I Am Fine

I Am Fine
Parkiran



"Hei Thalia?! Apa yang kau lakukan? Kenapa" Ucap Keisha terpotong, karena Thalia sudah menyerang Keisha terlebih dahulu.


"Arghh! Thalia hentikan!" Ringis Keisha, lalu membalas menjambak rambut Thalia.


"Aku sangat kesal pada mu Keisha! Kenapa Papa hanya mengakui mu sebagai anaknya? Kenapa aku tidak?!" Ucap Thalia berteriak sembari menjambak rambut Keisha.


Lalu Thalia memojokkan badan Keisha, dan memukul Keisha. Thalia juga membawa besi yang sudah disiapkannya, dan memukul Keisha menggunakan besi itu berkali-kali.


Thalia memukul tulang kering Keisha berkali-kali, hingga mengakibatkan keretakan pada tulang kering milik Keisha.


Setelah Thalia merasa puas menyakiti Keisha, Thalia langsung hendak pergi untuk meninggalkan Keisha sendiri di ruang musik.


"Tha... Thalia..." Panggil Keisha lirih.


"Hentikan Keisha! Hentikann! Hiks... jangan sembut nama ku seperti itu!" Bentak Thalia di depan itu, hendak keluar dari ruang musik.


Thalia pun keluar dari ruang musik itu, dan tidak lupa untuk mematikan lampu ruang musik. Dan mengunci, Keisha di dalam sana.


Flashback off.


"Aku tidak percaya, Thalia tidak akan melakukan itu. Kalian sedang tidak mengada-ada kan?" Tanya Jaiden.


"Hm dia melakukannya, Keisha tak sadarkan diri selama 1 minggu. Keisha juga hilang kabar selama beberapa bulan, karena dirinya sedang menjalani pengobatan psikis dan mental" Jelas Keira.


"Ah iya, Keisha juga menjalani pengobatan terhadap tulang kering kakinya" Lanjut Keira.


Jaiden mengusap rambutnya kasar, dan duduk di kursi yang terdapat di depan ruang kesehatan sekolahnya.


Setelah Keisha terlelap, Riki pun hendak keluar dari ruang kesehatan itu. Namun dirinya ditahan, oleh Dokter yang berada di ruangan kesehatan sekolahnya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Dokter itu menarik lengan Riki.


"Tentu Bu," Sahut Riki.


"Ayo kita duduk dulu disana," Ajak Dokter itu ramah.


Riki pun menurut, dan duduk di kursi sofa yang terdapat di ruangan tersebut.


"Ku dengar-dengar kalian berdua adalah Adik Kakak? Apa benar?" Tanya Dokter tersebut.


Riki pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Iya Bu benar" Jawabnya.


"Bisa kau hubungi salah satu orang tua kalian berdua? Aku ingin membicarakan sesuatu tentang Keisha," Jelas Dokter itu.


Sial sekali, Papa nya sedang berada di luar kota. Tidak mungkin Riki harus menelepon Mama nya, itu tidak akan pernah terjadi pikirnya.


"Mama dan Papa sudah bercerai bu, Papa sedang di luar kota. Sedangkan Mama tinggal di Amerika," Ucap Riki setengah bohong dan setengah benar.


"Sampaikan saja kepada saya Bu, saya akan menjelaskannya nanti pada Papa setelah Papa pulang dari luar kota" Lanjut Riki.


Dokter itu pun menghela nafasnya pasrah, "Baiklah kalau begitu. Apa kau tahu Kakak mu sedang mengkonsumsi obat penenang?" Tanya Dokter itu.


"Huh?" Ucap Riki terkejut.


...⚡⚡⚡...


"Keluar Thalia!" Bentak Jaiden pada Thalia kesal.


Pasalnya, saat ini Thalia sedang berada di dalam mobil Jaiden. Thalia memaksa untuk masuk ke dalam mobil Jaiden, dengan diam-diam.


Thalia tidak peduli, pokoknya apapun ceritanya. Hari ini juga, Thalia bersikeras untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Jaiden.


Jaiden membuang wajahnya ke asal arah, asal itu tidak menatap wajah milik Thalia. Sungguh Jaiden tidak kuat, jika dirinya melihat Thalia yang sedang mengemis seperti itu padanya.


Menyebalkan sekali, pikirnya.


"5 menit, cepat" Ucap Jaiden.


5 menit? Bagaimana aku bisa menjelaskannya hanya dalam waktu 5 menit? Itu mustahil Jaiden," Jelas Thalia.


"5 Menit atau tidak sama sekali?" Ucap Jaiden tegas.


"Baiklah..." Ucap Thalia.


"Cepat!"


"Aku binggung harus mulai dari mana, tapi aku yakin sekali kalau Keisha pasti sudah terlebih dahulu memberitahu mu. Kalau kami sebenarnya adalah saudara tiri, Papa ku menikah lagi dengan Mama Keisha. Dan ternyata Keisha adalah anak kandung dari Papa ku, ralat maksudnya Papa tiriku."


"Awalnya aku tidak tahu kalau Keisha ada hubungannya dengan mu, aku bahkan tidak tahu kalau kau dan Keisha saling mengenal satu sama lain. Aku baru tahu saat Sufa memberitahu ku di rooftop, itupun aku masih kurang yakin soal itu."


"Namun setelah saat dimana kau meminta Heri untuk mengantar ku pulang hiks...." Isak Thalia yang sudah tahan lagi untuk menahan tangisnya.


"Di saat itu, di saat perjalanan dan lampu merah. Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, kalau Keisha sedang memeluk mu di atas motor... hiks... dari situ... dari situ aku mulai berpikir untuk merebutmu..." Isak Thalia.


"Jaiden maafkan aku... hiks... teman-teman mu juga sudah mewanti-wanti ku untuk tidak jatuh hati kepada mu, karena kau memiliki seorang gadis yang spesial di hatimu... dan ternyata itu Keisha, hiks... orang yang sudah merengut kebahagian ku Jaiden..."


"Papa berubah, aku sungguh... hikss.. aku tak sanggup... aku merebutmu darinya..." Isak Thalia berakhir menangis sejadi-jadinya.


"Ku mohon Jaiden... jangan pergi dari ku hiks... cukup Papa saja... ku mohon..." Lirih Thalia terisak.


Jaiden menghela nafasnya kasar, dan membawa Thalia kedalam pelukannya.


"Maafkan aku, maafkan aku yang sudah salah paham padamu" Jelas Jaiden sembari mengusap rambut Thalia.


"Jaiden... hiks... ku mohon jangan tinggalkan aku... aku tidak memiliki seorang pun disini ku mohon... jangan tinggalkan aku... aku sungguh...hiks" Isak Thalia.


"Baiklah, oke-oke. Aku tidak akan kemana-mana, aku akan selalu berada di sisi mu oke hm?" Ucap Jaiden mengusap punggung Thalia lembut, berusaha untuk menenangkan Thalia.


Setelah menenangkan gadis itu, tanpa Jaiden sadari kalau Thalia sudah terlelap di pelukannya. Setelah itu, Jaiden pun memindahkan kepala Thalia ke kursi penumpang sebelah kemudi.


Jaiden menatapi lekat wajah sembab milik Thalia, lalu menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik milik Thalia itu.


"Maafkan aku Thalia...." Ucap Jaiden lirih.


Setelahnya, Jaiden pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


Jaiden tidak menyadarinya, Jaiden tidak sadar saat Keisha melihat bagaimana Jaiden membawa Thalia ke dalam dekapannya.


Awalnya Keisha hendak menghampiri mobil Jaiden, namun langkahnya terhenti saat dirinya tahu siapa yang berada yang sedang duduk di kursi penumpang sebelah Jaiden.


Sangat menyebalkan, pikirnya.


Saat Keisha melihat adegan yang tidak mengenakkan itu, dan merusak mood nya menjadi buruk. Keisha pun membalikkan badannya hendak berbalik, dan bertemu dengan Surya yang hendak mengambil mobilnya.


"Kei... Keisha" Ucap Surya terkejut, saat dirinya melihat mata Keisha yang sudah memerah dan hendak menumpahkan air matanya.


"Kau melihatnya juga kan Surya? Kak Jaiden memang benar-benar melupakan ku, bahkan Kak Jaiden tidak melihat ku ke dalam ruang kesehatan tadi," Ucap Keisha lalu pergi meninggalkan Surya.


Surya memejamkan matanya pusing, lalu memilih untuk mengejar Keisha yang sudah berlari.


"Kei! Keisha tunggu heh!" Teriak Surya.