
"Keira Keira Keira!" Panggil Fia sambil memukul-mukul Keira, karana saat ini keduanya sedang meyebar dan mencari bahan gosip ke kelas tetangga.
"Astaga apa sih Fia?" Tanya Keira kesal, karena dirinya sedang asik menyimak cerita dari Dara.
"Itu Keisha di gendong sama Surya!" Ucap Fia menunjuk dimana kedua Insan itu berada.
Lantas Keira pun melihat arah tunjuk tangan Fia, seketika matanya langsung membola. "Astaga apa yang terjadi? Ayo kesana!" Ucap Keira panik dan langsung menarik Fia untuk mengikuti Surya.
"Dara nanti kita sambung lagi ya!" Teriak Keira meninggalkan Dara yang masih terbengong-bengong.
Di UKS
"Astaga ada apa ini?" Tanya Dokter UKS itu terkejut saat Surya mendobrak pintu UKS brutal, sembari mengendong Keisha.
"Bu saya tidak tahu Keisha kenapa, tapi dia keringat dingin dan wajahnya pucat sekali" Jelas Surya khawatir.
Lantas Dokter itu menelisik gerak-gerik Keisha, "Apa dia ada gangguan mental atau trauma?" Tanya Dokter itu.
"Huh?" Ucap Surya.
"Ya sudah Surya, tolong ambil kan air hangat di kantin ya! Ibu mau ambil obat untuk Keisha dulu sebentar," Ujar Dokter itu.
"Baik Bu," Sahut Surya lalu pergi meninggalkan ruang kesehatan.
Namun sebelum Dokter itu mengambil obat untuk Keisha, Dokter itu bertanya terlebih dahulu pada Keisha. "Apa kau mengonsumsi obat penenang jika panic attack mu kambuh?" Tanya Dokter itu.
Lantas Keisha pun menganggukkan kepalanya pelan, "Baiklah kau tunggu sebentar," Ucap Dokter itu lembut.
Brakh!
Pintu ruang kesehatan terbuka, dan menampilkan Riki, Keira, dan Fia di depan pintu itu.
Riki menghela nafasnya kasar, bahkan dirinya masih merasa ngos-ngosan. Saat dirinya mendapatkan panggilan dari Keira, kalau Kakaknya itu sedang berada di ruang kesehatan.
Dokter itu pun tak kalah terkejutnya, hampir saja jantungnya lepas.
Tanpa basa-basi dan izin Dokter, Riki langsung saja masuk ke dalam dan membawa Keisha ke dalam pelukannya.
Riki berusaha untuk menenangkan Kakaknya itu, karena dari yang Riki tahu. Kalau Keisha sudah kambuh seperti ini, Keisha itu harus dipeluk.
Siapa lagi yang mengatakannya, kalau bukan Keisha sendiri?
Keisha pun merasakan ketenangan, dan memejamkan matanya pelan. Dokter penjaga ruang kesehatan itu pun mengedipkan matanya berkali-kali binggung, "Apa dia sering mengalami panic attack? " Tanya Dokter itu pada Keira.
"I..iya Bu," Jawab Keira ragu. "Itu... Riki Adiknya Keisha Bu," Lanjut Keira.
"Ah begitu ya... Ya sudah ayo biarkan saja dulu mereka," Ucap Dokter itu.
Saat Keira dan Fia hendak keluar dari ruang kesehatan, pintu UKS baru saja terbuka kembali. Dan menampilkan Surya yang sedang mebawakan segelas air hangat.
Eh kalian?" Ucap Surya binggung.
"Stttt," Ucap Keira meletakkan tangannya di bibirnya, lalu menarik Surya paksa untuk keluar dari UKS.
"Eh eh ini Kei, bentar airnya!" Ucap Surya, lalu Surya pun memberikan air hangat itu pada Dokter dan setelahnya menuju Keira dan Fia.
"Hei apa yang terjadi pada Keisha?" Tanya Keira pada Surya, saat Surya baru saja keluar dari ruang kesehatan itu.
"Entahlah, tadi Keisha tak sengaja menabrak ku. Lalu berubah menjadi seperti itu," Jelas Surya.
...⚡⚡⚡...
"Thalia!" Panggil Jaiden saat mendapati kekasihnya itu yang sedang berada di perpustakaan.
"Tidak ke kantin?" Tanya Jaiden, saat dirinya sudah berada disebelah Thalia.
"Eh? Kenapa tahu aku disini?" Tanya Thalia.
Jaiden pun hanya tersenyum saja, "Menebak saja. Kau sedang apa?" Tanya Jaiden melirik buku bacaan milik Thalia.
"Jaiden," Panggil Thalia.
"Hmm?" Sahutnya.
"Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan pada mu," Jelas Thalia.
Lantas Jaiden yang awalnya sedang melihat ponselnya itu pun mengalihkan perhatiannya pada Thalia, "Soal apa?" Tanya Jaiden, lalu menyelipkan rambut Thalia ke belakang kuping gadis itu.
"Sebenarnya aku dan Keisha," Ucap Thalia terpotong.
"Saudara tiri?" Potong Jaiden.
"I... Iya" Jawab Thalia gugup dan tertunduk.
"Aku tidak pernah menyangka soal ini, dunia memang benar-benar sempit sekali. Kau tak akur dengannya?" Tanya Jaiden.
"Apa apaan ini? Keisha juga mengatakan pada Jaiden kalau kami tak akur? Astaga kenapa anak itu menyebalkan sekali?!" Gerutu Thalia dalam hati.
"Hm... aku dan Keisha tidak terlalu akur," Jelas Thalia.
Lantas Jaiden pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Keisha tadi malam menginap dirumah ku. Dia menangis, bisakah kau untuk menerimanya saja? Aku tidak ingin melihat Keisha menangis dan sedih," Jelas Jaiden pada Thalia.
"Kau dan Keisha hanya teman kan?" Tanya Thalia.
Jaiden pun terdiam, dan dirinya enggan untuk menjawab pertanyaan yang barus aja dilontarkan Thalia padanya.
Thalia tertawa pelan saat melihat reaksi Jaiden, "Apa kau menganggap Keisha lebih dari teman Jai? Kau bahkan membiarkannya untuk tidur dengan mu kan?!" Pekik Thalia dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
"Aku tidak tidur dengan Keisha Thalia! Jangan mengada-ada, aku tidak ingin bertengkar seperti ini di perpustakaan" Jelas Jaiden mengecilkan suaranya.
"Kau yakin? Lalu bagaimana dengan ini?" Tanya Thalia menunjukkan ponselnya pada Jaiden.
Thalia menunjukkan pesan yang dikirimkan Keisha padanya kepada Jaiden, Jaiden juga terkejut saat melihat pesan tersebut.
"Apa apaan ini?!" Batinnya.
Keisha :
*mengirim gambar*
Kau yakin merasa dirimu menang Thalia Auriya? Ku rasa Keisha Sandika yang menang kali ini bukan?
read
Jaiden merasa ada sesuatu yang aneh, dan memilih untuk menbaca chat kedua gadis itu dari atas.
"Astaga kenapa aku bodoh sekali?!" Batin Thalia saat dirinya bru menyadari pada perubahan air muak Jaiden yang menjadi datar.
...*Room Chat...
...26 Oktober 2021*...
^^^Thalia :^^^
^^^Kurasa kita harus bicara^^^
^^^Ayo bertemu^^^
^^^Taman di dekat rumah mu^^^
Keisha : Ok
...28 Oktober 2021...
^^^Thalia :^^^
^^^*mengirim pesan suara*^^^
"*Jaiden apa boleh aku bertanya?"
"Anything, mau menanyakan apa?"
"Maaf untuk menanyakan ini, apa hubungan mu dengan Keisha?"
"Teman*"
"Sialan, dia menggunakan ku!" Batin Jaiden sembari menatap Thalia sinis, sedangkan yang ditatap pun hanya dapat mengalihkan perhatiannya.
^^^Thalia:^^^
^^^Bagaimana?^^^
^^^Kau sudah mendengarnya kan Keisha?^^^
^^^Ku harap kau tidak perlu berhaarap lagi pada Jaiden^^^
^^^Aku berhasil membuatnya beralih padaku, dalam waktu 2 bulan^^^
^^^Apa kau nanti mau lihat dimana Jaiden akan menembak ku?^^^
^^^Kau datang saja ya?^^^
^^^Di taman dekat rumah Jaiden^^^
^^^Thalia:^^^
^^^*mengirim gambar*^^^
^^^Bukankah kalung ini sangat cantik?^^^
Keisha:
Kau sengaja kan?
Kau sengaja menggunakan Kak Jaiden untuk balas dendam dengan ku?
^^^Thalia:^^^
^^^Aku memang menyukai Jaiden^^^
^^^Tapi karena aku tahu kalau kau juga menyukainya^^^
^^^Aku juga memanfaatkan^^^
^^^Aku memanfaatkan hubungan ku dengan Kak Jaiden untuk balas dendam^^^
^^^Bagaimana rasanya?^^^
^^^Ku rasa itu belum impas atas apa yang sudah kau rebut dariku Keisha^^^
Keisha :
Buang niat mu itu jauh-jauh untuk balas dendam padaku
Karena nyatanya aku memang anak kandung Papa.
Keisha :
*mengirim gambar*
Kau yakin merasa dirimu menang Thalia Auriya? Ku rasa Keisha Sandika yang menang.
read
"Apa kalian menjadikan ku ajang taruhan Thalia?" Tanya Jaiden tak percaya.
Lantas Thalia pun menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak Jai, bukan itu. Kau salah paham..." Jelas Thalia lirih.