
"Itu karena aku membenci Thalia, dan tiba-tiba saja Keisha pulang dari Amerika. Hingga membuat ku bimbang dan binggung, dan begitulah... maafkan aku Om," Ucap Jaiden dan bahunya pun mulai bergetar dan menandakan kalau saat ini Jaiden sedang menangis.
Jaiden pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghapus air matanya, berusaha untuk mengontrol emosi dan perasaannya.
"Om tidak perlu membawa Thalia pergi ke luar negeri, setelah olimpiade nanti Jaiden sendiri yang akan pergi dari kehidupan mereka berdua. Jaiden akan kembali ke LA," Ucap Jaiden lalu bangkit dari duduknya dan hendak bersujud pada Rafa.
"Astaga Jaiden!" Ucap Rafa langsung bangkit dari duduknya dan meminta Jaiden untuk segera berdiri.
"Kau tidak perlu melakukan itu, kau tidak perlu merasa bersalah pada Keisha ataupun Thalia. Soal Thalia yang menjadi seperti itu, 100% adalah kesalahan Om sendiri,"Jelas Rafa.
"Om apa terlambat untuk membatalkan pertunangan ku dengan Keisha? Ku rasa Keisha tak akan merasa aman berada di sisi ku, Keisha pasti akan terus merasa bersalah pada Thalia."
"Keisha tak akan bahagia jika aku tetap berada disisinya, atau Keisha tetap berada di sisi ku" Jelas Jaiden.
"Ya, Keisha tidak akan bahagia jika di sisi mu dengan cara seperti itu. Sebaiknya kau pergi dari hidupnya," Jawab Rafa. menatap Jaiden dalam.
Jaiden pun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, dan tanpa sadar air mata itu kembali mengalir begitu saja melewati matanya.
Rafa pun memegangi bahu Jaiden erat, "Maaf Jaiden. Aku mengatakan ini terlambat, karena Lia sama sekali tidak ingin aku untuk memberitahu ini pada siapapun."
"Bahkan Thalia sendiri juga tidak mengetahui soal ini, tapi ku rasa kau sudah cukup dewasa untuk mengerti semua ini dan mengetahui ini semua," Jelas Rafa panjang lebar.
"Maksud Om?" Tanya Jaiden binggung.
"Thalia, Thalia adalah saudara kandung mu. Thalia Kakak mu Jaiden, Thalia anak di luar nikah Lia bersama Juna" Jelas Rafa.
...⚡⚡⚡...
"Jaiden kau sudah yakin dengan keputusan mu ini? Kau yakin ingin berakhir dengan Keisha dengan begitu saja?" Tanya Rena lagi, untuk memastikan keputusan cucunya itu.
Jaiden pun mengangukkan kepalanya, "Lusa Jaiden akan menyelesaikan olimpiade. Setelahnya, Jaiden akan meninggalkan Indonesia sampai Jaiden meraih gelar S2 Jaiden di LA. Tak apa kan Nek? Apa Nenek keberatan?" Tanya Jaiden.
Rena tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Nenek akan mendukung apapun keputusan mu. Kau sudah dewasa, kau berhak memutuskan apa yang kau inginkan asal itu sejalan dengan pikiran Nenek," Jelas Rena.
Jaiden pun mengangukkan kepalanya mengerti, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tenangkan diri mu, Nenek akan kembali besok pagi. Jaga Keisha," Pinta Rena lalu pergi meninggalkan ruang inap Keisha.
Ceklek
"Oh Nyonya akan pulang sekarang?" Tanya Dimas di depan pintu.
"Iya, kau urus saja Jaiden. Aku akan pulang bersama supir pribadi ku," Ujar Rena dan Dimas pun mengangguk paham.
Setelah Rena meninggalkan ruang inap Keisha, Dimas pun masuk untuk menghampiri Jaiden.
"Ada lagi yang kau butuhkan?" Tanya Dimas yang baru saja kembali.
Iya, tadi Jaiden meminta Dimas untuk mengambil keperluan Jaiden untuk belajar dan juga seragam sekolahnya. Karena Jaiden berencana untuk berangkat sekolah dari rumah sakit besok.
"Maaf merepotkan Om selalu, Om bisa tolong disini sebentar? Aku ingin melihat Thalia," Ucap Jaiden.
"Tentu, pergilah Aku akan menjaga Keisha" Jawab Dimas.
Jaiden pun pergi meninggalkan ruang inap Keisha, dan bergegas menuju ruang inap Thalia yang bersebelahan degan ruang inap Keisha.
Ceklek
Jaiden melihat Thalia, yang sedang berbaring dan menutup matanya.
"Apa dia tidur?" Batin Jaiden.
Tanpa ragu, Jaiden pun langsung menghampiri Thalia dan duduk di pinggir brangkar Thalia. Karena meras terganggu, Thalia pun terbangun dari tidurnya.
"Jaiden..." Panggil Thalia lirih dan Jaiden pun tersenyum melihat Thalia yang bangun dari tidurnya.
"Hm ini aku," Jawab Jaiden.
"Aku sedang tidak bermimpi kan?" Tanya Thalia.
Jaiden tersenyum dan menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menahan air matanya dan menghadapi kenyataan yang sebenarnya begitupun juga Thalia.
Jaiden segera mengambil tangan Thalia sebelah kenalan, untuk di genggamannya.
"Maaf, maaf melukai enu dengan cara bodoh seperti ini" Ucap Jaiden merasa bersalah akan segalanya.
Thalia sudah tak tahan, dan membuang asal wajahnya dan menatap ke luar jendela.
"Aku dan Keisha akan segera membatalkan pertunangan kami, aku akan ke luar negeri. Aku akan akan menyelesaikan studi ku disana, aku, kau, Keisha kita akan berakhir disini."
"Maaf, maaf membuat mu menjadi seperti ini. Kita memang tidak bisa bersama, mungkin besok Tante Lia akan menjelaskan alasannya. Maaf aku telah memperlakukan mu tidak baik," Jelas Jaiden mengecup tangan Thalia.
Thalia tak tahan untuk menahan air matanya, karena sejujurnya dirinya juga sudah tahu bagaimana hubungannya dengan Jaiden. Rafa tadi menceritakannya padanya, kalau dirinya dan Jaiden adalah saudara kandung beda Ibu.
"Maaf, aku pergi. Kakak," Ucap Jaiden bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Thalia di dalam sana terisak.
"Hiks... Tidak adil, Ini tidak adil. Bagiamana bisa aku mencintai Adik ku sendiri hiks..." Isak Thalia.
...⚡⚡⚡...
Shakila mengerutkan dahinya tak suka selama perjalanan pulang, karena beberapa waktu lalu dirinya baru saja bertemu dengan Rena dan Zura. Dan membicarakan soal untuk membatalkan pertunangan Jaiden dan Keisha, demi kebaikan kedua remaja itu.
"Shakila ayolah, kenapa kau terlihat kesal soal itu? Seharusnya kau merasa senang, Keisha malah semakin tersiksa kalau dia bersama Jaiden dengan perasaan bersalah pada Thalia."
"Keisha tidak akan bahagia karena dirinya terpaksa Shakila," Jelas Rafa sambil menyetir mobilnya.
"Kau tidak mengerti Rafa!" Bentak Shakila kesal.
"Apa yang tidak aku mengerti? Apa soal kegilaan mu terhadap uang Shakila Wiliani?" Tanya Rafa membuat Shakila diam seketika.
Rafa pun. melirik jam tangannya, "2 jam lagi Lia akan sampai di Indonesia. Ku harap kau dapat menjaga sikap mu," Ujar Rafa yang membuat Shakila semakin kesal.
"Aku melakukan tes DNA lagi," Ucap Rafa membuat Shakila rmmebeku, lalu menatap Rafa yang sama sekali enggan untuk menatapnya kembali.
"Dan hasilnya akan keluar besok, maaf baru memberitahu mu" Ucap arafa mencengkram setir mobilnya, saat memperhatikan tangan Shakila yang meremas bajunya dan terlihat sedang gugup dan khawatir akan sesuatu.
"Kau pasti menyembunyikan banyak hal dari ku Shakila," Batin Rafa yang mulai curiga pada istrinya itu.
"Kau masih tidak percaya kalau Keisha adalah anak kandung mu Rafa? Astaga... apa apaan ini," Kesal Shakila.