I Am Fine

I Am Fine
124



...Without Jaikei...


...Riki telah menambahkan Keira, Jaki, Surya, Heri, Sufa, Fia, Jovan, ke dalam grup...


Sufa :


Eh apa nih?


Jovan :


Kok nama grupnya gitu? Kak Jaiden sama Kak Keisha benar-benar tidak di masukkan?


Sufa :


Bentar


Biar aku tambahkan


^^^Riki:^^^


^^^Jangan!^^^


...Riki telah mengubah setelan grup hanyabadmin yang dapat mengundang anggota...


Sufa :


Kenapa sih??


Keira :


Eh apa nih guys?


Heri :


Grup baru kah?


Surya : Kenapa tanpa Keisha dan Jaiden?


^^^Riki :^^^


^^^Urgent!^^^


^^^Tapi kalian jangan kaget ya^^^


^^^Kak Jaiden dan Keisha akan...^^^


Keira :


Apa sih?? Kau sedang bosan ya?


Jaki :


Akan apa?


Jovan : Cepat katakan!


^^^Riki :^^^


^^^Ok Kakak kakak^^^


^^^Teman-teman sekalian^^^


^^^Mohon bersabar^^^


^^^Jadi begini^^^


^^^Kak Jaiden dan Kak Keisha akan bertunangan^^^


Keira :


Apa?? Kau serius?


Ini nyata? Berita nyata??


...Keira memulai panggilan grup...


Lantas semuanya pun masuk ke dalam panggilan tersebut, kecuali Fia. Karena dirinya, sudah berada di alam mimpinya sendiri.


"Woi Riki kau sedang tidak bercanda kan?" Tanya Sufa.


Saar Surya membaca pesan yang Riki kirim tersebut pun merasa sedikit senang dan juga sedih, dirinya senang karena Keisha sendiri juga pasti akan senang pada hal tersebut.


Dan dirinya merasa sedih, karena lagi-lagi dirinya hanya sebatas teman saja dengan Keisha. Dirinya tahu, kalau Keisha sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapnya sedikit pun.


Surya menerimanya dengan lapang dada, cinta tidak bisa di paksakan jika hanya sepihak saja. Itu akan sulit menjalaninya, pikir Surya.


"Hei Riki sebentar! Lalu bagaimana hubungan Kak Jaiden dan Kak Thalia? Bukankah mereka sedang pacaran?" Tanya Sufa.


"Ck! Aku tidak tahu, ku rasa mereka pasti akan putus?" Ucap Riki tak yakin.


"Rencana?" Tanya Riki, Sufa, dan Jovan bersamaan yang memang tidak tahu soal rencana Jaiden pada Thalia.


"Ck, sudah menceritakan" Ucap Jaki sudah di potong oleh Sufa terlebih dahulu.


"Apa apaan? Sepertinya hanya kami bertiga saja yang tidak tahu! Ayo katakan Kak!" Pinta Sufa memaksa Jaki.


,"Babe, kau saja" Ucap Jaki pada Keira.


"Kok aku sih??" Sahut Keira.


"Ya jadi siapa?" Tanya Heri.


"Ck, Surya saja!" Pinta Keira.


"Jangan aku, aku tidak pandai merangkai kata-kata! Kalian tahu itu, kenapa jadi aku sih?" Gerutu Surya.


"Lah jadi ini tidak ada yang mau memberitahu kita?" Tanya Riki sedikit kesal.


...⚡⚡⚡...


"Jawab Papa, dengan siapa kau tidur di hotel? Sampai meninggalkan bekas di leher mu Thalia," Tanya Rafa pelan.


"Pa... Thalia sama sekali tidak tidur dengan siapa pun... Thalia tidak melakukan hal yang ada di pikiran Papa, Thalia di culik Pa..." Ucap Thalia jujur dan berusaha untuk meyakinkan Rafa.


"Kau di culik? Thalia, aku sendiri sudah meminta orang untuk melihat cctv depan sekolah.Dan kau pulang bersama supir pribadi yang aku kirimkan, Pak Joni sendiri juga mengatakan padaku."


"Kalau kau sendiri yang meminta di turunkan di lobi hotel, dan bilang padanya jangan bilang pada Papa. Apa-apaan ini Thalia huh?" Tanya Rafa.


"Apa Papa yakin Pak Joni berkata seperti itu? Pa," Ucap Thalia terpotong karena dirinya sudah di tampar terlebih dahulu oleh Rafa.


"Apa susah sekali bagi mu untuk berkata jujur hah?! Apa susahnya kau tinggal mengatakan dengan siapa kau kesana Thalia?! Kenapa kau melindungi pria itu hah?!" Bentak Rafa pada Thalia.


Rafa pun mejambak rambut Thalia, dan menarik Thalia paksa untuk masuk ke kamar tamu yang disediakan untuk Thalia tidur malam ini.


Shakila membelalakkan matanya terkejut, saat melihat apa yang terjadi di depan matanya. Baru kali ini dirinya melihat Rafa melakukan hal tersebut, karena Rafa tidak pernah melakukan hal seperti itu padanya.


Shakila bahkan tak menyangka, kalau suaminya akan bertindak sejauh itu pada Thalia.


"Wah..." Ucap Shakila salut, lalu mengikuti kemana Rafa membawa Thalia.


"Kau masih tidak mau mengatakannya huh?!" Bentak Rafa.


"Rafa... tenangkan dirimu" Ucap Shakila hendak menahan Rafa yang membawa Thalia ke dalam kamar mandi.


Menurut insting Shakila, Rafa pasti akan merendam gadis itu.


"Jangan seperti ini ku mohon... aku takut..." Ucap Shakila menangis buaya.


"Ck, lepaskan Shakila! Anak ini harus di beri hukuman dan pelajaran!" Ucap Rafa menyentak Shakila yang memegangi kegannya hingga membuat Shakila terjatuh ke lantai.


Dan dengan sengajanya, Shakila malah mengantukkan kepalanya ke lantai. Shakila ingin membuat perhatian Rafa tertuju padanya, dan membiarkan Thalia.


"Astaga Shakila!" Ucap Rafa panik menghampiri istrinya.


"Maaf, kau tak apa?" Tanya Rafa memegangi wajah Shakila untuk memastikan bahwa istrinya itu tidak terluka sedikit pun karenanya.


Shakila pun menggelengkan kepalanya, " Aku tidak papa. Aku takut..." Ucap Shakila menangis. "Jangan menyiksanya sepeti itu," Lanjut Shakila menangis buaya.


Rafa menghela nafasnya kasar, dan membawa Shakila ke dalam dekapannya. "Maaf, maafkan aku" Ucap Rafa dan Shakila tersenyum senang rencananya berhasil.


"Papa jahat!" Pekik Thalia berteriak, hingga membuat pelukan keduanya terlepas dan menatap Thalia terkejut.


"Papa tidak sayang sama Thalia, Papa berubah! Papa hiks..." Ucap Thalia sudah tahan dan meneteskan air matanya.


"Papa juga tak sekhawatir itu, saat Papa sudah menyiksa Thalia habis-habisan dirumah. Hiks... Papa bahkan tidak menghawatirkan kondisi Thalia seperti dulu... Papa sudah tidak sayang lagi pada Thalia."


"Sepertinya Papa akan senang kan? Kalau Thalia hilang selama-lamanya dari hidup Papa? Pa ayo... sekarang juga, bunuh saja Thalia sekarang. Agar Thalia tidak menganggu kehidupan bahagia Papa, atau Papa ingin Thalia sendiri yang mengakhiri hidup Thalia di depan Papa?" Tanya Thalia sambil mencari sebuah benda yang terdapat di dalam kamar.


Bingo!


Thalia langsung berjalan cepat, untuk menuju malas yang terdapat disana. Dan mendapatkan sebuah gunting, yang entah mengapa bisa berada disana.


Rafa dan Shakila yang melihat itu pun langsung membelalakkan matanya tak percaya, dan tekejut.


"Thalia?! Astaga apa yang kau lakukan?!" Bentak Rafa berjalan mendekat pada Thalia berusaha untuk mengambil gunting itu dari tangan gadis itu.


"Jangan dekat-dekat Thalia! Papa tidak sayang lagi kan sama Thalia? hiks... baiklah... kalau Papa ingin Thalia pergi selamanya dari dunia ini, Thalia tidak akan lagi menganggu Papa."


"Thalia juga bukan anak kandung Papa, anak kandung Papa cuma Keisha dan Rio. Bahkan Thalia sendiri, tidak tahu siapa ayah kandung Thalia sebenarnya. Tahlia sudah lelah, capek dengan semuanya. Thalia ingin cepat-cepat segera untuk beristirahat Pa..." Jelas Thalia.


"Thalia sebentar, coba kau pikirkan baik-baik jangan seperti ini sayang. Ayolah, Papa sangat menyayangi mu hei. Ayo kesini mendekatlah, Papa ingin memeluk mu" Ucap Rafa membujuk Thalia.


Srak!


"Akhh..." Ringis Thalia.


Thalia menusuk tangannya, tepat di nadi Asteria radialjs yang berada di pergelangan tangan kirinya.