I Am Fine

I Am Fine
3 milliar



"Aku ini kenapa sih? kenapa dari tadi hanya ingin makan yang manis-manis saja? astaga ini sudah keberapa kali ya aku memesan makanan dan meminta Bi Sarah untuk membuatkan makanan untuk ku," gumam Celine sendiri.


Celine menatapi semua makanan yang sudah berserakan di ruang tv, sungguh saat ini Celine sangat takut apabila dia kegemukan. Karena semenjak 3 hari yang lalu, Celine tiada hentinya memesan makanan.


Namun, Celine sudah berkali-kali memeriksa timbangannya yang sama sekali tidak mengalami kenaikan.


Sangat aneh bukan? apa Celine saat ini sedang kecacingan? Itulah yang berada di benak Celine saat ini. lagipula itu tidak mungkin kan?


Ceklek


Juna baru saja keluar dari kamarnya, hari ini adalah akhir pekan. Jadi Juna pun memutuskan untuk menghabiskan waktunya untuk dirumah saja dan beristirahat.


Dan ini sudah menunjukkan pukul 12 siang, namun Juna baru keluar dari kamarnya. Ah tidak, pria itu baru saja bangun dari tidur panjangnya.


Celine menatap Juna yang baru saja turun dengan anak tangga, dengan rambut yang sangat berantakan menuju dapur.


Sangat tampan, pikir Celine.


Juna mengambil sebotol air minum di dalam kulkas, Juna sempat terkejut karena botol mineral yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu hanya tersisa dua di dalam kulkas.


Setelahnya Juna berjalan ke arah ruang tv dan melihat banyak sekali bungkus makanan, Juna kembali terkejut saat melihat ruang tv yang berantakan dengan sampah makanan.


"Cena, apa kau yang memakan ini semua?" tanya Juna binggung dan Celine pun membalas ucapan Juna dengan mengangguk.


Juna pun hanya mengindikkan bahunya saja, lalu Juna duduk di salah satu single sofa ruang tv.


Celine menatap Juna binggung.


"Celine" Panggil Juna.


"Ya?" Sahut Celine.


"Maaf soal 2 Minggu yang lalu, aku sedang dalam pengaruh alkohol. Aku tidak sengaja melakukannya maafkan aku," Ucap Juna tertunduk.


"..."


"Maaf kan aku, aku hilang kendali. Emm....aku tidak mengeluarkannya di dalam kan?" Tanya Juna hati-hati.


"Maksud kakak?" Tanya Celine yang kelewat polos.


Juna menggelengkan kepalanya, "Ah tidak apa-apa, maaf kan aku ya?" Ucap Juna.


Celine tidak menjawabnya, Celine masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Maaf juga soal di cafe.." Ucap Juna terputus.


"Tidak usah dibahas" Potong Celine cepat, karena entah kenapa Celine sangat membenci kejadian di cafe semalam.


Celine tidak mau membahasnya, karena Celine tidak mau matanya mulai memanas. Moodnya sedang bagus hari ini, jangan sampai Juna merusaknya karena membahas kejadian di cafe semalam.


hening.


"Kakak mau memesan makanan apa? aku ingin makan chicken spicy, biar sekalian" Ucap Celine pada Juna.


"Sama kan saja," sahut Juna.


...⚡⚡⚡...


Pagi ini Juna sudah rapi dengan pakaian kantornya dan hendak berangkat ke kantor. Sebelum berangkat ke kantor, hari ini Juna ingin sarapan roti degan selai kacang.


Jadi, Juna pun memutuskan untuk sarapan dirumah saja dan turun dari kamarnya, lalu kedapur.


Juna teringat sesuatu, kemana Celine? biasanya Celine selalu menganggu Bi Sarah di dapur jam segini.


"Apa dia masih tidur? belum bangun?" Batin Juna.


Juna mengindikkan bahunya binggung, untuk kesekian kalinya akhir-akhir ini Celine sangat aneh baginya. Ah tidak, ini sudah satu Minggu.


Dimulai dari hari dimana Juna yang selalu mendapati tong sampah rumahnya yang selalu penuh dengan sampah makanan dan Celine yang selalu bangun lama.


"Apa Celine belum bangun Bi?" Tanya Juna.


"Sepertinya belum Tuan muda, saya perhatikan Nyonya muda sering bangun terlambat akhir-akhir ini," Sahut Bi Sarah.


"Ada apa dengannya?" Gumam Juna, tapi masih terdengar oleh Bi Sarah.


"Mungkin saja sedang datang bulan Tuan muda, biasanya kalau seorang wanita sedang datang bulan akan suka bermalas-malasan atau malah suka bersih-bersih," Sahut Bi Sarah.


Juna pun hanya mengangguk paham saja.


Juna mendengar ada seseorang yang sedang menuruni anak tangga rumahnya, orang itu adalah Celine.


Celine pun menghampiri Juna yang sedang membuat sarapannya dengan mengoleskan selai pada roti bantal, yang sudah tersedia di atas meja makan.


"Kenapa sarapan dirumah? tumben sekali?" Ucap Celine tiba-tiba.


"Kau tidak suka aku sarapan dirumah?" Tanya Juna binggung.


"Cena? you okay?" Tanya Juna binggung.


Bi Sarah terkekeh pelan saat melihat interaksi Tuan muda dan Nyonya mudaya, menurutnya itu sangat mengemaskan.


Celine pun menatap Juna binggung "Okay, kenapa rupanya? apa aku terlihat seperti tidak baik-baik saja?" Taya Celine binggung, sambil memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya.


Juna pun menggeleng-gelengkan kepalanya, "Oh tidak, perasaan ku saja" Sahutnya.


Celine pun kembali berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol minuman dingin di dalamnya.


"Tidak biasanya kau meminum minuman botol? biasanya air hangat?" Tanya Juna.


"Sedang ingin, kenapa? apa kau tidak mengizinkannya?" Tanya Celine.


Bi Sarah kembali terkekeh pelan dan senyum-senyum sendiri.


Juna terkekeh geli, "Ambil saja, nanti aku bisa membelinya lagi" Sahut Juna, lalu memakan roti yang sudah di polesnya dengan selai kacang.


Setelah Juna sarapan dengan roti, Juna langsung bergegas ke kantor begitu saja tanpa pamit pada Celine.


"Apa kakak nanti sore kosong?" Tanya Celine.


"Ada apa?" Tanya Juna memberhentikan langkahnya.


"Bisa temani aku ke minimarket? aku ingin belanja bulanan," Sahut Celine.


"Kau kan bisa berangkat dengan," ucap Juna terputus.


"Aku tidak ingin pergi dengan sopir, aku mau pergi dengan Kakak," Ucap Celine yang terlihat kesal.


"Ada apa denganmu? kenapa tiba-tiba manja sekali?" Tanya Juna.


Celine tidak menjawabnya dan menatap Juna sinis dan tajam.


"Baiklah, nanti sore akan ku kabari," Sahut Juna.


Celine pun tersenyum lebar saat mendengar jawaban positif dari suaminya tersebut.


...⚡⚡⚡...


PLAK


"Kau butuh berapa?!" Ucap Rena berteriak, setelah menampar kekasih putra semata wayangnya, Lia.


"Maksud Tante?!" Tanya Lia tak terima.


Rena memutar bola matanya malas, "Segeralah tinggalkan anakku, menjauhlah darinya! Apa kau berpikir aku tidak tahu apa saja yang sedang kau lakukan akhir-akhir ini bersama putraku hah?! bahkan kau dengan beraninya mencoba membuat rumah tangga anakku hancur, kau juga menempelkan bibir busuk mu itu di atas kemeja mahal anak ku! Cih dasar wanita ******!" Ucap Rena sarkas pada Lia.


Lia tertawa sinis, "Apa Celine mengadu padanya?" Batin Lia.


"Aku mencintainya, Juna pun mencintai ku. Kami sama-sama saling mencintai, tapi kenapa kalian semua selalu berusaha menjauhkan ku dari Juna? bahkan kalian menjodohkan Juna dengan orang lain, jelas-jelas kalian mengetahui hubungan ku dengan Juna. Kenapa Juna tidak menikah saja dengan ku? kenapa harus Celine?!" Ucap Lia tak terima.


Rena mendesis.


"Apa hakmu? kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanya mencintai uang anakku? Bahkan kau masih tinggal di apartemen yang di belikan oleh Juna. Apa kau sekotor itu? hingga menjadi simpanan anak ku huh?! Apa harga diri mu sudah hilang? Hei kau sadarlah, Celine 100 kali lipat lebih baik darimu!" Ucap Rena manatap sinis Lia tak suka.


"Nyonya Rena aku tidak mencintai uang anak mu, aku mencintai anakmu dengan tulus," Sahut Lia dengan matanya yang mulai memanas.


"Menjauhlah dari anak ku, aku tidak akan pernah merestui hubungan mu dengan Juna. Meskipun kau berusaha untuk memiliki anak dari Juna, aku tidak akan menerima cucu dari rahim wanita ****** seperti mu!" ucap Rena kasar lalu bangkit dari duduknya.


"Cepat berikan padanya!" Pinta Rena pada asistennya.


"Pastikan kau menutup mulut mu itu karena sudah bertemu dengan ku, jika sempat putra ku mengetahuinya. Bukan kau saja yang ku tindas, tapi seluruh keluarga mu!" Ucap Rena.


Asisten Rena tersebut pun memberikan sebuah koper yang beirisi uang sebanyak 3 miliar pada Lia.


"Ku harap itu lebih dari cukup untuk mu untuk meninggalkannya!" Ucap Rena merendahkan Lia, lalu pergi dari tempat tersebut.


Apa kalian berpikir Lia menangis? tentu saja tidak, bahkan Lia tersenyum menang saat melihat uang 3 miliar itu. Namun senyumnya luntur karena mengingat Celine, sungguh sangat menyebalkan.


"Apa Celine mengadu pada Nyonya Rena, kalau aku selalu meninggalkan bekas bibir ku di kemeja Juna?!" Batin Lia kesal.


"Lihat saja kau Celine, aku akan memenangkan Juna" Gumam Lia.


...Room Chat...


Uknown number:


Bisa bertemu sebentar?


Ini aku Lia, kekasih Juna


read