
"Rina!" Pekik Dino dan Saka bersamaan.
"Tante?!"
Lantas dengan langkah cepat, Saka langsung membawa Rina dan menggendong istrinya itu. Saka pun membawa Rina ke dalam salah satu kamar tamu, yang terdapat di rumah Jaiden.
"tara cepat susul Rina!" Pinta Jinata.
"Baik Tuan," Jawab Tara, lalu pergi mengikuti Saka dan Dino.
Setelah sampai di kamar tamu, dengan sigap Tara langsung memeriksa keadaan Rina. Bahkan asisten Tara juga sudah menghubungi dokter kandungan, untuk Rina.
"Dino... aku..." Isak Saka.
Dino pun sudah tak kuasa menahan tangisnya yang sedari tadi di tahannya, sungguh hatinya merasa tergores saat melihat Kakak yang sering diajaknya berantam itu sudah tidak bernyawa lagi.
"Biarkan Kak Cena pergi dengan tenang Kak..." Isak Dino.
Saka pun mengangguk pasrah, dan bertumpu pada kedua tangannya.
Heri dan Thalia baru saja tiba di kediaman keluarga Renandra, Thalia hendak masuk berlari untuk menghampiri Jaiden dan memeluk Jaiden.
Dan Keisha melihat itu, dengan langkah cepat Keisha langsung berjalan mendekat pada Jaiden. Berusaha untuk menenangkan Jaiden, dan hendak membawa Jaiden ke kamarnya.
Namun lebih tepatnya, Keisha melakukan itu karena dirinya tidak ingin Jaiden bertemu dengan Thalia.
Sayang sekali, Thalia terlambat satu langkah. Karena Keisha sudah terlebih dahulu untuk menghampiri Jaiden, Heri pun mencegah Thalia untuk berbicara pada Jaiden dan memberi perhatiannya untuk Jaiden.
"Jangan sekarang, biarkan Jaiden bersama Keisha. Keisha akan memenangkannya," Jelas Heri.
"Tapi Heri..." Ucap Thalia.
"Ku mohon, kau tidak akan merusak suasana disini menjadi tegang kan? Jaiden sedang butuh waktu untuk sendiri," Jelas Heri.
"Tapi apa orang itu harus Keisha yang ku kenal?" Tanya Thalia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tenang kan dirimu," Ucap Heri meninggalkan Thalia.
Heri hendak menelepon keluarganya, karena pasti keluarganya belum tahu atas kepergian rekan kerja lamanya itu.
Celine adalah adalah rekan kerja Mama Heri dulu, Celine dan Mamanya lumayan dekat. Karena keduanya tamatan di kampus yang sama, dan juga beberapa kali sering berada di proyek pameran seni yang sama.
"Kak ayo kita ke kamar dulu, Kakak harus ganti baju dulu" Ucap Keisha mengajak Jaiden untuk ke kamar.
Jaiden pun menurut, Keisha pun menuntun Jaiden untuk naik ke lantai dua dan menganti pakaiannya.
Thalia merasa dirinya tidak berguna sama sekali, bisa-bisanya dirinya kalah cepat dari Keisha. Thalia berpikir, seharusnya dirinya lah yang berada di samping Jaiden saat-saat seperti ini.
Bukan Keisha.
Walaupun hubungan Thalia dan Jaiden belum resmi, dan tidak memiliki status yang jelas. Tapi Jaiden sudah terang-terangan pada Thalia kalau dirinya menyukai Thalia, begitupun juga sebaliknya.
Apa perasaan Jaiden akan berubah setelah bertemu dengan Keisha?
Hal itu lah yang selama ini ditakutkan oleh Thalia.
"Kak, Kakak belum makan malam. Mau Kei ambilkan?" Tanya Keisha.
Jaiden pun menggelengkan kepalanya lemas, "Kei apa kau juga akan meninggalkanku?" Tanya Jaiden.
Saat ini keduanya sudah berada di dalam kamar Jaiden, Jaiden duduk dipinggir ranjang. Sedangkan Keisha, dirinya berdiri di depan Jaiden.
Maka dari itu, Jaiden dapat memeluk pinggang ramping Keisha dengan leluasa.
Keisha pun menepuk-nepuk pelan pundak Jaiden, dan mengusap rambut pria itu lembut.
"Tidak Kak, Kei tidak akan meninggalkan Kakak. Kei akan selalu disisi Kakak, Kak Jaiden harus kuat oke huh? Semua yang datang itu pasti akan pergi kembali ke sisi-Nya Kak," Jelas Keisha.
Jaiden mengangguk-anggukan kepalanya, sembari mempererat pelukannya pada pinggang ramping gadis itu.
"Kakak makan dulu ya? Kakak belum makan malam, apa mau Kei sulang? Kei tidak mau Kakak jatuh sakit" Jelas Keisha.
Thalia melihat itu, Thalia melihat bagaimana posesifnya Jaiden memeluk Keisha seperti itu. Thalia merasa menyesal karena dirinya sudah diam-diam untuk mengikuti Keisha, dan Jaiden tadi.
Kalau saja Thalia tidak mengikuti keduanya, mungkin Thalia tidak akan merasa sakit hati saat melihat itu.
"Thalia? Sedang apa disini?" Tanya Keira yang baru saja keluar dari kamar yang berada di sebelah kamar Jaiden.
"Eh? Keira? Ah itu," Ucap Thalia menggaruk tengkuk lehernya, dirinya sudah seperti orang yang ketangkap basah mengintip.
Keira pun menghela nafasnya pelan, "Kebiasaan" Gumamnya lalu menarik pelan pintu kamar Jaiden, dan menutupnya rapat.
"Thalia maaf sekali untuk mengatakan ini padamu, biarkan Jaiden untuk bersama dengan Keisha dulu. Aku sudah bilang kan pada mu? Jangan pernah berharap memiliki hubungan lebih dengan Jaiden, sungguh aku yakin sekali kalau Jaiden menjadikan mu sebagai pelampiasannya saja, untuk melupakan Keisha" Jelas Keira.
"Aku tidak berkata seperti ini karena Keisha teman dekat ku, tapi itu memang kenyataannya. Jaiden snagat menyayangi Keisha lebih dari yang kau tahu, Keisha akan dengan mudahnya menggeser posisi mu di hati Jaiden. Jadi... ku harap kau sudah mengerti apa yang ku maksud," Lanjut Keira.
setelah mengatakan itu pada Thalia, Keira pun menepuk pelan bahu Thalia. Lalu setelahnya, Keira pun pergi meninggalkan Thalia yang masih terdiam.
"Menyebalkan," Batin Thalia.
Tak lama dari kepergian Keira, pintu kamar yang ditempati oleh Keira kembali terbuka lebar. Hingga atensi Thalia pun beralih, kepada pintu yang terbuka itu.
Ah dia Riki, dari yang Thalia dengar-dengar kalau Riki ini adalah Adik kandung Keisha. Thalia tidak mengetahui soal Keisha yang dikenalnya itu memiliki Adik laki-laki, karena Keisha tidak pernah menceritakan keluarganya.
"Apa Kakak ingin bertemu dengan Kak Jaiden?" Tanya Riki.
"Huh? A... ah iya tapi nanti saja," Sahut Thalia.
Pintu di sebelah kamar Jaiden itu pun terbuka kembali, untuk yang ketiga kalinya. Dan menampilkan Jaki, dan Surya.
"Eh Thalia? Kau datang bersama Heri? Lalu dimana anak itu?" Tanya Jaki, karena setahunya tadi sepulang sekolah Heri mencari Thalia untuk pulang bersama.
Thalia pun menganggukkan kepalanya, "Heri dibawah" Sahut Thalia.
"Riki apa kau sudah bertemu dengan Keisha?" Tanya Surya sengaja, untuk menyadarkan Thalia.
Surya, Riki dan Jaki tahu jelas apa alasan Thalia berada didepan pintu kamar Jaiden. Sudah pasti ingin bertemu dengan pemilik kamar itu, pikir ketiga lelaki itu.
Lagi pula, Surya sangat membenci hal apa yang sudah diperbuat Thalia pada Keisha. Tentu saja Surya mengetahuinya, siapa lagi kalau bukan daru Sufa dan Yuna sepupu Sufa?
Lantas Riki pun mengalihkan perhatiannya pada Surya, "Huh? Ah belum Kak, nanti saja. Kak Jaiden sedang membutuhkannya saat ini, iya kan?" Jawab Riki mengerti apa maksud dari pertanyaan Surya, lalu Riki pun menatap Thalia sekilas.
"Thalia ayo kita turun kebawah," Ajak Jaki.
Lantas keempat remaja itu pun turun, dari lantai dua itu.