
Drtt drtt drtt
"Saka?!" Ucapnya Semangat dan langsung bangun dari duduknya, saat mendapat telepon dari sahabatnya tersebut.
Tanpa babibubebo dan tanpa ragu-ragu, Celine langsung saja menjawab telepon dari sahabat yang selalu ia rindukan tersebut.
"Halo Saka?"
"Halo Cena? maaf aku baru bisa menelepon mu"
"Tidak papa, apa kabarmu? kau baik-baik saja?" Tanya Celine.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Tanya Saka berbalik pada Celine.
"Aku juga baik, kau...jadi ke Indonesia?" Tanya Celine.
"Hm, aku akan kesana 1 bulan lagi dan apa kau tahu?" Tanya Saka.
"Apa apa?" Tanya Celine penasaran.
Saka terkekeh, "Apa kau sekarang dalam perasaan bahagia? Aku akan tinggal di Indonesia selama 3 Minggu," Ucap Saka ditelepon.
"Kau serius?!" Tanya Celine antusias.
Saka terkekeh geli, "Iya Celine, astaga. Apa kau sangat senang aku akan mengunjungi mu?" Tanya Saka.
"Tentu saja aku senang! aku senang sekali jika kau berada disini!" Ucap Celine semangat di telepon.
"Baiklah aku akan pulang untuk mu Tuan putri, Oh iya Cena galeri seni mu akan buka di bulan September kan?" tanya Saka pada Celine.
"Iya, kenapa? kau bisa datang kan nanti?" Tanya Celine pada Saka.
"Aku kosong dari tanggal 1 sampai 4."
"Yah, kenapa hanya sebentar saja sih?" Ucap Celine di telepon kecewa.
"Ya mau bagaimana."
"Yasudah tak apa aku akan membuka galeri ku tanggal 2, karena tanggal 1 aku yakin kau pasti lelah karena baru sampai kan dan tanggal 3 kita akan pergi untuk berjalan-jalan, lalu tanggal 4 kau kembali ke LA, bagaimana cocok?" Jelas Celine panjang lebar.
"Hahaha cocok cocok, aku menyetujuinya. Kalau begitu kau tentukan saja kemana tempat yang ingin kau kunjungi bersama ku nanti ya?" Ucap Saka di telepon.
"Oke serahkan saja padaku!" Sahut Celine semangat.
"Baiklah, kalau begitu ku tutup dulu teleponnya ya! aku ada meeting 15 menit lagi" Pamit Saka pada Celine.
"Ay ay captain! semangat ya Pak CEO!" Ucap Celine pada Saka.
Saka terkekeh, "Iya iya, terima kasih cantik!"Sahut Saka.
Tut
Saka pun mengakhiri panggilan tersebut.
Celine mengehela napasnya kasar, badannya masih basah kuyup karena baru saja selesai berenang.
Celine mengalihkan atensinya saat melihat Bi Sarah yang sedang berjalan menuju tempatnya berada.
"Kenapa Bi?" Tanya Celine.
"Emm Nyonya muda...apa ini belas lipstik Nyonya muda atau lipstik orang lain?" Ucap Bi Sarah sambil menunjukkan kemeja putih Juna pada Celine.
Celine termenung sebentar, karena binggung harus menjawab apa.
"Sudah 4 hari terakhir saya bekerja disini, saya selalu menemukan ini di baju kemeja Tuan muda Nyonya," Lanjut Bi Sarah.
Celine mengigit bibir bawahnya sejenak lalu bangkit dari duduknya dan mengambil alih kemaja Juna yang berada di genggaman Bi Sarah.
"Oh bekas lipstik ini ya Bi? ini bekas lipstik Celine kok, Celine sengaja memberi kecupan di kemeja Kak Juna sebelum berangkat ke kantor. Supaya tidak ada yang berani mendekati kak Juna," Ucap Celine berbohong pada Bi Sarah.
Bi Sarah pun mengangguk paham walaupun terbesit rasa curiga pada dirinya.
"Baiklah kalau begitu Nyonya muda, kalau begitu saya izin permisi dulu," Ucap Bi Sara lalu meninggalkan Celine di pinggir kolam renang.
"Astaga, apa yang harus ku lakukan sekarang?" Batin Celine.
...⚡⚡⚡...
Tok tok tok
"Loh siapa yang bertamu jam segini? apa kak Juna? tapi kenapa harus mengetok pintu dulu, biasanya juga langsung masuk" Gumam Celine sendiri sambil berjalan menuju pintu utama.
Ceklek
"Astaga kak Juna?! Kak Juna kenapa kak?" Tanya Celine panik pada Bram, yang sedang membantu Juna karena mabuk.
"Maaf ya, tadi Juna minum-minum di bar bersama ku. Eh malah sampai teller begini, maaf ya Celine aku jadi merepotkan mu," Ucap Bram lembut pada Celine.
"Iya kak, tidak apa apa" Sahut Celine sambil mengambil alih Juna dari Bram.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, maaf merepotkan mu" Ucap Bram tak enak pada Celine.
Celine pun mengangguk, "Iya kak, tak apa. Kak tolong tutup pintunya ya! Cena susah soalnya lagi megang kak Juna" Ucap Celine.
Bram pun mengangguk dan menutupi pintu rumah kedua pasutri tersebut.
"Astaga kak Juna! kenapa berat sekali sih?!" Protes Celine yang keberatan saat membopong badan berat Juna.
Celine pun membawa Juna ke dalam kamarnya, Celine menidurkan tubuh Juna di kasur king Sizenya Juna. Lalu Celine pun membantu Juna untuk membuka sepatunya dan kaos kakinya.
Setelahnya Celine melonggarkan dasi Juna agar Juna dapat tidur dengan nyaman, namun tangannya terhenti. Karena Juna menahan tangan Celine yang sedang berusaha melonggarkan dasi Juna.
"Lia? mengapa kau disini huh? hehehe aku senang sekali melihat mu ada disini" Ucap Juna tiba-tiba, Juna mengira bahwa perempuan yang berada di hadapannya ini adalah Lia, bukan Celine istrinya sendiri.
Celine terdiam dan matanya mulai memanas, Juna pun menarik Celine ke dalam dekapannya.
"Kak Juna lepas ini aku Celine..." Lirih Celine berusaha melepaskan paksa dekapan Juna.
Tapi Juna sama sekali tidak menggubrisnya, bahkan Juna mempererat dekapannya pada Celine yang dianggapnya adalah kekasihnya, Lia.
Celine terisak dalam pelukan Juna dan Juna pun menyadarinya, namun sayangnya Juna masih berpikir bahwa Lia lah yang menangis saat ini bukan Celine.
"Lia? kenapa kau menangis hey?" Ucap Juna lalu meraih pipi mungil Celine.
"Kak...aku Celine.." Ucap Celine sambil terisak.
Celine tak sanggup untuk menahan bendungan besar air matanya, yang sudah siap lolos begitu saja melewati pipinya. Sangat sakit rasanya saat suaminya menyebut nama orang lain, padahal jelas-jelas yang di hadapan suaminya itu adalah dirinya bukan Lia, kekasih suaminya.
Juna make a love bersama Celine, namun Juna berpikir kalau dia melakukannya bersama Lia. Bahkan Juna selalu mendesahkan nama Lia, padahal jelas-jelas di hadapannya adalah Celine.
Semabuk itu kah Juna?
Sesayang itu kah Juna pada Lia?
...⚡⚡⚡...
Celine terisak di pinggir ranjang Juna sambil membalut tubuhnya dengan selimut tebal Juna, karena saat ini Celine sama sekali tidak memakai sehelai benang pun pada tubuhnya.
Juna pun terbangun saat isakan Celine itu mulai masuk kedalam telinganya, Juna agak terkejut saat melihat Celine berada di dalam kamarnya dan terbalut selimut tebalnya.
Dengan sigapnya Juna pun langsung melihat dirinya yang sudah tidak berbalut degan sehelai benang pun.
"Ce..Cena" Panggil Juna ragu-ragu.
"Kak Juna jahatt, hikss...Jahat!" Ucap Celine sambil terisak.
"Maaf..." Lirih Juna.
Celine terus terisak, Juna ingin meraih Celine untuk membawanya ke dalam dekapannya. Namun Celine menjauh dari Juna untuk menolak Juna.
Juna terdiam, sungguh keadaan ini sangat kacau, Juna juga melihat di atas selimut ada bercak merah.
"Apa ini pertama kali bagi ya?" Batin Juna.
Juna mengacak rambutnya kasar, "Maaf aku kelepasan, maaf juga kalau tadi malam aku bermain dengan kasar tadi malam," Ucap Juna lalu bangun dari tidurnya dan menuju ke dalam kamar mandi.