
"Kau menghindari ku Kei, apa kau cemburu soal aku sedang bersama seorang gadis di taman?" Tanya Jaiden langsung.
Keisha membuang wajahnya ke asal arah, asalkan itu tidak menatap Jaiden. Jaiden menghela nafasnya pelan, lalu memutuskan untuk memeluk Keisha.
"Maaf soal itu," Ucapnya sambil merengkuh tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya.
Namun Keisha hanya diam saja, tidak bergeming sama sekali.
"Katakan, katakan apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan ku hm?" Tanya Jaiden.
Keisha pun memaksa Jaiden untuk melepas pelukannya, "Bisa kah besok Kakak jemput dan juga pulang sekolah bersama ku besok?" Tanya Keisha.
Jaiden terdiam dan berpikir, karena beberapa bulan ini dirinya selalu pulang bersama dengan Thalia. Lantas, bagaimana dengan Thalia nanti? Pikirnya.
Keisha pun tertawa renyah saat melihat Jaiden yang tak bergeming itu, "Kakak tidak bisa? Kau akan pulang bersama dengannya? Apa dia sudah menjadi kekasih mu Kak?" Tanya Keisha menginterupsi Jaiden.
"Huh? I...iya aku akan menjemput mu, dan akan pulang sekolah bersama dengan mu besok," Ucap Jaiden.
"Kenapa orang itu harus Keisha?" Batin Thalia.
"Terima kasih Kak," Ucap Keisha sambil memeluk lengan Jaiden manja.
"Um... Kak sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku katakan padamu, ini soal alasan mengapa aku menghilang tidak ada kabar dan juga beberapa kejadian yang aku alami di Amerika" Jelas Keisha.
Deg!
Seketika tubuh Thalia menegang, dan jantungnya pun berdebar-debar seperti sedang berdangdutan. Thalia dapat memastikannya, kalau hal ini pasti tentang masalah yang di alaminya dengan Keisha.
Thalia tidak ingin Jaiden mengetahui kejadian sebenarnya, dan atas apa yang menimpa Keisha akibat ulahnya sendiri.
"Jaiden dan yang lainnya tidak boleh mengetahui hal ini," Batin Thalia.
Lantas Thalia dengan cepat untuk menyela keduanya, "Eh? Lagi ngobrol ya? Maaf ganggu," Ucap Thalia yang saja tiba-tiba muncul di balik tembok.
Keisha pun menatap tidak suka pada Thalia, Jaiden dapat melihat itu.
"Yang lain sudah menunggu di ruang makan, bagaimana kalau kita makan malam dulu?" Ajak Thalia.
"Jaiden!" Teriak Jaki dari lantai bawah, "Nenek ku menelepon mu!" Lanjutnya berteriak lagi.
Jaiden, Keisha, dan Thalia pun memutuskan untuk turun dari lantai dua. Hal itu sempat membuat yang lainnya bertanya-tanya, apalagi Keira dan Sufa.
Diam-diam keduanya sudah mulai bergosip, apalagi keduanya saat ini sedang duduk bersebelahan.
"Apa Kak Kei dan Kak Thalia perang dingin?? Ada Kak Jaiden juga??" Bisik Sufa.
"Wah kurasa kita melewatkan ini! Sepertinya kita wajib bertanya pada Keisha nanti!" Balas Keira berbisik.
Lantas Heri pun menyenggol lengan Sufa, karena dirinya juga dapat mendengar percakapan kedua biang gosip itu walaupun keduanya sedang berbisik-bisik.
"Ssttt! Sudah jangan dibahas, nanti saja!" Balas Heri.
Lantas Keisha pun memilih untuk diam dan pindah duduk disebelah Surya, Tentu saja Heri yang memintanya. Hal itu agar keduanya tidak bergosip ria, Heri sangat mengenal Keira dan Sufa jika bersama.
Sudah pasti tiada hentinya, untuk membahas hal-hal yang tidak penting menurutnya.
Hening.
Tidak ada pembicaraan sama sekali, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing dan ponselnya masing-masing.
Jaiden yang baru saja selesai menjawab telepon dari neneknya itu pun, baru saja kembali ke ruang makan.
Dan mendapati semua teman-temannya yang hanya diam, tumben sekali pikirnya.
Padahal biasanya nereka akan selalu beradu argumen di setiap waktu, apalagi tentang masalah keluarga mereka, kisah cinta, maupun apapun itu.
Seperti Heri yang membahas tentang Ayahnya yang sudah menikah berkali-kali, dan cerai berkali-kali. Dan Keira dan Sufa membahas hal-hal yang trending disekolah, dan sebagainya.
Namun sekarang?
Semuanya sibuk dengan ponselnya masing-masing, Jaiden pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
Jaiden pun berjalan menuju kursi yang tersisa, kebetulan sekali. Kursi itu berada di sebelah Thalia.
Krek
Jaiden menarik kursi itu, hingga mengeluarkan suara dan semua orang pun menatapnya.
"Ada apa? Kenapa kalian semua menatap ku?" Tanya Jaiden memerhatikan teman-temannya yang sedang melihat ke arahnya.
Surya melihat itu, Surya melihat bagaimana Keisha mengepalkan tangannya geram dibawah sana. Karena Thalia mengejek Keisha dengan tersenyum meremehkan Keisha, dan seperti terlihat mengejek Keisha.
Surya yakin sekali, pasti terjadi sesuatu sebelum ketiganya duduk dan makan bersama saat ini.
"Ck! Kenapa jadi diam sekali sih?" Tanya Sufa yang tidak biasa berada di suasana sunyi saat bersama teman-temannya.
"Sudah, sudah ayo kita makan saja! Nanti makanannya dingin," Sela Heri.
...⚡⚡⚡...
Keisha baru saja masuk ke dalam rumahnya baru yang ditempatinya, ah ini sangat menyebalkan baginya. Karena Keisha harus kembali melihat Mama nya dan Rafa, yang melakukan tindakan senonoh di depan matanya.
Mereka berciuman.
"Menjijikkan!" Batin Keisha.
"Kei? Baru pulang?" Tanya Shakila melepaskan tautannya dari Rafa.
"Hm, Kei lelah. Mau istirahat," Jelas Keisha singkat lalu masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan kedua pasutri itu.
"Malam sayang!" Teriak Rafa saat Keisha sudah menaiki anak tangga, sedangkan Keisha tak bergeming sedikit pun.
Keisha membanting tubuhnya di atas kasur empuknya, "Huh melelahkan, kenapa harus Thalia sih?" Gerutu kesal.
Ting!
Keisha pun mengambil ponselnya, dan membuka Room chat itu. Keisha menghela nafasnya malas, saat melihat siapa pengirim pesan itu.
...Room Chat...
...Thalia...
Thalia :
Ku rasa kita harus bicara bukan?
Ayo bertemu
Taman di dekat rumah mu
^^^Keisha:^^^
^^^Ok^^^
^^^read^^^
Lantas Keisha bangkit dari tidurnya, dan keluar dari kamarnya. Saat Keisha sedang menuruni anak tangga rumahnya, Keisha tidak melihat keberadaan Mama nya dan hanya Rafa saja.
"Pa Kei keluar sebentar," Ucap Keisha.
"Kemana Kei? Sudah malam," Sela Rafa.
"Hanya ke taman, bertemu teman. Cuma sebentar," Pamit Keisha dan langsung pergi begitu saja, tanpa menunggu persetujuan dari Rafa.
Rafa menghela nafasnya kasar, "Pelan-pelan, Kei pasti akan menerima keberadaa mu cepat atau lambat. Keisha juga butuh waktu untuk itu," Jelas Shakila yang baru saja kembali dari dapur, dan membawa segelas kopi untuk Rafa.
Lihat? Bukankah sangat terlihat berbeda saat Shakila memperlakukan Bram dan Rafa? Bahkan Shakila tidak pernah mengurus rumah tangganya, dan menjalani kewajibannya sebagai seorang istri dan Ibu untuk keluarganya.
Keisha sangat merasa kesal soal itu.
Di taman.
Keisha melihat jelas, disana Thalia sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Lantas Keisha pun memilih untuk mendekat, dimana Thalia berada saat ini.
"Katakan," Ucap Keisha yang memang tidak suka basa-basi.
"Kau akan memberitahunya?" Tanya Thalia menatap Keisha sinis.
"Soal?" Tanya Keisha binggung, lalu sedetik kemudian Keisha mengerti kemana arah pembicaraan ini.
Keisha pun terkekeh pelan, dan terdengar seperti sedang mengejek Thalia.
"Kau takut ya? Kalau Kak Jaiden mrngetahui kalau kau hampir saja membunuh ku dan hampir membuat ku tidak bisa berjalan? Atau kau takut soal Kak Jaiden mrngetahui kalau kau," Ucap Keisha sambil menunjuk Thalia tak tak suka dengan jarinya.
"Dan aku adalah saudara tiri? Ah tidak tidak, kau itu hanya anak pungut. Aku putri kandung Rafa Sandika," Jelas Keisha.