I Am Fine

I Am Fine
25 Tahun yang lalu.



Rena menggulum bibirnya, rasanya Rena sangat ragu dan enggan membicarakan persoalan ini bersama Celine. Karena Rena tidak ingin kembali membuka luka kenangan yang lama, bahkan itu sudah terkubur selama 25 tahun lebih belakangan ini.


Rena pun meraih tangan menantunya tersebut.


"Ma ada apa? Kenapa seperti ini?" Tanya Celine binggung.


"Celine maafkan Mama, Mama bukan ingin membuka kenangan buruk dan membuat mu merasa terluka. Kau ingat tidak kejadian yang pernah kau alami saat kau berusia 6 tahun?" Tanya Rena.


"Ma...maksud Mama?" Tanya Celine binggung.


"Kau ingat saat kau diculik dengan penjahat? Kau sedang bersama anak laki-laki kan?" Ucap Rena pada Celine.


Celine pun mengangguk ragu.


"Anak itu Juna Celine, Juna kehilangan ingatannya saat itu. Karena kepalanya tertimpa besi dan sepertinya setelah melihat foto kecil mu, Juna mengigat kembali kejadian tersebut. Mama tidak tahu apa yang akan terjadi pada Juna, Mama sangat khawatir dengannya. Mama...hiks..." Ucap Rena yang sudah tak tahan untuk menahan tangisnya di depan Celine.


"Kak Juna...adalah kak Renan?" Ucap Celine sambil menahan tangisnya.


Rena mengangguk.


"Wah aku tidak bisa mempercayai ini," Batin Celine.


...⚡⚡⚡...


"Kei," Panggil Tara.


"Papa? Siapa dia?" Ucap Keira sambil menunjuk pada Jaiden.


"Kei jangan seperti itu, tidak sopan menunjuk orang dengan tangan. Jangan di ulangi lagi okay?" Nasehat Tara pada anaknya.


"Maafkan aku Pa," Ucap Keira tertunduk.


"Ini Jaiden anak om Juna," Ucap Tara pada Keira, "Ayo Jaiden masuk, apa kau menginginkan sesuatu seperti makanan mungkin?" Tanya Tara.


"Tidak Om, terima kasih" Sahut Jaiden sopan.


"Om Juna itu teman Papa yang tampan dan kaya itu ya?" Tanya Keira penasaran pada Tara.


Tara pun hanya menjawab dengan anggukan saja.


"Wah apa Om Juna memiliki anak laki-laki? bukankah" Ucap Keira terpotong.


"Hentikan Kei," Ucap Tara pada Keira.


Keira pun dengan cepatnya, menutup mulutnya rapat-rapat.


"Bisakah Papa tinggaljan kalian disini sebentar? Papa ada jadwal operasi."


"Tentu saja, aku akan menjaga Jaiden," Ucap Keira santai.


"Ck, apa apaan dia juga anak kecil" Batin Jaiden kesal.


Tara terkekeh, "Baiklah kalau begitu jangan nakal ya! Sebentar lagi Mama akan menjemputmu dan Jaiden" Ucap Tara sambil menepuk kepala Keira dan Jaiden secara bergantian.


"Oke Pa, semangat!" Sahut Keira.


"Terima kasih sayang," Ucap Tara.


"Jaiden tidak apa-apa kan, Om tinggal disini bersama Keira? Nanti Mama Keira akan menjemput kalian, ikut saja ya nanti dengan Tante Naura ya!" Ucap Tara pada Jaiden.


"Tidak apa-apa Om, Terima kasih Om," Sahut Jaiden.


Tara pun mengangguk dan keluar dari ruang kerjanya tersebut, meninggalkan keduanya. Kedua anak kecil tersebut pun, memperhatikan Tara yang keluar dari ruang kerja tersebut. Setelahnya Keira pun menatap Jaiden, hingga membuat Jaiden menjadi salah tingkah.


"Jangan menatap ku seperti itu," Ucap Jaiden enggan melihat Keira, karena takut terlihat gugup.


Keira tersenyum, "Kita belum berkenalan, apa kau mau berkenalan?" Tanya Keira ramah.


Jaiden pun akhirnya menoleh pada Keira, "Aku Jaiden Renandra, kau?" Tanya Jaiden.


Keira tersenyum, "Aku Keira Sanjaya," Sahut Keira.


"Apa kau pernah ke LA?" Tanya Jaiden.


Keira mengangguk, "Aku pernah kesana bersama orang tuaku dan Papa mu juga ikut," Sahut Keira.


"Oh ternyata kau datang ya? Berarti aku tidak salah lihat."


"Kau melihat ku?" Tanya Keira binggung.


Jaiden mengangguk sebagai jawaban.


"Kau juga disana?" Tanya Keira antusias.


"Hm, itu acara pernikahan Tante ku."


"Really?" Tanya Keira.


"Berisik," Sahut Jaiden.


"Ck, menyebalkan!" Ucap Keira kesal.


"Eh Jaiden ya?" Ucap Naura saat baru saja membuka pintu ruang kerja Tara.


"Iya Tante," Sahut Jaiden ramah dengan senyuman khasnya.


"Ck, sok ramah" Gumam Keira.


"Ma ayo pulang! Disini sangat membosankan, tidak ada makanan yang bisa dimakan, tidak ada mainan dan tidak ada ponsel," Gerutu Keira kesal pada Mamanya, Naura.


"Baiklah ayo, Jaiden kau akan ikut dengan Tante kan?" Tanya Naura.


"Kata Om Tara tadi begitu Tante," Sahut Jaiden.


"Baiklah ayo kita pergi!" Sahut Naura ramah pada Jaiden, Jaiden pun hanya menurut saja.


Naura, Keira dan Jaiden pun keluar dari ruang kerja Tara dan menuju pintu keluar, namun ketiganya tak sengaja bertemu dengan Jinata.


"Oh Tuan Jinata?" Ucap Naura saat berhadapan dengan Jinata.


"Oh Naura? Eh Jaiden?" Ucap Jinata binggung, saat melihat cucunya bisa bersama Naura istri Tara.


"Ah ini, Celine menitipkan Jaiden pada ku tadi Tuan" Sahut Naura.


Jinata terkekeh, "Astaga Naura kau dan suami mu sama saja, berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan. Panggil saja aku Om," Sahut Jinata ramah.


"Kakek sedang apa disini? Apa kakek ingin menjenguk Dady?" Tanya Jaiden.


Jinata pun berjongkok untuk menyamakan tubuhnya dengan Jaiden, " Hm Kakek ingin melihat Dady mu, apa kau ikut dengan Kakek atau Tante Naura saja?" Tanya Jinata.


Jaiden menatap Naura dengan perasaan tidak enak, karena tadi Tara juga menitipkannya pada Naura dan Naura pun juga mengajaknya untuk pergi bersamanya.


"Um...Tante maafkan aku, sepertinya aku juga ingin melihat Dady ku bersama Kakek," Ucap Jaiden tertunduk.


Naura terkekeh, "Hei kenapa kau menunduk, tidak apa-apa. Tante tidak akan marah atau tersinggung. karena kau tidak jadi ikut bersama Tante," Sahut Naura ramah.


"Baiklah, Naura terima kasih ya sudah menjaga Jaiden" Ucap Jinata.


"Iya Om, kalau begitu kami pulang dulu ya Om," Ucap Naura pamit pada Jinata.


"Hati-hati di jalan ya, bye Keira" Ucap Jinata.


"Bye Kakek" Sahut Keira ramah.


...⚡⚡⚡...


"Rena!" Panggil Jinata pada Istrinya.


Rena mengerutkan dahinya binggung, "Kenapa Jaiden bisa bersama mu? Aku menitipkannya pada Tara dan Naura tadi," Ucap Rena binggung.


"Aku bertemu dengannya di depan pintu masuk tadi, jadi aku memutuskan untuk membawanya kemari," Ucap Jinata santai.


"Astaga kau ini, ini kan rumah sakit. Tidak baik untuk Jaiden berlama-lama disini, Kau ini ya! Memang benar-benar," Ucap Rena kesal pada Jinata.


"Lalu dimana Celine? Bukankah kau bilang tadi sedang bersamanya di telepon?" Tanya Jinata.


"Celine sedang di dalam," Ucap Rena santai.


"Lalu kau kenapa di luar? Ayo kita masuk" Ajak Jinata menarik Rena.


"Tidak Jinata, biarkan mereka dulu!" Ucap Rena pada Jinata.


"Ada apa?" Tanya Jinata binggung.


"Ingatannya sudah kembali," Ucap Rena santai.


"Hah?" Ucap Jinata terkejut.


Di dalam ruang inap pasien.


"Kak, apa ada yang sakit?" Tanya Celine khawatir.


"Celine," Panggil Juna.


"Huh?"


"Maafkan aku, maafkan aku karena tidak mengenalmu terlambat. Kau Alda kan?" Tanya Juna.


Celine pun mengangguk ragu.


Juna terkekeh, " Kenangan yang buruk namun indah, bahkan kita menempati janji kita untuk menikah. Hanya saja usianya yang tidak tepat" Ucap Juna.


"Kak..." Lirih Celine.


"Menurut mu apa yang terjadi jika kita dipertemukan lebih cepat?" Tanya Juna.


"Mungkin kita tidak akan seperti ini atau kita tidak akan menikah" Sahut Celine.


Juna pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Celine kita baru saja bertemu setelah 6 tahun, tidak bertemu, Jaiden kita juga masih terlalu kecil. Tapi ku rasa aku tidak mempunyai waktu yang lama untuk berada disisinya, bahkan aku tidak dapat melihatnya tumbuh dengan baik nantinya" Ucap Juna melantur.