
Astaga Keisha?" Sapa Zura pada cucunya. "Kau baru mengunjungi Nenek mu setelah kau berada 2 bulan lebih di Indonesia hm?" Tanya Zura menyindir Keisha.
"Loh?" Ucap Keisha terkejut saat melihat Neneknya itu masih sehat-sehat saja, dan Keisha pun melirik Riki untuk meminta penjelasan dari Adiknya itu.
Sedangkan yang dimintai penjelasan pun, hanya mengindikkan bahunya tidak peduli. "Ck, pasti Riki sengaja mengerjai ku!" Batin Keisha kesal.
"Hehehe," Cengir Keisha pada Zura. "Maafkan Keisha ya Nek, lain kali Kei akan sering datang kemari melihat dan menemani Nenek Jelas Keisha tak enak.
Karena pada nyatanya, Keisha malah mengunjungi rumah Rena. Dan tidak mengunjungi rumah Zura, Neneknya sendiri.
Tentu saya Zura mengetahui itu, karena Rena pamer pada Zura.
"Kau ini ya! Kau malah berkunjung terlebih dahulu dan menginap di Masion Rena, tapi Nenek mu sendiri tidak. Bagaimana kabar mu?" Tanya Zura.
"Kau berkunjung kesana Kak Kei?" Tanya Riki tidak tahu dan mengernyitkan dahinya.
"Nanti kita bahas," Bisik Keisha pelan dan dapat dimengerti oleh Riki.
Riki pun memutar bola matanya malas, "nek Riki lapar. Mau ke dapur," Pamit Riki lalu langsung pergi begitu saja meninggalkan keduanya.
"Kei baik, Nenek bagiamana? Oh iya Nek, Kei ikut kelas lukis lagi!" Seru Keisha semangat.
Zura pun terkekeh pelan, sudah lama dirinya tidak melihat Keisha semangat seperti ini. Terkahir kali, saat dirinya berkunjung ke Amerika untuk melihat Keisha.
Tentu saja Shakila tidak turut serta, karena Zura malas melihat mantan istri anaknya. Sangat menjengkelkan, pikir Zura.
"Ah benarkah? Astaga kau pasti senang bukan? Itu adalah mimpi mu sejak dulu, andai saja mendiang Celine masih hidup. Pasti kalian akan menjadi sangat akrab, karena mempunyai hobi yang sama" Jelas Zura dengan di akhiri kesedihannya.
Keisha pun mengangguk, setuju akan perkataan yang di lontarkan Neneknya barusan.
"Apa kau mau mencoba untuk belajar mengelola galeri Seni Kei?" Tanya Zura. "Nenek bisa menghubungi orang terdekat kita," Lanjutnya.
"Nenek serius?!" Tanya Keisha antusias.
"Tentu sayang, apa Mama mu itu masih tidak peduli pada mu? Nenek rasa dia sudah berubah bukan?" Tanya Zura membuat Keisha terdiam tak bergeming.
Namun 10 detik kemudian, Keisha pun tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya.
"Sudah lumayan Nek, Tapi jangan katakan apapun pada Riki ya Nek. Riki masih agak terlalu sensitif soal Mama," Ujar Keisha tak enak.
Zura pun mengangukkan kepalanya mengerti, "Hm aku mengerti. Bahkan Riki sekarang lebih dekat dengan calon Ibu mu dari pada Ibu kandungnya sendiri," Jelas Zura terkekeh.
"Jadi bagaimana Kei? Kau mau kan? Biar nanti Nenek segera menghubungu kenalan Nenek," Tanya Zura.
"Of course Nyonya!" Sahut Keisha semangat.
Setelah Keisha berbincang-bincang dengan Neneknya, Keisha pun mencari dimana keberadaan Riki Adiknya. Keisha tidak perlu susah-susah untuk mencari Riki, karena Keisha dapat menebak kalau Riki pasti sedang berada di taman samping masion.
Dan benar saja, Riki sedang duduk disana sambil bermain ponsel. "Ngapain sih? Eh?" Ucap Keisha mengintip.
"Cie... siapa itu? Kau chat dengan siapa pakai love love segala?" Goda Keisha pada Riki.
"Ck, kepo sekali!" Ucap Riki kesal lalu menutup ponselnya cepat karena malu, dan tertangkap basah oleh Kakaknya.
"Sudah selesai Kak?" Tanya Riki.
"Sudah, by the way kau membohongi ku kan?!" gertak Keisha pada Riki.
"Hehehe maaf soal itu," Ucap Riki menyengir dan memgaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak papa juga sih, ada untungnya juga. Aku jadi bisa bertemu dengan Nsmek berkat kau, aku bahkan tak pernah kemari melihat Nenek" Sesal Keisha.
"Riki," Lirih Keisha.
"Apa kau sudah memberitahu Papa soal kebenaran kalau kau anak siapa Kak Kei?" Tanya Riki lagi.
"Riki, kenapa kau" Ucap Keisha dipotong oleh Riki.
"Jangan katakan apapun dulu pada Papa, sebelum pernikahan Papa berlangsung" Jelas Diki.
"Papa... akan menikah?" Tanya Keisha terkejut, karena dirinya sama sekali tidak tahu soal ini.
"Kak Kei, apa senyaman itu kau di keluarga baru mu Kak? Kau bahkan tidak tahu soal ini. Ah iya, aku lupa kalau kau kan bukan anak Papa. Kita hanya saudara satu Ibu saja," Jelas Riki tersenyum miris.
"Riki jangan seperti ini, kau membuat ku takut" Ucap Keisha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Riki pun me gjela nadanya kasar, "Maafkan aku Kak Kei" Ucap Riki sembari membawa Keisha ke dalam dekapannya.
...⚡⚡⚡...
"Heri Heri!" Panggil Surya ribut, sambil menepuk-nepuk pundak Heri.
"Ck apasih? Sakit tahu!" Protes Heri kesal.
"Eh lihat!" tunjuk Surya, "Bukankah itu Tante Shakila?" Tanya Surya.
Heri pun menoleh ke arah tunjuk tangan Surya, "Loh sedang apa Mama Keisha di bar?" Tanya Heri binggung.
Kini keduanya sedang berada di bar, awalnya Surya tidak mau pergi ke tempat laknat dan jahanam itu. Tapi Heri memaksanya, untuk sekedar menemani pria itu karena takut khilaf.
"Bukan kah itu tempat dan kumpulan orang yang ingin menyewa seorang cabul?" Tanya Heri yang tahu betul karena dirinya dulu pernah melakukan hal bodoh seperti itu, sebelum dirinya kenal dekat dengan Fia.
"Kau pikir Mama Kei dan Riki serendah itu??" Tanya Surya sewot.
"Who know, tapi itu ku rasa bukan untuknya. Kan Tante Shakila sudah punya Om Rafa, kenapa tidak dengan Om Rafa saja? Ku rasa itu untuk orang lain, right?" Ucap Heri menduga-duga.
"Apa Mama Keisha merencanakan sesuatu?" Tanya Surya.
"Apa perlu kita beritahu soal ini pada Keisha dan Riki? Untuk berjaga-jaga," Tanya Surya.
"Jangan, kita lihat saja dulu kedepannya bagaimana. Tidak mungkin kan, Tante Shakila menyuruh orang untuk meng unboxing anaknya sendiri?" Tanya Heri.
Plak!
"Hei, yang benar saja! Mulut mu itu lemas sekali! Kalau sempat iya, astaga aku sudah tak habis pikir lagi. Ku rasa, kita harus berada di sekeliling Keisha 24/7 jam."
"Kira tidak bisa meninggalkan Keisha sendiri, aku takut. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok," Lanjut Surya panjang lebar.
"Kau juga yang benar saja! Tapi ada benarnya juga sih, bagaimana kalau Tante Shakila memasukkan pria itu ke rumahnya?" Tanya Heri.
"Aku akan meminta Keisha untuk menginap di rumah Keira," Sahut Surya tenang.
"Aku setuju, apa Kei mau? Apa sebaiknya kita bivara terlebih dahulu dengan Keira?" Tanya Heri.
Surya pun mengangguk mantap, yang artinya setuju.
"Hai sayang..." Ucap seorang perempuan yang memegangi bahu Heri intens, Heri pun mendelikkan matanya malas.
"Aku tidak butuh services, thanks" Tolak Heri mentah-mentah dan melepaskan paksa tangan perempuan itu dari bahunya.
Perempuan itu pergi begitu saja setelah di tolak oleh Heri, dan mencibir di belakang sana dengan perasaan yang sangat kesal.