Selamat atas pertunangan mu dengan Jaiden, aku senang mendengarnya. Ku harap kau bahagia dengannya," Ucap Surya engan menatap Keisha.