I Am Fine

I Am Fine
Rumah Duka



"Mom? Mom? Mommy? Mom bangun Mom... Mom Mommy sedang bercanda kan? Mom?!" Ucap Jaiden.


"Ta..Tante Celine..." Lirih Keisha berjalan untuk memegang tangan dingin milik Celine.


"Tante... Tante Celine ayo bangun, Keisha baru aja pulang Tan. Tante kenapa pergi? Hiks... Tan... Tante ayo bangun hiks... Tante sayang Kei sama Kak Jaiden kan? Ayo dong Tante bangun...hiks..." Ucap Keisha terisak, lalu memeluk Celine.


"Kau yang kuat ya Jai..." Ucap Tara menepuk-nepuk pelan pundak Jaiden.


"Om ini Jaiden sedang mimpi kan Om? Mommy tidak meninggalkan Jaiden begitu saja kan Om?! Ayo Om cepat bantu Mommy, bantu Mommy supaya matanya terbuka lagi Om! Bantu Mommy untuk kembali bernafas..." Ucap Jaiden pada Tara.


"Jaiden..." Panggil Dino lirih.


Dino baru saja tiba, dan melihat keadaan sudah tidak baik-baik saja. Apalagi saat Dino mendengar isak tangis dari luar, sudah pasti sesuatu yang buruk terjadi di dalam sana pikirnya.


Uncle...Mommy Uncle hiks..." Ucap Jaiden kembali menangis.


Dino menghela. nafasnya kasar, dan membawa Jaiden kedalam pelukannya. Karena Dino memeluk Jaiden, Jaiden pun akhirnya menangis sejadi-jadinya di pelukan Dino.


"Kau harus oke Jai? Maafkan Uncle baru saja tiba," Ucap Dino menahan tangisnya, saat melihat Kakak kesayangannya yang itu sudah tidak bernyawa.


"Tante maafkan Keisha hiks... Maafkan Keisha yang baru saja datang... ayo dong Tante bangun, Keisha udah disini Tante hiks... Tante udah janji sama Keisha buat ngajarin Keisha ngelukis hiks... Tante ayo bangun...." Isak Keisha memeluk Celine.


Bagi Keisha, Celine itu sudah seperti Ibunya sendiri untuknya. Walaupun Celine dulu selalu berada di Amerika untuk merawat Juna, Celine selalu memberi perhatiannya pada Keisha.


Bahkan perhatian yang Celine berikan pada Keisha itu sudah seperti anaknya sendiri, berbeda dengan Shakila Ibu kandung Keisha.


Yang hanya mementingkan dirinya sendiri, hingga lupa untuk mengurus anak dan rumah tangganya.


"Kei..." Panggil Rena yang baru saja datang bersama Jinata.


"Nenek..." Jawabnya lalu berhambur kedalam pelukan Rena dan menangis bersama dengan Rena.


Tara pun tak dapat menahan air matanya, lantas Tara pun memilih untuk keluar dari ruangan itu. Tara mengeluarkan ponselnya, untuk menghubungi Keira putrinya.


"Halo Pa?" Jawab Keira.


"Kei..." Panggil Tara dengan suara parau seperti orang yang sedang menahan tangisnya.


"Loh Papa? Papa menangis? Ada apa?" Tanya Keira khawatir.


"Kei, Tante Celine sudah tidak ada, beritahu yang lain ya? Papa tutup dulu, Papa mau mengurus Jenazah Tante Celine dulu. Kau dan yang lainnya langsung kerumah duka saja, tidak usah kerumah sakit" Jelas Tara lalu mematikan sambungan itu begitu saja.


"Maafkan aku Juna, aku tidak bisa menyelamatkan Istri mu dan juga... kau," Ucap Tara menyesal, dan duduk di kursi yang tidak jauh dari ruang inap Celine.


...⚡⚡⚡...


"Ada apa Kei?" Tanya Jaki penasaran.


"Jek, Tante Celine meninggal..." Jawabnya pelan.


"Huh? Maksud mu Mama Jaiden?" Tanya Jaki panik.


Keira pun mengangguk-angguk kepalanya pasti, " Ayo cepat kita kerumah Jaiden. Papa menyuruh kita untuk langsung kerumah duka," Jelas Keira.


"Ya sudah ayo!" Ajak Jaki bangkit dari duduknya, lantas keduanya pun langsung keluar dari rumah makan itu dan memasuki mobil milik Jaki.


"Kei cepat hubungi yang lainnya di grup," Pinta Jaki lalu menjalankan mobilnya dengan terburu-buru.


...Room Chat...


...Pathetic Group...


Keira :


P


P


P


P


P


Pengumuman!


Surya: Apa apa?


Riki: Hadir


Sufa : Why why why?


Kita kumpul dirumah duka cepat!


read


Ting!


Ting!


Ting!


Ting!


"Ck, berisik sekali!" Kesal Heri, lalu berusaha untuk mengambil ponselnya yang ada di kantongnya.


Karena susah, jadi Heri pun memutuskan untuk memberhentikan mobilnya. Karena takut itu adalah pesan penting, apalagi beruntun seperti itu.


"Kenapa?" Tanya Thalia.


"Sebentar ya," Sahut Heri lalu mengambil ponselnya.


Lantas Heri pun menbuka ponselnya dan membuka room chat yang berbunyi heboh tadi, "Astaga!" Pekik Heri langsung melempar ponselnya ke atas dashboard nya.


Heri pun menjalankan mobilnya dengan kecapatan diatas rata-rata.


Astaga, Heri juga sampai lupa kalau saat ini dirinya sedang bersama Thalia. Lantas Heri pun mengalihkan perhatiannya pada Thalia, yang nampaknya sangat terkejut dengan tindakannya barusan.


"Thalia, maafkan aku untuk mengatakan ini. Kau pulang naik taksi ya? Aku akan memesannya, aku ada urusan penting" Jelas Heri.


"Kenapa sih?" Tanya Thalia penasaran.


"Mama Jaiden, Mama Jaiden baru saja meninggal" Jawabnya.


"Apa?! Kau serius?! Ayo! Aku ikut!" Pinta Thalia.


"Kau yakin akan ikut?" Tanya Heri.


"Ayo cepat!" Pinta Thalia.


...⚡⚡⚡...


Dirumah Duka.


Jenazah Celine baru saja tiba di kediaman keluarga Renandra, ah tidak. Bukan di Massion milik keluarga Renandra. Tapi, dirumah yang Jaiden tempati selama ini.


Dino yang meminta itu, agar Jenazah Celine itu dirumah saja. Tidak usah dibawa ke Masion milik keluarga Renandra.


Jaiden dan Dino berada di mobil yang sama, bersama dengan Jenazah Celine. Keduanya berada di mobil ambulan, sedangkan Keisha satu mobil bersama Rena dan Jinata.


Bram, Kanta, Haura, Naura, Saka, dan Rina Adik bungsu Celine baru saja tiba bersamaan dengan jenazah Celine di rumah duka. Sedangkan teman-teman Jaiden, sudah berada di rumah duka sebelum Jenazah Cekine tiba.


Tangis langsung saja pecah, saat Jenazah itu baru saja diturunkan dari ambulan. Bahkan Rina Adik kandung Celine itu, tak kuasa untuk menahan tangisnya.


"Kak Celine hiks... Kakak kenapa tidak pamit dulu pada ku huh? Padahal Kakak sudah berjanji pada ku untuk tetap kuat Kak...hiks..." Isak Rina sembari memeluk Jenazah Celine.


Ah Jaiden, sayang sekali. Jaiden bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya sejak dirinya berumur 6 tahun, Jaiden sering merasa iri terhadap keluarga yang lengkap.


"Kei apa Jaiden tadi sudah makan malam?" Tanya Rena khawatir pada cucu semata wayangnya itu.


Keisha pun menggelengkan kepalanya pelan, "Belum nek..." Jawabnya.


"Jaiden..." Panggil Rina.


"Tante Rina..." Jawab Jaiden lirih, tanpa babibubebo Jaiden pun langsung memeluk Tantenya itu dan menangis di pelukan Rina."


"Tante...hiks... Jaiden sudah tidak punya siapa-siapa lagi..." Isak Jaiden.


Lantas Runa pun berusaha untuk menenangkan keponakannya itu, dengan menepuk-nepuk pelan punggung Jaiden.


"Tidak Jai, Jaiden masih punya Tante, Om Saka, Uncle Dino, Kakek dan Nenek oke? Kamu masih punya kita sayang..." Ucap Rina terisak.


Jaiden pun semakin mengeratkan pelukannya pada Rina, sungguh Jaiden merasa dirinya sudah tidak berguna lagi untuk hidup di dunia ini. Karena dirinya sudah tidak memiliki Ayah dan Ibu lagi, Jaiden merasa kehilangan arah.


Orang-orang yang berada di dekatnya, perlahan pergi meninggalkannya begitu saja.


Jaiden berharap, Mommy nya akan tenang diatas sana bersama dengan Dady nya.


Brukhh!