I Am Fine

I Am Fine
Rooftop



Jam 9 malam.


Jaiden dan Keisha sudah bangun dari tidurnya, dan saat ini keduanya sedang berada di balkon kamar milik Jaiden.


"Kak?" Panggil Keisha.


Jaiden pun menjawabnya hanya dengan berdehem saja, lalu mengalihkan perhatiannya pada Keisha.


Keisha menunduk dan mengigit bibir bawahnya, hingga membuat Jaiden mendekati Keisha untuk lebih dekat. "Ada apa hm?" Tanya Jaiden khawatir.


"Bisa duduk sebentar? Ada yang ingin Kei katakan," Jelas Keisha.


Lantas Jaiden pun menurut, dan keduanya memutuskan untuk duduk di atas kursi yang tersedia di balkon tersebut.


"Kak sebenarnya Mama sudah menikah lagi," Jelas Keisha.


"Kau tak apa Kei?" Tanga Jaiden khawatir, lalu menggenggam tangan Keisha. Lantas Keisha yang ditanya seperti itu oleh Jaiden pun, menggelengkan kepalanya pelan.


"Dan apa Kakak tahu? Fakta yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Kei anak kandung dari suami yang baru saja menikah dengan Mama" Jelas Keisha menahan tangisnya.


"Ma... maksud mu?" Ucap Jaiden binggung dan ragu.


"Kei... hiks... Kei bukan anak biologis Papa Bram Kak, Kei anak diluar pernikahan Mama sama Papa Kei yang sekarang... hiks..." Isak Keisha.


Jaiden menatap lekat mata milik Keisha, "Kei... it's okey. You have me," Ucap Jaiden berusaha untuk menenangkan Keisha.


"Kak... hiks... Mama bahkan mau menjadi istri kedua pria itu, hiks .. sungguh aku masih tidak mengerti bagaimana jalan pikir Mama Kak. Aku juga selalu melihat hal-hal yang tidak-tidak terjadi di rumah kak... hiks... aku sangat muak...hiks... apa kau tahu? Thalia... hiks... Thalia adalah anak tiri Papa ku, istri pertama Papa itu Mama nya Thalia..." Isak Keisha menjadi-jadi.


Jaiden pun tak kalah terkejutnya, saat mendegar pernyataan barusan. Jaiden juga baru mengetahuinya, dan dirinya mengetahuinya melalui Keisha.


Jaiden berpikir, kenapa Thalia tidak pernah memberitahu hal ini padanya? Bahkan Thalia tidak memberitahu Jaiden, kalau dirinya adalah anak tiri dari Rafa Sandika.


"Kak Jaiden .. aku tidak bisa untuk terus-menerus berhadapan dengan Thalia..." Ucap Keisha terisak.


Jaiden pun menghela nafasnya panjang, dan membawa Keisha kedalam dekapannya.


...⚡⚡⚡...


Tit tit tit tit tit


Pria si pemilik apartemen itu pun terkejut setengah mati, karena baru saja ada orang yang sedang memasukkan sandi apartemen miliknya.


Kebetulan sekali, pria pemilik apartemen itu sedang berada di dapur. Lantas pria itu pun mengambil pisau, untuk berjaga-jaga.


Ceklek


"Astaga Surya kau?! Ku kira maling!" Pekik Heri menggema, hingga membuat kuping surya pun sakit mendengar teriakan milik Heri.


"Ck orang ganteng seperti ini di bilang maling!" Gumam Surya pelan, namun masih dapat terdengar jelas oleh kedua kuping milik Heri.


"Hei Surya, ada apa dengan mu? Kenapa murung sekali?" Tanya Heri pada Surya.


"Keisha melihat Jaiden menyatakan perasaannya pada Thalia," Ucap Surya pelan.


"Apa kata mu? Jaiden menyatakan cintanya pada Thalia?!" Pekik Heri.


"Kau pun terkejut kan? aku pun sama! Aku bahkan melihatnya di depan mata ku sendiri!" Jelas Surya.


"Lalu bagaimana reaksi Keisha?" Tanya Heri.


"Dia menangis, tapi dengan bodohnya dia malah datang untuk menemui Jaiden. Dan sekarang Keisha sedang berada di rumah Jaiden," Jelas Surya panjang lebar dan terdengar seperti orang yang sedang kesal.


Lantas Heri pun menepuk pelan pundak Surya, " Cinta itu buta teman. Kau sudah merelakan Keisha kan? Jangan sampai gara-gara ini hubungan mu dan Jaiden jadi tidak baik," Jelas Heri.


"Apa kau pikir Jaiden akan mempertahankan hubungannya dengan Thalia setelah tahu kebusukan yang di miliki Thalia?" Tanya Heri.


Lantas Surya pun menoleh pada Heri, "Apa sebaiknya kita bongkar saja kedoknya?" Saran Surya.


"Sepertinya kita membutuhkan Keira bukan?" Tanya Heri, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Keira.


...⚡⚡⚡...


"Kau sengaja kan? Apa maksud mu? Jaiden sudah menjadi milikku, apa kau akan menjadi seorang j*l*ng?" Jelas Thalia diatas rooftop.


Thalia tadi mengirimkan pesan pada Keisha untuk naik ke atas rooftop, tentu saja untuk membahas soal kejadian tadi malam.


"Thalia kau takut? Tidak ada yang harus disembunyikan lagi pada Kak Jaiden, aku sudah mengatakannya. Kak Jaiden tahu kau dan aku adalah saudara tiri," Jelas Keisha.


"Kau gila?!" Ucap Thalia menahan Keisha yang hendak meninggalkan dirinya di rooftop.


"Dan kau tidak ada hak untuk mengatakan aku sebagai wanita j*l*ng" Jelas Keisha.


"Bukankah kau dan Mama mu sama? Sama-sama merusak hubungan orang," Jelas Thalia.


"Kau tidak tahu apa-apa, lepaskan tangan mu!" Ucap Keisha berusaha melepaskan paksa tangan Thalia, namun tidak bisa karena Thalia menggenggam tangan Keisha dengan erat.


Hingga si empu merasa kesakitan.


"Keisha apa kau tidak lupa? Aku bisa saja mematahkan kaki mu sebelah kiri, atau kau mau coba yang sebelah kanan? Bagaimana kalau sampe tidak bisa berjalan?" Ucap Thalia.


Keisha membelalakkan matanya dan jantungnya berdegup 2 kali lebih cepat dari biasanya, "Ti... tidak. Mari bersaing dengan cara sehat, jangan gunakan fisik" Ucap Keisha panik.


Keisha pun melepaskan paksa tangan Thalia, hingga membuat dirinya berhasil kabur dari rooftop itu.


Keisha berlari sepanjang dirinya menuruni anak tangga, kepalanya berdenyut, pelipisnya dipenuhi dengan keringat, dan bibirnya pun berubah warna menjadi pucat.


Brukhh!


"Arkh..." Lirih Keisha terjatuh, saat dirinya tak dengaja menabrak seorang siswa laki-laki. "Maaf," Ucap Keisha sambil berusaha untuk bangun dari lantai.


Pria itu pun membantu Keisha, hingga dirinya sadar siapa orang yang menabraknya tadi.


Keisha, pikir pria itu.


Grep


Pria itu memegangi kedua bahu Keisha khawatir, "Kei ada apa dengan mu? Kenapa buru-buru sekali? Mata mu sembab, apa terjadi sesuatu?" Tanya Pria itu khawatir.


"Su... Surya" Ucap Keisha lirih, menahan tangisnya.


Surya pun semakin panik, "Hei ada apa dengan mu? Kenapa menjadi pucat seperti ini? Kau sakit?" Tanya Surya khawatir sambil meraih wajah mungil milik Keisha.


Keisha pun menggelengkan kepalanya, entah kenapa rasanya kaki Keisha terasa lemas sekali. Hingga membuat Keisha hampir saja ambruk ke lantai, dengan gerakan cepat Surya membantu Keisha untuk tetap berdiri.


Surya melihat keringat Keisha yang sudah membasahi pelipis gadis itu, lantas dengan sigap Surya langsung membawa Keisha ke gendongannya.


Surya mengendong Keisha, dengan bridal style.


"Astaga Kei ada apa dengan mu? Bicaralah ku mohon huh?" Ucap Surya khawatir sembari mengendong Keisha, dan hendak membawa Keisha ke ruang kesehatan sekolah.


Keisha sama sekali tidak bergeming, wajahnya sudah pucat dan keringat dingin. Kepalanya berdenyut, rasanya Keisha ingin berteriak. Namun dirinya menahan itu, karena dirinya masih sadar akan bahwa dirinya masih di area sekolah.


Bisa-bisa orang akan mengiranya gila.