
Jaiden pun segera menuju parkiran mobil, dimana mobilnya sedang terparkir rapi disana. Karena Kate tidak menyadari Jaiden berada disana, Jaiden pun mengetok pintu jendela kaca Kate.
Pantas saja Kate tidak menyadari Jaiden datang, karena saat ini ternyata Kate sedang melihat-lihat akun Instagram Riki.
Kate pun membukakan pintu mobil untuk Jaiden, "Kau lihat apa sih? Sampai tidak sadar aku sudah disini menunggu mu untuk membukakan pintu mobil," Kesal Jaiden sembari bertanya.
"Ini!" Ucap Kate menunjukkan ponselnya yang sedang meng stalking akun Instagram Riki.
"Wah... apa kau tidak bosan untuk melihat itu setiap hari???" Tanya Jaiden heran.
"cak, Kakak tidak pernah jatuh cinta benaran! Jadi diam saja!" Jawab Kate kesal.
Jaiden pun menghela nafasnya malas, dan menggeleng-gelengkan kepalanya tak heran pada Kate. Jaiden malas berdebat dengan Kate, karena dia tidak akan pernah menang.
Jaiden pun menjalankan mobilnya, "Apa Kakak juga akan membawa ku ke rumah teman Kakak?" Tanya Kate.
"Hm.." Jawab Jaiden bohong.
"Ck, kalau begitu aku di mobil saja" Uucap Kate dipotong Jaiden.
"Tidak, kau harus turun. Ah iya nanti tolong bantu aku pilih baju untuk keponakan ku ya" Pinta Jaiden melirik Kate.
"Perempuan atau laki-laki?" Tanya Kate.
"Perempuan," Jawab Jaiden.
...⚡⚡⚡...
"Jaiden akan berkunjung ke rumah kita, tak apa kan sayang?" Tanya Surya pada istrinya.
"Hm ku rasa tak apa, ku rasa aku juga harus memperbaiki hubungan ku dengannya juga kan?"" Tanya Thalia pada suaminya.
"Hm aku setuju," Jawab Surya. "Apa kita tidak akan memesan makanan atau memasak sesuatu untuk Adik mu?" Tanya Surya sambil menggoda istrinya.
"Apaan sih! Apa ya? Pizza?" Tanya Thalia.
"Ku rasa dia sudah makan siang di Masion, oke aku setuju! Pizza dan Wine!" Ucap Surya semangat.
"Tidak, tidak! Cola saja, pizza dan chicken oke sudah itu saja!" Jelas Thalia.
"Baiklah..." Ucap Surya pasrah dan menurut pada istrinya.
"Ayahhh" Panggil Nata anak pertama Surya dan Thalia.
Ah perlu di ingat Nara bukanlah darah daging Surya. Namun darah daging pria yang tidak di kenal, yang memeprkosa Thalia 8 tahun lalu di rumah sakit. Bahkan sampai saat ini, jejak pria itu tidak terlihat sama sekali.
Namun, Surya mengakui Nara sebagai anak kandungnya. Bahkan Surya sangat menyayangi Nara sama seperti dirinya menyayangi Rata anak pertamanya perdana Thalia.
"Oh kau sudah pulang? Pulang bersama supir kan?" Tanya Surya merangkul Nara.
"Hmmm, bunda Nara hari ini menghabiskan bekal Nara!" Seru Nara semangat dan heboh menghampiri Thalia.
"Wah anak bunda pintar sekali ya! Apa kau lelah? Ayo ganti baju dulu," Ajak Thalia.
"Ayo Bun!" Jawab Nara.
"Sayang, kau lihat Raya dulu sebentar oke?" Pinta Thalia dan Surya pun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Iya sayang..." Jaaab Surya.
...⚡⚡⚡...
Jaiden dan Kate baru saja sampai di toko perlengkapan bayi, keduanya masuk bersamaan. Hingga para karyawan toko itu mengira Jaiden dan Kate, sedang mencari perlengkapan bayi untuk persiapan bayi mereka.
"Apa?" Tanya Kate.
"Apa ya kira-kira?" Tanya Jaiden berbalik.
"Ck, kau ingin membeli kado seperti apa untuk keponakan mu Kak?" Tanya Kate.
Jaiden pun tampak berpikir, "Mainan? Bukankah anak seusianya sudah cukup umur untuk main?" Tanya Jaiden.
"Bagaimana dengan stroller baby? Alat makan? Pakaian? Kau memiliki uang yang banyak, kenapa aku tidak membeli setidaknya 2 atau 3 jenis?" Saran Kate.
"Oke, ide yang bagus!" Sahut Jaiden. "Bisa tolong tunjukkan kami beberapa stoller terbaru untuk anak perempuan?" Tanya Jaiden.
"Tentu saja Pak, ayo kita lihat. Sebelah sini..." Ajak karyawan itu menuntun Jaiden dan juga Kate.
Selama 30 menit berkeliling untuk memilih stoller bayi, dan juga pakaian untuk anak Surya dan Thalia. Akhirnya Kate dan Jaiden pun, memutuskan untuk ke kasir dan membayar belanjaan mereka.
"Kate ini kartunya, kau tolong bayarkan dulu ya! Aku mau menelepon teman ku sebentar" Ucap Jaiden dan Kate pun menganggukkan kepalanya.
"Halo? Riki? Kau dimana? Aku sudah disini 20 menit lebih yang lalu mungkin? Bisa tolong kau jemput Kate kesini?" Tanya Jaiden.
"Oh sudah? Aku daritadi berada di cafe depan bersama Sufa dan juga Jovan, baiklah aku akan kesana sekarang!" Ucap Riki.
"Baiklah, terima kasih" Ucap Jaiden.
"Hm.." Jawab Riki langsung mematikan sambungan telepon itu, dan berpamitan pada Jovan dan juga Sufa.
Dapat Jaiden lihat, di depan sana Riki baru saja keluar dari Cafe. Jaiden pun melambaikan tangannya, Riki pun membalas itu.
"Nihh! Mau letakkin dimana?" Tanya Kate yang baru saja keluar dari toko perlengkapan bayi.
"Sini biar aku letakkin ke bagasi aja, makasih ya!" Ucap Jaiden sambil mengambil alih stoller dan tas belanja yang berisi beberapa pakaian bayi perempuan.
"Hmm" Jawab Kate berdehem.
Kate pun mengalihkan pandangannya ke depan jalan, dan membelalakkan matanya tak percaya. Saat ini dirinya melihat pria yang sedang menyebrang jalan sedang berjalan menuju padanya, ah tidak menurutnya itu pada Jaiden.
"Oi Kak!" Panggil Riki.
"Eh? Oi!" Sahut Jaiden lalu menarik Riki untuk mendekat pada Kate.
"Kate Riki akan menemani mu hari inii kau bilang tidak ingin ikut dengan ku kan? Jadi aku meminta tolong pada Riki untuk menemani mu berkeliling disini, jangan nakal! Jangan merepotkan Riki. Jadilah gadis yang baik, dengar?" Nasihat Jaiden pada Adiknya.
"Hmmm, hehehe makasih Kak!" Bisik Kate senang, dan Jaiden pun hanya tekekeh pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
"Oke Riki, ku tinggal kau bersamanya ya? Jangan macam-macam!" Peringat Jaiden.
"Tenang saja, dia akan aman bersama ku" Ucap Riki yang membuat Kate menjadi salah tingkah dan Jaiden tekekeh geli melihat Kate yang seperti itu.
Setelah Riki mengatakan itu, Jaiden pun pergi meninggalkannya keduanya. Agak terlihat canggung, karena mereka baru saja bertemu dengan secara ini pertama kalinya.
Di saat pernikahan Jaki dan Keira, mereka hanya perkenalan saja. Dan sekarang? Riki akan membawa Kate untuk berkeliling kota Jakarta.
"Kate? Benar kan? Nama mu Kate?" tanya Riki basa-basi, mustahil rasanya kalau Riki tidak tahu nama Kate.
"Huh? Ah iya.. Kau Kate, kau Riki? Iya kan?" Tanya Kate pura-pura tidak tahu, sama seperti Riki.
Riki pun tekekeh pelan, hingga membuat Kate salah tingkah parah. "Ahh ****! Kenapa dia tampan dan manis sekali!" Batin Kate menangis di dalam hati.
"Hm, kau benar. Mau ke Cafe depan sebentar? Kau lapar?" Tanya Riki.
"Huh? Tidak, aku sudah makan siang. Tapi kalo minum ayo!" Ajak Kate berusaha untuk tidak canggung.