
"Jaiden," Panggil Thalia
"Hm?" Sahutnya lembut.
"Kau dan Keisha hanya sebatas sahabat saja kan?" Tanya Thalia.
"Hm, seperti kau lihat sekarang" Ucap Jaiden berusaha untuk meyakinkan Thalia, kekasihnya itu.
Keisha mendengarnya, Keisha sengaja membuka pelan pintu masuk itu. Hingga Jaiden dan Thalia tak menyadarinya, kalau Keisha sedang mengkuping pembicaraan mereka barusan.
Rasanya Keisha ingin sekali marah pada Jaiden, Jaiden seperti sedang mempermainkan perasaannya saat ini. Sungguh, kenapa dunia sangat kejam? Pikirnya.
Mata Keisha sudah berkaca-kaca, hendak menurunkan air mata tersebut untuk keluar dari matanya.
Keisha pun hendak berbalik, dan pergi begitu saja dan kembali kerumahnya tanpa pamit kepada Jaiden. Awalnya Keisha ingin membeli camilan untuknya, dan juga membeli jus apel kesukaan Jaiden.
Namun diurungkannya, saat dirinya melihat dari celah kaca pintu kamar ada Thalia yang sedang berkunjung untuk menjenguk Jaiden.
Keisha pun berakhir meremas kantong plastik itu erat-erat, saat dirinya mengetahui siapa yang sedang berkunjung dan berada di dalam sana.
Keisha yang merasa kesal itu pun, memutuskan untuk membuka pintu itu pelan dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara gencatan pintu tersebut.
Hingga dimana dirinya mendengar sendiri pengakuan dari buah bibir Jaiden, kalau Jaiden hanya menganggapnya sebagai seorang teman saja.
Apa Keisha sebaiknya harus menyerah saja pada perasaannya? Pikir Keisha bimbang.
Saat Keisha hendak berbalik pulang, Keisha sudah menemukan Heri di belakangnya. Lagi dan lagi setiap Keisha melihat Jaiden sedang bersama dengan Thalia, Keisha selalu menemukan orang untuk memeluknya.
Heri pun tersenyum kaku, dan merentangkan kedua tangannya. Tentu saja untuk mengajak sahabatnya itu, untuk masuk kedalam dekapannya.
"Heri..." Lirih Keisha sembari mengirit bibirnya untuk menahan tangisnya.
"Kau sedang butuh pelukan kan Kei? Aku siap, aku akan menjadi tempat sandaran mu" Ucap Heri sambil merentangkan kedua tangannya semakin lebar.
Tanpa babibubebo, Keisha pun langsung berhambut memeluk Heri dan menangis diam. Heri pun menepuk-nepuk pelan punggung Keisha, berusaha untuk menenangkan Keisha.
Setelah Heri merasa Keisha sudah tenang, Heri pun mengajak Keisha untuk duduk di taman yang berada di atas atap rumah sakit.
"Maafkan aku Kei, sepertinya aku terlihat sekali ya? Kalau kau mendukung hubungan Jaiden dan Thalia. Tapi Kei, sungguh. Perasaan itu tidak bisa kau paksakan."
"Aku tahu ini pasti menyakitkan bagimu, tapi bagaimana kau bisa untuk memaksa Jaiden untuk kembali menyukai mu seperti dulu? Sedangkan Jaiden sudah menemukan cintanya?"
"Bukankah itu egois? Bukankah benar adanya kalau melepaskan orang yang kita cintai itu dengan orang yang dapat membuatnya lebih bahagia? Disini aku tahu betul kondisi Jaiden, Jaiden berubah drastis sejak mengenal Thalia."
"Iya, kami menyadari itu semua. Jaiden lebih teratur Kei, aku tidak bermaksud membandingkan dirimu dengan Thalia saat bersama dengan Jaiden. Tapi tidak bisakah kau sadar? Jaiden sudah mencintai Thalia Kei," Jelas Heri panjang lebar.
"Kau sudah bisa melepaskannya," Lanjut Heri.
Heri berbicara seperti itu karena dirinya sayang pada Keisha, Heri tak ingin melihat sahabatnya menangisi pria seperti Jaiden.
Karena menurut Heri, tidak akan ada gunanya mengejar orang yang sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya. Untuk apa? Itu akan menyakiti diri sendiri saja bukan? Pikir Heri.
Menurut Keisha, perkataan Heri memang benar adanya, namun disini Jaiden lah masalahnya. Karena Jaiden sendiri yang membuat Keisha untuk berharap pada pria itu, dan itu membuat Keisha binggung tentang perasaan pria itu padanya.
"Kau tahu Heri? Sebenarnya aku sangat binggung, sungguh aku binggung dengan perlakuan dan sikap Kak Jaiden padaku. Karena beberapa waktu lalu...hiks..." Isaknya lagi, Kak Jaiden masih mengatakan kalau dirinya menyukai ku. Bukan Thalia," Ucap Keisha terisak lalu menatap Heri nanar.
Heri menghela nafasnya kasar, Jaiden memang benar-benar brengsek. Karena dirinya sudah memberi harapan pada Keisha, dan juga mempermainkan perasaan tulus Keisha padanya.
Jaiden keterlaluan, pikir Heri. Mentang-mentang Keisha menyukai dirinya, jadi Jaiden dengan leluasa untuk mempermainkan Keisha.
Tentu saja Jaiden tahu jelas bagaimana perasaan Keisha padaya, namun... ya begitu tak bisa dijelaskan dengan kata-kata singkat.
"Apa itu untuk Jaiden?" Tanya Heri menatap kantong plastik yang di genggam sahabatnya itu.
Keisha tak bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri. Tanpa meminta persetujuan dari Keisha, Heri pun langsung mengambil plastik itu. Lalu mengambil tutup botol itu, dan meneguk jus itu hingga tandas.
"Heri... Apa aku memang harus menyerah saja pada perasaan ku?" Tanya Keisha menatap Heri dengan mata yang masih berkaca-kaca.
...⚡⚡⚡...
"Bagus Thalia, kau sudah pintar berbohong ya sekarang?" Ucap Rafa berkacak pinggang.
"Thalia tersentak, dirinya baru saja pulang dari rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Thalia baru saja sampai rumah. Sedangkan Heri, sudah pulang terlebih dahulu sebelum Thalia masuk ke dalam rumah.
Jantung Thalia hampir saja terlepas dari tempatnya, saat dirinya melihat Rafa sedang berkacak pinggang di ruang tamu.
Sungguh, Thalia sangat ketakutan. Thalia takut akan terjadi sesuatu padanya, Thalia yakin tangan Rafa itu sudah siap untuk menghukumnya.
"Kau pikir kau bisa membohongi Papa hm?" Ucap Rafa berlajan mendekat pada Thalia, hingga membuat Thalia ketakutan dan mundur langkah demi langkah.
"Pa... Maafkan Thalia, Thalia hanya ingin melihat Kak Jaiden itu saja" Jelas gadis itu mulai ketakutan.
Karena Rafa melihat Thalia dengan aura yang berapi-api, dan juga Rafa menatap Keisha dengan tajam. Sungguh Thalia rasanya ingin sekali menghilang sekejap dari bumi, asalkan itu tidak bertemu dengan Rafa.
Thalia ingin hidup dengan bebas.
Rafa pun menarik rambut panjang Thalia, hingga membuat Thalia memekik kesakitan. Pelayan disana pun merasa iba melihat nona mudanya yang selalu disiksa, namun mereka tidak dapat berbuat apapun selain melihat saja.
Pekerjaan mereka taruhannya, maka dari itu tidak ada yang berani membantu Thalia.
"Kau pikir kau bisa membohongi ku Thalia Auriya hm?" Ucap Rafa menarik kasar rambut Thalia.
"Akhh... Paaa.. Maaf sakit....." Ucap Thalia meringis kesakitan, bahkan bulir air matanya pun sudah keluar karena menahan tangisnya.
"Jangan coba-coba untuk mengelabui ku Thalia, aku bisa saja menceraikan Mama mu sekarang juga. Dan tentu membuat mu terlantar bersama Mama mu," Ucap Rafa menghempas Thalia ke lantai kasar.
Setelah berkata seperti itu, Rafa pun hendak meninggalkan rumahnya. Namun langkahnya terhenti, hingga membuat Thalia mundur karena takut pada Rafa.
"Satu lagi, jangan sampai Keisha pulang kerumah ku dengan air mata karena Jaiden. Aku yakin sekali, pasti kau lah penyababnya. Jaiden hanya miliknya, kau tak berhak. Kau tidak bisa bersama Jaiden, aku tidak akan menyetujuinya" Jelas Rafa.