I Am Fine

I Am Fine
Juna sedang perhatian



Celine pingsan.


Juna mendengar suara tersebut langsung membalikkan badannya, hingga mendapatkan Celine yang sudah tak sadarkan diri di atas lantai.


"Celine?!" Pekik Juna terkejut.


Juna pun berjalan dengan cepat dan membawa Celine ke dalam pangkuannya.


"Celine? bangun! hey, Celine!" Ucap Juna sambil memukul wajah mungil Celine.


Namun Celine sama sekali tidak membuka matanya, Juna pun terburu-buru mengambil ponselnya, yang sudah dimasukkannya ke dalam kantong jasnya untuk menelepon dokter.


"Cepat datang kerumah ku!" Ucap Juna lalu mematikan telepon tersebut.


Setelah Juna menelepon dokter tersebut, Juna langsung mengendong Celine dengan bridal style ke dalam kamar Celine.


Tak lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Celine.


"Ayo kita bicara diluar saja," Ucap Tara selaku dokter pribadi Juna.


Ya, Tara adalah seorang dokter, Ayah Tara sudah lama menjadi dokter pribadi keluarga Renandra. Jadi Tara pun mengikuti jejak Ayahnya, yang menjadi dokter pribadi generasi selanjutnya untuk keluarga Renandra.


"Bagaimana? ada apa dengannya? tadi dia tiba-tiba saja pingsan di dapur," Ucap Juna pada Tara.


"Celine kelelahan dan dia demam biasa, apa kau tahu tentang ini Juna? Celine sepertinya meminum obat penenang. Apa dia memiliki masalah mental?" Tanya Tara.


...⚡⚡⚡...


"Huhuhuhu Kak Dino!" Rengek Rina pada Dino.


"Kenapa Rina? kenapa menangis?" Tanya Dino khawatir pada Rina.


Dino terkejut saat melihat Rina yang sudah berada di dalam kamarnya dan merengek tidak jelas padanya. Padahal Dino tadi sedang bermimpi indah dalam tidurnya, Namun Dino terpaksa bangun karena mendengar rengekan dari adik kesayangannya itu.


"Kak aku tidak lulus huhuhu," Rengek Rina lagi pada Dino.


Dino memutar bola matanya malas, sungguh menyebalkan pikir Dino. Dino sangat merasa kesal pad Rina, karena pagi-pagi sudah mendengar rengekan Rina.


"Ku kira ada apa, kan bagus kalau kau tidak diterima universitas di Indonesia. Lagi pula kau sudah diterima di Inggris kan? sudah lah Rina, kau kuliah saja di sini" Ucap Dino santai pada Rina.


Apa kalian tahu? Rina sengaja mengikuti Dino ke Inggris hanya untuk bermain-main saja.


"Ck, tapi kau kan tau Kak Rina sangat ingin kuliah disana!" Gerutu Rina kesal.


Dino menghela napasnya kasar dan memijat pangkal hidungnya yang tak sakit, Dino pun dengan sigapnya membawa adik kesayangannya itu ke dalam dekapannya.


"It's okay Rina, tuhan sayang padamu. Tuhan sudah merencanakan yang lebih baik untuk mu di kemudian hari. Lebih baik kau disini saja dulu bersama ku oke? aku janji, aku akan memberimu kebebasan. Karena saat ini kau sudah dewasa, bukan anak dibawah umur lagi" Ucap Dino pada Rina yang berusaha menenangkan adik cantiknya tersebut.


Rina menggeleng.


"Tidak mau, pokoknya Rina akan menelepon Ayah dan Bunda. Rina akan gapyear tahun ini, Rina tidak akan kuliah kalau itu bukan di Indonesia titik!" Sahut Rina.


"Lah?" Ucap Dino menatap Rina binggung.


"Apa kau ingin sekali kuliah dijakarta huh? memangnya ada apa disana?" Tanya Dino pada Rina.


"Ck, kau ini sangat menyebalkan Kak! kau tidak akan mengerti!" Ucap Rina kesal pada Dino, lalu menolak badan Dino hingga terhuyung di kasurnya.


"Dasar aneh!" Kesal Dino.


Rina pun pergi meninggalkan Dino di kamarnya dan beralih untuk menelepon kakak cantiknya, Celine.


Rina kembali menggerutu, karena nomor kakaknya tidak aktif. Karena Rina kesal nomor Celine tidak aktif, Rina pun kembali memasuki kamar Dino.


"Astaga kak Dino! ku kira kau sudah bangun, ayo cepat lah bangun!" Pinta Rina sambil menggoyangkan badan Dino.


"Ck, diam Rina. Aku masih lelah, aku baru saja menutup mataku!" Kesal Dino.


"Ihhh kak Dino bangun dulu!" Rengek Rina pada Dino.


"Astaga, apa lagi si Winterinara Aldebarano?" Kesal Dino yang terpaksa bangun dari tidurnya.


"Apa kau sengaja membangunkan ku hanya untuk menanya ini hah?!" Kesal Dino.


Rina mengangguk pasti " Tentu saja!" Sahut Rina yang semakin membuat Dino makin kesal padanya.


"Oh my God! please Rina, mungkin ponselnya kak Rina sedang di cas. Sudahlah sana! aku ingin istrihat, sungguh aku sangat lelah!" Geretu Dino pada Rina.


"Yayayayaya byeee" Ucap Rina lalu pergi meninggalkan kamar Dino.


...⚡⚡⚡...


Drtt drtt drttt


...Baby calling you...


"Halo sayang?" sahut Juna di telepon.


"Kau dimana? kenapa kau tidak masuk kantor?" Tanya Lia di telepon.


"Celine sakit, meeting untuk hari ini dibatalkan saja dulu ya," Ucap Juna.


"Apa kau sekarang sudah mulai menghawatirkannya?!" Teriak Lia di telepon, hingga Juna spontan menjauhkan teleponnya.


Juna menghela napasnya kasarnya, Juna melupakan soal gadisnya ini benar-benar sangat pencemburu.


"Tidak begitu Lia, mengerti lah. Mama sedang dirumah sekarang, menurut mu apa yang akan dilakukan Mama kalau aku tidak merawatnya saat ini?" Ucap Juna berbohong.


Juna berbohong soal Mamanya yang sedang berada dirumah, nyatanya saja Mamanya tidak tahu kalau Celine sedang sakit.


"Baiklah aku mengalah untuk kali ini saja!" Ucap Lia lalu mematikam sambungan teleponnya kesal.


...⚡⚡⚡...


Celine pun terbangun, Celine berusaha mengingat bagaimana caranya sekarang dia berada di dalam kamarnya. Jelas-jelas seperti tadi dia merasakan amat pusing pada kepalanya.


Namun atensinya beralih pada Juna yang sibuk dengan MacBooknya.


"Apa Kak Juna yang membawa ku ke kamar? kenapa dia tidak berangkat kerja?" Batin Celine.


"Kau sudah bangun?" Ucap Juna menutup MacBooknya dan berjalan pada Celine.


Celine tidak menjawab, dia hanya diam saja dan menatap Juna.


"Kenapa kau mengkonsumsinya? sejak kapan?" Tanya Juna spontan pada Celine.


Celine pun mengerutkan keningnya binggung, apa maksud dari perkataan dari suaminya tersebut.


"Maksud Kakak?" Tanya Celine binggung.


Juna menghela napasnya kasar "Obat penenang, sejak kapan?" Tanya Juna.


Deg


"Bagiamana dia bisa tahu? apa dia melihat obat itu berada di laci rias ku? tidak, jangan sampai dia membuangnya!" Batin Celine.


"Apa perduli Kakak?" Tanya Celine.


"Ck, menyebalkan!" Ucap Juna kesal, karena tidak mendapat jawabannya yang tidak diinginkannya.


Juna pun keluar dari kamar Celine, namun langkahnya terhenti saat dirinya ingin memutar kenop pintu dan membalikkan badannya menghadap Celine.


"Aku libur hari ini, kalau kau butuh bantuan panggil saja aku. Ah iya satu lagi, mulai hari ini kau tidak perlu membersihkan rumah. Aku sudah memanggil asisten rumah tangga dari massion Ayah, Aku tidak menikahi mu karena untuk membersihkan rumah, tapi untuk menjadi isitriku. Jaga kesehatanmu jika kau butuh teman cerita datang saja padaku," Ucap Juna lalu melongos begitu saja pergi keluar dari kamar Celine.


"Apaan apaan ini? ada apa dengannya? kenapa banyak sekali berbicara? aish kenapa sekarang jantungku berdegup dengan kencang? menyebalkan sekali!" Gerutu Celine pada Juna.


Aneh sekali, pikir Celine.


Seketika muka Celine memerah padam.


Salam hangat dari author 😘