I Am Fine

I Am Fine
Celine koma



"Jangan ganggu istri ku!" Ucap Juna pada Saka.


"Apa? Juna menganggap Celine sebagai istrinya? sejak kapan hah?!" Batin Lia kesal tak terima.


Bugh!


Satu Bogeman melayang dari Saka pada wajah tampan Juna.


Setelahnya, Saka hendak membuka pintu ruangan tersebut. Namun tertahan, karena Juna membalas memukul wajah mulus dan tampan Saka.


Bugh!


"Juna! Stop!" teriak Lia berusaha memisahkan Juna dan Saka, bahkan Lia berusaha menarik lengan Juna agar berhenti.


Bram dan Kanta pun ikut menahan Juna dan Saka, namun tidak berhasil.


"Lepaskan Lia!" Ucap Juna lalu mendorong Lia secara kasar.


Untung saja ada Bram yang menahan Lia agar tidak terjatuh, kalau saja terjatuh mungkin entah apa yang terjadi.


Juna pun kembali memukul Saka, hingga terjatuh dan Saka mengelap bibirnya yang sudah mengeluarkan darah segar.


Saka pun melihat keterangan yang tertera di atas pintu itu 'gudang' dan melihat dari celah-celah atas pintu tersebut kalau ruangan itu tidak memiliki cahaya lampu.


Saka baru tersadar, maka dari itu Celine tidak mengeluarkan suara apa pun dari dalam sana.


sontak Saka langsung melebarkan matanya tidak percaya, bagaimana bisa Juna tidak tahu kalau hal ini dapat membahayakan Celine seperti ini.


"*nj*ng Juna! cepat buka pintunya Celine tidak bi," Ucap Saka terpotong.


"Sudah lah Saka! kau ini tidak usah mengurusi rumah tangga ku, Celine adalah hak ku!" Ucap Juna kesal pada Saka.


"Astaga apa Juna sekarang sedang cemburu?" Tanya Bram pada Kanta.


"Enak saja! jangan mengada-ada Juna itu hanya mencintai Lia seorang!" Sahut Lia tak terima.


"Tuhan itu maha membalikkan perasaan Lia," Sahut Bram.


Bugh!


"Hei Saka sudah lah! kenapa kalian ini sangat kekanakan? bicara kan saja baik-baik jangan seperti ini!" Protes Bram berusaha memisahkan keduanya.


"Tidak bisa Bram, Juna sudah kelewatan! Juna dimana kau letakkan otak mu itu hah?! kau tidak tahu? Celine tidak bisa berada di tepat gelap *nj*ng!" Umpat Saka kesal pada Juna , "She has claustrophobia bodoh!" Kesal Saka pada Juna.


Juna terdiam dan...


Bugh!


Sekali lagi Saka memberikan pukulan tersebut pada Juna, hingga membuat Juna tersungkur ke lantai.


Saka pun dengan cekatannya membuka pintu tersebut dengan nafas yang terburu-buru.


"Celine!" Teriak Saka terkejut.


"Astaga Celine?! you okay hm? Cena kau bisa mendengar ku?" Ucap Saka sambil membawa Celine ke dalam pelukannya.


Sama menggenggam tangan Celine dan merasakan bagaimana dinginnya tangan Celine dan bergemetarannya Celine dengan wajah pucatnya, bahkan nafasnya tidak beraturan.


"Celine? hey sadarlah aku disini sekerang, Cena look at me please..." lirih Saka yang sudah panik.


Celine pun akhirnya tersadar dan menatap ada seseorang yang sedang memeluknya, Celine menatap Saka sejenak. Namun padangannya kembali memburam lalu tak sadarkan diri.


Juna?


Juna terdiam, Juna sudah melihat semuanya. Juna sangat terkejut, Juna tidak tahu kalau ternyata Celine mengidap claustrophobia.


"Bram! Cepat telpon kan ambulan kesini!" Panik Saka.


Saka pun memutuskan untuk mengendong Celine, tapi sebelumnya Saka melepaskan jasnya terlebih dahulu dan memakaikannya pada Celine.


"Brengsek!" ucap Saka pada Juna saat melewati Juna.


...⚡⚡⚡...


Saat ini Celine sudah berada di ruang IGD dan sudah ditangani oleh Tara, Juna terdiam dan baru saja menyadarinya kalau yang dilakukannya pada Celine sungguh sudah sangat kelewatan.


Tidak seharusnya Juna membuat Celine masuk rumah sakit, apalagi mengingat kalau saat ini Celine sedang mengandung calon anaknya.


Apa kandungan Celine akan baik-baik saja?


"Saka maaf kan aku, aku tidak tahu tentang ini" Ucap Juna tiba-tiba.


"Juna aku tidak ingin kita seperti ini, aku tidak menyangka kau kan melakukan ini. Aku bahkan tidak menduga kalau ternyata kau lah yang menikahinya" Sahut Saka yang masih kesal pada Juna.


"Maafkan aku Kal" Sahut Juna dan mengusap rambutnya kasar.


"Hubungi secepatnya Om Tanaro dan Tante Joya, termasuk keluarga mu Juna. Kita tidak akan tahu apa yang akan di alami Celine setelah ini" Ucap Saka seperti sedang menakut-nakuti Juna.


Juna pun mengangguk dan menjauh dari ruang IGD tersebut untuk menghubungi kedua orang tuanya dan orang tua istrinya.


"Lia bukankah kau sebaiknya pulang saja? apa kau ingin memperburuk keadaan disini? kau sungguh gadis yang tidak tahu malu" Ucap Saka lantang dan kasar pada Lia.


"Lia Saka benar, sebaiknya kau pulang saja. Menurut mu apa yang akan terjadi jika orang tua Juna melihat mu berada disini? mereka pasti berpikir ini berhubungan dengan mu" Sahut Bram.


"Tidak! kenapa juga aku harus pulang? aku akan menemani kekasihku disini!" Sahut Lia keras kepala.


Saka mengehela napasnya kasar lalu menatap dingin Lia "Sudah lah Lia, jangan memperburuk keadaan disini" Sahut Saka.


Bram dan Kanta pun menarik Lia paksa untuk pergi dari rumah sakit.


"Lepaskan! aku bisa berjalan sendiri!" Protes Lia kesal karena diusir.


"Baguslah kalau begitu, kau ini memang sangat merepotkan" Sahut Kanta.


"Menyebalkan!" Ucap Lia lalu pergi dari rumah sakit.


Tara pun keluar dari ruang IGD tersebut disaat Juna yang baru saja kembali setelah menelepon kedua orang tuanya dan orang tua Celine.


"Juna apa kau gila?!" Maki Tara pada Juna.


Juna yang baru saja sampai pun langsung terkejut oleh ucapan sahabatnya tersebut, Juna sangat takut akan terjadi sesuatu pada istrinya dan calon anaknya.


"Bagaimana Tara? apa Celine baik-baik saja?" Tanya Saka khawatir.


Tara menghela napasnya kasar dan melirik tajam Juna.


"Aku sudah berusaha sebaik mungkin, kita hanya bisa menunggu keajaiban yang akan diberi Tuhan. Untung saja Celine segera dilarikan kerumah sakit, apa Celine memiliki trauma pada masa lalunya? ku rasa Celine tidak hanya mengidap claustrophobia. Bahkan akhir-akhir ini sepertinya Celine selau meminum obat penenang dan aku sudah pernah membicarakan ini dengan Juna sebelumnya" Ucap Tara menatap kesal Juna atas perbuatan temannya tersebut.


"Aku khawatir Celine akan tidur dan koma, untuk saat ini kita hanya dapat menunggu sampai kapan pasien dapat merespon dan tersadar dari tidurnya. Apabila Celine koma lebih dari seminggu, aku angkat tangan. Karena aku yakin Celine akan tidur dalam waktu yang lama, Celine juga kehilangan calon anaknya. Apa sekarang sudah merasa puas Juna? kau sudah membunuh anak mu sendiri!" Ucap Tara.


"Ce.. Celine mengandung?" Ucap Saka tak percaya menatap Juna.


Begitu pun dengan Bram dan Kanta, bahkan mereka berdua tidak mengira kalau Celine akan hamil. Saat mengingat Juna tidak menerima Celine sebagai istrinya.


Setau Bram dan Kanta yang ada di pikirannya hanya Lia, Lia dan Lia saja.


Juna pun tertunduk dan menangis dalam diam karena menyesali perbuatannya pada Celine dan calon anaknya.