I Am Fine

I Am Fine
127



"Maaf Pak, untuk mengatakan ini. Saya rasa Thalia membutuhkan seorang psikiater ataupun psikolog. Mungkin Bapak sendiri belum menyadari soal ini, karena Bapak adalah seorang laki-laki. Saya mendapati beberapa luka goresan pada tubuh Thalia."


"Menurut saya itu adalah tindakan self harm, hal ini terjadi karena putri Bapak tertekan akan sesuatu dan melukai dirinya sendiri secara terang-terangan atau diam-diam, tanpa berpikir karena sudah berada di ambang stress, depresi dan frustasi" Jelas dokter itu panjang lebar.


Lantas Rafa pun memijit kepalanya pusing, dirinya tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi pada Thalia. Dan lebih parahnya, itu semua karena perbuatannya sendiri. Ada perasaan sesal, marah, menyesal, takut pada diri Rafa saat ini.


Karena dirinya sudah gagal menjadi orang tua, dalam mendidik anaknya. Bahkan penyebab anaknya melakukan hal gila seperti itu, karena dirinya membuat Thalia hancur secara fisik dan mental.


"Dokter, tolong bantu kesembuhan putri saya. Tolong cari psikiater ataupun dokter psikolog untuk anak saya," Ucap Rafa final.


...⚡⚡⚡...


Ceklek


Rafa baru saja memasuki kamar inap milik Thalia, "Kau sudah merasa baikan? Kata dokter kalau sudah baikan lusa kau sudah boleh pulang kalau lukanya sudah lumayan kering," Tutur Rafa.


"Tinggal bersama Papa saya ya? Bersama Keisha dan Mama Shakila oke hm?" Tanya Rafa lembut.


Thalia pun menggelengkan kepalanya tidak mau, "Tidak. Thalia akan tetap tinggal di rumah," Sahutnya keras kepala.


Rafa pun tidak ingin memaksa Thalia untuk tetap tinggal dengannya, karena dirinya paham betul atas ketidaknyamanan Thalia dan Keisha kalau tinggal di satu atap yang sama.


"Baiklah, kalau begitu apa yang kau inginkan? Apa ada yang sakit? Ingin membeli sesuatu?" Tanya Rafa lagi dan Thalia pun hanya menggelengkan kepalanya.


Rafa mengusap rambut Thalia sayang, "istirahatlah. Sebentar lagi Mama Shakila dan Keisha akan kemari untuk menjenguk dan juga menjaga mu, Papa ada perkerjaan yang ahrus Papa selesaikan. Tidak papa kan?" Tanya Rafa.


Ceklek


Sebelum Thalia menjawab ucapan dari Rafa, pintu pun sudah terbuka dan muncullah Shakila dan Keisha dari balik pintu itu.


Tadi Shakila menelepon Keisha untuk segera pulang kerumah saat dirinya berada di rumah Keira tadi, dan dengan cepat Keisha langsung bergegas ke rumahnya untuk mengganti pakaiannya di rumah, lalu pergi ke rumah sakit bersama Shakila untuk menjenguk Thalia.


Setelah melihat yang berada di hadapannya saat ini, Keisha pun semakin merasa bersalah pada Thalia.


Shakila juga membawa beberapa makanan untuk Thalia, tentu saja untuk mengambil hati Rafa agar dirinya terlihat baik dan juga sayang pada Thalia.


Shakila sendiri juga sedang menjinjing beberapa masakan rumahan di dalam sebuah rantang, yang di bawanya dari rumah.


Tidak, tidak. Itu bukan Shakila sendiri yang memasaknya, melainkan pelayan rumah mereka yang memasak. Hingga meletakkannya ke dalam rantang makanan itu, dan Shakila hanya tinggal membawanya saja.


Keisha langsung berlari kecil untuk menghampiri Thalia karena khawatir, "Astaga Thalia... Kenapa bisa ini terjadi pada mu? Ck! Apa yang kau pikirkan? Astaga!" Omel Keisha pada Thalia.


"Aku baik-baik saja, maaf membuat mu khawatir" Jawab Thalia.


Keisha pun menghela nafasnya kasar, "Kau bahkan tidak bisa di hubungi dan tidak datang ke sekolah" Jelas Keisha.


"Keisha bisa aku meminjam ponsel mu sebentar? Sepertinya ponsel ku tertinggal di rumah, aku ingin menghubungi Jaiden. Ku rasa dia pun khawatir, pasti dia ke rumah tadi pagi" Ucap Thalia yakin.


"Tidak sama sekali, dia tidak menghawatirkan mu" Batin Keisha.


Lantas Rafa, Shakila, dan Keisha saling bertukar tatap. Rafa pun menggeleng-gelengkan kepalanya pada Keisha, maksudnya Rafa dan Shakila sama sekali belum memberitahu pada Thalia. Kalau Keisha, akan segera bertungaan dengan Jaiden setelah Jaiden melaksanakan olimpiade.


"Sebentar," Ucap Keisha merogoh Sling bag mini miliknya.


"Telepon saja," Pinta Thalia.


"O... oke" Ucap Keisha gugup.


Lantas Keisha pun menelepon Jaiden.


Rafa berpikir, kalah Thalia dan Keisha butuh ruang untuk bicara berdua. Jadi Rafa pun memutuskan, untuk menarik Shaikala untuk keluar agar keduanya nyaman untuk berbicara dan tidak canggung.


Drrt drtt drttt


“Halo? Keisha?” Sapa Jaiden.


"Speaker" Pinta Thalia pada Keisha dan Keisha pun menurut.


"Kak Jaiden," Panggil Keisha.


"Kenapa? Kau sudah tidak membenci ku lagi kan? Maaf," Ucap Jaiden di telepon menyesal perbuatannya di rooftop.


"Tidak, maaf soal perkataan ku pada mu tadi. Thalia ingin bicara dengan mu," Ucap Keisha.


"Thalia? Kau sedang bersamanya?" Tanya Jaiden.


"Hm, aku sedang bersama dengannya, Thalia berada di rumah sakit sekarang" Jawab Keisha.


"di rumah sakit?" Tanya Jaiden heran. "Siapa yang sakit?" Tanya Jaiden.


"Thalia, Thalia sakit dan di rawat di rumah sakit," Jelas Keisha binggung harus mengatakan apa, karena Thalia sendiri pun hanya diam saja tidak bersuara sedikit pun.


Padahal, Thalia sendiri yang meminta untuk menelepon Kak Jaiden pikir Keisha.


"Baiklah, kalau begitu katakan padanya segera lekas sembuh" Ucap Jaiden santai.


"Apa apaan ini?" Batin Thalia tak suka.


"Huh? Ah.. i...iya, tapi sebenarnya" Ucap Keisha terpotong karena mendengar Rena yang berteriak sedang memanggil Jaiden.


"Kakak di Masion?" Tanya Keisha.


"Iya, anenek meminta ku belajar dengan guru matematika disini" Jawab Jaiden.


"Kau sedang menelepon dengan siapa?" Tanya Rena.


"Dengan Keisha Nek," Jawab Jaiden.


"Ah Keisha?" Ucap Rena langsung menghampiri Jaiden dan mengambil alih ponsel Jaiden.


"Eh Nek!" Kaget Jaiden.


"Keisha? Apa benar ini kau?" Sapa Rena senang, "Kau sudah siap kan untuk lusa fitting baju bersama Jaiden?" Tanya Rena santai.


Keisha membelalakkan matanya, tidak menduga kalau Rena akan menanyakan soal itu sekarang juga. Keisha hendak mematikan speaker nya, namun tangannya di tahan eh tangan Thalia yang sebelah kanan.


"Fitting baju?" Batin Thalia tak enak.


"I... iya Nek. Nek Keisha matikan dulu ya, nanti Keisha main-main kesana" Ujar Keisha.


"Hei tidak, tidak, Nenek yang akan datang ke rumah mu nanti. Dan membahas ini dengan Shakila, ya sudah ya Nenek tutup dulu. Jaiden akan fokus untuk beberapa hari ke depan, agar pertunangan kalian lancar-lancar," Jelas Rena.


"I...iya Nek," Sahutnya gugup dan mematikan sambungan telepon.


"Apa maksudnya? Fitting baju? Pertunangan?" Tanya Thalia.


"Thalia..." Lirih Keisha.


"Katakan pada ku Keisha apa maksudnya? Tanya Thalia meninggikan suaranya.


Keisha pun dengan perasaan yang takut, mengumpulkan keberaniannya untuk menatap Thalia.


"Thalia maaf, aku dan Kak Jaiden akan segera bertunangan" Jelas Keisha.


Thalia yang mendengar itu pun langsung mencabut infusnya yang tertempel pada tangannya, dan bangkit dari bangkarnya hendak mencekik Keisha.


"Thalia! Hei! Uhuk! Uhuk! Sadarkan dirimu!" Ucap Keisha menepuk-nepuk tangan Keisha yang mencekik lehernya.


"Aku sadar Keisha, aku sadar atas apa yang aku lakukan sekarang_ Ucap Thalia yang masih mencekik leher Keisha.


"Uhuk! Uhuk! Thalia akh... lepas!" Ucap Keisha yang sudah mulai kesulitan untuk bernafas.


"Kau pikir kau siapa hah? Kau tidak pantas bersamanya Keisha! Hanya aku! Hanya aku!" Ucap Thalia berteriak di depan wajah Keisha.


Brakh!


Rafa dan Shakila yang sedang duduk di kursi tunggu, di depan ruang inap Thalia pun saling tatap saat mendengar ada suara pecahan seperti gelas jatuh dari dalam sana.


Lantas keduanya pun panik, dan segera masuk. Namun terlambat, kini keduanya sudah melihat kepala Keisha yang sedang mengeluarkan darah dan memegangi kepalanya.


"Akh..." Ucap Keisha teduduk di atas lantai.


Thalia baru saja melempar kepala Keisha, dengan vas bunga yang di dapatinya di atas meja kamar inapnya.