
Saka melepaskan pelukannya pada Rina, "Celine, Rina pesawat Ayah dan Bunda jatuh saat hendak lepas landas" Ucap Saka spontan.
"Huh? Kak kau tidak bercanda kan? Kak ayolah jangan berbohong!" Ucap Rina memegangi lengan suaminya.
"Saka jangan mengada-ada," Sahut Celine.
"Tidak...pesawat Bunda dan Ayah tidak mungkin jatuh" Ucap Rina memaksa untuk berpikir positif.
"Jaiden...apa ini benar?" Tanya Celine menatap anaknya dengan penuh harap.
Jaiden hanya mampu mengangguk-anggukan kepalanya.
Celine pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, ini tidak benar, Saka ayo cepat periksa kembali pesawat yang di tumpangi oleh Bunda dan Ayah!" Pinta Celine dengan nada bicara yang meninggi.
Celine pun bangun dari duduknya dan keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, Celine berlari dari kamarnya untuk menuju ke ruang tv rumahnya, Celine yakin kalau Saka salah memberi informasi.
Celine berharap kalau pesawat yang jatuh tersebut, bukanlah pesawat yang ditumpangi oleh orang tuanya.
Namun naas, saat Celine hendak menuruni anak tangga rumahnya, Celine tidak sengaja tergelincir. Hingga membuat Celine jatuh dan terpeleset dan terguling-guling ke lantai dasar.
"Momy!" Teriak Jaiden terkejut dan berlari untuk ke lantai utama menghampiri Momnya.
"Astaga Celine!" Teriak Jinata saat melihat menantunya yang jatuh dari tangga dan sudah tak sadarkan diri.
Seisi rumah langsung panik seketika, Dino pun lamgsung terburu-buru untuk mengambil ponselnya. Dino dengan segera menelepon ambulan.
Dirumah sakit.
"Ya Tuhan, tolonglah Celine astaga kenapa masalah terus menimpa kita" Ucap Jinata.
Jinata merasa kalau keluarganya dan keluarga Aldebarano sedang dikutuk, dari saat Juna yang baru saja meninggal, lalu berita jatuhnya pesawat Joya dan Tanaro, dan sekarang Celine yang baru saja jatuh dari tangga.
"Saka! Dino!" Panggil Kanta berlari-larian di lorong rumah sakit.
Yang di panggil pun menoleh, "Bagaimana?" Tanya Saka gusar pada Kanta dan Bram.
"Mereka menemukan ini, apa ini milik Tante Joya atau Om Jinata?" Tanya Kanta saat menemukan ponsel yang masih menyala, dengan lockscreen foto keluarga lengkap Aldebarano.
"Iya kak, ini ponsel Bunda kak...." Ucap Rina yang menahan tangisnya.
"Bagaimana Kanaya? Apa mereka menemukan sesuatu lagi?" Tanya Jinata khawatir.
Sedangkan Rena sedang memenangkan Jaiden yang terus saja menangis sejak perjalan kerumah sakit tadi.
Rena sungguh merasa sangat tak tega pada cucunya itu, cucunya ini baru saja menginjak usia 13 tahun. Namun sudah banyak sekali kehilangan banyak orang di sisinya, apalagi satu-persatu pergi meninggalkannya.
"Dimas asisten Juna sekarang sedang berada disana, tapi saat aku disana tadi belum ada kabar baik. Tubuh-tubuh korban juga tidak ditemukan secara utuh, banyak yang sudah hancur lebur dan tidak berbentuk. Aku rasa..." Ucap Kanta terpotong.
"Sudah. Cukup. Jangan di katakan lagi!", Ucap Jinata memotong ucapan Kanta.
"Baiklah" Sahut Kanta menutup mulutnya rapat-rapat.
Dino menghela napasnya kasar, "Astaga..." Ucap Dino sambil memijit pangkal hidungnya pusing dan membawa Rina ke dalam pelukannya.
Tak lama kemudian, Tara pun keluar dari ruang unit gawat darurat tersebut dengan raut wajah yang masam.
"Tara bagaimana?" Tanya Rena.
"Maafkan aku Tante, Celine koma. Kita tidak tahu Celine kapan akan bangun, sarafnya terkejut. Kita hanya bisa menunggu, bisa seminggu, sebulan, setahun, atau lebih dari yang kita perkirakan. Kondisi ini disebabkan karena adanya trauma otak dan cedera kepala pada Celine" Jelas Tara pada yang lainnya.
...⚡⚡⚡...
Sudah seminggu semenjak kepergian Juna, dan sudah seminggu juga Celine belum sadarkan diri dari komanya.
Tanaro dna Joya juga sudah dipastikan meninggal dari insiden tersebut, karena tidak ada satu orang pun yang selamat atas kejadian naas tersebut.
Rina, Dino dan Saka juga harus kembali ke LA hari ini juga, karena ada pekerjaan yang harus di lakukannya. Awalnya Rina ingin sekali membawa Jaiden kembali ke LA, namun Jaiden tidak mau dan ingin menetap di Indonesia.
Jaiden ingin menunggu Momnya, Celine. Jaiden menunggu Celine untuk bangun dari komanya, maka dari itu Jaiden tidak ingin ikut bersama ketiganya ke LA.
Dino juga sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia, karena perusahaan utama mereka akan dipindahkan ke Indonesia. Namun untuk saat ini Dino akan berada di LA, karena ada beberapa urusan yang harus diatasi olehnya.
Setelah urusannya di LA sudah selesai, barulah Dino akan ke Indonesia dan menemani Jaiden.
"Jaiden, kalau ada apa-apa telepon Tante ya? Atau Jai juga bisa menelepon Om Saka atau Uncle Dino juga boleh" Ucap Rina sambil menggenggam tangan Jaiden.
"Iya Aunty, makasih Aunty, Om, Uncle. Jaiden pasti bisa, Jaiden sudah deaaa. Jangan khwatirkan tentang itu, Jaiden akan menghubungi Om, Aunty dan Uncle" Ucap Jaiden dengan suara bergetar dan hampir ingin menangis.
Rina, Dino, dan Saka pun begitu, mata ketiganya sudah memerah karena menahan tangis mereka, karena ketiganya berusaha tegar di hadapan Jaiden.
"Baiklah, kalau begitu jaga dirimu baik-baik huh?" Ucap Rina sambil mengusap rambut Jaiden lembut.
Jaiden pun mengangguk paham, atas ucapan Rina padanya. Jaiden sungguh benar-benar tidak ingin merepotkan siapapun.
"Jaiden, jika kau ingin sesuatu katakan saja pada Uncle oke? Kau masih punya Uncle disisi mu, jika ingin bercerita, telepon saja Uncle oke huh? Preman kecil Uncle!" Ucap Dino sambil mengacak-acak rambut Jaiden.
"Hm, Uncle tenang saja, Jaiden akan sering menghubungi Uncle" Sahut Jaiden sambil menarik ini ujung bibirnya dan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, Kei kalau Jaiden nakal atau terjadi sesuatu padanya, beritahu Om ya?" Ucap Saka pada Keisha.
"Okey Om, Om tenang saja!" Sahut Keisha.
"Aunty pergi ya, Kei Aunty titip Jaiden ya!" Ucap Rina.
Ketiganya pun pergi meninggalkan Jaiden dan Keisha, ya Keisha sengaja menemani Jaiden untuk pergi ke bandara dan mengantar Rina, Saka, dan Dino.
"Kak ayo kita pulang..."
Jaiden pun hanya mengangguk dan enggan menjawab, Keisha pun tidak bisa berbuat lain. Keisha hanya diam, tidak ingin bertanya pada Jaiden. Karena Keisha takut merusak mood Jaiden, apalagi moodnya yang sedang tidak baik saat ini.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, mobil tersebut melaju dnegan kecepatan sedang. Yang disupiri oleh supir pribadi Jaiden beberapa hari terakhir ini.
"Kei boleh aku meminjam bahu sebentar?" Ucap Jaiden tiba-tiba dengan wajah yang tertunduk.
"Hm, tentu. Gunakan jika kau ingin bersandar padaku Kak" Sahut Keisha.
Jaiden pun menyadarkan kepalanya di bahu Keisha dan berujung dengan menangis tersedu-sedu. Keisha pun menggenggam tangan Jaiden, alih-alih ingin menenangkan Jaiden.