I Am Fine

I Am Fine
Tugas Kelompok ke Luar Kota?



"Memangnya aku beri kepada siapa tadi? Aku tidak melihatnya?" Tanya Jaiden.


Keira pun menoyor kepala Jaiden karena gemas, "Kau memberinya pada Thalia bodoh!" Ucap Kiera mengecilkan suaranya gemas pada Jaiden.


"Ah benar kah? Aku tidak tahu, itu bekal dari Cecil. Aku takut di pelet olehnya, makanya aku memberikan itu pada siapa saja yang berada di depan pintu. Dan aku juga tidak tahu kalau orng itu Thalia anak baru," Jelas Jaiden santai.


"Ah begitu ya..., baik lah ayo kita keluar!" Ajak Keira pada Fia.


"Hei! Jangan sampai kau menyebarkan berita yang tidak-tidak ya Kei!" Teriak Jaiden pada Keira yang sudah berada di depan pintu kelasnya.


Keira pun tersenyum Pepsodent dan menampilkan gigi putihnya, serta dengan kedua tangannya yang menunjukkan jempol dua.


Yang artinya 'oke tidak akan kuberi tahu'.


Jaki menepuk pundak Jaiden, "Yang sabar ya!" Kekeh Jaki.


"Ck, hm" Sahut Jaiden malas.


Jaiden pun mencari dimana keberadaan Thalia di dalam kelas, dan Jaiden pun tidak mendapatkannya. Jaiden pun melirik ke kursi belakangnya, dan mendapati Thalia yang sedang duduk dengan menatap bekal yang diberikan oleh Jaiden tadi.


"Bekal itu buang saja, aku tidak tanggung jawab kalau itu ada peletnya" Ucap Jaiden pada Thalia.


Thalia pun tersentak dan hanya mengangguk pasrah saja.


"Tumben sekali Jaiden seperti ini eh?" Batin Jaki tersenyun senang.


Karena akhirnya Jaiden mau berinteraksi dengan gadis lain selain dengan Keira, ah bahkan Jaiden dengan Fia teman dekatnya Keira saja jarang sekali berinteraksi.


Kalau bukan Fia yang memulai untuk bicara pada Jaiden, sudah di pastikan 100%. Kalau Jaiden tidak akan pernah untuk sekedar tersenyum saja pada Fia, itu tidak akan pernah terjadi.


Kecuali itu, bersama Keira dan Keisha. Jaiden akan tertawa lepas jika bersama keduanya atau pun di antaranya.


Apalagi mengigat, kalau Keira dan Keisha adalah teman pertama yang di milikinya saat pertama kali dirinya pindah ke Indonesia.


Bel masuk pun berbunyi, tandanya kalau 5 menit lagi guru akan masuk ke dalam kelas dan pelajaran akan di mulai. Keira dan Fia juga sudah berada di dalam kelas, setelah keduanya menggosip ria di luar sana.


"Selamat pagi anak-anak!" Ucap Pak Abdul menyapa murid kelas IPA 1.


Pak Abdul adalah guru sejarah untuk anak kelas 11 IPA.


"Pagi juga Pak!" Sahut seisi kelas 11 IPA 1 itu secara bersamaan.


"Baik hari ini kita akan belajar mengenai sejarah kerajaan Mataram Kuno ya, silahkan perhatikan layar di depan berikut" Ucap Pak Abdul, dan seluruh siswa itu pun menurut.


Pak Abdul menampilkan Power Point yang sudah di rangkumnya degan rinci dan menjelaskan materi yang sudah disiapkannya.


"Baiklah kalian sudah mendengarkan penjelasan dari Bapak sekarang Bapak akan memberi kalian tugas kelompok" Ucap Pak Abdul.


"Baik Pak!" Sahut murid 11 IPA 1 itu semangat.


"Buatlah kelompok hingga 5 orang, dan buat laporan mengenai tempat peninggalan dari kerajaan Mataram Kuno yang kalian kunjungi bersama teman satu kelompok kalian. Bapak harap kalian dapat menyelesaikannya dengan sempurna dan ini diwajibkan untuk di dokumentasikan," Jelas Pak Abdul.


"Kalau bisa di upload di akun YouTube sekolah kita," Lanjut Pak Abdul.


"Ck, menyusahkan!" Gerutu Jaiden.


"Bapak tidak menerima penolakan atau tawar menawar dalam pengerjaan tugas, kalau kalian ingin nilai. Kerjakan apa yang bapak perintahkan!" Ucap Pak Abdul lagi.


"Baik Pak," Sahut murid 11 IPA 1 pasrah tidak bisa membantah.


"Baiklah silakan bentuk kelompok, terserah kalian ingin memilih teman kelompok siapa yang menurut kalian cocok dengan kalian ya!" Saran Pak Abdul.


Jaiden pun memutar bola matanya malas, "Apa kita akan bepergian?" Tanya Jaiden pada Jaki


"Ya menurut mu saja bagaimana?!" Balas Jaki sewot.


"Hei! Jaki! Jaiden!" Panggil Keira.


Jaki pun mengangguk pasrah, "Ku rasa itu pilihan terbaik, dari pada kita harus berdebat dengan Keira" Ucap Jaki tersenyun paksa.


Jaki dan Jaiden pun berjalan malas untuk menghampiri meja belajar Keira dan Fia, Fia sudah merasa senang sekali. Karena dirinya bisa lebih dekat dengan Jaiden, apalagi mereka akan berpergian bersama nantinya.


Fia akan mengambil kesempatan emas ini, Fia akan menjalankan aksinya untuk mendekati Jaiden yang sulit sekali di cairkan itu.


"Kita kurang satu orang lagi, hmm siapa ya?" Tanya Keira mencari teman sekelasnya yang tidak memiliki kelompok.


"Bukan kah dia tidak punya teman kelompok?" Tanya Jaiden menunjuk Thalia dengan dagunya.


"Ah iya, benar sekali. Kau tak apa kan?" Tanya Keira Jaiden.


Karena Keira mengenal Jaiden, Keira tahu kalau Jaiden tidak nyaman bersama orang asing seperti Thalia. Jangankan Thalia, Fia yang sudah 3 tahun terakhir ini selalu ikut mengumpul bersama dengan teman-teman saja Jaiden tidak merasa nyaman.


Lantas bagaimana dengan Thalia yang baru saja seminggu sekolah di sini?


"Not bad," Sahut Jaiden.


"Ya sudah Kei ajak saja!" Pinta Jaki.


"Kok jadi menyuruh ku?" Tanya Keira.


"Jadi siapa?" Tanya Jaki berbalik.


Keira pun mendengus dan berjalan mendekati meja belajar Thalia, "Thalia mau bergabung bersama kami?" Ajak Keira.


"Apa boleh?" Tanya Thalia menatap Keira.


"Tentu saja, ayo kita akan berdiskusi!" Ucap Keira lalu menarik paksa tangan Thalia untuk mengikuti kemana arahnya pergi.


Thalia dengan terpaksa pun bangun dari duduknya, dan Keira membawa dirinya kepada kumpulan Jaki, Jaiden dan Fia.


"Thalia sudah setuju bergabung dengan kita!" Seru Keira semangat.


"Oke, langsung saja. Kemana kita akan observasi untuk membuat laporan?" Tanya Jaki.


"Sebentar!" Ucap Fia lalu meraih handbook nya dan membukanya, "Tempat peninggalan Kerajaan Mataram Kuno itu ada Candi Prambanan, Candi Dieng, Candi gedung Songo, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi," Ucap Fia terpotong oleh Jaiden.


"Candi Borobudur saja!" Saran Jaiden.


"Kau yakin Jai? Itu sangat jauh, kita membutuhkan watu perjalanan selama 7 jam untuk sampai disana" Jelas Keira.


"Kita bisa menaiki pesawat, atau mobil yang akan di sopiri oleh sopir ku" Jelas Jaiden.


"Aku acc saja sih," Sahut dia, "Lalu apa kita akan pulang pergi?" tanya Fia.


"Menginap saja, itu akan sangat melelahkan!" Pekik Jaki.


"Ya sudah, pakai apartemennya ku saja. Pas sekali lokasinya dekat dengan Candi Borobudur" Sahut Jaiden.


"Oke! Kalau jelas seperti ini aku juga setuju!" Sahut Keira melirik Thalia, "Bagiamana dengan mu Thalia?" Tanya Keira.


"Aku acc saja," Sahut Thalia.


"Oke, tentukan saja harinya" Ucap Jaiden.


"Sabtu Minggu?" Saran Fia.


Keira dan Jaki pun melirik tak enak pada Jaiden, karena keduanya tahu. Kalau pada hari itu adalah jadwal rutin Jaiden, untuk menjenguk Mamanya di rumah sakit.


Jaiden pun berpikir sejenak, "Oke aku kosong" Sahutnya.


"Kau tak apa kan Jai? Kita bisa pergi di hari yang lain saja" Saran Keira.


"Tidak usah Kei, it's okey. Setelah pulang dari aku akan menjenguknya," Ucap Jaiden pada Keira.