
"Tandatangani itu!" Pinta Bram sambil memberikan sebuah map pada Shakila.
Shakila yang sedang bermain ponsel itu pun meraih map yang diberikan oleh Bram.
Shakila tertawa sinis saat membaca isi dari map tersebut, "Kau yakin ingin bercerai dengan ku? Bagaimana dengan hak asuh anak?" Tanya Shakila kelewat santai.
"Hm, aku sudah muak dengan sikap mu. Hak asuh Riki dan Keisha akan jatuh padaku," Sahut Bram.
"Aku tidak akan membiarkannya."
"Kau yakin? Kau bahkan tidak menjalankan kewajiban mu sebagai seorang Ibu," Ucap Bram sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku akan membawa Keisha dan Riki ke Amerika," Ucap Shakila.
"Aku tidak mengizinkannya, aku akan mengambil hak asuh Kei dan Riki" Ucap Bram memaksa.
"Mama dan Papa ingin bercerai?" Tanya Keisha yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, Keisha baru saja pulang dari sekolahnya.
"Kei..." Lirih Bram.
"Kei tidak salah dengar kan? Papa dan Mama ingin memisahkan Kei dan Riki juga?" Ucap Keisha yang sudah menahan tangisnya.
"Iya Kei, Papa dan Mama akan bercerai. Kau mau ikut Mama atau Papa?" Tanya Shakila langsung pada Keisha.
Keisha menatap kedua orang tuanya secara bergantian, Keisha tidak dapat memilih. Tapi jika ingin, Keisha akan memilih Bram, karena Keisha tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Shakila.
Shakila adalah wanita karir dan model yang super sibuk, dan tidak pernah meluangkan waktunya untuk keluarganya.
Ah tidak, Mamanya itu bahkan tidak pernah mengurus dan mau tau soal sekolahnya atau pun Papanya.
Keisha dan Riki lebih sering mendapatkan bantuan dari orang suruhan Papanya atau Mamanya, hanya saja terkadang Bram menyempatkan waktunya untuk Keisha dan Riki.
"Ma Pa bisakah kalian untuk tidak berpisah? Berbaiklah Kei mohon..." Ucap Keisha.
"Kei Mama dan Papa mu ini tidak cocok! Kau tinggal jawab saja apa susahnya?! Pilih Mama atau Papa?" Bentak Shakila pada Keisha.
"Pelankan suara mu Shakila!" Bentak Bram pada Shakila.
"Anakmu ini! Ah menyebalkan! Cepat putuskan Kei, kau ingin ikut Mama atau Papa?" Tanya Shakila sekali lagi pada Keisha.
Keisha pun diam sejenak, karena tidak tahu harus memilih siapa.
"Jangan paksa Keisha untuk ikut dengan mu jika dia tidak ingin! Dan jangan selalu membentaknya!" Peringat Bram pada Shakila.
"Suka-suka ku lah! Keisha kan anakku!" Sahut Shakila tak terima.
Keisha sedang memikirkan sesuatu, Keisha memejamkan matanya dalam-dalam untuk menahan amarahnya. Keisha sudah memutuskan untuk pergi dengan siapa.
"Kei akan memilih Mama," Ucap Keisha.
"Huh?" Ucap Bram terkejut.
Sedangkan Shakila pun hanya tersenyum senang.
"Kei ayolah? Apa kau yakin? Kau tidak ingin ikut bersama Papa dan Riki?" Ucap Bram sambil meraih tangan mungil anak sulungnya tersebut.
"Sekarang lihat, siapa yang sedang memaksa Keisha?" Ucap Shakila menyindir Bram.
"Maafkan Kei Pa, Kei tidak bisa meninggalkan Mama sendiri" Ucap Keisha tertunduk.
"Baiklah, sekarang dimana Riki Kei?" Tanya Shakila.
"Biarkan Riki untuk tetap bersama ku Shakila" Mohon Bram pada Shakila.
Shakila tersenyum bangga, apalagi saat melihat Bram yang sedang memohon seperti itu padanya.
"Oke kalau kau menginginkannya, asalkan setengah dari aset perusahaan kau atas namai dengan nama Keisha" Ucap Shakila enteng.
"Apa?!" Ucap Bram tersentak, "Kau?! Baiklah, aku akan memberikannya!" Ucap Bram final.
"Pa...Ma..."
"Riki..." Panggil Bram.
Riki tidan tega menatap Papanya, yang memberi pandangan untuk memilih dirinya. Riki juga tidak habis pikir dengan kakaknya yang malah lebih memilih Mamanya.
Jujur, Riki sangat merasa kecewa pada Mama dan Papanya. Keduanya memilih untuk bercerai, dan Riki juga sangat kecewa pada Keisha yang lebih memilih untuk meninggalkannya sendiri.
"Riki akan ikut Papa" Ucap Riki.
Semenjak kejadian beberapa jam yang lalu tersebut, Riki dan Keisha tidan berbicara sama sekali. Ah tidak, Riki lah yang menjauh dari Keisha. Karena Riki masih merasa kecewa sekali pada Keisha.
Riki merasanta dirinya ditinggalkan oleh Keisha, tepatnya ditelantarkan oleh Keisha pikirnya.
Tok tok tok
Ceklek
"Kei bereskan barang-barang mu! Besok kita akan ke Amerika" Ucap Shakila di balik pintu kamar Keisha.
"Tapi Ma" Ucap Keisha terpotong, karena Shakila sudah hilang dari pandangannya dan menutup pintu kamar Keisha.
Saat ini yang berada di pikirannya hanya Jaiden dan teman-temannya. Keisha lebih memilih untuk menghubungi Jaiden terlebih dahulu baru teman-temannya.
...Room Chat...
^^^Keisha:^^^
^^^Kak Jai^^^
^^^Apa Kakak sibuk?^^^
^^^Bisa keluar sebentar?^^^
Jaiden:
Ada apa
Ayo, dimana
^^^Keisha:^^^
^^^Di cafe biasa aja ya?^^^
Jaiden:
Ok
read
Keisha pun meraih tas selempangnya dan bergegas ke cafe. Saat Keisha ingin keluar rumah, Keisha sempat berselisih dengan Riki. Tapi Riki tidak memperdulikannya, bahkan Riki enggan menatap Keisha dan melewati Keisha begitu saja.
Padahal biasanya Riki selalu bertanya pada Keisha untuk pergi kemana, karena Keisha sudah berpakaian rapi. Namun sekarang tidak, Riki tidak memperdulikan Keisha.
Keisha pun hanya menghela napasnya kasar.
...⚡⚡⚡...
"Aku khawatir dengan Jaiden Jinata" Ucap Rena.
Saat ini Rena dan Jinata sedang duduk di atas balkon, yang terdapat di depan kamar mereka. Keduanya sedang menikmati teh hangat, yang disediakan oleh pelayan rumahnya.
"Apa kita pindah saja kesana?" Saran Jinata.
"Kau menganal Jaiden," Ucap Rena sambil menyedu tehnya.
Jinga pun mengangguk paham, "Jaiden akan baik-baik saja, Jaiden akan tau batasannya. Dia akan selalu memberitahu kita tentang apapun yang terjadi padanya, bukankah selalu begitu?" Ucap Jinata sambil bertanya.
"Apa aku harus mengirim orang untuk memantau Jaiden?" Tanya Rena.
"Jangan berlebihan Rena," Ucap Jinata menasehati istrinya.
"Baiklah," Ucap Rena pasrah, "Bagaimana dengan Celine? Apa sebaiknya kita menjenguknya sebelum berangkat ke Jepang?" Tanya Rena.
Jianta mengangguk, "Bagaimana kalau kita membawa Jaiden juga?" Saran Jinata.
Rena pun mengangguk setuju.
Jinata menghela napasnya kasar, "Kasihan sekali nasib Celine, aku tidak tega dengannya. Dia baru saja ditinggalkan oleh Juna lalu Joya dan Tanaro pun mayatnya bahkan tidak ditemukan" Ucap Jinata.
"Mau bagaiamna lagi, Tuhan sudah menggariskan tadirnya seperti itu. Aku menyesalinya," Ucap Rena tiba-tiba.
"Menyesali apa?" Tanya Jinata.
"Apa aku salah untuk membenci Celine?" Ucap Rena.
Jinata mengerutkan keningnya binggung, "Maksudmu?" Tanya Jinata.
"Kalau saja Juna tidak kita jodohkan dengan Celine, keadaan tidak akan seperti ini. Dan Juga Juna tidak akan meninggal, aku masih belum bisa menerima kepergian putra ku!" Ucap Rena.
Tanpa Rena dan Jinata sadari, kalau sejak tadi Jaiden emndegar percakapan keduanya. Awalnya Naide ingin sekali tidur di rumah Nenek dan Kakeknya malam ini, namun diurungkannya. Karena mendengar ucapan yang tidak enak keluar begitu saja, dari mulut neneknya tersebut.
Jaiden pun memutuskan untuk pulang tanpa pamit, bahkan Jinata dan Rena tidak mengetahui kedantavan Jaiden di kediamannya.
Hanya pelayan dan Maid saja yang mengetahuinya, kalau Tuan mudanya itu berkunjung ke masion.
Ting!
Jaiden pun meraih ponselnya, Jaiden melihat pesan notifkasi dari Keisha.
Tanpa pikir panjang, Jaiden pun bergegas untuk lebih memilih bertemu dengan Keisha. Karena menurutnya, ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Keisha padanya.
"Nyonya tadi tuan Muda datang ke masion," Ucap kepala pelayan.
Rena mengerutkan keningnya binggung, "Maksud mu Jaiden?" Tanya Rena.
"Benar Nyonya" Sahut pelayan tersebut.
"Tadi Tuan muda tiba-tiba saja pulang Nyonya" Sahut pelayan tersebut.